
Reynand PoV
Satu jam sebelumnya dari episode kemarin ....
Suasana ruang makan terasa sepi. Para wanita sudah pergi meninggalkan meja makan, hanya menyisakan tiga orang pria dewasa di sana. Ayah menyudahi makan malamnya dan pamit keluar ruang makan meninggalkan aku dan Baruna yang masih duduk saling berhadapan.
"Rey, ada yang mau gue omongin," ujar Baruna tiba-tiba.
Aku mengerlingkan mataku ke arahnya datar. Air muka saudara tiriku itu terlihat serius saat berbicara.
"Ngomong aja."
"Jangan mendekati Sheryl lagi. Jangan membuatnya bingung. Kami akan segera menikah."
"Apa dia mulai goyah? Lo takut dia berpaling?" tanyaku dengan tawa yang tertahan.
"Kita adalah saudara. Lo enggak akan melakukan hal yang menyakiti saudara lo sendiri 'kan, Rey?" Baruna menekankan kata "saudara" di kalimatnya.
"Hanya Sheryl yang bisa memutuskan. Gue cuma usaha, tapi gue beneran serius jatuh cinta dengannya," sahutku tersenyum simpul.
"Rey, pertama kali lo datang ke keluarga gue, lo itu cuma ingin harta warisan, 'kan?"
Aku menghela napas panjang. Memang itu tujuan awalku tapi itu juga atas permintaan Mama. Aku tiba-tiba diperintahkan untuk pulang ke tanah air segera diminta memimpin kantor pusat di negaraku sendiri. Mama juga yang memerintahkan untuk mendekati keluarga ayah kandungku. Meminta hak waris atas anaknya yang sudah lama disembunyikan.
"Iya, gue akui itu," jawabku serius.
"Sekarang lo juga ingin tunangan gue?" tanya Baruna dengan penuh tekanan.
"Jujur gue katakan, iya." Aku menatap mata Baruna tajam.
"Lo bener-bener enggak punya hati, Rey. Gue bisa kasih semua harta yang lo mau, tapi jangan dia. Sheryl itu napas gue. Kalau lo ambil dia dari gue, sama aja lo bunuh gue." Baruna memelas di hadapanku.
"Dia juga suka sama gue, Bar. Biarkan dia yang memutuskan."
"Astaga! Susah banget ngomong sama lo, ya." Baruna beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkanku sendiri di ruang makan.
Aku memandang kepergiannya sampai tidak terlihat. Entah mengapa raut wajah Sheryl dan Baruna hari ini terlihat sedang tidak baik.
Apa mereka sedang bertengkar?
Aku ikut beranjak dari dudukku dan pergi ke kamar yang sudah disediakan Tante Meri. Kamar bernuansa biru pastel yang membuatku merasa sangat damai.
Kemudian aku duduk di tepi ranjang dengan ponsel berada di dalam genggaman. Ponselku itu tiba-tiba berbunyi. Sebuah panggilan dari Mama. Aku segera mengangkatnya.
"Rey, kapan kamu pulang?"
"Nanti saat aku ingin, Ma."
__ADS_1
"Sering-sering tengok Mama di rumah."
"Iya, Ma."
"Mama sangat menyesal dan bersedih Pak Awan meninggal."
"Iya dan itu akibat kata-kata Mama."
"Hentikan, Rey! Mama juga tahu kalau Mama ikut andil membuat Kakekmu itu jatuh sakit. Namun ajal siapa yang tahu?"
"Iya, Tuhan sudah membuatnya beristirahat dengan tenang. Sudahlah, Ma. Aku lelah ingin istirahat."
"Anak ini, benar-benar membuat Mama sendiri geregetan," ucapnya gemas.
"Aku memang anak Mama," sahutku.
"Besok kamu harus kunjungi Mamamu."
"Iya, Ma."
"Jaga diri. Makan teratur."
"Iya, Mamaku."
"Selamat istirahat, Nak."
"Mama juga. Selamat istirahat."
Apa mereka sudah pernah melakukan lebih dari itu? Aku sungguh tidak sanggup membayangkannya. Apa aku harus menyerah sekarang? Sheryl jelas-jelas sudah menolakku. Menyuruhku menjaga jarak darinya. Bahkan tadi Baruna pun mengatakan hal yang sama. Apakah diriku sekejam itu? Aku hanya memperjuangkan apa yang kuinginkan.
Aku membuyarkan kata hatiku sendiri. Kini yang ada hanya rasa sepi menggelayut dalam pikiran. Kedua kalinya aku merasakan luka. Benar kata Daniel, mungkin aku harus menyerah dan menemukan cinta yang baru.
Tok-tok-tok!
Suara ketukan pintu membuatku tersadar dari lamunan. Aku segera beranjak membukakan pintu. Tampak Ayah Anton berdiri dengan sebotol wine dan dua gelas panjang bertangkai di tangannya.
"Temani Ayah minum," katanya lalu masuk ke dalam kamar.
Aku mengangkat kedua alisku melongo melihat tingkahnya. Dia lalu mendudukkan tubuhnya di atas sofa panjang. Aku pun ikut duduk menemaninya.
"Buka jendela, Rey! Ayah butuh udara segar sekarang."
"Baik, Ayah." Aku bangkit dari dudukku, segera membuka jendela balkon sesuai dengan perintahnya.
"Duduklah! Ayah ingin berbincang denganmu. Anak Ayah yang sudah kembali."
Aku tersenyum mendengar kata-kata "anak ayah" dari mulutnya padahal dulu kami pernah bertengkar dan dia juga pernah menampar wajahku.
__ADS_1
"Kenapa tidak minum dengan Baruna, Ayah?" tanyaku.
"Dia sedang menjadi budak cinta," dengkusnya menahan tawa.
Aku membuka botol wine itu dan menuangkannya sedikit ke dalam gelas. Ayah memegang tangkai gelas itu dan memutarnya sebelum ia merasakan minuman beralkohol itu. Aku pun melakukan hal yang sama. Jenis sparkling wine yang terlihat mengkilat di bawah sinar lampu. Ayah memandang wajahku seraya tersenyum.
"Bagaimana kehidupanmu selama ini?"
"Awalnya aku sangat sulit menerima diriku yang berbeda dari anak lainnya. Mereka memiliki orang tua yang lengkap. Sampai akhirnya Om Frans menikahi ibuku dan menjadi figur Ayah yang baik untukku."
"Hmm ... syukurlah setidaknya hal itu cukup membuat Ayah lega. Selama ini Ayah begitu merasa bersalah karena tidak bisa bertanggung jawab atas kehidupan dirimu, anak Ayah."
Aku terdiam tidak berkomentar. Selama ini yang aku tahu adalah cerita versi ibuku sendiri. Rasanya tidak ada yang bisa disalahkan atas hancurnya hubungan Mama dan Ayah. Mereka punya alasan masing-masing.
"Kakekmu sudah meninggal. Mungkin beberapa hari lagi notaris keluarga kami akan memberitahukan surat wasiat yang ditinggalkannya. Ayah ingin saat itu kamu dan Mamamu juga hadir di sana walaupun Ayah ragu isi surat itu akan sesuai dengan keinginan kalian. Jika itu terjadi, Ayah tidak ingin terjadi perselisihan di antara kalian dan keluarga kami."
"Sejujurnya aku sudah tidak terlalu peduli dengan harta warisan, melainkan hanya patuh pada Mama."
"Benarkah?"
"Iya, ada yang lebih penting dari itu," jawabku menatap mata Ayah Anton dengan berbinar-binar.
"Baiklah, jika kamu mengatakan hal seperti itu, Ayah bisa tenang. Tidak ada lagi pertengkaran antara keluarga Ayah dan Mamamu. Sesungguhnya Ayah benar-benar tidak punya kuasa atas harta yang ditinggalkan," jelasnya sambil memainkan gelas wine-nya lagi.
Aku terdiam tidak menanggapi. Bagiku saat ini adalah kebahagiaanku. Harta yang banyak tidak membuatku bahagia jika hatiku masih terasa sepi.
"Ayah pun sudah mendengar semuanya. Tentang dirimu yang menyukai Sheryl." Tiba-tiba Ayah mengatakan hal yang tidak pernah terpikirkan olehku.
Aku tertegun sejenak mendengar kata-kata Ayah. Dia pun sampai tahu mengenai perasaanku terhadap calon menantunya.
"Iya, Ayah. Aku mencintainya."
"Jangan melakukan tindakan bodoh, Nak. Dia milik saudaramu. Carilah gadis lain yang benar-benar cocok denganmu. Lihat dirimu, laki-laki tampan dan mapan. Wanita mana pun bisa kamu dapatkan di zaman sekarang," tegasnya lalu meminum wine di dalam genggamannya.
Aku menarik napas begitu berat dan sesak. Ayah pun tidak menyukai diriku yang mencintai tunangan Baruna. Tidak ada seorang pun yang mendukungku.
"Bagaimana bisa Ayah berselingkuh dari Ibuku? Sedangkan Ibuku berusaha untuk tulus mencintai Ayah sepanjang pernikahannya dulu. Bukankah Ayah melakukan perselingkuhan itu juga atas nama cinta? Tidak peduli bagaimana status Ayah yang sudah menikah, tapi malah memilih wanita lain yang Ayah cintai. Aku rasa posisiku dan Ayah dulu sama," balasku membela diri.
Ayah terdiam lalu tertawa terbahak-bahak mendengar kata-kataku yang mungkin menurutnya lucu itu. Dia lalu menatapku tersenyum.
"Lakukan sesuai kata hatimu saja. Tapi Ayah tidak yakin kamu bisa memisahkan mereka. Posisimu terlalu lemah. Hubungan mereka sudah diatur dengan segala cara," sahutnya sambil menepuk bahuku pelan, lalu bangkit berdiri hendak meninggalkan kamar.
Segala cara? Maksudnya?
"A-ayah apa maksudnya?" tanyaku ikut bangkit berdiri.
"Sudah ya, Ayah pamit ke kamar dulu."
__ADS_1
"A-ayah! Aku belum selesai."
Ayah tidak memedulikan panggilanku lalu buru-buru keluar ruangan. Aku hanya bisa memandangnya pergi. Sungguh membuatku penasaran.