Marriage Order

Marriage Order
S3 The Final


__ADS_3

Haruskah aku mengusir mereka? Dua orang sahabat sialan yang tidak mengerti situasi dan kondisi malam ini. Oh, Tuhan! Ini adalah malam pertamaku dan Sheryl tapi mereka masih asik dengan minumannya.


Aku terus melirik arlojiku. Pukul dua belas malam. Ketika seluruh tamu undangan sudah pulang, tapi dua orang pria yang mengaku sahabatku ini masih betah duduk di meja mereka seolah sedang mengulur waktu pulang. Dan parahnya, mereka minta ditemani karena aku tak mengadakan acara pesta bujang seperti saat Wisnu dahulu menikah.


"Ngapain sih lirik-lirik jam tangan terus? Istri lo gak bakal diculik kayak dulu, Rey." Wisnu berkata dengan tatapan meledek. Pria itu kembali menyesap minuman beralkohol, padahal wajahnya sudah merah karena mabuk.


"Lo jangan minum terus, Nu. Tuh muka lo udah merah. Nanti lo gak bisa nyupir." Aku menimpali, tapi pria itu malah terkekeh seolah perkataanku adalah sebuah lelucon baginya.


"Ada Farhan... atau nanti buka kunci aja sama dia."


Farhan yang masih bisa mempertahankan kesadarannya pun ikut berkomentar, "Sial lo, Nu! Ogah gue buka kunci bareng lo. Yuk! Pulang, yuk! Kasian tuh pengantin baru mau buka gembok."


"Gembok?" Aku sontak melotot kepada Farhan.


"Ups! E-enggak deh, Rey. Maksud gue mungkin bu-buka yang lain, tapi bukan gembok." Farhan sontak bersikap salah tingkah di depanku. Dia menoleh ke kanan kirinya seolah mencari sesuatu.


"Cari apa, huh?"


"Enggak! Gue gak cari apa-apa!" tegas Farhan bangkit dari duduknya, lalu memaksa Wisnu untuk berdiri, "ayo pulang, Nu. Gue anterin lo pulang!"


Dengan terhuyung Wisnu akhirnya bangkit dibantu Farhan. Wisnu sedikit meracau dengan kalimat yang tak jelas. Terlihat kesulitan, aku pun ikut bangkit dari dudukku membantu Farhan memapah Wisnu.


"Sebenarnya, gue udah pesenin kamar buat lo berdua, jaga-jaga kalau lo berdua gak mau pulang," ujarku yang langsung membuat Farhan menghentikan langkah, menolehku dengan bola matanya yang membulat.


"Satu kamar?"


"Enggaklah. Gue gak bakalan mendukung hubungan sesama jenis walau itu adalah lo, Far." Aku tertawa renyah, meledeknya.


"Sialan lo, Rey! Gue masih normal kali."


"Kalau begitu, cepet nikah dong, Far." pungkasku.


"Kalau cewek impian gue tersedia di marketplace, gue nikahin sekarang juga!" sahut Farhan yang membuat tawaku makin lepas.


Di tengah-tengah pembicaraan, Wisnu tiba-tiba ikut menyahut pembicaraan kami, "Gue juga normal, Reeey... jangan lupain kalau gue punya istri."


Mendengar perkataan Wisnu, kami berdua seketika tergelak.


.


.


.


Ini malam pernikahanku dan Sheryl dan saat ini aku sedang berdiri di depan kamar hotel tempat kami menginap. Rasa gugup dan jantung yang berdebar kencang tetap muncul mengingat sekarang kami benar-benar telah resmi menjadi suami istri. Aku menarik napas dalam-dalam sebelum membuka pintu.


Sheryl terlihat berdiri di depan cermin meja rias. Kedua tangannya terulur ke belakang, berusaha membuka resleting belakang gaun putihnya. Aku beringsut mendekat dan berhenti tepat di belakang istriku itu.

__ADS_1


"Perlu bantuan?"


Sheryl tampak terkejut kala kedua tanganku terulur memeluk dirinya dari belakang. Dia tak menoleh dan hanya melirikku dari cermin.


"Rey, kapan kau masuk? Aku tak mendengarnya."


Aku tak menjawab dan malah menunduk, membenamkan wajahku di lehernya. Kemudian tanpa aba-aba, memberikan kecupan demi kecupan lembut di sana. Sheryl seketika memejamkan matanya, menikmati apa yang kulakukan.


"Rey, apa kau ingin melakukannya sekarang?"


"Hmm?" Aku menjawab sekenanya karena terlalu fokus pada apa yang kuinginkan yaitu "sebuah ritual makan 'terlalu' malam" seperti yang Reza katakan.


Sheryl mendesahh, lalu membalik tubuhnya. Tanpa ragu aku mencium bibirnya yang terlihat ranum dan terasa manis juga kenyal. Hasratku makin menggebu untuk mendekapnya.


Wajahnya memerah kala bibir kami saling melepaskan pagutannya setelah beberapa lama. Aku dapat merasakan napas kami yang menderu seolah kehabisan oksigen di kamar yang sangat luas ini. Kami saling memandang dan melukiskan senyuman. Perlahan, aku membantu ia mengurai sanggulnya.


"Aku merasa panas. Apa kita perlu menurunkan suhu pendingin udaranya?" tanya Sheryl tiba-tiba.


"Tidak perlu karena kita akan berolahraga," sahutku.


Sheryl mengekeh mendengar jawabanku. Dia lalu mengulurkan tangan, tanpa ragu melepaskan kemeja dan celanaku. Begitu pun aku yang beralih memeluk punggungnya. Perlahan melepaskan gaun dan pakaian dalamnya. Sedetik kemudian, seluruhnya terlepas jatuh ke lantai.


Aku melihat lekuk tubuhnya yang indah dan diriku tanpa balutan apapun di depan cermin. Dadanya membusung terlihat kencang. Seketika rasa gugup membuat napasku begitu berat. Salivaku tertelan karenanya. Tak ingin membuang waktu lagi, kedua tanganku kembali memeluknya dengan erat. Aku dapat merasakan degup jantung Sheryl yang begitu kencang sama sepertiku. Aliran darah kami sama-sama mengalir cepat, meningkatkan suhu tubuh kami.


"Kau sangat cantik." Aku memujinya tulus.


Aku membopongnya menuju tempat tidur. Mengukung tubuhnya yang indah. Sheryl tersenyum malu-malu dengan mata yang menatap lembut. Rasa panas yang makin terasa membuat otakku makin liar. Aku tak ingin menghindar karena dia istriku. Aku sangat mencintainya.


Kala wajahku mendekat, meraih bibirnya dengan lumatann lembut, Sheryl langsung memejamkan matanya. Bibirnya ikut bergerak membalas ciuman itu dengan sama lembutnya. Tubuhnya menggelinjang menikmati tiap sentuhan yang kulakukan, menyusuri leher dan buah dadanya yang sintal. Bibirnya seketika melenguh dan mendesahh memanggil namaku berkali-kali. Mendengar suaranya, aku malah menghentikan aktivitas kami.


"Mengapa berhenti?" tanyanya bingung.


Aku menggeleng. "Aku hanya merasa ini masih seperti mimpi," kataku.


Sheryl mengalungkan tangannya di leherku. "Sayangnya, ini adalah kenyataan. Kita yang memulainya, Rey."


"Aku sangat mencintaimu, Sheryl." Aku menatapnya serius.


"Aku juga sangat mencintaimu, Rey." Sheryl menyahut dengan wajah yang memerah dan matanya berubah sayu.


Aku mengulas senyumku kembali. "Aku tak akan ragu-ragu untuk menikmati makan malamku."


Sheryl mengangguk. "Apapun itu. Aku milikmu, Rey."


Setelah Sheryl berkata seperti itu, aku kembali bergerilya memberikan sentuhan, kecupan, dan tanda kepemilikan diriku atasnya. Tubuhnya yang menggelinjang dan napas yang terengah menikmati malam pernikahan kami, membuatku makin tak tahan untuk melesakkan milikku pada liang miliknya hingga pada pelepasan dan penyatuan kami sebagai suami istri.


"Aku mencintaimu," kataku terengah seraya mengecup dahinya.

__ADS_1


"Aku juga mencintaimu, Rey," jawab Sheryl tersenyum.


.


.


.


Sejurus kemudian, bukannya lelah dan tertidur karena pergumulan antar suami istri di atas tempat tidur, kami malah terus terjaga. Netra kami sama-sama tak bisa terpejam. Kami berdua terdiam memandang langit-langit kamar hotel dengan tubuh yang sama-sama polos hanya berlapiskan selimut tebal.


"Rey."


"Sheryl."


Kami memanggil berbarengan. Seketika aku memiringkan tubuh ke arahnya. Ia pun melakukan hal yang sama. Sedetik kemudian kami sama-sama mengekeh.


"Kau duluan yang berbicara," ujarku.


"Tidak! Kau lebih dulu, Rey."


"Ladies first," sahutku.


Sheryl pun mengangguk-angguk, berkata, "Ehm, bisakah kita membatalkan rencana untuk tinggal di London? Aku tahu itu agak sulit karena kau telah mempersiapkan semuanya di sana. Bahkan bisnismu dengan Mr. Amancio."


Aku mengangkat sebelah alisku. "Beri tahu aku satu alasan mengapa kita harus membatalkannya."


"Aku tak bisa meninggalkan negara ini lagi untuk waktu yang lama seperti dulu. Kedua orang tuaku tinggal berdua saja di rumah, Rey. Aku tak ingin berada jauh dari mereka," tuturnya.


"Kau ingin kita tinggal satu rumah dengan kedua orang tuamu?"


"Tidak. Bukan itu maksudku. Setidaknya kita tinggal di satu kota yang sama. Kau boleh mengatakan aku tidak mandiri karena hal ini, tapi aku hanya tak ingin membuat mereka kesepian dengan meninggalkan keduanya di Jakarta. Kau tahu sendiri kalau Kak Reza tidak tinggal di sini."


Aku menghela napas panjang. "Sebenarnya, aku melakukan hal ini karena masih mengkhawatirkanmu dan Fely. Jika kita masih di sini, mungkin kita akan sering berinteraksi karena berada di lingkungan keluarga yang sama. Aku takut ia berbuat nekat lagi, Sayang."


"Ya aku tahu, tapi kami sudah berdamai dan kau tahu hal itu."


Aku terdiam selama beberapa saat. Memang hal ini sempat menjadi pikiranku sejak tadi setelah Wisnu menceritakan tentang sang istri yang tak hadir karena harus bertemu kedua orang tuanya di kota lain. Ternyata, aku dan Sheryl memiliki kekhawatiran yang sama sekarang. Kekhawatiran tentang orang tua kandung kami. Bedanya, Sheryl sangat memikirkan kedua orang tuanya, sementara aku lebih tega dengan membiarkan Mama tinggal sendirian di rumah keluarga Pradipta. Ya, meski banyak orang yang bekerja untuk Mama di rumah itu, tetap saja Mama pasti sangat kesepian. Apalagi setelah Indira pindah ke rumah pribadinya dan aku bersikeras untuk pergi dari Jakarta.


Sheryl menunggu jawabanku dengan raut cemas. Aku mengusap lembut kepalanya, lalu menjawab, "Baiklah, jika menurutmu kita tak perlu pindah, maka kita tidak usah pindah."


"Benarkah, Rey?" Wanita itu seketika mengubah raut mukanya menjadi sangat senang. Dengan cepat, aku mengangguk mengiyakan.


"Terima kasih, Rey. Aku sangat senang. Aku berjanji tak akan pernah mengecewakanmu sebagai istri. Kau tetaplah menjadi prioritasku, Rey." sahutnya.


"Aku percaya," jawabku mengangguk.


Sheryl melengkungkan garis senyumnya, kemudian menciumku. Tanpa ragu, aku membalasnya. Dan yang terjadi, maka terjadilah. Tak peduli dengan waktu yang sudah lewat dini hari, kami melakukannya lagi. Melepaskan benihku di rahimnya. Aku sangat bahagia dan tak pernah ragu untuk mencintainya. Semoga seorang Sheren yang hadir di mimpiku akan benar-benar hadir suatu hari nanti.

__ADS_1


End


__ADS_2