Marriage Order

Marriage Order
Berkelahi


__ADS_3

Suasana jalan raya hari sabtu pagi tidak terlalu ramai. Sebagain besar penduduk ibu kota mungkin belum bangun dari mimpi panjangnya. Aku menguap berkali-kali, menutup mulutku dengan telapak tangan, mencoba memejamkan mata berkali-kali dan tidak juga tertidur. Aku masih memikirkan bagaimana pemikiran Papa yang baru saja tahu ketidaksopanan calon menantunya ini. Aku takut kelak dia tidak jadi merestui hubungan kami. Padahal aku sudah merasa jatuh cinta padanya.


Kak Baruna mengerlingkan matanya ke arahku yang duduk di samping kirinya.


"Apa yang sedang kamu pikirkan? Tidurlah kalau masih mengantuk. Dari tadi aku perhatikan kamu terus menguap."


"Ada yang mengganjal di pikiranku."


"Apa sayang?"


"Jika Papa berubah pikiran tidak merestui hubungan kita akibat ketidaksopanan tingkah lakumu tadi, aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi padaku."


"Ya ya maafkan aku sayang. Aku pasti akan meminta maaf. Lagi pula tadi Papa dan Mamamu pergi begitu saja. Suasananya sedang tidak enak."


"Berjanjilah padaku." Aku menatapnya dari samping.


"Iya sayang. Tenanglah." Kak Baruna menggenggam tanganku erat.


Dua puluh menit kemudian kami pun tiba. Kak Baruna keluar membukakan pintu mobilnya dan mengulurkan tangannya.


"Silakan tuan putri. Hari ini aku adalah milikmu sepenuhnya," ujarnya merayu.


Aku tersenyum lalu tertawa menyambut uluran tangannya, "Tidak biasa-biasanya ... kamu merayuku karena kejadian tadi?"


"Tidak, ini hanya bentuk spontanitasku sayang," jawabnya santai.


"Ada-ada saja." Aku menggelengkan kepalaku lalu melihat sekeliling. Sebuah mobil yang kukenal baik terparkir di halaman rumahnya.


"Itu mobil Pak Reynand bukan? Kenapa ada di sini?" pikirku.


Kak Baruna menggandengku masuk ke dalam rumah. Suasana di dalam rumah sepi seperti tidak berpenghuni. Bi Rindang yang bertemu kami di depan pintu hanya diam tidak banyak bicara.


"Ayah, bunda, dan kakek sedang apa Bi?" tanya Kak Baruna ramah.


"Ada di ruang kerja Bapak, Mas."

__ADS_1


"Tumben banget pagi-pagi sudah ada di ruang kerja."


"Itu Mas ada tamu. Bibi enggak tahu siapa. Tapi tadi semua langsung masuk ke ruang kerja bapak."


"Oh ... ya sudah saya ke sana dulu," jawab Kak Baruna lalu menoleh ke arahku, "Lebih baik kamu menunggu. Duduk di sini dulu ya sayang." Kak Baruna melangkah menuju ruang kerja ayahnya.


Aku mengangguk mengerti lalu melangkah ke ruang tamu. Mataku tertuju pada beberapa bingkai foto yang terpajang di bufet. Foto masa kecil, masa sekolah, liburan, wisuda dan lain-lain. Semuanya tentang Kak Baruna dan keluarganya. Tiba-tiba mataku tertuju pada sebuah bingkai foto dua orang anak kecil yang tertawa sedang bermain pasir. Satu orang laki-laki dan satu orang perempuan yang tidak lain adalah aku dan Kak Baruna. Aku mengambil bingkai itu dan melihat sebuah tulisan di balik bingkai itu 'You are my destiny, Sher.' Aku tersenyum dengan wajahku yang tiba-tiba merona malu.


Pandanganku pada bingkai-bingkai itu terhenti ketika melihat seorang pria berjalan dengan tergesa-gesa menuju pintu keluar. Aku sangat mengenal sosok itu. Pak Reynand dengan pakaian kasualnya keluar membanting pintu seperti anak remaja yang sedang marah pada ayahnya. Ada sedikit keingintahuan dalam hatiku yang begitu kuat mendorongku untuk mengejar dirinya.


Aku melangkah cepat dan membuka handel pintu. Aku melihat punggungnya dari belakang dan memanggil namanya pelan.


"Pak Reynand."


Pak Reynand menoleh ke arahku menatap sinis. Dia mengerutkan keningnya dengan ekspresi wajah yang dingin.


"Apa yang sedang anda lakukan di sini?" tanyaku saat tatapan mata kami bertemu.


Pak Reynand tidak menjawab pertanyaanku. Dia mendorong tubuhku hingga mengimpit berbatasan dengan dinding. Tangan kanannya ditempelkan di dinding tepat di samping kiriku. Aku bergeming menatap mata tajamnya yang dingin itu, menelan liurku tegang. Wajah kami begitu dekat.


"Ke-kebetulan Pak," jawabku gugup.


"Oh iya saya mau tanya sama kamu, bagaimana kalau saya merebut hal yang paling berharga dari Baruna?" tanyanya sinis.


"Berharga? Maksud Bapak apa?"


"Hahaha .... Di balik keberanianmu ternyata kamu hanya wanita yang polos dan bodoh." Dia tertawa sinis.


Wajahnya makin mendekat. Mataku kupejamkan kuat-kuat, takut bertatapan dengan kornea matanya yang berwarna coklat mengilat.


"Kalau saya tidak bisa mendapatkan hak saya, bagaimana kalau saya merebut kamu dari Baruna?!"


Aku membuka mataku terkejut mendengar kata-katanya. Tiba-tiba dia memiringkan kepalanya meraih bibirku melumatnya dengan kasar. Aku mengangkat kedua tanganku mendorong tubuhnya tapi dengan sigap dia meraih tanganku ke atas semakin menekannya menempel dengan dinding. Aku tidak kuasa menahan kekuatannya yang besar itu.


"Mmmhh .... Cukup. Hentikan!" Aku berbicara di sela-sela ciuman yang semakin menjadi.

__ADS_1


Pak Reynand tidak peduli pada kata-kataku. Dia masih meneruskan aksinya itu. Tiba-tiba Kak Baruna datang dan melihat kami.


"Dasar berengsek!"


Kak Baruna mendorong tubuh Pak Reynand dan mengayunkan tinjunya memukul wajah saudara tirinya itu. Pak Reynand membalas pukulan Kak Baruna. Mereka saling baku hantam di hadapanku.


Aku begitu terkejut dan takut melihat perkelahian mereka. Tidak bisa melerai mereka. Tubuhku gemetar lemas lalu terduduk di lantai. Tidak terasa air mata turun berlinang di pipi.


"Beraninya lo cium Sheryl! Enggak bisa gue maafkan," seru Kak Baruna.


"Hahaha .... Gimana ya? Gimana kalau dia jadi milik gue?!" ucapnya sinis.


"Kurang ajar!" Kak Baruna memukul wajah Pak Reynand tanpa ampun.


"Kurang aja itu lo! Lo itu cuma anak selingkuhan bokap. Sok-sokan jadi pewaris tunggal," cibir pak Reynand seraya mengincar perut Kak Baruna dengan tinjunya.


Aku melihat mereka terus saling ejek dan memukul tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Lidahku kelu dan hanya bisa melihat mereka dengan panik. Tidak lama kemudian Om Anton, Tante Meri, dan Kakek Awan datang dan melerai mereka.


"Hentikan! Apa-apaan kalian berkelahi di rumah ini!" teriak Kakek Awan sambil memegang bahu Kak Baruna menjauh dari Pak Reynand.


"Reynand kamu sadar apa yang sudah kamu lakukan?!" tegur Om Anton.


"Aduh Nak. Kalian ini bersaudara. Jangan berkelahi," tambah Tante Meri.


Pak Reynand menatap ketiga orang itu, menyeka darah yang keluar dari sudut bibirnya dengan punggung tangannya lalu meludahi lantai yang sudah bercampur dengan tetesan darah.


"Terus saja ayah membela dan memilih anak dari selingkuhan ayah itu!" teriaknya.


Om Anton melangkah ke hadapan Pak Reynand dan menampar wajah anaknya itu, "Didikan ibumu ini yang paling kubenci sehingga berani melawanku!"


"Aku tidak akan melupakan peristiwa ini," ucap Pak Reynand seraya menyentuh pipinya yang memerah.


Dia lalu pergi meninggalkan kami semua menuju mobilnya dan melesat meninggalkan kediaman Om Anton dengan wajah yang masih menampakkan kemarahan.


Kak Baruna menghampiriku yang masih terduduk di lantai dan berkata, "Maafkan aku."

__ADS_1


Aku hanya menangis tidak bisa berkata apa-apa. Napasku terasa sesak dan aku tidak ingat apa-apa lagi. Pandangan berubah gelap seketika. Aku pingsan.


__ADS_2