
Reynand PoV
Aku menatap wajah Mama yang terlihat sangat marah. Dia menarik tubuhnya menjauh dari dipan. Kemudian mendekati wajahku seraya mendaratkan sebuah tamparan keras.
Mama menampar wajahku. Napasnya menjadi tidak teratur. Tatapan matanya menunjukkan kekecewaan dan kemarahan seorang ibu. Aku pasrah menerima perlakuannya. Hanya bisa memandang dengan rasa bersalah. Namun, seperti yang kukatakan sebelumnya, hal itu tidak menjadikan aku sebagai laki-laki yang menyerah dengan keadaan. Aku tetap mencintai Sheryl dan ingin menjadikannya milikku.
"Rey, inikah yang kamu namakan cinta? Atas dasar itu kamu melakukan hal sekeji itu? Bunuh saja Mamamu, dibanding kamu harus mencoreng nama Pradipta! Bagaimana bisa kalian melakukan itu di belakang Baruna?!"
Aku menarik napas dalam-dalam. Tidak menjawab perkataan Mama. Hanya bisa memandang wajahnya yang marah.
"Anak kurang ajar! Tidak bisa menjawab, hah?!" umpat Mama lagi.
"Mama, maafkan kesalahanku. Aku melakukannya saat dia tidak sadar karena mabuk. Namun Ma, aku sudah cukup dewasa untuk mempertanggungjawabkan tindakanku itu. Aku akan menikahinya!"
"Siapa yang mengizinkanmu untuk menikahi gadis itu? Mama tidak pernah merestui hubungan kalian! Lagi pula, seharusnya kamu berpikir. Wanita itu jaminan hutang. Mama tidak akan mau membantumu membayar hutang perusahaan keluarganya!" tegasnya.
Mendengar perkataan Mama membuat hatiku gusar. Aku sontak berbalik arah dan meninggalkan kamar Mama.
Tuhan, apa yang harus aku lakukan? Aku harus mulai mencari pinjaman dari sekarang.
Aku pergi berlalu dengan perasaan sedih karena telah mengecewakan wanita itu. Menyadari memang diriku bersalah atas segala yang kulakukan. Indira yang berpapasan denganku di depan kamar Mama melihatku bingung. Aku balik melihatnya dengan dingin.
"Kakak mau ke mana?"
"Bukan urusanmu!" jawabku ketus, "tolong jaga Mama. Aku habis membuatnya kesal," tambahku lagi.
"Dasar, Kakak! Sudah kubilang jangan membuatnya banyak pikiran, dan Kakak malah sengaja membuat dia marah!" teriaknya, tapi aku tidak peduli. Segera keluar halaman dan pergi melaju dengan mobilku.
Sampai ada kejadian seperti ini, tapi tidak ada yang mendukungku. Indira dan Daniel? Ah, entahlah ... aku tidak mengerti mereka sebenarnya mendukung siapa? karena Baruna adalah teman mereka. Aku tetap harus berusaha sendiri.
Mataku fokus melihat ke arah depan. Rasa panas akibat tamparan Mama sudah menghilang bersamaan dengan bayangan wajah Sheryl yang tersenyum dalam benakku. Segera, aku membelokkan mobil menuju rumah sakit.
__ADS_1
Selang beberapa lama, aku sudah tiba di rumah sakit. Berjalan menuju ruang tunggu ICU dan melihatnya sedang duduk dengan dua orang yang tidak kukenal.
"Sheryl," panggilku sambil menghampirinya.
Ketiga pasang mata itu menoleh ke arahku bersamaan. Aku mendudukkan diri di samping bidadariku itu. Terlihat dia menarik napas panjang tanpa memedulikanku dan terus mengobrol dengan kedua temannya sampai mereka pamit pulang.
"Sher, aku dan Fandy pulang dulu, ya," ucap teman perempuannya itu. Dia memeluk Sheryl.
"Jaga kesehatanmu," pesan laki-laki di sampingnya tersenyum.
Sheryl mengangguk lalu berkata, "Terima kasih atas waktunya datang ke tempat ini. Kedatangan kalian sungguh menjadi kekuatanku."
"Iya, Sher. Sama-sama. Pak Rey, kami pulang dulu," pamit wanita itu yang ternyata mengenalku. Dia tiba-tiba menyapa dan mengulurkan tangannya mengajak bersalaman.
"I-iya. hati-hati di jalan," sahutku menyambut uluran tangannya.
Namun, wajah lelaki dengan nama Fandy itu tampak sinis memandang. Dia lalu merangkul wanitanya, mengajak cepat-cepat melangkah masuk ke dalam lift.
"Mengapa anda ke sini, Pak?" tanyanya sambil bangkit dari duduknya.
"Ingin bertemu denganmu," jawabku singkat. Aku ikut berdiri di hadapan Sheryl.
"Saya mohon lupakan semua yang terjadi. Kita hidup masing-masing saja. Biarkan kejadian kemarin menjadi sebuah pembelajaran hidup." Sheryl terus menolak.
"Tidak bisa. Hal itu terlalu nyata untuk diabaikan. Aku semakin ingin menikahimu," tegasku.
Sheryl terdiam, terus menarik napas dalam-dalam. Begitu berat melihatnya mengatur tarikan napas.
"Saya mencintaimu apa adanya dan saya ingin menjadikanmu ibu dari anak-anak saya kelak. Sulitkah mewujudkan hal itu? Sedangkan kamu pernah mengatakan bahwa kamu mencintai saya," ucapku lagi menatap dalam wajahnya. Manik mata hitamnya yang sendu balas menatap ke dalam bola mataku.
"Kita bahkan belum pernah memulai hubungan apapun. Sepertinya saya pun telah salah mengartikan cinta itu sendiri. Anda yang telah menawarkan cinta kepada saya dan saya hanya tertarik dengan tawaran itu."
__ADS_1
"Setidaknya itu yang menjadikan dirimu memanggil nama saya saat mabuk. Jauh di lubuk hatimu yang paling dalam kamu telah menerima tawaran saya, Sher," sanggahku.
"Cukup! Kita akhiri saja pembicaraan ini. Dia masih berada di sana berjuang di antara hidup dan mati. Sedangkan anda hanya memikirkan perasaan anda sendiri. Sebagai saudara, sungguh tidak mempunyai rasa empati."
Aku menelan ludah mendengarnya mengatakan hal tersebut. Ke mana belas kasihan yang sempat mampir ke dalam hatiku kemarin? Melihatnya tidak berdaya di atas ranjang berselimut putih. Baruna, entah sampai kapan kami akan menunggu di antara ketidakpastian ini.
"Pasti anda sedang menyesalinya, 'kan? Tapi nanti anda akan kembali tidak mempunyai perasaan. Terbuat dari apa hati anda, Pak Reynand? Berbahagia di atas penderitaan saya dan keluarganya." Sheryl tiba-tiba terisak. Air matanya jatuh mengalir bebas. Matanya yang membengkak terlalu banyak menangis dan begitu lelah membuatku tidak bisa menjawab sepatah kata pun.
Aku mendekat ke arahnya, tanpa sadar menarik bahu dan memeluk tubuhnya. Merasakan tubuhnya yang gemetar menambah kekecewaan dalam hatiku. Dia menangis dan menjerit di antara lorong rumah sakit yang sepi. Aku terus memeluk erat. Mengusap punggungnya, berusaha menenangkan jiwanya yang terguncang.
"Lepas! Lepaskan saya!" perintahnya.
Aku tidak memedulikan perintahnya. Terus mendekapnya erat dalam dadaku yang bidang.
Tiba-tiba saja bahuku ditarik oleh seseorang. Tanpa basa basi, sebuah pukulan mendarat di sudut bibirku. Aku terhempas, pelukan itu terlepas begitu saja. Segera, aku mendongak melihat siapa yang memukulku. Sosok Reza sudah berada di samping adiknya. Dia merangkul Sheryl yang masih bersedih. Di dekatnya juga hadir Dita__kekasih Reza yang menutup mulut dengan jari-jemarinya, begitu syok.
"Dasar kurang ajar! Masih mencoba mencari kesempatan, hah?!" Air mukanya yang marah begitu menakutkan.
"Kakak, sudah!"
"Kamu mau melindungi laki-laki ini, Dek?" tanyanya dengan wajah memerah marah.
"Tidak. Bukan. Ini rumah sakit. Sebaiknya tidak membuat keributan," jawabnya.
Kedua kakak beradik itu saling beradu argumen, saat tiba-tiba saja seorang security laki-laki datang ke arah kami. Wajahnya yang tegas terlihat sedikit menakutkan.
"Maaf, dilarang membuat keributan di sini. Jika tidak bisa mematuhi aturan, dengan terpaksa saya akan membawa kalian ke kantor!" tegasnya.
"Maaf, Pak. Hanya ada kesalahpahaman sedikit di sini. Kami mohon maaf." Dita tiba-tiba menyela pembicaraan
"Baiklah, jika sampai ada perkelahian lagi. Tidak ada ampun untuk kalian," ancamnya.
__ADS_1
Dita hanya mengangguk dan menundukkan kepalanya meminta maaf. Security laki-laki itu akhirnya pergi berlalu meninggalkan kami. Aku hanya bisa diam menatap ketiga orang di depanku.