Marriage Order

Marriage Order
Permintaan Maaf


__ADS_3

Baruna PoV


Aku menutup pintu kamar kakek, meninggalkannya setelah ia menikmati makan siang dan meminum obatnya. Aku dan bunda baru saja tiba di rumah setelah menjemputnya pulang dari rumah sakit.


Ada sebuah pertanyaan terbesit dalam hati. Mengapa ayah tidak ikut bersama kami? Tadi aku sempat menanyakannya tapi bunda tidak menjawab.


Aku melangkah menuju ruang tengah di mana bunda tengah duduk bersandar sambil termenung.


"Bun," panggilku seraya menghampirinya.


Bunda menoleh ke arahku tersentak kaget, "Ada apa Bar?"


Aku membanting tubuhku duduk di atas sofa berada di sampingnya mengamati wajahnya yang penuh keresahan. Menyandarkan kepalaku di bahunya. Jarang-jarang aku bisa bermanja-manja dengan ibuku itu. Apalagi jika nanti aku sudah menikah dengan Sheryl.


"Apa yang sedang Bunda pikirkan?" tanyaku.


"Tidak ada .... Aduh manja banget sih kamu. Sudah dewasa begini dekat-dekat dengan Bunda. Nanti Sheryl illfeel melihatmu seperti ini."


"Biarkan Bun. Lagipula kalau nanti aku sudah menikah belum tentu aku bisa seperti ini dengan Bunda," sahutku lalu melihat Bunda lagi yang kembali terdiam. "Bun jangan berbohong padaku, aku tahu Bunda menyembunyikan sesuatu."


"Ayahmu pergi menemui mantan istrinya," ucap Bunda tiba-tiba.


"Tante Aina?" Kepalaku sontak mendongak membelalakkan mata.


"Iya. Seharusnya Bunda ikut Bar, tapi dia melarang Bunda dan memerintahkan Bunda untuk menjaga ayah saja di rumah."


"Sudah lama?"


"Dua jam yang lalu."


"Bukankah kalian semua sudah pernah bertemu kemarin di rumah sakit? Untuk apalagi ayah bertemu dengannya?"


"Untuk menyelesaikan semuanya demi kebaikan kalian anak-anaknya."


"Di mana mereka bertemu Bun?"


"Di restoran Daniel temanmu."


"Aku susul ayah ya Bun." Kau beranjak dari tempat dudukku tanpa mendengarkan jawaban Bunda yang melarangku.


Tempat Daniel? Aku akan menyusul ayah ke sana.


Aku bergegas mengambil kunci mobil keluar rumah sembari melirik arlojiku yang sudah menunjukkan pukul dua siang. Seharusnya hari ini aku pergi ke rumah Sheryl untuk ikut acara mediasi dengan keluarga Satya. Tapi sepertinya aku akan membatalkannya.


Aku mengambil ponsel dari saku celanaku membuat panggilan telepon untuk Sheryl calon istriku. Nada sambung terdengar tidak begitu lama sampai dia menjawab panggilanku.


"Halo, sayang maaf sepertinya aku tidak bisa datang ke acara itu."


"Iya sayang tidak masalah. Acaranya pun sudah selesai."


"Selesai? Cepat sekali. Jadi bagaimana?"

__ADS_1


"Sesuai perkiraanku dia memang gila. Acaranya kacau sayang."


"Oh ya? Baiklah nanti kamu ceritakan padaku bagaimana detailnya. Aku ada urusan sebentar."


"Bagaimana dengan kakek?"


"Sudah lebih baik. Sedang istirahat di kamar."


"Maaf aku tidak bisa ikut menjemputnya. Lalu bagaimana acara besok? Apa tidak sebaiknya diundur?"


"Diundur? Ayolah sayang jangan bercanda. Semua persiapan sudah beres. Kakek pun bilang acara pertunangan kita harus tetap berjalan walaupun tanpanya."


"Tetap saja, apa kita bisa bersenang-senang saat kakek sakit?"


"Eemm .... Aku tidak bilang bisa sih. Tapi rencana ini sudah lama. Aku pun sudah menantikannya sayang. Mengertilah."


"Iya, semoga saja acara besok berjalan lancar sayang."


"Iya sayang semoga tidak ada halangan. Aku tutup dulu teleponnya nanti malam aku kabari lagi."


"Iya sayang."


Aku mengakhiri panggilan telepon, segera menekan pedal gas mobilku berjalan menuju Niel Western Restaurant.


Satu jam kemudian aku sampai di halaman restoran milik Daniel. Suasana jalanan di penghujung akhir pekan memang ramai membuat jalanan penuh dengan kemacetan di mana-mana. Sepertinya restoran sedang ramai melihat sulitnya diriku memarkirkan mobil di lahan parkirnya.


Aku beranjak keluar dari mobil melangkah sampai depan pintu restoran tapi langkahku terhenti. Ada sedikit keraguan menyeruak masuk ke dalam pikiran.


Apa ini hal yang benar? Ini adalah urusan ayah. Tapi aku kan anaknya ... aku berhak tahu apa yang sedang terjadi dan apa yang akan mereka bicarakan.


Di mana mereka duduk?


Aku tersentak kaget saat seseorang menepuk bahuku dari belakang lalu menengokkan kepalaku ke belakang. Daniel berdiri cengar-cengir melihatku.


"Bro lo di resto?" tanyaku.


"Yes. Today's weekend bro. Gue harus bantuin yang lain."


"Iya rame banget ternyata."


"Lo sendiri?" tanyanya, dahinya mengernyit.


"Iya Niel. Lo lihat bokap gue gak?"


"Om Anton?"


"Iya menurut lo siapa? Gue cuma punya satu bokap Daniel," ucapku sewot.


"Santai Bar. Bokap lu di atas, di private room ke dua ya sama mama dan Reynand."


"Sudah lama?"

__ADS_1


"Belum baru saja Mama dan Reynand naik ke atas."


"Oh oke, thanks Niel." Aku bergegas melangkah menaiki anak tangga.


Reynand juga ada di sini**?


Tanpa ragu aku segera membuka pintu ke dua private room restoran Daniel. Sontak mereka bertiga terkejut menatap keluar ke arahku yang berdiri di depan pintu.


"Baruna ...," ucap Ayah pelan.


Aku melangkah menghampiri meja mereka.


"Ayah, apa yang sebenarnya sedang ayah rencanakan?" Tanpa basa-basi aku segera menanyakan hal yang membuatku penasaran.


"Duduk Bar," perintahnya.


Aku menarik kursi di hadapanku dan duduk berhadapan dengan mereka. Kedua bola mata kami saling menatap tanpa kata-kata. Wajah Reynand yang begitu serius membuatku gelisah. Pertemuan ini sepertinya akan membicarakan hal yang sangat serius.


Aku melihat ayah menarik napasnya dalam-dalam, mengumpulkan semua keberanian yang ia punya untuk berbicara.


"Aina, aku sungguh ingin meminta maaf padamu atas semua kesalahanku di masa lalu. Maaf telah melakukan semua kekerasan itu padamu."


Tunggu, apa aku salah dengar? Kekerasan? Kekerasan apa? Aku tidak mengerti sama sekali.


Tante Aina menelan ludah mendengar kata-kata ayah. Air mukanya yang biasa terlihat angkuh itu perlahan menghilang digantikan oleh wajah yang teduh dengan mata sedikit mengembang berkaca-kaca menahan segala beban yang dirasakannya bertahun-tahun.


Reynand menoleh seraya mengusap lembut punggung ibunya menenangkannya. Aku yang melihat pemandangan itu benar-benar tidak mempunyai ide apa yang akan mereka bicarakan selanjutnya.


Air mata Tante Aina mulai mengalir. Bulir-bulir air mata itu terjatuh tidak tertahan. Dia lalu menyekanya dengan beberapa lembar tisu yang ia bawa.


"Ma, apa Mama kuat?" tanya Reynand.


Tante Aina mengangguk. Ayah terlihat serba salah melihat mantan istrinya itu.


"Tunggu Ayah, aku sama sekali tidak mengerti kalian sedang membicarakan apa," kataku menyela pembicaraan mereka.


"Kamu cukup diam dan mendengarkan Bar," sahut Ayah.


"Bisakah kita bicara hanya berdua saja?" Tante Aina memohon.


"Kenapa? Biarkan anak-anak ini tahu, seberapa kejamnya diriku menyiksamu. Mereka sudah dewasa. Mereka sudah harus mengerti apa yang ayahnya lakukan selama ini."


Tante Aina mengerjapkan matanya lalu berbicara, "Baiklah aku memang sudah lama ingin membicarakan hal ini. Lalu di mana istrimu? Apa dia takut membicarakan ini di hadapanku? Wanita perebut suami orang."


Deg!


Perebut suami orang? Apalagi ini? Mamakah yang ia maksud? Jika bukan, lalu siapa lagi**?


"Meri sedang menjaga ayahku yang belum pulih benar. Jangan libatkan dia karena aku yang lebih dulu memulai semuanya."


"Aku tidak sudi memaafkan kalian yang menyakiti diriku sampai seperti ini. Lihat betapa banyak hal traumatis yang berhasil kulalui sampai sekarang hingga bangkit dan memulai bisnisku kembali. Apalagi jika ayahmu berniat memberikan semua warisannya kepada Baruna. Anakku tidak akan mendapatkan apapun dari ayah kandungnya!" sahut Tante Aina meluapkan amarahnya lalu bangkit dari tempat duduknya. "Ayo Rey kita pergi dari sini. Kata-kata ayahmu yang membela istrinya benar-benar tidak bisa Mama terima."

__ADS_1


Tante Aina bergegas melangkah keluar dari private room restoran diikuti oleh Reynand yang tergopoh-gopoh mengejar ibunya itu.


Aku melihat ayah yang termenung sendiri terus bergeming tanpa bicara sepatah kata pun. Pikiranku melayang dengan berbagai tanda tanya. Aku benar-benar tidak mengerti apa yang telah terjadi.


__ADS_2