
Aku melangkah pergi meninggalkan ruang tamu dengan Reynand yang ikut di sampingku. Mengapa tiba-tiba rasanya sesak berada di sana? Tubuhku pun tidak menerima. Terus gemetar sepanjang beberapa menit dengan tangan yang berkeringat dingin. Melihat Kak Baruna dan seorang wanita, hanya berdua di ruangan itu.
Nayara namanya. Seharusnya aku sadar dari kemarin kalau wanita itu memang mengincar Kak Baruna. Dari pesan-pesan yang dikirimkan melalui direct message ke sosial media, bahasa seorang teman tidak seperti itu. Tiba-tiba wanita itu menyapa dan terus mengajak Kak Baruna chatting. Mengajaknya bernostalgia saat-saat sekolah. Sungguh, sebuah cara yang membuat diriku kesal setengah mati sore ini.
Reynand. Memang dasar pria kurang ajar. Dia terus merangkulku, memanas-manasi Kak Baruna. Bahkan menawarkan diri mengantarku ke toilet sambil mengenggam tanganku erat. Sedetik pun tidak dilepaskannya sama sekali. Tindakan itu membuat Kak Baruna menatap tajam ke arah kami. Sorot matanya seakan ingin membunuh.
Hah, setidaknya aku tahu Kak Baruna cemburu dan masih mencintaiku.
"Lepas, Rey!" perintahku saat sudah berada di depan pintu toilet.
Dia pun melepas genggaman tangannya. Menatap dalam mataku dengan air mukanya yang menunjukkan kekhawatiran.
"Sudah lebih baik?" tanya Reynand.
"Apanya?" Aku balik bertanya.
"Aku tahu sebenarnya kamu tidak ingin pipis. Kamu hanya cemburu dan tidak ingin berada di sana," jawabnya.
"Sok tahu! Kita pulang saja!" ketusku membuat bola matanya melebar.
"Kamu sedang mengerjaiku?" protesnya.
"Kamu pikir aku bisa mengutarakan unek-unek hatiku saat kondisinya seperti ini? Ada wanita lain di sana. Sekarang bukan waktu yang tepat."
"Baiklah, tapi tidak ada kesempatan lain untukmu. Aku tidak mau mengulang hal seperti ini lagi," sahut Reynand.
"Aku masih mempunyai kontaknya. Kapan pun aku bisa menelepon Baruna."
"Sini ponselmu!" perintahnya sambil mengulurkan tangan meminta ponselku.
"Untuk apa?"
"Sini!" tegasnya.
Aku merogoh ponselku dari dalam tas dan memberikannya pada pria itu. Dia mengambilnya. Seketika terlihat air muka kesal dan serius saat melihat dan mengotak-atik ponselku. Tidak lama kemudian, dia mengembalikannya.
"Nih! Aku sudah memblokir nomor Baruna di sana. Jangan coba-coba membuka blokirnya. Aku tidak suka kamu berkirim pesan padanya seperti semalam," ucapnya.
__ADS_1
Kenapa jahat sekali pria ini? Memblokir nomor Kak Baruna tanpa izinku dengan ancaman seperti itu.
"Kamu tidak berhak melakukannya!"
"Tentu saja aku punya hak. Aku sekarang calon suamimu," sahutnya kemudian mencium pipiku.
Matikan saja aku, daripada harus tinggal bersama dia nantinya. Sumpah! Aku tidak akan pernah menghiraukan dia. Aku akan terus mengabaikannya sampai dia gila.
"Jika kalian hanya ingin memperlihatkannya kemesraan kalian di hadapanku, lebih baik kalian pergi dari sini!" Tiba-tiba saja terdengar suara Kak Baruna dari arah sebelah kanan.
Deg!
Seketika kami berdua menoleh ke arah sumber suara. Melihat dia berdiri dengan kruknya di dekat kami. Wajahnya menatap dengan tatapan matanya yang dingin.
Sial! Mengapa dia harus melihatku saat Reynand mencium pipiku?
"Apa belum cukup berciuman di depan media kemarin, sehingga membuatku harus melihatnya secara langsung?" sindirnya.
"Kakak, ini tidak seperti yang kamu lihat!" kilahku.
"Apa? Kamu mau bilang kalau kemarin dan sekarang kamu juga sedang mabuk?" sindirnya lagi.
"Maaf Bar, udah membuat lo sakit. Tapi, kami bisa melakukan apapun berdua saja. Bahkan, melakukan hubungan suami istri. Dalam waktu kurang dari dua minggu lagi Sheryl akan jadi istri gue," sahut Reynand sambil tersenyum menyeringai.
"Terserah. Gue mau ke toilet. Minggir kalian!" Kak Baruna menerobos kami yang berdiri di depan pintu toilet.
Aku membalikkan tubuhku berlari pergi dari tempat itu. Sungguh, aku tidak sanggup mendengar perkataan lainnya. Hilang sudah kalimat yang ingin kusampaikan pada pria itu.
"Sher!" Reynand memanggilku, tapi aku tidak peduli. Aku terus berlari sampai ke depan halaman rumahnya, kemudian berhenti.
"Ayo, kita pulang saja," ajak Reynand sambil meraih tanganku. Namun, aku menepisnya.
Air mukanya memandang bingung ke arahku. Seperti orang yang tidak tahu apa-apa. Bagiku, dia benar-benar berengsek!
"Baiklah, kalau kamu tidak mau kugandeng," katanya, lalu masuk ke dalam kursi kemudi.
Aku berjalan pelan menuju pintu gerbang kediaman Asyraf. Benar-benar tidak ingin pulang dengan pria itu.
__ADS_1
Terus berjalan pelan menyusuri jalan perumahan mewah di ibu kota. Aku berjalan dengan wajah tertunduk. Sedangkan mobil Reynand tidak juga terlihat mendahului. Apa dia sedang mengikutiku dari belakang? Ah, aku tidak akan peduli dengan apa yang dia lakukan.
Tiba-tiba saja, Reynand meraih tanganku dari belakang dan menariknya paksa hingga masuk ke dalam mobil. Dia memandangku kesal. Kemudian segera memacu kendaraannya pergi dari tempat itu.
"Kamu pikir kamu hebat kalau pergi dengan cara seperti itu?" katanya setengah berteriak.
Aku terisak. Menangis kembali. Belum selesai rasa sedihku karena perkataan Kak Baruna, dia malah memperparahnya dengan terus mengomel sepanjang jalan.
"Dasar cengeng! Kesal sekali aku hari ini. Puas kamu membuat perasaanku campur aduk?!" omelnya.
"Terserah!"
Dia menepikan kendaraannya. Memutar tubuhnya hingga berhadapan denganku.
"Lihat aku!"
"Tidak! Dasar berengsek! Sialan!"
Bukannya bertambah marah karena umpatan, dia malah membuka sabuk pengamanku, lalu menarikku dalam rengkuhan dadanya yang bidang.
"Aku memang orang berengsek dan sialan seperti yang kamu katakan. Pantas saja jika aku tersisihkan dari keluarga ayah. Jangan membuatku merasa lebih dari ini, Sheryl! Aku ingin menjadi yang terbaik untukmu," jelasnya.
"Aku tidak peduli! Aku tidak mencintaimu. Kamu yang membuat hidupku seperti ini," sahutku, lalu mendorong tubuhnya. Namun, dia malah mengeratkan dekapannya hingga membuatku tidak bisa berkutik.
"Izinkan aku melakukan ini sebentar saja."
Dia terus memelukku. Tangisanku makin menjadi. Kupikir diputuskan sepihak itu sudah terasa sangat sakit. Ternyata ditambah dengan sindiran yang menusuk tadi malah menambah rasa sakitku yang sekarang. Dan mengapa harus Reynand yang sekarang ada di sini? Memelukku seperti orang yang paling benar sedunia.
Reynand melepaskan pelukannya. Dia kembali memakaikan sabuk pengaman padaku dan mulai meneruskan perjalanan kami.
Aku kembali diam seraya menyeka air mata yang tidak kunjung berhenti. Mungkin jika air mata mempunyai limitnya dalam sebulan, aku sudah menghabiskannya dalam waktu sepertiga bulan saja. Kemudian, ketika besok akan menangis, air mataku tidak akan keluar sama sekali.
"Sudah menangisnya?" tanyanya.
"Bukan urusanmu!" Aku memalingkan wajah.
"Huh .... Kamu lihat, dia sudah mempunyai penggantimu secepat ini. Rugi jika kamu terus menangisi perasaanmu sendiri."
__ADS_1
Aku diam tidak menanggapi perkataan Reynand. Sungguh ingin menyanggah, tapi tidak mempunyai kekuatan untuk mendebatnya. Seperti biasa, hanya bisa mengabaikannya.