Marriage Order

Marriage Order
S2 Curahan Hati


__ADS_3

Hari yang sama ....


Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam saat Reynand pamit pulang padaku. Wajahnya terlihat lelah tapi terus menunjukkan senyumnya. Aku tidak peduli. Aku akan terus mengabaikan dia. Kalau perlu dia menjadi frustasi dan menyerah menghadapiku.


Aku tidak ingin menikah dengannya. Berkali-kali kukatakan itu di dalam hati dan tadi pagi pun sudah kuminta untuk tidak meneruskan rencana yang menurutku akan sia-sia saja. Bagaimana bisa menikah dengan orang yang tidak dicintai?


Dia berdiri di hadapanku. Memandang dengan sorot matanya yang menghangat. Menarik bahuku hingga masuk ke dalam dekapannya. Bukannya senang, aku makin merasa benci padanya.


"Sheryl, jangan menyiksaku seperti ini. Beginikah sikapmu terhadap orang yang sudah membebaskan kamu sekeluarga dari belenggu surat konyol itu?" tanyanya.


"Kamu pikir cintaku hilang semudah itu? Bahkan cintamu saja belum benar-benar ada di hatiku. Aku menyesal bertemu denganmu. Mimpiku sudah kamu hancurkan!" Aku mulai emosi dan berkata dengan nada tinggi.


"Sher, lupakan Baruna. Kalian tidak berjodoh."


"Tuhan yang tahu dengan siapa aku akan berjodoh, tapi aku yakin bukan denganmu!" seruku.


Reynand melepaskan pelukannya menatap mataku. Pria itu menghela napas berkali-kali. Mencoba menahan emosi yang mungkin berkecamuk di dalam dirinya. Dia mengangkat tangannya mengusap puncak kepalaku.


"Sudah malam. Istirahatlah, Sheryl. Wajahmu terlihat lelah. Besok, kamu boleh mendebatku lagi. Hari ini aku sudah lelah berdebat denganmu." Reynand mengusap  kedua sudut mataku yang hampir mengeluarkan air mata kembali.


Dia membalik badan melangkah menuju mobilnya. Aku melihat dia pergi sampai menghilang dari pandangan mata.


Aku pun membalik tubuhku berjalan masuk ke dalam. Segera melangkah masuk ke kamar. Melakukan apapun terasa serba salah. Selalu teringat wajah Kak Baruna yang menari di dalam kepalaku. Senyumnya yang manis dan perkataannya yang lembut tidak bisa hilang begitu saja. Baru kusadari, dia selalu memperlakukanku bak seorang ratu. Walau kadang emosinya datang, tapi tidak meruntuhkan pandanganku sebagai lelaki yang kucintai.


Sepi. Padahal baru sehari kami berpisah. Rasanya sangat lama dan menimbulkan rasa rindu yang menggebu ingin segera bertemu. Namun, sekarang bagaimana caranya aku bertemu dan menunjukkan rasa cintaku? Tidak ada alasan lagi bertemu dengannya. Dia sudah melepasku kepada saudaranya. Membuatku sakit sampai ingin mengakhiri hidup.


Beginikah akhir dari perjalanan cinta kami? Harus menerima segala hal yang ditetapkan oleh kedua orang tua kami. Hah .... Pada akhirnya memang mereka yang benar-benar menetapkan jalan hidup anak-anaknya.

__ADS_1


Aku terduduk lemas di lantai. Menelungkupkan kepalaku di atas lutut. Terisak. Lagi-lagi tangisanku kembali memecah kesunyian malam.


Aku merindukanmu, Sayang!


****


Baruna PoV


Malam sudah sedikit larut. Mata tidak juga bisa terpejam. Hati pun masih merasa sesak. Biasanya, aku akan menelepon Sheryl jika mata ini tidak juga mengantuk. Atau sebaliknya, dia yang menghubungiku dan mengobrol apapun tentang kehidupan.


Malam ini rasanya hening. Tidak lagi bisa mendengar suaranya. Bahkan, untuk sekedar menganggap dia menjadi adik dari sahabatku seperti dulu pun, sungguh aku tidak bisa. Hubungan kami benar-benar berakhir tidak bersisa.


Kakak .... Dia biasa memanggilku seperti itu. Walau hati kadang tidak rela, bertahun-tahun aku memposisikan diriku seperti kakak baginya. Memperlakukannya dengan sebaik-baiknya, bak ratuku yang paling kucinta. Dia segalanya bagiku. Tidak ada yang bisa menggantikannya.


Aku terlalu kecewa. Terlalu dalam sakit hatiku. Sudah sejak lama menyadari ia yang mempunyai sedikit ketertarikan terhadap saudara tiriku. Bukannya aku terlalu percaya diri, tapi aku selalu merasa di atas angin karena status pertunangan kami dan betapa aku merasa dicintai olehnya. Walau pada akhirnya, ternyata aku tetaplah kalah dan menjadi pecundang.


Reynand, andai kami tidak bertemu dengan cara seperti ini, mungkin dia bisa menjadi kakak yang baik. Namun, takdir menjadikan aku harus membencinya. Memberikannya hartaku yang paling berharga. Seorang wanita yang kucintai selama bertahun-tahun.


****


Aku baru saja tiba di unit apartemenku. Mengambil segelas air putih dan meminumnya hingga habis tak bersisa, kemudian mengisinya kembali hingga berkali-kali. Tenggorokanku rasanya sangat kering seperti berada di gurun pasir yang tandus.


Kesal, marah, sedih, dan kecewa jadi satu. Hari ini dia mengabaikanku. Bahkan, aku tidak dianggap calon suaminya. Aku hanya ingin meraih kebahagiaanku. Apa ada yang salah? Mencintai dan berharap pada seseorang yang belum sah terikat dalam sebuah tali pernikahan?


Aku memang salah telah melakukan hal keji itu. Membuat hubungan mereka hancur. Namun, aku juga berhak untuk bahagia, bukan?


Ponselku tiba-tiba berdering. Aku meraihnya dari atas meja. Sheryl meneleponku. Suaranya terdengar serak sepert habis menangis.

__ADS_1


"Rey, aku benar-benar tidak bisa. Jangan paksa aku lagi. Biarkan aku seperti ini. Lepaskan aku."


Perkataannya kembali membuatku kecewa dan sedih. Dia mengucapkan hal yang malah membuatku jadi merasa sangat bersalah.


"Sheryl, kenapa kamu mengatakan hal seperti ini lagi? Kita bahkan baru memulai. Cobalah buka hatimu sedikit untukku."


"Tidak. Kamu bukan orangnya. Hanya Baruna yang bisa membahagiakanku."


"Sheryl, aku tidak ingin mendengarnya. Kamu adalah milikku. Hanya milikku," kataku meyakinkan.


Suara tangis terdengar dari sambungan telepon. Membuatku tidak tega. Dia mengabaikan kalimat terakhirku.


"Tidurlah. Istirahat. Besok kujemput. Jangan berpikiran macam-macam."


Dia tidak menjawab. Aku segera mengakhiri panggilan itu. Entah, bagaimana lagi membuat hatinya luluh. Setelah kemarin sempat berpikir bahwa dia juga mencintaiku. Namun, malah begini jadinya.


Aku menggelengkan kepala. Beranjak melangkah masuk ke kamar. Menghela napas berkali-kali. Bingung, apa yang harus aku lakukan sekarang.


****


Kayla PoV


Jam dinding di kamar sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Berguling ke sana ke sini di atas tempat tidur. Aku sangat gelisah. Mataku tidak bisa terpejam mengingat kejadian tadi siang. Reynand datang ke lokasi syuting. Mengancam akan melaporkanku ke polisi.


Bukan aku penjahatnya. Reynand-lah orangnya. Semua terjadi karena dia. Laki-laki yang membuatku muak setengah mati sekarang. Dia seharusnya tidak perlu kupikirkan lagi. Namun, entah kenapa bayang-bayangnya selalu menari dalam kepala. Pria sialan!


Aku baru saja membaca beritanya di media online. Sungguh tidak tahu malu. Mencium Sheryl di depan media. Wanita itu juga sama saja. Hanya pasrah menerima. Sengaja sekali membiarkan seluruh dunia tahu kalau mereka adalah sepasang kekasih. Gila!

__ADS_1


Sumpah! Aku benci mereka. Pasangan yang sangat cocok. Dulu aku pikir Sheryl berbeda. Dia adalah sekretaris yang tidak mempunyai rasa sama sekali dengan pasanganku. Tapi nyatanya sekarang? Sungguh munafik.


Aku menelan ludah mengingat kedua orang itu. Sungguh merasa sangat kasihan pada Baruna. Untung saja, dia tidak jadi menikah dengan wanita itu. Benar-benar tidak pantas. Pria yang tidak tahu apa-apa harus menerima wanita yang sudah tidak perawan dan mengkhianati dirinya.


__ADS_2