
Reynand Pov
Mendengar perkataanku, Tante Rini mendengus, berkata, "Baruna juga dulu mengatakan hal yang sama. Ia ingin membahagiakan Sheryl, tapi nyatanya tak seperti itu. Pada akhirnya dia menyakitinya."
Aku tersenyum kecut. "Kalian sudah terlanjur menyamaratakan sikapku seperti Baruna dan Ayah. Jika seperti itu, bagaimana aku bisa membuktikan kalau apa yang kukatakan benar-benar tulus berasal dari hatiku yang terdalam?"
"Uruslah ibumu dulu. Beliau akan sangat kecewa kau menentangnya."
"Itu sudah pasti, Tante." Aku mengangguk. "Niatku tulus terhadap Sheryl."
Beberapa saat kami sama-sama terdiam hingga suasananya terasa menjadi tak nyaman. Namun tiba-tiba saja Tante Rini memasang senyum tipis pada wajahnya.
"Baiklah, semuanya akan tergantung usaha kalian," sahut Tante Rini kemudian bangkit berdiri. Dia menatap dengan air mukanya yang serius. "Bagaimanapun, sebenarnya Tante juga ingin kalian sama-sama bahagia."
Aku terkesiap. Bola mataku melebar mendengar ucapannya. "Apa itu berarti...."
"Jangan senang dulu. Kau tetap harus mendapatkan restu dari ibumu dan Papanya Sheryl."
"I-iya, Tante." Aku mengangguk.
"Tante juga akan berusaha membantu kalian. Semoga hati mereka cepat luluh dan bisa mengerti bagaimana cara membahagiakan anaknya," sahut Tante Rini terdengar bijak.
Jantungku bergemuruh hebat. Sama sekali tidak menyangka kalau Tante Rini akan merestui hubungan kami. Diliputi perasaan bahagia, aku bangkit berdiri meraih tangan, dan menunduk mencium punggungnya.
"Tante, terima kasih," kataku memandangnya dengan binar mata yang bahagia luar biasa. Rasanya ingin sekali menangis haru saat itu juga jika tidak memiliki rasa malu. Sayangnya, aku masih terlalu malu mengekspresikan perasaanku. Ini benar-benar sebuah kejutan.
"Ya, Rey. Tante merestui hubungan kalian," sahutnya mengangguk.
Setelah Tante Rini menyatakan restunya pada hubungan kami, aku pun pamit pulang. Bergegas menuju mobil. Pak Zaki sudah menunggu cukup lama di halaman kediaman keluarga Kusuma.
Aku menghela napas sangat lega, membuka pintu mobil. Namun saat hendak masuk rasanya seseorang mencolek bahuku dari belakang. Aku menoleh. Sheryl tampak berdiri di belakangku. Menyunggingkan senyumnya yang manis.
"Apa kau ingin pulang tanpa pamit kepadaku?" tanyanya dengan binaran mata bahagia karena jatuh cinta.
Aku membalas senyum Sheryl. Tanpa kata langsung memeluknya begitu erat. "Aku sangat senang ibumu merestui kita."
"Ya, aku tahu, Rey. Ibuku telah berubah dan menepati janjinya dulu. Ternyata ia juga ingin aku bahagia denganmu," katanya.
Aku mengurai pelukan tanpa mengurangi sedikitpun sudut derajat senyumanku untuk Sheryl. Tanpa ragu, aku mendaratkan sebuah kecupan lembut pada dahinya.
__ADS_1
"Aku pulang. Kau istirahatlah. Nanti aku akan menghubungimu," kataku.
"He-em. Kau juga harus langsung pulang dan beristirahat."
"Ya, Sher." Aku mengangguk patuh.
.
.
.
Bukannya pulang ke apartemen atau ke rumah Mama, aku menyuruh Pak Zaki menghentikan kendaraannya di gedung Pradipta Corporation. Ada yang harus kulakukan di sini sebelum pulang atau hatiku tak akan merasa tenang.
Mama. Ya, aku ingin bertemu dengannya! Ada sesuatu yang mengganjal yang harus kuketahui kebenarannya.
Aku menunggu Mama di ruangannya karena beliau sedang tak ada di sana. Salah satu pegawai mengatakan kalau Mama sedang berada di luar dan akan kembali setelah selesai makan siang. Ini salahku karena terburu-buru datang tanpa menghubunginya lebih dulu.
Aku berbaring di sofa panjang dengan mata yang memandang langit-langit ruangan. Rasanya lelah mata ini tak dapat ditolerir lagi. Tanpa sadar, aku pun terlelap.
"Rey! Rey!"
"Mama sudah kembali?"
"Ya. Mengapa kau datang tanpa mengabari Mama? Bagaimana proyek apartemen itu? Tuan Amancio tak membuatmu susah, 'kan?" tanyanya dengan pertanyaan panjang yang tak ada habisnya.
Aku menggeleng. "Tuan Amancio sangat baik. Bulan depan tiap unitnya akan mulai dipasarkan," jawabku.
"Syukurlah." Mama mengelus dadanya, terlihat lega. Wanita nomor satu keluargaku itu kemudian bangkit dari duduk, beringsut menuju meja kerjanya, "sepertinya ada sesuatu mendesak yang ingin kau bicarakan hingga datang tak mengabari Mamamu lebih dulu."
"Ya." Aku mengangguk, lalu beringsut duduk di depannya.
"Apa yang ingin kau katakan?" sahut Mama seraya melepaskan kacamata, lalu memijat dahinya yang terlihat lelah.
Aku menarik segaris senyuman tipis. "Aku tahu Mama menyuruh seseorang memata-mataiku selama di London."
Mama mengangkat wajahnya. Beliau terperangah untuk beberapa saat sebelum akhirnya menerbitkan seulas senyum dingin untukku.
"Kau benar-benar anakku," ucapnya lirih.
__ADS_1
"Untuk apa Mama melakukan hal itu?" tanyaku.
"Tentu saja untuk memastikan sesuatunya berjalan dengan yang seharusnya. Namun sayangnya kau malah memberi Mama kejutan," jawab Mama kemudian menarik salah satu laci mejanya dan mengeluarkan beberapa lembar foto, menunjukkannya kepadaku. Tampak gambar kebersamaanku dan Sheryl dari malam hingga siang hari kami menghabiskan waktu berjalan-jalan di sekitar sungai Thames.
"Julian yang mengambil foto-foto itu! Mama memintanya pergi ke London untuk mengikuti tiap langkahmu," tambahnya.
"Julian...," desisku seraya meraih foto-foto itu dan memandangnya penuh rasa kesal. Bagaimana tidak? Dia sekretarisku tapi melakukan hal yang tidak kusuruh di belakangku. "Itu artinya selama ini Mama sebenarnya tahu di mana Sheryl berada?"
"Bisa dibilang begitu. Namun tak lama kemudian Mama menjadi sedikit cemas kala tahu Sheryl bekerja dengan Tuan Amancio. Dan benar saja, kalian benar-benar bertemu." Mama menggeleng pelan.
"Mama benar-benar tega, ya...." Aku bertambah kesal dan kecewa kepada ibuku. Bagaimana bisa ia tahu dan tak memberitahu putranya, padahal putranya sangat menderita karena Sheryl?
"Tega? Ini demimu, Nak. Kau tidak bisa terus terikat dengannya."
"Tapi aku tulus mencintainya, Ma."
"Kau pikir kau sudah merasa hebat karena menemukan Sheryl hingga bisa bermalam di apartemennya? Kau dan Sheryl benar-benar membuat Mama kecewa. Kalian berdua telah mengingkari janji kalian kepada Mama."
"Aku tidak peduli dengan janji itu. Kali ini aku tak akan melepasnya seperti dulu."
Mama mendengus tertawa kecil. Sepertinya perkataanku hanya ia anggap sebagai angin lalu. "Kau selalu menjadi lemah jika menyangkut perasaanmu terhadap Sheryl," katanya seraya mengangkat sebelah alisnya, kemudian bangkit berdiri, "hari minggu ini pukul tujuh malam di restoran hotel M, kau harus menemui wanita bernama Livia Joana dari keluarga Hartawan." Tiba-tiba Mama mengalihkan pembicaraan.
"Ck! Apalagi sih, Ma?!" Aku mendengus kesal. Mama mulai dengan rencananya seperti dulu, menjodohkanku lagi setelah beberapa lama tak melakukannya.
"Dia wanita dari keluarga baik-baik yang pantas bersanding denganmu, Rey."
"Enak saja! Aku tidak akan pernah datang memenuhi permintaan Mama!" Jantungku bergemuruh kesal karena marah.
"Begitukah?"
"Ya. Kedatanganku ke sini untuk memberi tahu Mama kalau aku serius menjalin hubungan dengan Sheryl. Mama tidak akan bisa mengatur dengan siapa aku akan menikah! Dan... jangan pernah mendatangi Sheryl atau Om Agung lagi tanpa sepengetahuanku."
Gara-gara hal ini suasana hati yang tadinya membahagiakan menjadi tak nyaman. Mama benar-benar telah merusaknya. Tak ingin lebih lama lagi memperpanjang perdebatan di antara kami, aku segera bangkit dan berbalik hendak keluar dari ruang kerja Mama.
"Rey! Rey! Berhenti!"
Mama memanggilku dengan suara teriakannya, tapi aku tak mengindahkan panggilan itu. Tekadku untuk menikahi Sheryl sudah sangat kuat dan tak akan mungkin kurusak dengan rencana perjodohan yang tak ada habisnya.
"Kau tidak akan bisa apa-apa tanpa Mama, Rey!" tambah Mama yang membuat telingaku berdenging seketika.
__ADS_1