Marriage Order

Marriage Order
S3 Penyerangan (2)


__ADS_3

Sheryl Pov


Felicia melepaskan jenggutannya. Pandanganku seketika bergerak mengarah pada perutnya. Ya. Aku pasti mengurangi tenagaku karena memandang ia yang sedang mengandung. Bagaimanapun, calon bayinya tidak bersalah.


Aku menegakkan tubuh kembali. Segera mengayunkan tangan menamparnya. Felicia mundur beberapa langkah sambil memegangi pipinya yang memerah. Wanita itu menatapku dengan tatapan tajamnya. Beberapa jenak kemudian, ia mengayunkan tangannya membalas tamparanku. Kemudian mendorongku kembali hingga terjatuh di lantai.


Napasku menderu tak karuan menatapnya. Aku benar-benar kesal. Emosi ini tak dapat lagi terbendung saat mendongak menatap wanita itu. Dan di saat ini, hal yang paling kusesali adalah diriku yang malas berolahraga. Aku merasa sangat lelah berkelahi dengannya.


Haish! Jika aku terus membalas, bagaimana jika seranganku malah mengenai perutnya? Aku tidak ingin terjadi apa-apa dengan calon bayinya itu.


Felicia merunduk sedikit. Ia memasang senyum mengejeknya. "Sakit, huh? Itu tak ada apa-apanya dibanding dirimu yang lebih dulu merebut Baruna dariku."


Aku cepat-cepat bangkit. Sungguh penampilanku sangat berantakan. Tak peduli lagi bagaimana penampakan gaun span panjang merah muda yang kukenakan. Bagian kanannya robek cukup panjang hingga lutut. Dia benar-benar serius menghajarku.


"Fely, kurasa kau salah paham. Aku tak merebut Baruna dari wanita mana pun."


"Salah paham bagaimana? Aku yang lebih dulu menyukai Baruna, tapi mengapa dia malah lebih mencintaimu? Sungguh! Aku tak bisa merelakan hal itu. Jika aku tak bisa bahagia, kau pun harus merasakannya, Sheryl. Kau tidak boleh bahagia dengan pria mana pun!" desisnya dengan menyeringai miring menakutkan.


"Kau jangan nekat, Fely! Kita sudah memilih jalan hidup kita masing-masing!"


"Tidak! Aku hanya berusaha melindungi keluargaku. Aku juga tak ingin bercerai dengan Baruna. Dia tak boleh kembali kepadamu," tambah Felicia lalu mengulurkan kedua tangannya meraih leherku. Dia mendorong kembali dan terhenti pada dinding ruangan. Napasku seketika tertahan kala tangannya menekan kuat leherku. Dengan cepat, aku berusaha mengurai cengkeramannya. Namun, dia bergeming dan malah menyorotkan tatapan tajam.


"Fe-Fely...." Aku memanggil namanya dengan suara lemah.


Wanita itu tak menyahut melainkan menunjukkan seringai puasnya kepadaku. Wanita itu kemudian mengekeh dengan suara keras.


"Jadi begini saja kekuatanmu, huh?! Kau benar-benar bernyali besar memancing amarahku," katanya.


Aku menelan ludah dengan susah payah. Telapak tangan Felicia begitu kuat menekan. Tak lama, terdengar suara dua orang pria dari luar. Suara yang sangat kami kenal. Mereka Baruna dan Reynand. Suara itu membuat kami sama-sama menoleh ke arah pintu keluar.


"Sheryl!"


"Felicia!"


"Hei! Buka pintunya! Apa yang kalian lakukan di dalam?!"


Menyadari Felicia yang sedikit mengurangi tenaganya, aku segera mengurai cekikan Felicia. Mendorong dirinya hingga terjajar beberapa langkah. Seketika aku terkulai lemas seraya terbatuk-batuk, lepas dari cekikan wanita sialan itu.


"Kau dengar? Dua pria itu sangat mengkhawatirkanmu. Namun sayangnya mereka tak akan bisa masuk. Aku sudah mengunci pintunya dari dalam."

__ADS_1


"Kau benar-benar gila...."


"Aku memang gila, tapi itu semua karenamu!" Mata Felicia melotot hampir keluar. Wanita itu tidak memedulikan suara Baruna dan Reynand yang menggedor pintu dari luar.


Suara gedoran pintu itu makin menjadi. Bukan hanya suara ketukan biasa. Suara tubuh yang menumbuk bergantian pada pintu luar tak dapat dihindari. Reynand dan Baruna tampaknya saling bekerja sama membuka paksa pintu ruang rest room yang terkuci dari dalam.


Felicia makin menunjukkan senyum dinginnya. Dia seperti seseorang yang memiliki kelainan jiwa hingga membuatku sedikit takut menghadapinya.


"Wow! Hebat! Dua orang pria sedang bekerja sama hendak menolongmu," katanya kemudian meraih clutch miliknya dari meja wastafel, "kelihatannya sudah tidak seru lagi," katanya lalu mengeluarkan sesuatu dari dalamnya.


Seperti tak memiliki dosa, wanita itu terdiam di depanku. Ia membuka telapak tangannya. Sebuah pisau lipat terlihat di sana. Wanita itu berjalan mendekat lalu merunduk, memperlihatkan pisau itu dari dekat.


"Kau lihat pisau ini?" katanya. Pisau yang sedang berada di tangannya terlihat sangat tajam.


Aku membelalak melihat benda tajam itu. Apa yang akan dilakukan Felicia membuatku bertanya-tanya dalam hati.


Gila! Apa dia ingin membunuhku dengan benda itu?


"Apa yang akan kau lakukan dengan benda tajam itu, Fely?!" Aku berteriak kuat-kuat, segera bangkit berdiri.


"Menurutmu?"


Belum sempat aku menjawab, pintu ruangan rest room tiba-tiba terbuka. Reynand menerobos masuk, sedangkan Baruna dan satu petugas hotel mengikutinya dari belakang. Felicia sontak mundur beberapa langkah dan menyembunyikan pisau lipat itu di balik punggungnya.


"Kau tidak apa-apa, 'kan? Kau tidak terluka 'kan, Sayang?" tanyanya. Aku menjawab Reynand hanya dengan sebuah anggukan syok. Seketika, Reynand memelukku begitu erat. Aku menghela napas panjang begitu lega menyadari ada Reynand di sisiku. Tanpa sadar air mataku mengalir dan langsung menangis di pelukannya.


"Sheryl, apa yang terjadi?" tanya Reynand lagi, terdengar begitu cemas. Namun aku tak menjawab. Air mataku terus saja mengalir tanpa perintah.


***


Baruna Pov


"Ayo kita keluar, Fel." Aku mengajak Felicia untuk segera beranjak dari ruangan rest room. Sungguh! Aku tak ingin berada di dekat Sheryl dan Reynand saat ini. Perasaanku benar-benar hancur diruntuhkan oleh harapan yang terlanjur menjulang tinggi karena mengharapkan ia kembali kepadaku.


"Tidak. Ada kesalahpahaman di antara kami. Aku harus meminta maaf dulu kepada Sheryl," jawab Felicia menggelengkan kepalanya.


Aku mengernyit bingung, tapi tak bisa berkata apa-apa. Membiarkan Felicia berjalan mendekat ke arah mereka. Namun ada yang aneh, Felicia seperti menyembunyikan sesuatu di salah satu genggaman tangannya.


"Pak, bagaimana ini?" tanya petugas hotel yang mendampingi kami sejak tadi.

__ADS_1


"Maafkan saya, Pak. Sepertinya ada sedikit kesalahpahaman di sini. Bapak sudah boleh pergi sekarang. Semua kerusakannya nanti akan saya ganti," jawabku.


Petugas hotel itu pun pamit dari hadapanku. Seketika pandanganku mengedar. Tak ada yang aneh di ruangan ini. Bahkan semuanya masih tertata dengan rapi seolah tak terjadi sebuah keributan kecuali penampilan dua wanita itu yang tampak berantakan. Entah apa yang terjadi dengan mereka.


Aku memperhatikan Felicia yang berjalan mendekati Sheryl dan Reynand yang berdiri memunggunginya. Ia kemudian berhenti dengan jarak yang lumayan dekat dari mereka. Dia terdiam beberapa saat di sana.


Bukankah Fely ingin meminta maaf? Mengapa dia hanya diam di sana?


Sheryl menyeka air matanya kala menyadari Felicia yang berdiri di dekat mereka. Namun yang terjadi benar-benar di luar dugaan. Seketika pandanganku membulat kala melihat Felicia tiba-tiba mengayunkan sebelah tangannya. Dalam waktu sepersekian detik sebuah pisau dengan tertancap di pinggang belakang Reynand.


"Fely!!"


Aku berteriak menghampiri Felicia, tapi terlambat. Darah mulai mengalir membanjiri jas hitam Reynand. Aku segera menarik lengan Felicia yang dengan cepat mencabut pisaunya itu. Reynand sontak berteriak kesakitan.


"Re-Rey!" Sheryl yang terkejut bukan main melihat Reynand yang tiba-tiba berteriak dan memegangi lukanya. Felicia menyeringai penuh kemenangan di hadapan kami, "kau benar-benar wanita gila!" teriaknya penuh amarah.


Reynand tampak meringis kesakitan. Dia melihat telapak tangannya sendiri. Begitu banyak banyak darah terlihat di sana.


"Da-darah...," katanya memandangi cairan merah di tangannya. Dia tampak sangat syok melihat darahnya sendiri. Tak lama, tubuhnya menjadi limbung. Sheryl yang berada di sampingnya segera menahan tubuh Reynand yang hendak terjatuh.


"Tidak! Tidak! Rey! Rey!" teriak Sheryl yang segera merebahkannya di atas paha. Sheryl lalu menepuk pundak Reynand, tapi dia tak juga sadar.


"Fely, apa yang kau lakukan, huh?! Kau ingin membunuhnya, huh?!" Aku benar-benar marah melihat Felicia melakukan tindakan seperti itu. Namun di luar dugaan, Felicia tersenyum kecil lalu melepaskan tanganku darinya.


Dengan langkah perlahan, ia berjalan menjauh. "Kau lihat, Sayang?! Aku hanya ingin menegaskan kepada Sheryl yang kau cintai itu. Jika aku tak bisa bahagia bersamamu, dia juga tak boleh bahagia dengan pria mana pun. Begini adil, 'kan?" katanya seraya menunjukkan senyuman dingin kepada kami. Aku dan Sheryl sontak saling pandang memperlihatkan raut cemas.


Aku berjalan mendekat, hendak menghampiri Felicia. Namun, Felicia begitu pintar. Ia mencoba mengancamku, "Sedikit lagi kau mendekat, aku akan memotong urat nadi tanganku ini, Sayang."


Felicia mengulurkan tangan kiri, bersiap-siap untuk mendapatkan beberapa sayatan dari pisau yang ia genggam.


"Fely, jangan seperti ini. Kita bisa bicarakan semuanya." Aku berusaha membujuknya.


"Ya, Fely. Kau tak boleh melakukan hal itu. Ingat Rafael, putramu!" Sheryl menambahi.


"Tidak usah ikut campur, wanita sialan!" teriak Felicia lalu menoleh kepadaku, "kau ingin berbicara denganku, huh? Maksudmu kau ingin membicarakan perceraian kita? Dengar, ya! Aku tak mau bercerai sama sekali darimu. Jika harus bercerai, lebih baik aku dan bayi ini mati saja!" Felicia kembali mengancam.


"Tidak, Fely. Kau tak boleh melakukan hal itu. Letakkan pisau itu di lantai!" teriakku, kemudian melirik Sheryl yang mencoba menelepon seseorang dengan ponsel kekasihnya.


"Tidak!" sahut Felicia tegas. Kemudian tanpa ragu menyayat pergelangan tangannya beberapa kali.

__ADS_1


"Fely!!!" Aku berteriak, tapi sayang darah cukup banyak mulai mengalir di pergelangan tangan Felicia. Seketika tubuhnya menjadi limbung. Aku segera beringsut menangkapnya.


__ADS_2