
Baruna PoV
Hotel K, Kuala Lumpur
Pukul 23.00 waktu Malaysia.
Aku mengedarkan pandangan ke luar dinding kaca hotel. Suasana hiruk-pikuk jalan raya ibukota masih ramai penuh dengan hilir mudik kendaraan yang berlalu lalang.
Sheryl, kenapa kamu tidak menghubungiku sejak tadi? Apa yang terjadi padamu?
Sudah berkali-kali aku menghubunginya tapi dia tidak juga mengangkat atau membalas teleponku. Sekali lagi aku meraih ponselku, menghubungi Sheryl. Nada sambung terdengar, tapi tidak juga diangkat. Sebuah pesan aplikasi kukirimkan padanya. Ini adalah pesan ke sepuluh yang kukirimkan.
"Sayang, apa yang terjadi padamu? Mengapa tidak menghubungiku sejak tadi? Apa ada masalah?
Satu menit, dua menit, sepuluh menit aku menunggu balasan pesan itu tapi tidak juga ada balasan. Aku pun mencoba menghubungi Reza untuk membunuh rasa penasaran yang menggelayuti. Nada sambung terdengar, tapi Reza tidak juga mengangkatnya. Ponsel itu kuletakkan kembali di atas meja. Menikmati malam sendiri yang menjemukan tanpanya.
Apa yang terjadi pada kalian? Apa aku coba hubungi Tante Rini ya? Tapi sekarang sudah larut malam.
Aku merebahkan tubuh di atas kasur. Mencoba memejamkan mata yang tidak mengantuk. Pikiranku terus tertuju kepada Sheryl. Aku takut terjadi apa-apa padanya.
Tiba-tiba ponselku berbunyi. Sebuah panggilan dari Reza. Aku sontak bangun lalu duduk di atas tempat tidur.
"Ada apa, Bar?"
"Gue mau tanya lo. Apa lo lagi sama Sheryl?"
"Enggak. Gue lagi di kota K. Ada pertemuan dengan klien besok pagi."
"Oh ...."
"Udah telepon lagi belum? Datang aja ke rumah. Dia pasti udah di rumah."
"Belum sih. Tapi gak biasanya dia begini. Gue lagi di KL."
"Oh .... Jadi pindah ke sana**?"
"Iya, udah siap sih semuanya. Tinggal ditempati aja. Kayaknya ada yang gak beres. Lo menyembunyikan sesuatu dari gue, ya?" tebakku.
"Ehm .... Sheryl udah tahu semuanya. Entah dari mana dia mengetahui tentang surat itu. Dia marah dan menangis seharian."
Deg!
Pasti Reynand yang sudah memberitahunya. Dia tidak mungkin tahu jika bukan dari mulut si berengsek itu!
"Za, gue harus pulang sekarang. Dia pasti udah berpikiran macam-macam dan ingin mengetahui banyak hal tentang ini."
"Lo enggak usah khawatir. Masih terkendali semuanya."
"Enggak! Sekarang juga gue harus pulang. Dia enggak boleh berpikiran macam-macam tentang hubungan kami!"
Aku lalu memutus telepon. Bergegas mengambil jaket dan membereskan barang-barangku. Bersiap pulang ke tanah air.
****
__ADS_1
Kayla PoV
Malam yang sama pukul 01.00
Suara dentuman musik dari seorang DJ terdengar begitu memekakkan telinga. Aku dan beberapa temanku masih berjoget bersama di lantai dansa bersama para pemuja dunia malam lainnya.
Aku menoleh ke arah Sheryl yang masih duduk sendiri di sebuah meja bulat, melihat kami yang sedang joget mengikuti alunan musik. Dia tidak mau berjoget bersama kami. Hanya duduk, minum, dan melamun. Entah apa yang dipikirkannya. Seharusnya dia sedang bahagia menjelang hari pernikahan. Namun, aku menangkap kesan yang berbeda.
Apa dia sedang cemburu karena aku kembali pada Reynand? Serakah sekali dia jika merasakan hal itu. Menginginkan dua orang lelaki yang memiliki ikatan darah.
Aku mengangkat kedua sudut bibir tipis. Mengulum senyum saat mata kami bertemu pandang. Kami semua sedang dipengaruhi minuman beralkohol yang sama dengannya. Tidak lama kemudian, aku melihatnya menelungkupkan wajahnya di atas meja.
Hah ... dia mabuk berat! Aku pikir dia wanita yang kuat minum. Ternyata hanya seperti itu.
Tiba-tiba ponselku bergetar. Aku merogoh ponsel dari dalam tas kecil yang masih kukenakan. Panggilan dari pangeran pujaan hatiku.
"Guys, gue duduk sebentar ya," ucapku pada teman-teman yang masih asik berjoget.
"Oke, Kay. Buruan, ya!" sahut Sany salah satu temanku.
Aku berbalik arah meninggalkan kerumunan itu, kemudian duduk di samping Sheryl. Segera kuayunkan tangan mengangkat panggilan telepon.
"Halo, Sayang. Ada apa? Kangen ya sama aku?"
"Kamu di mana? Mamamu meneleponku. Beliau mencarimu karena kamu tidak menghubunginya sejak tadi."
"Aku di Bar Oh. Kamu mau ke sini juga? Eh Sayang, ada Sheryl juga di sini loh. Kamu kangen juga, tidak?" jawabku sedikit meracau.
"Sheryl? Yang benar saja kamu mengajaknya! Dia itu habis sakit dan kamu menyodorkan minuman beralkohol pada wanita itu?! Dasar bodoh!"
Pandanganku mengarah pada wanita itu. Wajahnya cantik dan tidak berdaya saat ini. Mengapa Reynand masih begitu mengkhawatirkannya? Aku yang jadi kekasihnya sekarang.
Aku menghela napas dan memejamkan mata sejenak, kemudian melangkah lagi ke lantai dansa bergabung dengan teman-temanku. Sheryl mabuk tidak sadarkan diri di sana sendirian tanpa seseorang di dekatnya.
Masa bodoh dengan Sheryl! Masa bodoh dengan Reynand! Kedua orang itu tiba-tiba membuatku muak!
****
Reynand PoV
Aku memasukkan ponsel ke dalam saku jaketku. Bergegas pergi ke Bar Oh yang dikatakan Kayla. Rasa khawatir begitu saja menghampiri benakku. Sheryl tidak boleh berada di sana. Suasana di tempat itu tidak cocok baginya.
Aku memacu mobilku secepat yang kubisa. Hanya butuh waktu dua puluh menit sampai tiba di tempat itu. Suasananya penuh dengan ingar bingar para manusia yang memuja hiburan kehidupan malam. Suara musik DJ yang memekakkan telinga cukup mengganggu konsentrasiku mencari Sheryl dan Kayla, ditambah dengan penerangan yang minim di sana.
Aku melangkah ke sebuah meja, dekat dengan bar counter dan melihat sosok Sheryl menelungkupkan wajahnya di atas kedua tangannya si atas meja. Dia membuka matanya dan tersenyum.
"Pak Reynand ...." lirihnya.
"Kamu tidak seharusnya berada di sini, Sheryl."
Aku meraih lengannya bersiap memapah wanita itu. Belum sempat aku melangkah tiba-tiba saja Kayla mendekati kami.
"Sayang, mau kamu bawa ke mana Sheryl?" tanyanya.
__ADS_1
"Aku akan antar dia pulang. Jangan halangi aku! Kamu juga pulanglah. Tidak pantas kamu berada di tempat seperti ini pada tengah malam!" sahutku ketus seraya berjalan menuju pintu keluar.
"Rey, berhenti!" panggilnya.
Langkahku terhenti saat Kayla memanggilku.
"Kalau kamu bawa Sheryl pergi dari sini, kita putus!"
Aku menghela napas mendengar ancaman Kayla lalu membalas perkataannya, "Dengan senang hati, Kay!"
Dengan langkah cepat aku bergegas membawa Sheryl keluar. Berjalan menuju halaman parkir mobil. Segera membuka pintu mobil dan mendudukkannya di samping kemudi, menyandarkan tubuhnya di sana.
Aku segera menghidupkan mesin mobil dan memacunya di atas kecepatan rata-rata. Sesekali aku melirik ke arah Sheryl, takut jika terjadi apa-apa padanya.
Setengah jam kemudian kami sudah sampai di depan gerbang rumahnya yang terlihat sepi. Terlihat dua orang security duduk terkantuk-kantuk menjaga pos keamanan.
"Sher, kita sudah sampai!" Aku menggoyang bahunya seraya membuka sabuk pengaman.
Dia membuka matanya menoleh ke arahku. Wajahnya memerah akibat mabuk.
"Bawa saya pergi dari sini! Aku tidak mau pulang!" amuk Sheryl memukul dadaku berkali-kali.
"Hei ... apa yang terjadi padamu?" Aku menangkap pergelangan tangannya, menghentikan tindakannya itu.
"Cepat bawa saya pergi!" Dia berteriak memaksa.
"Baiklah!" sahutku bingung.
Harus kubawa ke mana dia? Apa tidak apa-apa jika ia tidak pulang?
Aku kembali melajukan mobil menuju sebuah apartemen yang terletak tidak jauh dari kediamannya. Tubuhnya yang ringan kubopong masuk ke unit apartemenku di lantai delapan.
Dia segera kubaringkan di atas tempat tidur. Aku menarik napas panjang memandang wajahnya yang setengah tertidur itu.
"Maafkan saya. Saya tidak tahu kamu akan jadi seperti ini," gumamku seraya membelai rambutnya yang berantakan.
Aku bangkit dari dudukku. Belum sempat aku melangkah, dia menarik tanganku hingga aku terjatuh duduk kembali.
"Tidurlah dengan nyenyak di sini," gumamku lembut.
"Jangan tinggalkan saya, Pak Rey! Kenapa mereka tega menutupi semuanya dari saya?" teriak Sheryl sambil terisak.
Air matanya mengalir, begitu sedih terasa rintihan hatinya di hatiku. Sekaan air mata yang kulakukan tidak lantas membuatnya berhenti menangis. Dia terus menangis memegang erat tanganku.
"Sudahlah, kamu harus tidur nyenyak malam ini." Aku bangkit dari dudukku bersiap keluar kamar. Belum sempat aku melangkah, tangan sheryl sudah menarikku kembali. Aku terjerembab di atas tubuhnya.
Kedua tangannya menggelayut mesra di bahuku, sontak menarik tengkukku hingga kami berpandangan begitu dekat. Dia menciumku seketika. Begitu hangat dan dalam hingga aku terhanyut dan menikmatinya.
Aku melepas ciuman itu. Menatap matanya yang sayu dengan sejuta kerinduan yang kurasakan. Sejenak, aku mencoba untuk menguatkan iman dan menepis bisikan gelora nafsu yang membuncah. Namun, semua itu tak semudah yang terbayangkan. Dinding pertahanan runtuh seketika, saat melihat makhluk yang paling kusayangi tiba-tiba menatapku dengan penuh gairah.
Izinkan aku merengkuhmu dalam dekapan malam ini. Bagaimana dengan dirimu? Apakah kamu merasakan hal yang sama?
Aku membelainya kembali dalam guratan syaraf sensitif yang begitu dalam membuncahkan segala rasa di hatiku. Dia membalas dengan hal yang sama. Kami saling tergoda akan bisikan iblis yang menggema. Merasuki hati yang tidak pernah bisa disalahkan.
__ADS_1
Aku menyentuh setiap lekuk indah ciptaan Tuhan di hadapanku. Saling beradu napas dan memanggil nama bersahut-sahutan. Keringat yang jatuh ke keningnya tidak lantas membuatku berhenti. Kami menyatukan tubuh bersamaan dengan bunyi dipan yang berdenyit teratur. Kusemai benih cinta pada sosok gadis yang membuat jantungku bergelora. Dinding kamar menjadi saksi putaran percintaan panas di antara kami.
Aku sangat mencintaimu, Sheryl.