
Baruna Pov
Aku baru saja tiba di restoran saat tiba-tiba Daniel terlihat berjalan ke arahku. Lengannya setengah terangkat melambai. Aku pun membalas lambaiannya bersama dengan seulas senyuman.
"My Bro!" sapa Daniel yang langsung menabrakku dengan pelukannya. Ia menepuk-nepuk punggung tanpa memberikanku kesempatan untuk berbicara. Tak lama, ia mengurainya dengan cepat, "tumben lo dateng. Ada angin apa? Kata bini gue, lu pesen private room."
"Ya–"
"Kita duduk dulu di sana!" Daniel memotong perkataanku, lalu menunjuk satu meja yang berada di salah satu sudut restorannya.
Pandanganku mengarah ke meja itu, lalu mengangguk kepadanya. Tanpa basa-basi, Daniel langsung menarikku ke meja itu. Tak lupa, dia menyuruh salah satu karyawannya membawakan minuman dan makanan di meja kami.
"Gue gak bisa lama-lama nemenin lo ngobrol di sini, Niel. Gue ada janji," kataku sedikit keberatan dengan sikap spontannya. Kami memang jarang bertemu. Terakhir kali aku bertemu dengannya saat ia datang ke resepsi pernikahanku dan Felicia.
"Kayak sama siapa aja lo, Bar. Tenang aja. Nanti kalau orang yang lo tunggu udah datang, gue anter lo dan klien lo ke ruang privasi. Pelayanan ekslusif dari pemilik restoran!" Daniel berkata dengan begitu bersemangat.
Aku sontak mengekeh. Dia terlihat tambah bersemangat setelah anaknya lahir ke dunia. Tidak sepertiku yang tak terlalu bersemangat menghadapi keluarga baruku.
Sejurus kemudian, mata Daniel menyipit curiga. "Siapa klien lo sampai pesan ruangan privasi segala? Cewek, ya? Udah gue bilang 'kan kalau si Fely itu bukan tipe lo. Kenapa juga lo mau nikahin dia."
"Gak usah dibahaslah. Males gue ngomongin Fely. Marah-marah terus bawaannya kalau ketemu."
Daniel mengedikkan bahunya. "Hormon kehamilan mungkin?"
"Enggak tahu. Sheryl dulu gak gitu sebelum peristiwa itu terjadi." Aku berkata lirih. Mataku beralih tak dapat menatap mata Daniel sepenuhnya. Sungguh! Aku takut ia menganggapku lemah. Aku yang berbuat salah, tapi masih mengharapkan wanita lain dalam hidupku.
Daniel menggelengkan kepalanya. Mungkin ia tak habis pikir denganku yang suka membandingkan mantan istri dengan istrinya sendiri.
"Gue pikir dengan pernikahan lo yang kedua ini, lo udah move on, Bar."
Aku mengembuskan napas panjang. Kembali menatap Daniel. Sebagai teman ia hanya memasang senyuman lebar. Lengkungan itu malah tampak palsu di mataku.
"Gak usah hibur gue kayak gitu. Lo tahu sendiri kenapa gue nikahin dia, 'kan?"
"Rafael?" tebak Daniel.
"Juga kedua orang tua gue. Mereka terus mendesak agar gue bertanggung jawab," tambahku melengkapi tebakan Daniel. Daniel menyunggingkan senyumnya lalu mengusap pelan bahuku.
"Seperti yang orang-orang bilang, badai pasti akan berlalu. Jadi percaya aja itu, Bar. Mulai sekarang, lo harus belajar berdamai dengan masa lalu dan lebih mencintai keluarga baru lo."
Aku mengembuskan napas pelan. "Gue tahu, Niel. Prakteknya tetep aja susah."
Beberapa selang kemudian, pintu kaca restoran Daniel terbuka. Aku menoleh ke dua pintu yang bergeser seolah sedang menyambut seseorang. Tampaklah wanita yang kutunggu. Sheryl yang memakai pakaian terusan berwarna putih beringsut memasuki restoran.
__ADS_1
Melihatnya membuatku sontak bangkit berdiri. Daniel ikut bangkit dengan pandangan terheran-heran.
"Jadi lo janjian ketemu Sheryl, Bar?"
"Iya." Aku menyahut singkat hendak meninggalkan meja, "Bos, di mana ruangannya?"
"Ikut gue!"
Aku mengekor Daniel yang baru tiga langkah meninggalkan meja. Namun langkah kami harus terhenti. Entah apa yang terjadi. Sheryl tiba-tiba bergeming di counter kasir.
Aku menoleh hendak melihat dengan jelas siapa yang menghentikan langkahnya. Sosok Tante Aina terlihat berdiri di samping Indira yang siang ini sedang mengawasi salah satu pegawainya yang sedang bertugas di bagian kasir.
"Gawat! Perang dunia ke tiga bakal terjadi."
Walau suara Daniel terdengar lirih, aku sontak menoleh kepadanya. "Maksud lo?"
"Lo lihat aja!"
Aku kembali mengarahkan pandanganku. Sheryl tampak menundukkan kepalanya dan menyapa ramah. "Apa kabar, Tante, Dira?"
Indira menyahut, "Baik, Sheryl. Gimana kabar lo?"
"Baik." Sheryl tersenyum.
"Bar, gue harus kasih tahu Rey."
Aku mengangguk. Kedua mataku masih mengarah lurus ke arah mereka. Entah apa yang akan Tante Aina katakan. Apa aku harus menghampiri mereka?
***
Sheryl Pov
Siang ini aku tak menyangka akan bertemu dengan Tante Aina di restoran Daniel. Begitu melihatku, Tante Aina dan Indira tiba-tiba keluar dari counter kasir. Mereka berdiri di depanku.
Tante Aina menatap dengan air muka dingin sekaligus sinis. Bola matanya bergerak seolah sedang menelanjangiku. Aku berusaha tak peduli dengan tatapan itu. Segera menundukkan kepala sopan dan menghiasi wajahku dengan senyum yang cukup tulus kepada mereka.
"Tante, Dira, apa kabar?"
Indira membalasku dengan senyuman yang sama, "Baik, Sheryl. Gimana kabar lo?"
"Baik."
Sudah lama sekali tak bertemu Indira membuat pertemuan kami menjadi kaku seperti saat ini. Namun lain dengan Tante Aina. Bukannya menjawab sapaan, ia malah membalas pertanyaanku dengan cara berbeda.
__ADS_1
"Untunglah kau datang. Jadi saya tak perlu susah-susah mengatur jadwal hanya untuk bertemu dan berbicara denganmu, Sheryl."
Aku melihat Indira yang menoleh cepat pada Mamanya. Keningnya mengerut bingung. "Maksud Mama?"
"Dira, Mama ingin berbicara dengannya. Bawa kami ke atas," ujar Tante Aina.
Walau masih menunjukkan air muka bingung, Indira segera melakukan apa yang disuruh oleh sang ibu. Ia meminta kami mengikutinya dari belakang.
Saat berjalan, aku teringat Baruna. Aku harus memberitahu ia kalau mungkin akan sedikit terlambat datang.
[Mas, Maaf. Sepertinya aku akan telat datang.]
Sesaat kemudian, aku, Tante Aina, dan Indira sudah berada di dalam sebuah ruang tamu tempat di mana pasangan suami istri pemilik restoran ini bertemu dengan kliennya. Kami lalu duduk saling berhadapan.
Sungguh! Tubuhku terasa gemetar berada di dekat Tante Aina. Tiba-tiba saja merasa sangat gugup membayangkan perkataan pedas yang mungkin akan keluar dari mulutnya. Berkali-kali salivaku tertelan karena tatapan menghunus dari wanita nomor satu dalam kehidupan keluarga Pradipta ini.
Tiba-tiba Indira bangkit dari duduknya. "Ma, sebaiknya aku meninggalkan kalian berdua agar kalian lebih leluasa untuk mengobrol."
"Tidak usah, Dir. Tetap duduk di kursimu. Ini bukan pembicaraan rahasia yang tak boleh kau ketahui," balas Tante Aina.
Mendengar perkataan Tante Aina, Indira akhirnya menaruh kembali bokongnya di atas kursi. Tak lupa bertanya kepadaku dan ibunya ingin menikmati minuman apa sekarang. Setelahnya, Indira pun segera menghubungi seseorang.
Tante Aina kembali fokus kepadaku. Ibu kandung Reynand itu belum juga meluncurkan sebuah kalimat dari bibirnya. Ia tampak menarik segaris senyuman samar.
Indira yang sudah selesai menelepon segera menaruh ponselnya kembali ke saku. Sang ibu kemudian menoleh kepadanya.
"Dira, kau tahu mengapa Mama ingin kau tetap di sini?"
"Tidak, Ma. Tapi, tadi Mama bilang bukan sebuah pembicaraan rahasia, 'kan?" sahut Indira.
"Ya, tentu saja bukan. Ini tentang hubungan Sheryl dan kakakmu. Kemarin lusa, Mama ingin memperkenalkan Rey dengan seorang wanita. Mama mempersiapkan acara makan malam untuk mereka. Namun, kakakmu yang pemberontak itu tak datang sendirian. Ia malah membawa pacarnya ikut serta dalam pertemuan itu."
"Pacar?" Indira terperanjat seketika, "Kak Rey punya pacar? Aku kok tidak tahu ya, Ma."
"Masa kau tidak tahu? Ini pacarnya. Duduk tepat di depan kita."
"Sheryl? Kalian...." Ekspresi terkejut Indira makin menjadi. Kurasa Reynand memang belum mengatakan kejelasan hubungan kami kepada adiknya hingga Indira tak tahu sama sekali.
"Ya, aku dan Reynand baru-baru ini memang menjalin kasih." Aku mengangguk mantap. Indira seketika tersenyum, hampir menunjukkan ibu jarinya kepadaku. Namun, ia segera mengurungkan niatnya kala Tante Aina menoleh ke arahnya.
"Kau tahu, Dir. Kehadiran Sheryl malah membuat semuanya kacau. Ia mengaku hamil di depan wanita itu hingga membuat wanita itu marah dan pergi begitu saja. Parahnya pacar kakakmu ini mengaku kalau ia hamil anak kakakmu. Padahal, Mama tahu pasti mereka baru saja saling bertemu. Bukankah itu sangat lucu? Entah pria mana lagi yang berhasil menidurinya."
"Sheryl, lo lagi hamil?" Indira sontak mengarahkan tatapan terkejutnya kepadaku.
__ADS_1