Marriage Order

Marriage Order
S2 Kembali Bersama


__ADS_3

Reynand PoV


Aku termangu duduk sendiri di tepi ranjang yang seharusnya menjadi milikku dan Sheryl malam ini. Sebuah seringai senyum menghiasi wajahku menatap kasur dengan seprai berwarna coklat muda.


Kamu sudah melakukan hal yang benar, Rey. Dia milik Baruna. Bukan milikmu.


Tiba-tiba pintu terbuka. Farhan dan Irene masuk ke kamar. Melihatku yang duduk sendiri di sana.


"Sheryl di mana, Pak Rey?" tanya Irene.


"Dia pergi menyusul lelaki yang dicintainya," jawabku.


"Bagaimana bisa? Kalian akan menikah. Bapak dengan mudah merelakan pengantin Bapak pergi bersama lelaki lain," protes Irene.


"Kadang ada hal yang tidak bisa diucapkan dengan kata-kata. Hanya hati yang mengerti. Betapa saya menyayangi kedua orang itu."


"Pak Rey ...." Irene menatapku prihatin. Farhan terlihat diam. Dia tidak berkata apa-apa.


"Kamu tidak usah mengkhawatirkan saya, Irene. Saya tidak sesedih itu. Tenyata merelakan juga salah satu bentuk mencintai. Dan saya akan bahagia jika melihat mereka berdua bahagia," jawabku kemudian beranjak keluar kamar menuju balkon. Mengambil sebatang rokok dari kantung celana dan menyalakannya.


Aku mulai mengisap rokok itu. Farhan berjalan menghampiriku. Dia tersenyum melihatku dan membuka telapak tangannya ke hadapanku.


"Gue boleh ikut merokok?" tanyanya.


Aku mengangguk dan memberikannya rokokku. Kami menikmati asap yang mengebul bersama. Melihat ke bawah halaman rumah yang mulai ramai dengan para tamu. Kebun yang luas itu pun sudah didekorasi dengan berbagai hiasan bunga dan pita.


Pandanganku tertuju pada seorang wanita bergaun coklat muda. Sosok yang kukenal walaupun kulihat dari jauh. Dia Kayla.


"Lo membiarkan mempelai wanita lo pergi dan sekarang udah mulai jelalatan lihat perempuan lain di bawah sana?" tanya Farhan heran.


"Apa lo gak kenal dia, Far?" tanyaku.


"Siapa?" tanya Farhan lagi.


"Dia Kayla. Dulu gue pernah antar dia ke butik lo untuk membuat gaun pesta."


"Kayla model?"


"Siapa lagi?"


Farhan menggelengkan kepalanya. Dia mengusap punggungku pelan.


"Gue rasa dia cinta mati sama lo, Rey. Temui dia, sana!"


"Ih, kok lo maksa, sih?" Aku tertawa.

__ADS_1


"Iyalah. Ngenes amat abisnya jadi lo."


"Hei, gue gak apa-apa, Far. Kebahagiaan gue sekarang lebih besar dari rasa sedih yang gue rasain. Beban gue terasa lepas gitu aja."


Farhan tidak menjawab. Dia mengembuskan asap rokoknya ke udara bebas. Ponselku tiba-tiba berdering. Aku pun mengambilnya dari dalam tas kecil yang kubawa. Sebuah panggilan dari Kayla.


"Rey, mengapa acaranya belum mulai-mulai?" tanyanya.


"Aku rasa Mama sudah mengonfirmasinya kepada kedua orang tua Sheryl," jawabku.


"Konfirmasi apa?"


"Aku membatalkan acara pernikahan kami."


"Batal? Yang benar saja? Kamu sudah membuat emosiku naik turun dan memberanikan diri datang ke tempat ini. Sekarang dengan seenaknya membatalkan acara pernikahan?!" marah Kayla. Nada suaranya terdengar tinggi.


Aku tertawa mendengarnya memarahiku. Dia kemudian terdiam tidak berkata apa-apa. Membuatku ikut terdiam sejenak.


"Aku merelakannya pergi menemui pria yang ia cintai," sahutku.


"Rey .... Aku salut padamu. Kamu bukan penjahatnya. Kamu adalah kesatrianya sekarang, Rey."


"Kamu pikir aku sedang bersandiwara. Ada penjahat dan kesatria?"


"Tidak, kali ini bukan sandiwara. Kali ini adalah dirimu yang sebenarnya. Reynand yang kucintai," sahut Kayla.


"Aku tunggu di sini. Kamu bisa berbagi cerita padaku. Apapun yang ingin kamu katakan, aku siap mendengarkannya, Rey."


Belum sempat menjawab, dia memutus panggilannya. Membuatku geleng-geleng kepala menghadapi tingkah wanita itu.


****


Sheryl PoV


07.45


Kak Reza baru saja memarkirkan mobilnya. Aku buru-buru turun dan berlari menuju terminal keberangkatan luar negeri yang menuju Kuala Lumpur, Malaysia. Tidak peduli dengan gaun pengantin yang menutupi hampir seluruh kakiku. Apalagi, saat ini aku lupa melepaskan high heels yang kupakai sedari tadi.


"Sheryl!" Kak Reza memanggilku. Dia berlari jauh di belakang. Aku tidak memedulikannya. Hanya berlari yang kuingat. Hanya ingin segera bertemu dengan pujaan hati.


Karena begitu merepotkan, akhirnya aku melepas sepatu itu dan membuangnya. Aku terus berlari tanpa alas kaki. Membiarkan orang-orang melihatku yang akhirnya menjadi pusat perhatian.


Akhirnya gaun ini berhasil membuatku jadi pusat perhatian. Ha-ha-ha.


Dari jauh sekali aku melihat mereka. Mataku tiba-tiba menangkap sosok tiga orang manusia dengan troli kopernya sedang berjalan menuju counter check in. Terlihat dari punggungnya, dua orang wanita dan seorang pria yang berjalan dengan kruknya. Aku yakin itu Tante Meri, Nayara, dan Kak Baruna.

__ADS_1


Senyum lebar mulai menghiasi wajahku. Aku segera berteriak memanggilnya, "Kakak!"


Mereka tidak menengok ke belakang. Aku yang masih berlari segera kembali memanggil.


Sheryl, kamu sangat bodoh. Di saat seperti ini tidak membawa ponsel sama sekali.


"Kak Barunaaa! Kakak!" teriakku lagi.


Lagi-lagi, salah satu dari mereka tidak ada yang menengok ke belakang sama sekali. Aku mulai cemas dan kembali memanggil.


"Kak Barunaaaa!"


Bruk!


Apes sekali! Aku jatuh tersungkur. Kakiku tersangkut gaun biru muda sialan ini. Mereka tidak juga menengok ke belakang. Aku putus asa. Air mata meleleh seketika. Terduduk lemas, menangis, meraung-raung di antara banyak orang yang berlalu lalang di area terminal keberangkatan. Ketiga sosok itu seakan hilang dari pandanganku.


Aku menelungkupkan wajah di antara kedua lutut. Masih menangis tidak berani melihat lurus ke depan. Punggung mereka sudah pasti menghilang dari pandangan mataku. Cukup lama aku menangis sampai terdengar suara seorang wanita.


"Bar, ada pengantin tersesat di sini!" Suara seorang wanita membuatku tertegun sejenak seakan lupa akan tangisan yang meraung-raung.


"Huh, mengapa dia ada di sini, Nay? Bukankah hari ini dia menikah?"


Aku tersentak kaget. Sontak mendongakkan kepalaku. Tampak sosok Kak Baruna tersenyum menatap dalam wajahku. Segera, menengok ke belakang. Kak Reza menatapku sambil menahan tawanya. Mengayun-ayunkan smartphone-nya di hadapanku seakan sedang meledek adiknya.


Aku kembali menatap wajah Kak Baruna. Memperlihatkan senyuman terbaik untuknya seraya bangkit berdiri, walau dengan susah payah. Kakiku terkilir kembali seperti waktu itu.


"Bisa berdiri?" tanya Kak Baruna mengulurkan tangannya.


Aku mengangguk, lalu berdiri dan menarik kerah kemeja yang dia kenakan. Tidak peduli sedang berada di mana. Wajahku mendekat ke wajahnya. Aku menciumnya dengan penuh perasaan rindu yang menggebu. Kulumat bibirnya sampai ia mengaduh dan mulai membalas dengan perasaan yang sama.


"Aku hanya mencintaimu, Kakak," ucapku.


"Panggil namaku. Aku bukanlah Kakakmu lagi, Sheryl," sahutnya.


"Aku sangat mencintaimu, Baruna. Hanya mencintaimu. Tidak ada yang lain di hatiku," ucapku di sela-sela permainan rindu kami.


Baruna melepaskan ciumannya sejenak. Dia menatap dalam wajahku dan menjawab, "Aku lebih mencintaimu. Maafkan aku yang sudah menyakitimu, Sayang."


"Tidak, aku yang harus meminta maaf. Aku sudah banyak melakukan kesalahan. Membuatmu begitu menderita, Sayang."


"Ayo kita menikah. Aku tidak ingin kehilanganmu lagi," sahutnya.


Aku mengangguk, begitu bahagia memilikinya. Tante Meri menepuk pundak Baruna. Dia berkata, "Ingat, kakimu harus sembuh dulu. Jangan merepotkan calon menantu Bunda."


"Iya, Bunda." Sosok lelakiku itu tampak salah tingkah. Dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal seraya tertawa kecil.

__ADS_1


Baruna memandangku penuh rasa cinta dan kerinduan. Aku pun balas memandangnya dengan cara yang sama. Dia merengkuhku dalam dadanya yang bidang. Kak Reza, Tante Meri, dan Nayara sontak meneteskan buliran air mata haru mereka. Kami kembali bersama. Kali ini untuk selamanya.


Aku sangat bahagia bersamamu, Baruna. Tidak akan pernah meninggalkanmu.


__ADS_2