Marriage Order

Marriage Order
Pencarian


__ADS_3

Reynand PoV


Waktu sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh saat aku dan Mama tiba di rumah. Mama berada di atas tempat tidurnya, duduk beristirahat sambil menyandarkan bahunya di sebuah bantal.


"Mama mau apa? Nanti aku belikan."


"Tidak perlu, Nak. Sebentar lagi Indira dan Daniel juga datang. Kamu katanya mau pergi?"


"Iya sih Ma. Sebentar lagi aku mau bertemu Kayla," ujarku berbohong.


"Iya. Salam ya untuk dia dan keluarga." Mama tersenyum.


"Iya Ma."


Tidak lama kemudian Indira dan Daniel datang. Mereka membawakan sekantung oleh-oleh untuk Mama.


"Mama!" Indira berhambur memeluk Mama dan mengecup kedua belah pipinya.


"Bagaimana keadaannya, Ma?" tanya Daniel seraya memandang Mama.


"Sudah lebih baik. Sakit seperti saat sesar melahirkan Reynand," seloroh Mama.


Aku sontak menoleh ke arah Mama tersenyum, menyahut pelan, "Maafkan aku membuatmu terluka, Ma."


"Oh anak Mama yang paling tampan .... Maaf Mama tidak bermaksud membuatmu kepikiran. Hahaha." Mama tertawa sambil memegang perutnya yang sakit.


"Ma, jangan tertawa-tawa dulu!" perintah Indira.


"Ah iya maaf. Lihat tingkah Kakakmu itu membuat Mama terbahak."


"Sudahlah Ma, Kak Rey memang suka seperti itu. Tidak terduga," ucap Indira tertawa.


"Ma, aku pergi sekarang. Dira, Daniel, tolong jaga Mama." Aku mengambil jaketku dan berjalan keluar ruangan.


"Hati-hati," ucap Mama.


Aku mengambil kunci mobilku dan segera memacunya berjalan cepat ke kantor polisi tempatku dan Baruna berjanji untuk bertemu. Pikiranku saat ini hanya tertuju pada Sheryl. Aku harus bisa menemukannya.


Selang beberapa lama kemudian aku sudah memarkirkan mobilku di halaman kantor polisi. Tampak mobil Baruna sudah terparkir di sana, entah sejak kapan.


Aku membuat panggilan untuk Baruna di dalam ponsel pintarku, Baruna pun mengangkatnya.


"Sudah di mana?"


"Di dalam, di ruang pengaduan."


Aku mengakhiri panggilan, bergegas masuk ke ruang pengaduan. Tampak Baruna, Reza, dan Pak Agung sudah duduk berada di sana. Polisi sibuk mengetik laporan di depan layar komputer. Reza duduk di hadapan polisi menceritakan tentang kejadian Sheryl yang menghilang.


Aku melangkah mendekati Baruna yang duduk di samping Pak Agung, lalu nenepuk bahunya. Baruna menoleh mengalihkan pandangannya ke arahku. Menggeser duduknya mempersilakanku untuk duduk.


"Bagaimana?" tanyaku.


"Sedang laporan," jawabnya singkat entah mengapa.


"Oh ...." Aku menganggukkan kepala mengerti.


"Lo tahu Rey, gue curiga pada seseorang," lirihnya. "Dia adalah Satya. Dia laki-laki yang pernah gue hajar di acara reuni Sheryl."

__ADS_1


"Kita enggak boleh berprasangka buruk. Kita enggak ada bukti kuat."


"Tapi gue yakin dia adalah dalang di balik ini semua," dengkusnya dengan wajah masam.


Pak Agung yang melihat kami berdua segera menenangkan Baruna yang meledakkan emosinya di hadapan kami.


Drrt ... Drrt ... Drrt ....


Ponselku bergetar, aku segera mengambilnya dari dalam saku jaketku. Nama Kayla tertera di layar. Aku bangkit berdiri melangkah keluar menjawab panggilannya.


"Rey! Kamu di mana?"


"Aku sedang di kantor polisi."


"Ada masalah apa? Kamu membohongi ibumu. Aku ada di rumahmu sekarang. Ibumu sangat marah."


"Maaf Kay, aku tidak bisa menjelaskannya sekarang. Lakukanlah apa pun yang kamu suka di sana."


"Arrrgh .... Rey, Reynand!" Kayla berteriak.


Aku buru-buru mematikan telepon. Tidak peduli dengan dering telepon yang datang selanjutnya. Kayla, pasti dia yang meneleponku lagi.


Aku masuk kembali ke dalam ruang pengaduan. Reza yang sudah selesai memberikan laporan bangkit berdiri dan melangkahkan kaki keluar diikuti aku, Reza, dan Pak Agung.


Di halaman parkir, Baruna menoleh ke arahku. Wajahnya yang ditekuk masam tampak serius menatap.


"Rey, kita harus bicara,"


"Boleh. Di mana?" tanyaku.


"Bar, gue sama Papa tunggu di mobil," ujarnya.


"Iya Za, gue cuma sebentar kok."


Reza tersenyum simpul melihat kami. Dia berbalik arah menuju mobilnya. Cuaca yang cukup terik siang itu tidak membuatnya ikut panas atas pertemuan kami berdua yang terlihat begitu serius bagaikan dua orang laki-laki hendak berkelahi.


"Jawab jujur, lo ada perasaan apa ke Sheryl?"


Deg!


Aku bergeming tidak berbicara. Baruna kembali menatap kesal.


"Gue serius, Rey. Gue yang paling tahu, hubungan lo dengan Sheryl enggak seperti ini."


"Jawaban apa yang lo harapkan dari gue?"


"Cih ... kenapa lo nyebelin banget sih? Pantes Sheryl benci banget sama lo."


"Bar, kayaknya ini bukan waktunya lo untuk cemburu sama gue. Mau gue suka atau enggak itu bukan urusan lo."


"Whatever! Kekhawatiran lo cukup sampai sini aja. Selanjutnya gue dan keluarga Sheryl yang akan mencarinya," dengkus Baruna berbalik arah berjalan meninggalkanku.


"Bar! ... Bar! ... Bar!" Aku memanggilnya berkali-kali namun dia terus berjalan berpura-pura tidak mendengar lalu masuk ke dalam mobil bergabung bersama Reza dan Pak Agung.


Aku bergegas masuk ke dalam mobilku, duduk di kursi kemudi. Segera, aku mencengkeram kemudiku memacunya dengan kecepatan tinggi. Rasa marah juga menyelimutiku yang tertohok dengan pertanyaan Baruna tadi. Haruskah aku mengakui perasaan itu? Entah, aku belum yakin apa memang aku jatuh hati padanya. Tapi berkali-kali aku merasa hatiku sesak saat menyadari kalau aku bukan siapa-siapa baginya.


Tiba-tiba aku teringat seseorang yang bisa membantuku. Wisnu, seorang ahli informatika dan juga pemberi segala informasi apa pun yang ada di kota ini. Dia adalah salah satu temanku. Keahliannya tidak bisa diragukan lagi walaupun aku harus membayar mahal.

__ADS_1


Aku pun segera menghubungi Wisnu. Nada sambung terdengar begitu lama sampai akhirnya dia mengangkat telepon.


"Halo, Nu. Lo lagi di mana? "


"Hai Rey, tumben telepon. Ada apa?"


"Gue mau ketemu."


"Gue lagi di rumah, Bro."


"Oke, gue meluncur ke sana."


Aku berbalik arah menuju kediaman Wisnu yang letaknya tidak jauh dari posisiku sekarang.


Hanya butuh waktu lima belas menit sampai akhirnya aku tiba di halaman rumah Wisnu. Aku keluar dari mobil menunggunya di teras. Tidak lama kemudian dia keluar menemuiku.


"Hai Rey, apa kabarnya? Wah udah lama enggak ketemu makin mateng aja lo. Kapan nih undangan disebar?" sapanya tersenyum memberikan salamnya.


Aku menyambut salam itu mengernyit sambil tertawa kecil, "Gue baik-baik aja seperti yang lo lihat. Undangan apa?"


"Pura-pura aja lo. Married-lah. Apa lagi?"


"Gampanglah soal itu. Nu, gue mau minta tolong," ujarku membuka pembicaraan.


"Wah kalau Rey udah minta tolong begini artinya penting banget nih. Lo mau minta tolong apa, Rey?"


"Bantuin gue cari orang hilang."


"Orang hilang siapa?"


"Cewek, Sheryl namanya."


"Wah kayaknya serius. Ayo masuk dulu. Kita ngobrol di dalam. Kebetulan bini gue udah selesai masak. Kita makan dulu ya." Wisnu mempersilakanku masuk ke dalam rumah. Kami lalu duduk di ruang tengah bersama istrinya yang sedang santai bermain dengan Devano, anaknya yang masih kecil.


"Jadi siapa tadi namanya?" tanya Wisnu seraya menatapku.


"Sheryl."


"Pacar?"


"Bukan"


"Saudara?"


"Bukan."


"Teman?"


"Hmm ... bisa iya bisa enggak sih," jawabku ragu.


"Astaga .... Lo kenapa jadi begini? Reynand yang teges hilang seketika," tukasnya tidak percaya.


"Ya pokoknya bantuin aja sih. Lo bantuin temen masa gak bisa?" sahutku memasang wajah masam.


"Iya-iya boleh. Tapi lo harus cerita siapa cewek ini. Dia pasti cewek yang bikin lo berubah seratus delapan puluh derajat kayak begini. Ayo ke ruang kerja gue." Wisnu bangkit dari tempat duduknya mengajakku masuk ke dalam ruang kerjanya.


Apa pun itu akan aku usahakan untukmu, Sher."

__ADS_1


__ADS_2