Marriage Order

Marriage Order
Selamat Jalan


__ADS_3

Baruna PoV


Suasana rumah sakit yang sepi saat itu menjadi saksi bisu atas segala masa depan yang mungkin akan kami jalani di hari-hari kami selanjutnya. Sheryl mengikuti langkah kakiku yang berjalan dengan cepat, setengah berlari. Kami begitu tergesa-gesa. Tidak ingin melewatkan waktu barang sedetik pun.


Kakek, aku datang!


Ting!


Lift rumah sakit terbuka. Aku dan Sheryl berjalan menuju ruang ICU. Bunda dan Ayah menunggu di dpn pintu ruangan. Aku dan Sheryl masuk ke dalam ruangan, kemudian disusul oleh mereka. Kami melihat Kakek Awan dengan mata terbuka masih memakai berbagai bantuan alat penopang hidup.


"Kakek ...," lirihku.


Kakek Awan menatap wajah kami bergantian. Mulutnya menganga karena ada alat bantu pernapasan yang masuk ke dalam tenggorokan sehingga membuatnya tidak bisa berbicara. Aku dan Sheryl memegang tangannya. Dia balas menggenggam tangan kami bersamaan, kemudian mengangguk mengisyaratkan kami agar selalu bersama sampai kapan pun. Terlihat air mata yang mulai membanjiri kedua sudut matanya.


Aku mendongakkan kepala menahan air mata yang mungkin akan jatuh kapan saja. Sheryl memalingkan wajahnya, dia menangis pilu tapi tidak ingin terlihat di mata Kakek Awan. Ayah dan Bunda yang juga berada di ruangan itu ikut terisak.


Tiba-tiba keadaan Kakek Awan menurun tidak sadarkan diri kembali. Angka-angka yang tertera pada monitor menurun drastis jauh dari angka normal. Para perawat dan dokter yang berada di situ bergeming hanya menatap kepergian Kakek Awan secara perlahan. Keluarga kami memang sudah menandatangi penolakan resusitasi jantung paru padanya. Kami tidak tega melihat beliau kesakitan jika dokter melakukan tindakan prosedur medis itu sebagai bantuan hidup dasar.


Tidak lama setelahnya dokter menyatakan kalau Kakek Awan sudah meninggal. Hasil EKG membentuk garis lurus. Tidak ada tanda kehidupan di dalam tubuhnya. Seketika kami semua terisak mendengar perkataan dokter jaga saat itu.


Ayah adalah sosok yang paling terpukul menghadapi kenyataan itu. Dia menatap ke arah dokter jaga penuh dengan kekecewaan dan kesedihan.


"Katakan kalau ayah saya masih ada! Anda itu dokter, seharusnya bisa menyelamatkan nyawa seseorang!" marahnya.


Dokter itu menatap dalam wajah ayah hendak mengatakan sesuatu tapi Bunda sudah keburu menengahi.


"Mas, tenanglah .... Dokter juga sudah melakukan yang terbaik. Kita juga sudah menyetujui agar tidak dilakukan resusitasi, 'kan?" ujar Bunda menenangkan Ayah.


Ayah terdiam, air mata mulai membanjiri pipinya. Entah apa yang dia pikiran sekarang, tapi aku tahu jika ia adalah sosok yang paling menyesal atas meninggalnya Kakek. Aku memeluk Sheryl yang masih terisak. Membelai rambutnya yang berantakan. Hatiku pun hancur lebur saat ini.


Aku menatap dalam wajah Sheryl. Menyeka air mata di kedua sudut matanya dengan ibu jariku. Dia balas menatapku dengan melakukan hal yang sama. Tidak sadar, air mataku juga mengalir begitu saja.


Aku segera menarik tangan Sheryl keluar dari ruang ICU, diikuti oleh Bunda yang berjalan di belakang kami. Ayah masih di dalam menemani jenazah Kakek yang sudah terbujur kaku.


****


Reynand PoV

__ADS_1


Pukul 15.30 sore ....


Aku dan Kayla masuk ke dalam mobil menyusul Baruna dan Sheryl yang lebih dahulu pergi meninggalkan kami. Aku melajukan mobil dengan kencang berusaha menyusulnya. Kayla membulatkan matanya kaget saat melihatku begitu berambisi mengejar Baruna.


"Bisakah kamu pelankan laju kendaraanmu, Rey. Aku takut," pintanya.


Aku masih dengan pandangan mata fokus ke arah jalan, berkata padanya, "Jika kamu tidak ingin ikut denganku, aku bisa menurunkanmu di depan sana!"


Kayla tersentak, menahan kesal, mungkin dia juga sangat gemas dengan sikapku yang selalu kasar padanya.


"Iya, kamu bisa turunkan aku di sana. Nanti aku akan laporkan perlakuanmu padaku kepada ...."


"Mamaku?" Aku memotong kata-katanya. "Kamu pikir aku tidak hafal dengan ancamanmu, Kay? Selalu memakai nama ibuku untuk mengancam."


"Iya lalu kenapa? Kamu tidak suka? Aku adalah calon menantu idamannya dan kamu tidak bisa mengingkari itu, Rey," balasnya.


"Terserah! Asal kamu tahu saja, aku mau ikut ke acara kejuaraan basket tadi juga karena ada Sheryl di sana," jelasku menatap tajam ke arahnya.


Kayla langsung diam tidak berkutik. Amarahku sudah menjadi cemilan sehari-hari baginya. Dia pun sudah hafal betul bagaimana sikapku terhadapnya.


"Kau mau menangis?" tanyaku menyindir.


Dia tidak menjawab. Hanya memalingkan wajahnya ke arah luar jendela.


"Turunkan aku di depan sana. Biar nanti manajerku yang akan menjemput. Heran, bagaimana bisa aku menyukai laki-laki seperti dirimu?" balasnya kesal.


"Tanyakan saja pada hatimu itu. Aku juga tidak punya jawabannya."


"Kamu benar-benar keterlaluan. Aku pikir masih ada sedikit kesempatan untukku."


"Aku tidak pernah mengatakan hal itu. Aku sudah mengatakan padamu kalau kamu akan sakit berkali-kali jika kamu terus bersikeras."


"Sedikit saja, apa tidak ada perasaan apa pun?" tanyanya memelas menatapku.


Aku diam tidak menjawab pertanyaannya. Segera, aku menepikan kendaraanku di sebuah halte. Kayla membuka pintu mobil dan keluar dengan wajah kesal. Dia memanyunkan mulutnya, cemberut melihatku. Aku tidak memedulikan raut wajah gadis cantik itu dan bergegas menekan pedal gasku lagi melanjutkan perjalanan.


Kayla, sampai kapan kamu akan terus mengejarku seperti ini?

__ADS_1


Selang beberapa lama, aku sudah tiba di lobi. Segera, aku meraih ponselku, menelepon Baruna. Lama sekali aku menunggu telepon itu diangkat, tidak terasa sudah berada di depan ruang ICU melihat Sheryl, Baruna, dan Tante Meri yang keluar ruangan penuh dengan air mata.


Tidak mungkin 'kan? Masa Kakek ....


Tante Meri yang melihatku berdiri di sana segera melangkah ke arahku. Memelukku seraya menangis sedih.


"Tante, apa Kakek ....?" tanyaku segera dipotong dengan anggukan kepalanya.


Aku membalas pelukan itu, berusaha menenangkan dirinya. Baruna dan Sheryl yang melihat kami langsung menghampiri kami. Tante Meri melepas pelukannya lalu memeluk Baruna dan Sheryl bergantian. Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling. Tidak ada Ayah Anton di sana.


"Tante, ayah di mana?" tanyaku.


Tante Meri menarik tanganku membawa masuk ke dalam ruang ICU. Tampak ayah yang menangis begitu pedih. Aku melangkah mendekati ranjang dengan jenazah kakek yang sudah ditutup dengan kain putih.


Aku menepuk bahu ayah. Dia menoleh ke arahku sontak memeluk dengan eratnya. Lagi-lagi menangis memperlihatkan penyesalannya.


"Maafkan Ayah, Nak. Ayah bukanlah Ayah yang baik. Bukan juga suami yang baik untuk ibumu," ucapnya pelan.


"Sudahlah Ayah. Semuanya sudah berlalu. Maafkan aku juga yang sudah salah menilai kalian."


Ayah melepaskan pelukannya, tersenyum menatapku, dan berkata, "Terima kasih, Nak."


Rasa hangat tiba-tiba saja menyeruak masuk perlahan ke dalam tubuh. Aku merasa damai seketika. Rasa sesak yang bersemayam di hatiku selama ini hilang begitu saja menguap bergantikan hati yang lapang.


"Ayah, maafkan aku." Hanya kalimat itu yang dapat terlontar dari mulut.


Ayah memandang wajahku mengangkat kedua sudut bibirnya. Aku pun membalas senyuman kecil itu. Kami pun berdamai mulai saat itu.


_________________________


Selama bulan Ramadan, Author akan up dua hari sekali menjelang atau setelah berbuka puasa.


Mohon dukungan atas karya ini. Tinggalkan like dan komentar yang akan menjadi semangat yang sangat berarti bagi Author dalam berkarya.


Salam sayang


Viviani

__ADS_1


__ADS_2