Marriage Order

Marriage Order
Kediaman Daniel


__ADS_3

Awan mendung menyelimuti langit sore itu. Aku menunggu Kak Baruna duduk di sofa lobi. Jam dinding lobi sudah menunjukkan pukul setengah enam tapi dia tidak kunjung tiba.


Aku mengambil ponsel di dalam tasku berusaha menghubunginya. Nada sambung mulai terdengar, tidak lama dia mengangkat teleponnya.


"Halo sayang."


"Kamu sudah sampai mana? Aku sudah menunggu setengah jam."


"Sabar ya, jalanan macet. Aku habis dari rumah sakit. Kakek sudah sadar tapi masih diobservasi, belum pindah ruang perawatan."


"Syukurlah. Berapa lama lagi sampai?"


"Kira-kira lima menit aku tiba di sana."


"Baiklah, aku tunggu."


Aku menutup teleponku dan kembali duduk. Mbak Maya yang belum pulang saat itu berjalan menghampiriku membawa sebuket bunga mawar merah.


"Mbak, ada bunga lagi nih," Kata Mbak Maya seraya menyodorkan buket bunga itu.


Aku meraih buket bunga itu. Melirik surat dari pengirimnya, kali ini dia menulis nama sebenarnya.


"Pemblokiran nomorku tidak berpengaruh apa pun untukku mengetahui kabarmu. Waktu terus berjalan Sheryl. Aku menunggu jawabanmu. Kamu hanya milikku seorang. Dari aku yang selalu memperhatikanmu (Satya)."


Aku terbelalak kaget melihat pesan yang ditulis tangan itu. Bulu romaku berdiri seketika. Dia berani menerorku lagi padahal baru saja keluar dari rumah sakit. Besar sekali nyalinya, dia tidak merasa kapok sudah dihajar Kak Baruna.


"Bagaimana Mbak Sheryl mau diterima bunganya?" tanya Mbak Maya.


"Buat kamu saja bunganya."


"Siap Mbak. Makasih ya. Maaf ya yang tempo hari," ucap Mbak Maya sambil tertawa cengengesan. "Aku duluan ya Mbak Sher."


"Iya hati-hati di jalan," sahutku datar.


"Siap Mbak." Wanita biang gosip itu melangkah berjalan keluar pintu lobi dengan langkahnya yang percaya diri.


Tidak lama pintu lobi terbuka, Kak Baruna masuk. Aku buru-buru memasukkan kartu ucapan itu ke dalam tasku, panik.


"Bagaimana ini? Apa aku harus berterus terang tentang teror Satya hari ini? Tapi kalau mereka berkelahi lagi bagaimana?"


Lelaki tampanku itu berjalan masuk dengan gagahnya menghampiriku sambil tersenyum. "Maaf ya aku telat."


"Iya sayang. Tidak apa-apa." Aku berdiri beranjak dari tempat dudukku.


Kak Baruna meraih tanganku menggandengnya. Kami berjalan bersama keluar lobi menuju parkiran.


"Langsung pulang?" tanya Kak Baruna menoleh ke arahku.


"Kalau kita pergi ke rumah Kak Daniel gimana?"


"Boleh. Sebentar aku telepon dulu. Dia ada di rumah atau restoran." Kak Baruna mengambil ponselnya lalu menelepon.


Aku menoleh ke arah Kak Baruna yang sudah mengakhiri panggilan teleponnya. Kami berdua lalu masuk ke dalam mobil. Kak Baruna mulai menghidupkan mesin mobilnya.


"Hari ini mereka ada di rumah."

__ADS_1


"Ya sudah aku ikut pak supir saja," jawabku tersenyum.


"Siap sayang."


Kak Baruna memasang sabuk pengaman lalu mengemudikan mobilnya keluar dari parkiran gedung kantor.


Jalanan sore hari selalu macet. Mobil berhenti di perempatan lampu lalu lintas yang sedang merah menyala.


"Bagaimana pekerjaanmu hari ini sayang?"


"Biasa saja walaupun tadi aku bertemu dengan Reynand di kantor."


"Dia jadi bertemu dengan dewan direksi?' tanyaku.


"Kamu tahu dari mana dia datang untuk hal itu?"


"Ibu Aina."


"Iya hari ini dia datang untuk bertemu memperkenalkan diri sebagai anak ayah yang lain. Ayah hanya diam lalu angkat kaki dari aula pertemuan saat Reynand berbicara di atas podium."


"Ayahmu sangat aneh sayang."


"Aku juga berpikiran seperti itu. Tapi dia seperti memiliki beban tersendiri entah apa."


"Ayahmu harus berbicara serius dengan Ibu Aina agar hubungan mereka kembali baik-baik saja," sahutku.


"Iya aku juga berpikiran seperti itu tetapi belum ada momen yang pas di antara mereka berdua."


"Iya semoga mereka berdua bisa berdamai. Kamu sendiri bagaimana perasaanmu terhadap Pak Reynand? Maksudku apa kamu membencinya?"


Aku tertawa kecil mendengar kata-katanya. Wajah kami berubah merona merah bersamaan. Kak Baruna menoleh memandangku malu-malu.


"Ada yang lucu?" tanyanya.


"Kata-katamu membuatku tersanjung. Kita belum menikah dan kamu mengatakan hal itu. Aku jadi teringat cerita Nesya tadi."


"Aku selalu senang membuatmu tersanjung sayang. Jadi tadi kamu bertemu dengan sepupumu?"


"Iya, dia bertanya tentang sejauh apa hubungan kita. Apa pernah melakukan hubungan layaknya suami dan istri?"


"Hei berani sekali dia menanyakan hal itu!" seru Kak Baruna.


"Yah dia memang seperti itu. Selalu blak-blakan saat berbicara denganku."


"Dia sendiri memangnya pernah?"


"Pernah dengan suaminya sebelum hari pernikahan."


Kak Baruna terkejut mendengar kata-kataku. Dia membelalakkan matanya.


"Kamu ingin mencontoh sepupumu itu?"


"Tentu saja tidak dan kamu jangan berharap aku mau melakukannya."


"Iya sayang. Aku sabar menunggu," sahutnya dengan senyum kecil tersungging di bibirnya.

__ADS_1


Setengah jam kemudian kami sampai di kediaman Kak Daniel dan Indira. Rumahnya berada di sebuah kompleks perumahan bertipe minimalis. Aku memandang suasana di sekitar rumahnya. Rumah minimalis bertingkat dengan taman yang cukup luas serta carport yang memadai cukup untuk beberapa mobil yang akan parkir. Jadi minimalis apanya?


Deg!


Aku melihat mobil sport Pak Reynand sudah terparkir di sana. Kak Baruna menekan bel pintu rumah, tidak lama pintu dibuka. Wanita cantik paruh baya membukakan pintu untuk kami. Dia Ibu Aina. Kami sontak terkejut melihat Ibu Aina berada di hadapan kami.


"Daniel ada Tante?" tanya Kak Baruna.


Ibu Aina hanya mengangguk dan mempersilakan kami masuk ke dalam. Dia lalu berjalan ke dalam memanggil Kak Daniel dengan suara lantang.


Tidak lama kemudian Kak Daniel muncul menemui kami. Dia tersenyum ramah pada kami.


"Hei bro apa kabar?" sapanya sambil memeluk Kak Baruna lalu menyalamiku.


"Baik. Lo gimana Niel?"


"Baik. Silakan duduk, jangan berdiri aja." Daniel mempersilakan kami duduk di sofa ruang tamunya.


"Kak, Dira mana?" tanyaku.


"Di toilet. Dari tadi bolak balik terus muntah."


"Kasian Dira. Sudah ke dokter Kak?"


"Udah Sher. Obat mualnya juga ada. Tapi kelihatannya kurang ampuh."


"Sabar ya Kakak."


"Iya Sher."


"Niel mertua lo lagi main?" tanya Kak Baruna menyela.


"Iya sama Reynand tuh di belakang. Baru sampai juga. Lo mau ketemu Reynand?"


"Enggaklah ngapain ketemu dia. Seharian tadi dia ada di kantor gue."


"Loh ngapain?" tanya Kak Daniel.


"Biasalah. Iseng aja kali," jawab Kak Baruna asal.


"Oh .... Gimana persiapan pertunangan kalian?" tanya Kak Daniel tiba-tiba.


"Sudah siap semua. Datang ya bro. Acaranya hari Minggu ini."


"Pastilah. Gue sama Dira pasti datang. Eh kalian mau minum apa? Hampir lupa, masa tamu gak dikasih minum." Kak Daniel tertawa.


"Apa ajalah Niel," sahut Kak Baruna.


"Oke. Gue mau kalian coba menu minuman spesial yang baru launching di resto gue."


"Apa tuh Kak?" tanyaku.


"Tunggu di sini."


Kak Daniel bangkit beranjak dari tempat duduknya meninggalkan kami yang hanya berdua saja di ruang tamu. Kak Baruna meraih ponselnya sibuk membalas email-email pekerjaan yang masuk. Aku pun ikut memainkan sebuah game di dalam ponselku untuk menghilangkan kejenuhan menunggu.

__ADS_1


__ADS_2