
Reynand Pov
Aku sontak menoleh ke arah pintu kala mendengar suara seseorang yang membuka pintu yang mengganggu lamaunanku. Mama. Ia memasang senyumnya, berjalan ke arahku.
"Mama senang kau mau menginap hari ini," ucapnya.
Aku bangkit berdiri membalas singkat senyum Mama yang jarang kulihat akhir-akhir ini karena perdebatan kami yang tak kunjung berakhir. Siapa lagi yang membuatnya begitu selain karena seorang Sheryl yang telah merebut hatiku?
"Bukankah rumah ini juga adalah rumahku?" Aku mengangkat sebelah alisku, lalu beranjak menuju sofa.
Mama mengikuti dan duduk di hadapanku. "Ya, tapi karena saking jarangnya kau menginap, Mama pikir rumah ini tidak lagi menjadi rumah utamamu."
"Sejak aku memutuskan tinggal sendiri, apartemen adalah tempat yang paling nyaman untukku, Ma." Aku menuangkan air putih ke dalam dua gelas kosong yang sengaja kuletakkan di tengah-tengah meja.
Mama meminum minumannya. "Karena kau merasa bebas?"
"Siapa yang tak suka kebebasan? Semua orang mendambakannya."
Mama meletakkan gelas yang hampir habis setengahnya kembali ke atas meja. Ia menarik setengah senyumnya yang dingin untukku. "Kau putra Mama satu-satunya. Mama tak ingin tak ada kesalahan dalam membesarkanmu."
"Rumah hanyalah tempat. Di mana pun nantinya aku berada, aku yakin bisa bertahan," jawabku lalu membuang napas perlahan, "Om Agung telah memberikan restu untuk hubungan kami."
Mama mendengus. "Kau pasti makin merasa percaya diri dan bebas bila bersamanya."
"Tak bisa dipungkiri, itu yang kurasakan. Bersama Sheryl, membuat hidupku makin berwarna dan bahagia." Aku menarik segaris senyuman.
"Mengapa kau sangat yakin dia dapat membahagiakan kehidupanmu, sementara hidupnya dulu tak bisa semulus itu? Dia pernah gagal, Rey. Dia juga pernah menyakitimu." Mama kembali mengingatkanku.
"Aku tak pernah melupakannya, Ma. Semua terekam dengan sangat baik di dalam kepalaku."
"Lalu kau masih juga yakin bisa bahagia bila bersamanya?"
"Mama harus ingat satu hal. Aku juga bukan orang yang benar-benar baik. Kurasa, semua orang berproses. Mereka ingin menjadi manusia yang lebih baik dari sebelumnya," jelasku menatap Mama dalam-dalam. Pendirianku tak akan pernah berubah.
__ADS_1
"Meski kalian telah mendapatkan restu, Mama masih belum bisa menyetujui hubungan kalian. Rasanya, Mama belum bisa menerima pilihanmu, Rey. Mama tak ingin ada penyesalan di masa depan karena kau telah salah memilih seorang pendamping."
Aku menyeringai miring. Kali ini meraih gelasku dan meminumnya hingga tandas. "Mama ingat? Mama pernah mengatakan kalau perjalanan hidup Sheryl mirip dengan Mama. Jadi, apa salahnya jika aku ingin terus bersama dia dan melindungi dirinya?"
Mama tak menyahut. Aku ikut terdiam menunggu jawabannya. Aku tahu betapa ia mengkhawatirkan semuanya. Mama adalah tipe orang yang memikirkan segalanya. Ia sangat hati-hati hingga tak ingin merasakan kegagalan seperti yang pernah terjadi dahulu saat menikah dengan Ayah.
Seketika Mama menunduk seolah tak sanggup menatapku kembali dengan sorot dinginnya.
Aku menambahkan ucapanku, "Aku tak akan mengubah pendirianku sama sekali. Apa dengan bersikap begini Mama dapat menyelesaikan perdebatan di antara kita?"
Mama mengangkat wajahnya. "Jika Mama dan Sheryl terjebak dalam sebuah bencana kebakaran, siapa yang akan kau tolong lebih dahulu, Rey?"
Pertanyaan Mama sontak membuatku tercenung. Aku bergeming menatap raut cemas dan serius yang berpadu dalam dirinya.
Mengapa Mama tiba-tiba bertanya seperti ini?
"Apa aku harus menjawabnya?" Aku balas bertanya
"Tentu. Mama ingin mendengar jawabanmu."
"Aku tak akan memilih salah satu dari kalian. Aku akan membiarkan Mama dan Sheryl berada di sana."
Bola mata Mama seketika membulat penuh. Ia tampak tak puas dengan jawabanku. "Mengapa? Kau harus memilih, Rey."
"Tidak bisa, Ma. Kalian sama berharganya bagiku. Jika aku memilih salah satu di antara kalian, hidupku tidak akan sempurna. Bagaimanapun, aku tahu besarnya rasa cinta kalian. Jadi, jangan paksa aku untuk memilih siapa yang akan kuselamatkan lebih dulu."
"Baiklah, kalau begitu." Mama hanya mengangguk-angguk tanpa berkata apa-apa lagi. Namun tanggapannya yang ambigu itu tak dapat kutebak maksudnya.
"Aku tak pernah seserius ini dalam hidup. Namun jika Mama masih terus keberatan dengan hubungan kami, kutegaskan kalau kami tak akan pernah berpisah," aku menambahkan, tapi Mama hanya menatap tanpa jawaban.
***
Sheryl Pov
__ADS_1
Keesokan harinya ....
Hari masih pagi saat Reynand memarkirkan mobilnya tepat di depan sebuah restoran bubur ayam yang letaknya sangat dekat dari kantor Pradipta. Tanpa membuang waktu, pria itu langsung mematikan mesin kendaraan.
"Kita sudah sampai," ucap Reynand dengan senyum yang terus melekat di wajahnya.
Aku bergeming tanpa menyahut, menatap restoran bubur ayam favorit karyawan Pradipta yang saat ini terlihat lumayan ramai padahal hari masih sangat pagi. Sebagian besar karyawan dari kantor Pradipta menikmati sarapannya di tempat itu.
Mengapa Rey berhenti di depan restoran ini? Apa dia sengaja ingin menunjukkan bagaimana hubungan kami di depan orang-orang?
"Rey, tak bisakah kita mencari tempat yang sepi dan jauh dari kantor saja?" kataku seketika menoleh kepadanya.
"Kenapa? Aku sudah lama ingin mengajakmu makan di dalam sana. Dulu, kau juga tak pernah ragu menikmati sarapanmu dengan Irene di sana, 'kan?"
"Ya-ya ... tapi ini terlalu mendadak. Aku tidak siap. Kau akan memperlihatkan hubungan kita di depan orang banyak." Aku menjawabnya ragu. Susah payah menyembunyikan hubungan kami, tapi Reynand dengan terang-terangan malah ingin mempublikasikannya.
"Aku tak punya alasan lagi untuk menyembunyikan hubungan kita. Aku terlalu bahagia mendapatkan restu Papamu. Sebentar lagi, kau akan jadi istriku. Jadi, sudah seharusnya mereka harus tahu hubungan kita," tuturnya yang sontak membuatku mendelikkan mata.
"Kau lupa mengenai ibumu, huh?! Kita belum sepenuhnya mendapatkan restu, Rey. Apalagi, ini di dekat kantor. Jika mereka tahu dan membicarakan kita, ibumu pasti akan menegur kita."
"Aku tak peduli lagi. Pikiranmu terus saja merisaukan hal itu. Ayo kita keluar dan makan. Aku sengaja melewatkan sarapanku di rumah demi sarapan bersamamu." Reynand tersenyum lebar. Ia tampak santai dan tak peduli dengan apa yang akan terjadi nantinya.
Aku membuang napas berat. Walau rasanya kaki ini tak ingin melangkah, aku tak memiliki pilihan. Reynand sudah lebih dulu keluar, membukakan pintu untukku.
Sejujurnya, ketakutanku akan teguran Tante Aina berada di nomor dua. Ketakutan di tingkat yang paling atas adalah kecemasan yang menjadi karena pemikiran orang-orang itu bila melihat bos mereka berkencan dengan seorang janda adiknya. Ya! Janda! Kau tak salah membaca.
Aku menurunkan kaki, keluar dari mobil. Reynand menggenggam tanganku dengan cepat. Aku berusaha mengurainya, tapi genggaman ia begitu erat.
"Oh, ayolah... kau terlihat lucu karena malu."
"Kau meledekku?!"
Pria itu tak peduli. Ia langsung tertawa. Mulutku memanyun kesal. Dengan sengaja memalingkan wajah darinya dan orang-orang. Berharap tak ada orang yang memperhatikan saat kami melangkah masuk. Namun ternyata salah. Salah besar!
__ADS_1
"Sheryl!" Seseorang memanggilku.