
Reynand PoV
Aku merangkul pundak Mama berusaha menenangkan emosinya. Mungkin ini terlalu mengejutkan bagi dia, tapi tidak bagiku. Bagaimana pun aku sudah tahu apa yang akan terjadi.
"Ma, sudah! Jangan emosi! Aku sudah mengatakannya dari kemarin kalau hal ini akan terjadi. Mama tenanglah ...," ucapku yang keburu dipotong olehnya.
"Rey, kamu tidak mengerti. Mama sangat membenci keluarga ini. Bisa-bisanya kamu akrab dengan mereka," sahut Mama segera beranjak dari tempat duduknya.
"Tunggu, Aina! Kita bisa membicarakan masalah ini. Jangan keburu emosi. Reynand juga anakku." Ayah mencegah Mama membuat keributan.
"Iya Aina, semua bisa diselesaikan tanpa emosi," tambah Tante Meri.
Pak Irfan yang melihat percekcokan di atara kami lantas terdiam tidak meneruskan perkataannya.
"Tante, tenanglah!" kata Baruna.
"Baruna, tidakkah kamu merasa sedikit simpati pada Reynand?" tanya Mama tiba-tiba.
"Mama, apa sih?!" Aku marah mendengar kata-kata Mama.
Baruna tertegun menatap kami. Dia terlihat bingung. Begitu pula dengan Ayah Anton.
"Maaf, sepertinya aku harus pergi!" dengkusku marah lalu berbalik arah keluar ruangan.
"Rey!" panggil Mama, tetapi tidak kuhiraukan.
Aku masuk ke dalam mobil. Menarik napas panjang seraya merutuki diri sendiri. Seharusnya memang kami tidak perlu datang ke sini. Tadinya aku pun sudah menolak, namun Mama berkata lain. Dia terlalu berambisi ingin aku menjadi yang utama.
Mama membuka pintu mobil duduk di sampingku. Raut wajahnya terlihat kesal. Aku hanya menggelengkan kepala melihat kelakuannya. Dengan segera melajukan mobil keluar dari halaman rumah Ayah Anton.
Lama kami saling terdiam dan tidak saling menegur. Aku melirik wajah Mama dari kaca spion tengah. Masih dengan raut wajah cemberut. Tiba-tiba dia menoleh ke arahku.
"Rey, kamu tahu masalah Marriage Order Agreement yang tadi sempat disebutkan?" tanya Mama.
"Kenapa, Ma?"
"Tidak apa. Hanya ingin tahu maksud surat itu."
"Aku tahu isinya, Ma."
"Apa isinya?"
"Perjanjian bisnis antara keluarga Kusuma dan keluarga Asyraf untuk menikahkan anak mereka berdasarkan hutang piutang yang terjadi."
Mama menghela napas, "Mereka tidak pernah belajar dari pengalaman. Suka membuat masalah. Terutama ayahmu itu," tukasnya geram.
"Kenapa sih, Ma? Masih dendam dengan Ayah?" tanyaku masih fokus ke jalan raya.
"Lagaknya seperti orang yang bijaksana. Padahal semua masalah bersumber darinya," sahutnya.
"Ehm ... boleh aku tanya sesuatu, Ma?" tanyaku ragu.
"Iya. Apa yang ingin kamu tanyakan, Rey?"
"Berapa hakku di Pradipta Corporation?" tanyaku.
Mama sontak menoleh membelalakkan matanya, "Jangan katakan kalau kamu yang ingin membayar hutang keluarga Kusuma?"
Aku tidak menjawab dan hanya diam seribu bahasa. Mengenai hal ini sudah kupikirkan sejak kemarin. Aku tidak mau dia terjebak dalam pernikahan seperti itu.
"Katakan kamu tidak serius, Rey!"
"Aku serius."
__ADS_1
"Astaga! Astaga! Jika kamu melakukan itu, artinya kamu sudah mempermalukan Mama di depan keluarga Ayahmu!"
Aku menghela napas. Mendengar perkataan Mama yang memarahiku.
"Astaga! Mimpi apa aku mempunyai anak dan mantan suami seperti ini," keluhnya.
Aku mengangkat kedua sudut bibirku tipis. Mama menggelengkan kepalanya.
"Kamu ingin membunuh Mamamu pelan-pelan, hah?" Tiba-tiba Mama berkata hal yang membuatku lantas menepikan kendaraanku dan menoleh ke arahnya.
"Tidak, Ma!"
"Jangan pernah mengatakan hal seperti ini lagi. Pradipta sudah berkembang dari nol. Mama dan keluarga Mama yang membuatnya maju pesat hingga sekarang. Berharap agar para keturunan kami tidak kesulitan dalam menjalani hidupnya. Seharusnya kamu bersyukur hidup dengan mudah. Dibesarkan dengan pendidikan yang layak, tanpa kekurangan satu apa pun. Hal itu pula yang menjadikanmu sosok yang besar seperti sekarang. Dengan sosokmu yang sekarang, jangankan satu, seribu wanita seperti Sheryl bisa kamu dapatkan tanpa susah payah seperti ini. Dibanding Sheryl, kamu harus lebih mengenal Kayla. Dia lebih segala-galanya dibanding wanita itu."
Aku menggigit bibirku kecewa, mendengar kata-kata Mama yang serta merta terasa menghujam jantungku. Lagi-lagi dia menyebut nama Kayla untuk kesekian kalinya. Aku pun salah karena tidak berpikir panjang. Bisanya hanya meminta hakku dipenuhi, karena berpikir hal itu adalah satu-satunya cara bisa mendapatkan Sheryl. Namun, tidak mungkin aku mengorbankan aset perusahaan tanpa persetujuan Mama.
"Kenapa diam? Baru merasa, kalau kamu tidak ada apa-apanya tanpa Mamamu?!" tanyanya lagi.
"Tidak apa. Maaf kalau pertanyaanku membuat Mama sedikit frustasi." jawabku dingin, "jadi, mau ke mana sekarang?" tanyaku mengalihkan pembicaraan dan bersiap melanjutkan perjalanan.
"Antar Mama pulang," katanya dengan wajah sedikit kesal.
"Iya, Ma."
Aku segera menambah kecepatan laju mobilku untuk mengantar Mama sampai rumah.
Setengah jam kemudian kami sampai di halaman rumah. Aku menoleh ke arah Mama dan berkata, "Aku tidak mampir ya, Ma."
"Iya. Hati-hati sampai apartemen. Jangan lupa makan."
"Iya, Ma."
Mama membuka pintu mobil dan melangkah masuk ke dalam rumah. Aku memutar mobilku keluar halaman dan melaju menuju apartemen.
****
Masih di waktu yang sama ....
Suasana yang tadinya sedikit ricuh akibat Tante Aina yang menyela, membuat kami sekeluarga sedikit bingung untuk menghadapinya, meskipun sebenarnya aku tahu akan jadi seperti ini.
Pertemuan itu pun berakhir. Pak Irfan menutup acara setelah kami semua menandatangani berkas-berkas yang telah disampaikan.
"Demikian semua sudah saya sampaikan. Selanjutnya, menjadi kewajiban keluarga untuk melaksanakan wasiat Pak Awan," jelas Pak Irfan
"Terima kasih atas segalanya, Pak." Ayah mengulurkan tangannya, menjabat tangan Pak Irfan. Aku dan Mama pun melakukan hal yang sama.
"Sama-sama. Saya sangat bersyukur bisa menunaikan amanah Pak Awan untuk menyampaikan semuanya," sahutnya seraya bangkit dari tempat duduk.
Aku dan ayah lalu mengantar ia keluar ruangan sampai dengan halaman rumah. Kami memandang kepergian notaris itu sejenak hingga akhirnya masuk kembali ke dalam.
"Ayah, jadi apa rencananya setelah ini?" tanyaku.
Ayah menarik napas dalam. Dia menatapku sedikit khawatir.
"Nanti kita bicarakan, ya," katanya.
Aku mengangguk lalu berjalan masuk ke dalam kamar. Merebahkan diri di atas kasurku yang empuk lalu memejamkan mata.
Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak ingin berkelahi lagi. Tapi bagaimana kalau dia membuka rahasia tentang surat itu? Hubunganku dan Sheryl akan terancam. Sebelum dia duluan, aku harus mengatakannya lebih dahulu dan memberikan pengertian padanya.
****
Kayla PoV
__ADS_1
Aku menatap pantulan bayanganku di cermin meja rias. Menghapus make up yang tebal. Kembali menjadi seorang Kayla yang sesungguhnya.
Arlojiku menunjukkan pukul delapan malam. Hari ini jadwalku baru saja selesai. Aku bangkit dari dudukku menoleh ke arah Anita.
"Anita, aku pulang duluan ya. Lelah sekali," kataku.
"Oke, Kay. Jangan lupa besok ada pemotretan majalah Kartina."
"Iya, tentu saja," sahutku bersemangat.
Anita menganggukkan kepalanya. Aku pun melangkah keluar dari ruang rias itu. Berjalan menuju area parkir. Tiba-tiba pikiranku tertuju pada Reynand. Andai saja dia seperti dulu, suka datang menjemputku.
Oke Kayla, kamu adalah wanita mandiri sekarang. Tidak boleh manja dan mengandalkan orang lain.
Aku masuk ke dalam mobil. Menghidupkan mesinnya, tiba-tiba sebuah panggilan telepon masuk terdengar. Reynand meneleponku. Hampir saja ponsel itu kulempar saking kegirangan. Aku pun segera mengangkatnya.
"Halo, Rey."
"Kay, apa kamu sedang sibuk?"
"Tidak. Jika itu untukmu, aku selalu mempunyai waktu luang."
"Temani aku makan malam."
"Wah kebetulan aku juga belum makan. Mau makan apa, Rey?"
"Hari ini aku memasak. Kamu hanya perlu menemaniku makan malam."
"Dengan sepenuh hati. Tunggu aku di apartemenmu."
Reynand tidak menjawab, melainkan langsung mematikan teleponnya. Sikapnya itu membuatku sedikit kesal. Dia tidak punya tata krama sama sekali jika berhadapan denganku. Biar sajalah, yang penting aku akan segera bertemu dengan pujaan hatiku itu.
Aku menekan pedal gas mobilku melaju menuju apartemen Reynand. Senyum kecil kusunggingkan selama perjalanan. Mimpi apa dia mengajakku makan malam berdua saja?
Setengah jam kemudian, aku sudah berada di depan pintu unit apartemennya. Reynand membuka pintu. Wajahnya yang dingin membekukan suasana seketika.
"Masuklah."
"Dengan senang hati wahai pangeran," sahutku tersenyum.
Dia tidak menanggapi perkataanku. Aku merebahkan diri di atas sofa. Reynand mempersiapkan makanan dan segera menatanya di meja makan.
Senang sekali jika ia benar-benar menjadi suamiku.
"Sini, Kay!" Dia memanggilku untuk duduk di hadapannya.
Aku menatap wajahnya yang tampan berbalut dengan busana kasual yang sangat menarik.
"Ada angin apa kamu mengundangku seperti ini?" tanyaku.
"Tidak ada. Hanya saja, karena kemarin kamu sudah memberikanku kotak bekal, tidak ada salahnya aku mengajakmu makan. Impas, bukan?"
"Oh .... Ternyata hanya aku yang berharap terlalu tinggi," gumamku.
"Apa kamu bilang?" Reynand mendekatkan telinganya.
"Tidak ada."
"Makanlah. Aku sudah menyiapkan makanan sebanyak ini."
"Terima kasih, Rey," sahutku sambil memasukkan makanan ke dalam mulut.
Reynand tidak melihatku. Dia lalu fokus pada ponsel di genggamannya seraya memakan makanannya. Lagi-lagi aku harus kecewa memandang pria di hadapanku ini.
__ADS_1