
Baruna PoV
Keesokan harinya ....
Pukul 22.00
Aku memandang galeri ponselku. Memandang setiap gambar yang tersimpan. Wajahnya yang berseri-seri setiap berfoto denganku tidak bisa kunikmati lagi sekarang.
Aku mulai menghapus satu demi satu gambar di galeri itu. Air mataku meleleh mengenangnya. Rasanya ingin bertemu, memeluknya dan menciumnya sampai tidak bersisa. Rinduku sudah semakin menggila. Aku menyesal melepaskannya.
Tidak, aku tidak boleh lemah seperti ini. Mereka akan segera menikah.
Segera kuhapus semua kenangan di dalam ponselku. Cukup semua menjadi kenangan kami.
Drrt-drrt-drrt!
Ponselku berbunyi. Sebuah panggilan dari Reza. Aku segera mengangkatnya.
"Halo, Za."
"Bar, lo bisa ke rumah sekarang?"
"Kenapa?"
"Beri pengertian padanya kalau dia harus melupakan semua hal tentang lo. Hari ini dia kelihatan habis menangis setelah diantar Reynand. Entah apa yang terjadi pada mereka. Dan bukan hari ini aja gue ngelihat dia kayak gitu."
"Gak bisa, Za. Nanti gue akan melemah di hadapannya. Biarkan kami seperti ini. Gue pun gak akan ikut campur masalah mereka."
"Bar, gue takut dia nekat."
"Enggak mungkin."
"Lo inget sendiri saat putus dengan lo kemarin, dia hampir mati tenggelam di bathtube-nya."
"Iya, itu karena dia sendiri yang cari gara-gara."
"Ya udah, deh. Sebenarnya di dalam hati gue yang terdalam, gue masih berharap kalian bersama. Tapi kalau jadi seperti ini, gue gak bisa memaksakan kehendak lagi seperti dulu. Sorry ya, Bar."
"Udah Za, gak usah dibahas. Gue juga mau move on seperti yang lo bilang kemarin. Tapi sekarang lo malah ngomong sebaliknya. Kalian adik kakak yang membuat gue bingung," sahutku.
"Ha-ha-ha. Iya juga ya. Ya udah, nanti kalau udah ada penggantinya segera kenalin ke gue, ya. Biar gue bisa menilainya," jawabnya terkekeh.
"Siap. Gue tidur dulu ya, Za."
"Iya, Bar."
Reza memutus panggilannya. Aku merebahkan diriku di atas kasur. Masih memikirkan dirinya yang menangis seperti apa kata Reza.
__ADS_1
Ratu hatiku .... Apa dia menderita bersama Reynand? Aku tidak bisa membayangkan dia yang terus-menerus menangis jika bersama pria itu. Rey sangat keterlaluan, jika tidak bisa memperlakukan Sheryl seperti aku memperlakukannya.
Perasaanku jadi tidak enak malam ini. Terus memikirkan dia di dalam benakku.
Sheryl tidak bisa dikasari, walau kadang dia sedikit barbar. Namun, punya hak apa aku memberitahu Reynand bagaimana cara memperlakukan pasangannya?
Aku memandang galeri foto itu. Masih memilih foto kenangan bersamanya yang ingin segera aku hapus.
Ya Tuhan, mengapa aku selemah ini? Menghapus foto ini seperti menghapus setengah jiwaku. Mengiringiku dalam kekecewaan. Aku tidak bisa begini terus.
Aku bangkit dari ranjangku. Beranjak mengambil jaket dan berjalan keluar kamar. Ya, aku akan menemuinya. Aku akan menyelesaikan semuanya tanpa rasa emosi dan pikiran yang dingin.
Aku menelepon Pak Amri. Menyuruhnya memanaskan mesin mobil dan memintanya untuk mengantarku ke rumah Sheryl.
Tiga puluh menit kemudian, aku baru saja tiba di halaman rumah Sheryl. Melangkah keluar menggunakan krukku. Menarik dan membuang napasku berat. Merasa sangat canggung berada di sini.
Sungguh tidak tahan menahan gejolak jiwaku yang menggebu ingin bertemu. Kuberanikan untuk datang ke tempat ini. Membuang semua rasa benci dan kecewa, lalu kembali berharap.
Aku sangat mencintaimu. Demi Tuhan, tidak ada seorang pun yang bisa menggantikan singgasana hatiku, kecuali kamu.
Reza membukakan pintu. Dia terlihat terkejut melihatku yang datang sudah larut malam, tapi dia segera mengembangkan senyumnya.
"Akhirnya datang juga!" katanya.
"Gue masuk ya, Za."
"Gue sebenarnya malu ke sini, karena tadi udah nolak permintaan lo," ucapku.
"Enggak apa-apa, Bar. Bener deh. Gue senang lo bisa ke sini. Setelah hampir dua minggu gak pernah main lagi."
"Sorry, Za."
"Iya, gak apa-apa. Dia di kamarnya. Ayo gue antar ke kamarnya." Reza menawarkan diri.
"Iya, Za."
Kami pun berjalan menuju kamarnya yang terletak di kamar lantai dua. Reza cukup membantuku melangkahkan kaki menaiki anak tangga dengan susah payah. Segera mengetuk pintu kamar. Namun, tidak ada jawaban.
"Lo tunggu di sini ya, Za," pintaku.
"Iya."
Aku menekan handel pintu dan tidak terkunci. Melangkah masuk dan melihat dirinya yang sudah tertidur tanpa mengganti pakaiannya dengan piyama. Langkahku mendekat ke tepi tempat tidurnya.
Wajahnya terlihat lelah dengan kantung mata yang membengkak. Sepertinya dia memang habis menangis. Aku mengusap dahinya. Merapikan anak-anak rambut yang terurai tidak teratur.
Bagaimana aku mengatakannya? Aku mencintaimu, Sheryl. Aku gila tanpamu. Bayanganmu tidak pernah hilang dari benakku.
__ADS_1
"Aku merindukanmu," ucapku sambil mengecup kening dan bibirnya.
Aku segera bangkit berdiri melangkah ke dekat meja kecil. Mengambil selembar kertas dan pulpen di sana dan mulai menulis.
Ratuku, wanitaku, tunanganku, cintaku, bagaimana kabarmu? Apa benar ini dirimu? Melihat wajahmu yang begitu lelah dan sedih menjalani hari. Aku tidak sanggup jika meninggalkanmu seperti ini.
Aku akan pergi ke luar negeri. Menjalani hari baruku tanpamu. Menatap masa depan yang sepi tanpamu. Namun, aku tidak akan bisa meninggalkanmu seperti ini. Terus bersedih dan menangis seperti apa yang Reza katakan.
Jalani semuanya dengan bijaksana. Kamu akan berbahagia dengannya sebentar lagi. Menjalani kehidupan yang hangat dengan Reynand. Aku tidak ingin mendapatkan laporan tangisanmu lagi.
Jadilah istri yang baik. Reynand memang kadang keterlaluan. Tapi aku yakin dia mempunyai sisi lain untuk mencintai dirimu lebih dari aku mencintaimu.
Sebelum pergi, aku akan berbicara dengannya. Menitipkanmu padanya, agar dia selalu membahagiakanmu selamanya. Hari ini, aku datang hanya ingin melepaskan rindu yang terakhir kalinya padamu, Sheryl.
Tidak lama kemudian menaruh kertas itu di atas nakas. Menindih kertas itu di bawah ponselnya. Mataku tiba-tiba saja tertuju pada sebuah cincin lain melingkar di jari manisnya. Reynand sudah menggantinya dengan cincin lain. Dia benar-benar sudah berhasil menghapus jejakku. Aku bangkit berdiri, menyelimuti tubuhnya dengan bed cover.
Iya, memang sudah saatnya kita saling melupakan.
Aku beranjak keluar dari kamarnya. Tampak Reza menungguku di depan pintu.
"Udah?" tanya Reza.
Aku mengangguk. Reza mengernyitkan keningnya, terlihat heran.
"Cepet banget?"
"Emangnya mau ngapain lama-lama? Dia udah tidur, Za," jawabku.
"Kenapa gak lo bangunin?"
"Kelihatannya capek banget. Matanya bengkak. Ngomong-ngomong, nggak terasa hari Minggu ini dia akan menikah."
"Iya dan lo akan pergi dari sini."
"Mungkin harus seperti itu. Untuk bisa saling melupakan, Za," kataku.
"Iya, semoga lancar dan lo bisa berjalan normal lagi," sahut Reza.
"Amiin. Terima kasih. Gue langsung pulang, ya," pamitku.
Reza mengangguk. Kami lalu turun tangga bersama, mengantarku sampai masuk ke dalam mobil. Dia berpesan, "Hati-hati di jalan."
Aku mengangguk seraya tersenyum padanya. "Jalan, Pak!" perintahku pada Pak Amri yang sudah menungguku dari tadi.
Mobil pun berjalan pelan keluar dari halaman rumah. Sekarang mungkin akan menjadi terakhir kalinya aku menginjakkan halaman rumah ini untuk bertemu dengan Sheryl. Meninggalkan segala kenangan manis bersamanya dan merelakannya menjalani hidup yang baru sebagai bagian dari keluarga Pradipta.
Air mataku kembali berlinang. Menyadari bahwa ini adalah kenyataan yang harus kami jalani. Hidup kami selanjutnya bagaimanapun sudah tertulis di atas kertas. Dirinya dan diriku mempunyai takdir yang berbeda.
__ADS_1