Marriage Order

Marriage Order
S2 Kesabaran


__ADS_3

Reynand PoV


Pukul 07.00


Aku keluar dari pintu mobil. Berjalan dengan gagah menghampiri pintu utama kediaman keluarga Asyraf. Pagi ini aku sengaja datang untuk membuktikan langsung kalau Sheryl bermalam di sini.


Kutekan bel berkali-kali. Pintu pun terbuka. Bi Rindang mendongakkan kepalanya menatapku.


"Ayah ada, Bi?" tanyaku.


"Pas sekali Mas Reynand datang. Pak Anton baru akan sarapan di ruang makan," jawab Bi Rindang.


Aku pun melangkah masuk ke dalam. Langkahku terhenti di depan ruang makan. Menatap Ayah Anton, Tante Meri, Baruna, dan Sheryl sedang duduk bersiap menikmati sarapannya.


Dia memang bermalam di sini.


"Selamat pagi, semua!" sapaku seraya tersenyum.


Semua orang yang berada di sana sontak menoleh. Aku menarik napas dalam-dalam dan membuangnya. Segera melangkahkan kaki untuk masuk.


"Selamat pagi, Rey!" seru Tante Meri menyambutku. "Ayo makan bersama," ajaknya.


"Pagi, Rey! Kebetulan sekali kamu datang. Ayah jarang melihatmu di kantor. Apa kamu sangat sibuk kemarin?" Ayah Anton ikut menyapa.


"Biasalah, Yah." Aku meraih punggung tangannya bersalaman bergantian dengan Tante Meri.


"Duduklah. Kami baru akan sarapan." Tante Meri mempersilakanku untuk duduk.


Aku menarik kursi dan mendudukkan tubuhku tepat berhadapan dengan Baruna. Dia menatap wajahku dengan sorot mata tajam.


"Tumben ke sini pagi-pagi?" sindirnya.


"Aku hanya ingin bertemu Ayah," sahutku.


"Bertemu Ayah, ya?" Dia menyunggingkan senyum kecil penuh arti.


"Sudah, jangan bertengkar pagi-pagi!" tegur Ayah.


Teguran Ayah membuat kami berhenti berbicara. Kemudian memulai sarapan kami. Aku mengerlingkan mata ke arah Sheryl. Wanita itu tampak berbincang sambil sesekali tertawa kepada tunangannya.


Bahagia sekali dia bersama dengan Baruna. Apa mereka baru saja melewatkan malam yang menyenangkan semalam?


"Baruna, Ayah dengar dari Bunda kalau kalian ingin menikah dua bulan lagi?" Ayah Anton tiba-tiba bertanya.


Aku sontak menoleh ke arah Ayah terkejut. Dua bulan lagi adalah waktu yang singkat.


"Iya. Itu mauku sih, Yah, tapi kemarin Dokter Mario menyarankanku untuk menunda sampai kakiku benar-benar sembuh."


Aku menghela napas lega mendengar jawaban Baruna, karena belum rela jika mereka menikah secepat itu. Kalau bisa, aku yang menggantikan posisi Baruna. Hanya itu inginku saat ini.


"Benar. Lebih baik jika kamu fokus pada pengobatanmu dulu, baru kita mengatur ulang rencana itu." Jawaban Ayah Anton seakan-akan mendukungku dan membuat senyumku mengembang seketika.


"Iya, Nak. Sabar ya. Kalian pasti akan menikah," tambah Tante Meri sambil tersenyum.


Sheryl hanya terdiam mendengar percakapan antar orang tua dan anak itu. Wajahnya menunduk seakan tidak ingin memperlihatkan raut wajahnya.


Jangan-jangan dia belum mengatakan semua yang terjadi pada Baruna.


Aku kembali menikmati sarapanku. Mataku sesekali memandangnya. Namun, dia masih menundukkan kepalanya.


Setengah jam kemudian, mereka selesai menikmati sarapan. Sheryl bangkit dari duduknya. Dia membantu Baruna untuk berdiri.


"Ayah, Bunda, aku antar Sheryl pulang dulu, ya." Baruna pamit kepada kedua orang tuanya.


"Iya, Bar. Hati-hati," sahut Ayah.

__ADS_1


"Sebentar, Bunda ada sesuatu buat Tante Rini." Tante Meri membuka kulkas, mengeluarkan sebuah bungkusan, dan memberikannya kepada Baruna.


"Apa ini, Bun?" tanyanya.


"Kue coklat untuk Tante Rini dan Om Agung."


"Terima kasih, Tante," ucap Sheryl.


Kedua orang itu kemudian berlalu meninggalkanku, Tante Meri, dan Ayah Anton di ruang makan. Ayah Anton menoleh ke arahku.


Ada yang ingin kamu bicarakan, Rey?" tanyanya.


"Iya, Yah. Aku ingin mengundurkan diri dari perusahaan."


Raut wajah Ayah dan Tante Meri berubah bingung. Mereka menaikkan sebelah alisnya bersamaan.


"Kenapa?" tanya Ayah Anton.


"Mama sedang sakit. Indira pun sedang hamil. Mereka tidak bisa memegang kendali perusahaan dengan maksimal," jelasku. Padahal bukan itu alasanku yang sebenarnya. Aku lebih takut perusahaan Ayah terbawa-bawa masalahku dan Kayla jika dia melaksanakan rencananya sewaktu-waktu.


"Kamu harus tetap di perusahaan, Rey. Kamu lihat kondisi Baruna juga belum memungkinkannya untuk kembali bekerja," tolak Ayah Anton.


Aku terdiam. Alasan yang dilontarkan oleh Ayah memang masuk akal. Aku tidak bisa mengundurkan diri begitu saja melihat kondisi keluarga dan perusahaan Asyraf.


"Bagaimana?"


"Baiklah, aku akan pikiran kembali."


"Kamu boleh mengundurkan diri saat Baruna sudah siap untuk bekerja. Ayah akan longgarkan pekerjaanmu di perusahaan. Kamu bisa bekerja di dua tempat secara bergantian dalam seminggu," sahut Ayah Anton.


"Akan aku usahakan," jawabku.


"Rey, kamu tidak apa-apa, 'kan?" Tante Meri tiba-tiba bertanya hal yang aku tidak mengerti.


"Maksudnya?" tanyaku.


Aku tidak menjawab. Untuk masalah itu, aku benar-benar belum bisa mengabulkannya. Ingin terus memperjuangkan apa yang aku inginkan.


****


Baruna PoV


Tepat pukul sembilan mobil kami pun tiba di halaman rumah Sheryl. Sheryl bergegas membuka pintu mobil dan membantuku keluar bersamanya.


Di teras tampak Om Agung sedang duduk bersantai dengan Tante Rini. Kami pun menghampiri mereka.


Kedua orang tua Sheryl mengangkat kepalanya melihat kami yang baru menginjakkan kaki.


"Sheryl, Baruna," Tante Rini bangkit dari duduknya menyambut kami.


"Tante, ini ada titipan dari Bunda." Aku memberikan bungkusan kue coklat pada Tante Rini.


"Terima kasih ya, Bar. Sampaikan salam Tante untuk ibumu."


"Iya, Tante," kataku seraya mengangguk. Tante Rini segera masuk ke dalam.


"Sayang, aku ke dalam dulu, ya," Sheryl ikut masuk ke dalam menyusul Tante Rini.


Aku mengangguk. Kemudian mendudukkan tubuhku di samping Om Agung. Dia kemudian menoleh ke arahku.


"Bagaimana keadaanmu, Bar?"


"Sudah lebih baik, Om," jawabku.


"Bagaimana rencana pernikahan kalian? Kapan kalian memutuskan untuk menikah?" tanya Om Agung.

__ADS_1


"Aku sebenarnya ingin menikah dua bulan lagi. Tapi dokterku memberi saran agar kami menikah setelah aku selesai pengobatan."


"Iya, lebih baik acara itu dilaksanakan jika kamu sudah sehat kembali." Om Agung mengiyakan perkataanku.


Tidak lama kemudian, Sheryl keluar membawa dua cangkir kopi di atas nampannya dan menaruhnya di atas meja. Aku mendongak ke wajahnya.


"Wah, kopi buatan calon istri pasti rasanya istimewa," ucapku.


Dia tersenyum manis dan membalikkan tubuhnya hendak masuk kembali.  Namun, Om Agung melarangnya.


"Temani Baruna di sini, Nak!" serunya sambil menyesap kopi hitam itu. Dia lalu bangkit dari duduknya. "Om tinggal dulu, ya."


"Iya, Om."


Sheryl pun duduk di sampingku. Dia memandangku sambil bertopang dagu. Nampan coklatnya dipeluk dengan erat.


"Kamu mengobrol apa dengan Papa?" tanyanya.


"Dia bertanya tentang rencana pernikahan kita, Sayang."


"Oh .... Lalu bagaimana?" tanyanya.


"Aku akan mengikuti saran Dokter Mario. Lebih baik kita menikah setelah aku benar-benar sembuh. Sehingga kita bisa bebas jika ingin pergi berbulan madu ke mana pun."


"Iya," jawabnya.


Aku memandang wajahnya dengan senyuman mengembang. Begitu pun ia dengan senyuman manisnya. Aku akan mencoba bersabar menunggu hari itu tiba.


"Sayang, aku baru lihat ponselku. Kamu yang membalas pesan Pak Reynand?" Tiba-tiba saja Sheryl bertanya apa yang kulakukan semalam.


"Iya. Kamu keberatan?"


"Tidak. Hanya saja, kamu tidak bercerita kalau aku tidak menanyakannya," jawabnya seraya mengerutkan kening.


"Apa ada hal yang aku tidak tahu?"


"Tidak, Sayang!" Jawabannya begitu lugas membuatku sangat percaya padanya.


"Baiklah, jika memang seperti itu. Aku pamit, ya. Rasanya kakiku sakit terus-terusan dipakai beraktivitas."


Setelah aku mengatakan hal itu, raut wajahnya berubah menjadi khawatir. Aku mengulurkan tanganku mengusap-usap puncak kepalanya.


"Kamu tidak perlu khawatir. Sesampainya di rumah, aku akan istirahat," sahutku.


Senyumnya mengembang. Dia lalu bangkit dari duduknya dan berkata, "Aku panggil Mama dan Papa dulu."


Aku mengangguk. Dia pun masuk ke dalam, sementara aku menunggunya. Sebenarnya aku sangat khawatir jika Reynand terus mengirim pesan padanya seperti itu. Namun, aku harus mempercayai tunanganku sendiri.


Tidak lama, kedua orang tua Sheryl keluar. Aku bangkit dari kursi dan berpamitan.


"Hati-hati pulangnya. Bilang sama Pak Amri jangan mengebut," pesan Tante Rini.


"Iya, Tante," jawabku.


Om Agung hanya menyunggingkan senyum tipisnya. Kedua orang tuanya kemudian masuk ke dalam.


Tanpa rasa ragu dia memeluk dan mencium keningku meski harus bersusah payah berjinjit untuk mencapainya.


"Hati-hati, Sayang. Kabari kalau sudah sampai," katanya, lalu mengantarku masuk ke dalam mobil.


"Iya," jawabku dari balik jendela.


Dia melambaikan tangannya. Aku pun membalasnya.


"Jalan, Pak!" perintahku kepada Pak Amri.

__ADS_1


Pak Amri mulai memacu mobilnya keluar meninggalkan halaman rumah Sheryl.


__ADS_2