Marriage Order

Marriage Order
S3 Hubungan Saudara


__ADS_3

Di sinilah kami saat ini. Duduk saling berhadapan, melingkari sebuah meja bundar di sebuah restoran Padang dekat dengan butik dokter Naya. Kami menikmati menu makan siang tanpa banyak berbicara. Begitu rikuh dan aneh suasananya.


Reynand. Kakak tiri Baruna ini juga tidak mengeluarkan sepatah kata pun dari mulutnya. Dia begitu berkonsentrasi memotong daging ayam bakar dengan sendok dan garpunya, lalu mengunyahnya perlahan.


Astaga, yang benar saja! Kau kira sedang membaca buku dan butuh berkonsentrasi, Sher?!


Aku menghela napas. Mataku menari melirik mereka bergantian. Nayara gantian menatapku dan Reynand.


"Tidak seru!" teriaknya tiba-tiba.


Reynand tersentak menoleh ke arahnya. Mengernyitkan wajah dengan heran. "Apa yang tidak seru?"


"Kalian."


"Aku dan Sheryl?" Pria itu menunjuk dirinya sendiri.


"Ya! Setelah batal menikah, jadi seperti ini hubungan kalian? Canggung dan aneh." Wajah cantik dokter wanita itu terlihat tidak suka.


Mendengar perkataan Nayara, bola mataku sontak melebar. "Maksudmu apa, Nay?" lirihku.


"Ya, kalian berinteraksi begitu canggung. Bisakah terlihat biasa saja?"


"Menurutku biasa saja. Entah menurut Sheryl." Mata tajam itu melirik ke arahku.


Aku mendengus, memasang senyum ke arah Nayara. "Kami memang seperti ini. Menurutmu, hubungan kami harus seperti apa, Nay?"


"Karena kalian sudah menjadi saudara, seharusnya berhubungan baik seperti aku dan Kak Farhan." Nayara tiba-tiba bangkit dari duduknya, berkacak pinggang menatap seraya memajukan sepasang bibir di hadapanku dan Reynand.


"Kami baik-baik saja, Nay." Aku meyakinkan dokter wanita itu lagi.


"Tidak! Kalian berdua aneh." Nayara tetap pada pendiriannya.


"Terserah kau saja!" Reynand hanya menggelengkan kepala, lalu meneruskan makan siangnya.


Aku hanya melirik ke arahnya yang tetap santai walaupun Nayara menuduhnya seperti itu. Ia tidak peduli dengan anggapan orang lain tentang bagaimana hubungan kami sekarang. Seperti yang kubilang, aku menghormatinya. Saking menghormati pria di depanku ini, aku tidak ingin terlibat lebih jauh dalam pembicaraan apapun. Pandanganku kemudian tertuju pada hidangan daging rendang dan nasi yang berpadu dalam satu piring, lalu memutuskan untuk memakannya kembali.


Nayara yang tidak puas dengan jawaban Reynand akhirnya duduk, kembali pada hidangan di mejanya. Tidak lama, ia tiba-tiba saja bangkit dari kursi seraya memegangi perutnya, meringis.


"Aku ke toilet dulu. Perutku rasanya mulas," katanya yang langsung berjalan tergesa tanpa mendengar tanggapan dari kami.


"Hei, Nay!" panggilku karena melihatnya membawa dompet serta ponsel bersamanya. Namun, wanita itu sepertinya sengaja pergi, karena tidak menoleh sedikitpun ke arah meja kami lagi.


"Tidak apa. Mungkin dia memang kebelet." Reynand menyahut dengan nada datar.


"Kau tidak lihat?" Mataku membelalak hingga membuat pria itu mengangkat wajahnya sedikit, menatapku. "Dia membawa ponsel dan dompetnya. Kau pikir dia benar-benar akan ke toilet?"

__ADS_1


Mendengar perkataanku, Reynand sontak menoleh ke sampingnya. Benda pribadi milik Nayara sudah raib tanpa tersisa. Bukannya kesal karena ditinggalkan, pria itu malah tergelak seakan sedang mengalami hal lucu.


"Ini tidak lucu, Rey," kataku keberatan.


"Ya, sudah! Mau diapakan? Dia memang usil. Makan sajalah," timpalnya seraya melihat piringku yang masih tersisa setengah. "Lihat! Kau belum menghabiskan makananmu."


Aku menghela napas. Melihat nasi putih dan daging rendang yang membuatku tiba-tiba merasa mual.


Haish! Ada apa denganku? Tidak mungkin aku jadi grogi seperti ini?


"Sher? Kau tidak apa-apa?" tanya Reynand yang tiba-tiba khawatir. Aku hampir memuntahkan makananku sendiri.


"Aku mual!" kataku langsung bangkit berdiri pergi menuju toilet.


Salah satu bilik kosong itu menjadi saksi kalau rasa mualku hanya sebuah sugesti. Aku tidak muntah. Hanya meludah beberapa kali.


Apa yang terjadi?


Setelah menenangkan diri dan yakin tidak mual lagi, aku keluar dari bilik toilet, berjalan dengan langkah gontai. Cermin besar wastafel menjadi pantulan kejujuran air muka saat ini.


"Baik-baik saja," gumamku seraya menyeringai. "Apa yang baik-baik saja? Kami bahkan tidak pernah berbicara dengan baik setelah dia membatalkan pernikahan kami di hari H."


Aku mencuci tangan dan membereskan anak rambut yang berdiri tidak rapi. Sedetik kemudian, berjalan keluar toilet.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Reynand dengan air muka cemas. Kelihatannya pria ini menungguku di depan pintu.


"Tidak apa-apa," jawabku menggeleng pelan.


"Apa perlu ke rumah sakit? Kau sedang hamil, ya?" Dia bertanya kembali.


Gila! Apa-apaan pertanyaannya itu? Baruna tidak menaruh benihnya sebelum kami benar-benar sah seperti dia dan aku .... Haish!


Pikiranku kembali melayang ke zaman jahiliyah kami.


"Tidak!" sahutku singkat, kemudian bergegas pergi meninggalkan pria itu.


Sesampainya di meja bundar itu, segera meraih tas selempang kecil milikku yang sengaja kuletakkan di atas meja. "Aku pulang ya, Rey! Sudah tidak berselera makan."


"Kau pulang dengan siapa?" tanya Reynand lagi. Pria itu dengan cepat sudah berdiri di depanku.


"Pak Amri. Beliau menungguku di mobil depan butik."


"Kuantar! Mobilku juga ada di sana," katanya.


Aku menelan ludah, tidak bisa menolak. Semakin menolak, entah mengapa ia semakin mendekat. Seharusnya aku benar-benar menghormatinya seperti posisi seorang pelajar yang sedang hormat pada bendera merah putih pada upacara hari Senin. Khidmat.

__ADS_1


Dia berjalan di sampingku. Mengiringi langkah hingga pelataran parkir butik. Tiba-tiba saja ponsel kami berbunyi bersamaan. Sebuah notifikasi pesan dari Nayara.


[Maaf, aku meninggalkan kalian. Bagaimana? Sudah akrabkah?]


Aku menarik napas gemas. "Nayara!"


"Nayara? Kau juga mendapat chat darinya?" Reynand menolehkan pandangannya ke layar ponselku. Aku mengangguk pelan.


"Kau juga?"


"He-em," jawabnya, menggeleng pelan. "Sudah akrab, huh?"


Aku setengah tersenyum menyadari pria di sampingku ini mendapatkan pesan yang sama.


"Aku tidak ingin akrab denganmu, Rey." Ucapan itu meluncur begitu lancar dari mulutku.


"Aku tahu," sahutnya kemudian terdiam. "Makanya, aku tidak ingin memedulikan perkataan Nayara tadi. Tapi sepertinya aku salah. Aku begitu mengkhawatirkanmu saat kau terlihat ingin memuntahkan seluruh isi perutmu tadi. Di hatiku yang paling dalam, berharap kalau kau tidak sedang hamil dan itu menjadi kenyataan saat kau menjawabnya dengan lugas."


"Rey, kau ...." Aku mengernyit bingung mendengar perkataannya.


Apa yang sedang dia pikirkan? Dia sudah gila jika masih menyimpan perasaannya kepadaku.


"Sudah! Lupakan perkataanku. Lain kali, aku tidak akan muncul di hadapanmu," ucapnya tiba-tiba. Segaris senyum tipis terlihat di wajahnya. Dia menundukkan kepala pamit, kemudian berlalu pergi dari hadapanku, masuk ke dalam mobilnya.


Aku mematung cukup lama memandang mobil sedan putih itu sampai menghilang dari pelataran parkir butik. Setelah yakin ia pergi, aku pun masuk ke dalam mobil.


"Jalan, Pak!" kataku kepada Pak Amri.


"Baik, Nyonya!"


Pak Amri pun menginjak gas mobilnya, patuh pada perintahku. Dalam waktu satu menit kemudian, kami sudah berada di jalan raya menikmati pemandangan kota Jakarta yang panas pada siang hari.


"Pak, kita ke kantor Asyraf. Aku ingin bertemu suamiku," kataku lagi.


"Baik, Nyonya."


Entahlah. Aku merasa harus bertemu dengan Baruna. Menenangkan pikiran dengan bercerita tentang apa yang kualami barusan. Aku tidak ingin ada rahasia apapun di antara kami.


.


.


.


Hayo yang suka Rey sama Sheryl ketemuan mana orangnya?

__ADS_1


Tinggalkan like, komen, dan vote kalian sebagai tanda cinta untuk author. Terima kasih.


__ADS_2