Marriage Order

Marriage Order
S3 Ibu dan Anak


__ADS_3

Melihat sosok anak laki-laki itu, pandanganku berkelebat, lalu mengedar ke seluruh penjuru pasar. Begitu ramai hingga membuat kepala sedikit pusing. Apalagi mendengarkan tangisannya yang kian kencang. Orang-orang di sana mulai menujukan pandangannya ke arah kami.


Aku merunduk, mencoba menenangkan bocah kecil itu. "Adik manis, di mana ibumu?" tanyaku pelan. Namun, sepertinya ia tidak bisa menanggapinya, bocah itu terus menangis. Tangannya terus menarik dress yang kukenakan.


"Mama! Mama!" Buliran demi buliran air mata jatuh menggelinang pada pipinya yang tembam. Ia sangat sedih.


Aku mengangkat tubuhnya, segera menggendong anak laki-laki itu. Perlahan tangisannya sedikit mereda saat ia masuk dalam gendonganku.


Boleh juga kau, Sher! batinku memuji karena berhasil menghentikan tangisan anak kecil itu.


Anak laki-laki ini pasti hilang dari ibunya. Aku mulai melangkah sembari melihat sekeliling. Mencari pusat informasi pasar. Aku bernapas lega saat sebuah meja panjang dengan tulisan "Infomation Center" terlihat di sana.


Aku mempercepat langkahku, berjalan menuju meja informasi itu. Seorang wanita dengan tinggi yang sama dan warna pakaian yang sama pula tampak berdiri memunggungiku. Sepertinya ia sedang berbicara serius dengan petugas informasi itu.


Saking paniknya, aku mendekat ke arah mereka dengan terburu-buru. Sontak memotong pembicaraan di antara keduanya. "Excuse me! I want make some report. I met a boy crying in the middle of crowded market. I think he's lost from her mother."


Kedua manusia di dekatku sontak berhenti berbicara. Keduanya menoleh ke arahku. Mata perempuan yang memakai pakaian senada denganku itu sontak melebar melihat anak kecil dalam gendonganku.


"Rafa?!" Wanita itu meninggikan suaranya.


Aku terperangah melihatnya. Dia Felicia. Wanita yang memberikan obat alergi kepadaku beberapa waktu lalu.


Felicia buru-buru mengambil Rafa dalam gendonganku. Mengalihkan pandangannya kepadaku dari ujung rambut hingga ujung kaki.


"Kau …." Mata wanita itu menyipit.


"Aku Sheryl," kataku seraya mengulurkan tangan di depannya. Namun, dia tidak langsung menyambut tanganku. Terlihat mencurigaiku.


Apakah aku terlihat seperti seorang penculik anak kecil? Hei, kita pernah bertemu, bukan?


Aku menyengir, menambahkan kalimatku, "Maaf, aku tidak sengaja bertemu dengannya di tengah-tengah pasar. Anak itu menangis menyebut nama ibunya."


"Oh …." Hanya kata itu yang keluar dari mulutnya. Felicia lalu menyambut tanganku dan kami pun bersalaman. "Terima kasih sudah membawanya ke pusat informasi. Aku sangat takut Rafa menghilang. Dia pergi tanpa kuketahui. Anakku adalah hartaku satu-satunya."


Aku mengangguk seraya tersenyum. "Ya, untung saja dia tidak pergi jauh-jauh."


"Ehm, maaf tadi siapa namamu?" Felicia bertanya seraya mengerutkan keningnya.


"Sheryl," kataku.


"Felicia." Dia menyebutkan namanya.


Aku ikut mengernyit. Sepertinya wanita di depanku ini lupa kalau kita pernah berkenalan di toilet hotel. "Ya, aku tahu. Apa kau lupa? Kita pernah bertemu di toilet restoran hotel."

__ADS_1


"Oh, kau si wanita alergi?" Wanita itu menyipitkan matanya memperhatikanku dengan seksama.


Aku terdiam mendengarnya. Dia menyebut diriku adalah si wanita alergi. Entah mengapa aku tidak suka dengan cara dia mengatakannya.


Dengan cepat aku menganggukkan kepala, sedangkan Rafa yang berada dalam gendongan Felicia tampak menatapku dan ibunya bergantian.


"Ada apa, Nak?" tanya Felicia.


Rafa tersenyum menunjuk ke arahku, lalu mengalihkan pandangannya kepada sang Ibu.


"Tante itu mirip Mama," katanya dengan nada suara manja.


Felicia menarik wajahnya. "Oh, ya? Apa yang mirip?" tanyanya menanggapi perkataan Rafa.


"Sama-sama cantik," ucapnya sembari menyunggingkan senyumnya. "Pakaian Mama juga."


Aku menunduk melihat pakaianku. Warna kuning pakaian yang kupakai memang sama dengan warna kuning yang dipakai oleh wanita bernama Felicia itu.


Wajahku seketika memerah mendengar pujian dari seorang anak kecil. Tersenyum-senyum ke arahnya.


Felicia menoleh kepadaku. Menyunggingkan segaris senyuman di wajahnya, lalu mengarahkannya lagi ke arah Rafa.


"Semua perempuan itu cantik. Tidak ada yang jelek. Tuhan menciptakan perempuan lengkap beserta kelebihan dan kekurangannya. Kamu jangan pernah mengejek ciptaan Tuhan," nasihat Felicia begitu bijak.


"Iya, Ma." Rafa menganggukkan kepalanya.


"Ya, Fel." Aku menundukkan kepalaku.


Pasangan ibu dan anak itu pun meninggalkanku sendirian berdiri di pusat infomasi. Menatap hingga punggung keduanya menghilang dari pandangan mata.


Aku menarik napas dalam-dalam, seketika membuangnya. Kembali teringat kalau posisiku tidak jauh berbeda dengan anak kecil itu.


Haish! Kau ceroboh sekali, Sher!


Aku memutar tubuhku menghadap petugas pusat informasi. Memintanya membuat panggilan untuk Baruna lewat pengeras suara.


"Ehm …," ucapku membuka pembicaraan, yang langsung membuat petugas itu mengalihkan perhatiannya.


"May i help you, Miss?"


"Ehm, I need your he–"


Belum sempat aku mengatakan maksudku, suara Baruna tiba-tiba terdengar memanggil.

__ADS_1


"Sheryl! Sayang!"


Aku menolehkan pandangan ke sekeliling. Mencari sumber suara. Tampak Baruna berdiri menatapnya dengan air muka cemas. Dia tampak menghela napas lega, berjalan menghampiriku.


"Kamu dari mana saja? Aku mencarimu sejak tadi." Seketika suamiku memeluk dengan erat.


"Maaf …," kataku lirih.


Baruna melepas pelukannya. "Mana ponselmu? Aku meneleponmu berkali-kali, tapi tidak juga diangkat." Keningnya mengernyit menatapku.


"Tertinggal di kamar hotel," sahutku manja.


Baruna hanya menarik kedua sudut bibirnya. Segaris senyuman terbit di wajah tampannya. Lengannya langsung merangkul pundakku, mengajak pergi dari tempat itu. Kami pun berjalan beriringan bersama menyusuri jalanan pasar yang lumayan luas itu.


"Kali ini aku tidak akan melepasmu sedetik pun, karena kamu lebih ceroboh dari anak kecil." Baruna tersenyum meledek.


"Hei, aku bukan seperti anak kecil. Tadi itu, aku malah ingin melapor ke petugas informasi kalau aku menemukan seorang anak laki-laki menangis seraya menarik pakaianku di tengah-tengah pasar," sanggahku.


"Lalu mana anak laki-laki itu?" tanya Baruna, "aku tidak melihatnya."


"Sudah bertemu dengan ibunya. Kau tahu, ternyata ibu dari anak itu adalah wanita yang memberikan obat alergi kepadaku tempo hari."


"Oh …." Priaku itu hanya membentuk bibirnya membentuk huruf O.


"Oh saja? Kamu sepertinya tidak tertarik?" Aku menaikkan sebelah alisku.


"Aku tidak mengatakan seperti itu," bantahnya, "hanya tidak ingin membahasnya. Aku pikir malah kamu yang tersesat."


"Ya, baiklah. Aku mengaku. Aku dan anak kecil itu sama-sama tersesat." Aku lantas menceritakan semua yang terjadi.


Baruna terkekeh. Mengusap kepalaku dengan lembut. "Makanya kamu harus menurut apa kata suamimu. Aku jamin tidak akan tersesat. Bisa berjanji?"


"He-em, baiklah. Kalau masih menurut tapi tetap tersesat bagaimana?"


"Tidak mungkin. Aku tahu bagaimana kamu, Sayang." Baruna menggelengkan kepalanya. Priaku itu langsung menunjuk ke salah satu toko yang menjual oleh-oleh khas Male city. "Ayo ke sana!" ajaknya.


Aku mengangguk seraya mengembangkan senyuman. "Okay! As you wish, Honey."


Baruna menurunkan tangannya. Dia meraih pergelangan tanganku berjalan ke arah toko yang dimaksud. Siang hariku yang berharga bersamanya di negara ini.


.


.

__ADS_1


.


Tinggalkan like, komen, dan vote kalian sebagai tanda cinta untuk author. Terima kasih


__ADS_2