Marriage Order

Marriage Order
S2 Menunggu


__ADS_3

Ini hari ke tiga aku datang ke rumah sakit. Jam tanganku menunjukkan pukul setengah delapan pagi. Aku melihat Tante Meri duduk terkantuk-kantuk menunggu di ruang tunggu ICU. Aku melangkah menghampirinya.


"Tante ...," panggilku.


Tante Meri sontak menoleh ke arahku. Dia tersenyum dengan wajah yang sangat lelah. Terus menunggu Kak Baruna dengan harapan yang mungkin akan bangun hari ini.


"Sheryl! Sudah datang, Nak."


Aku mengangguk, lalu duduk di sampingnya.


"Apa itu di tanganmu?" Tante Meri melirik ke arah bawaan yang kubawa.


"Makanan, Tante."


"Baguslah. Tante pulang dulu sebentar, nanti balik lagi ke sini."


"Tidak usah, Tante. Aku akan menunggunya sampai besok jika perlu. Tante istirahat saja."


"Tidak, tidak. Nanti malam Tante akan kembali," tolaknya.


"Baiklah."


"Maafkan Tante, seharusnya hari ini menjadi hari yang paling membahagiakan untuk kalian. Pernikahan kalian jadi batal akibat musibah ini." Tante Meri mengusap kepalaku lembut. Hari ini memang hari Minggu, tepat hari pernikahan kami seharusnya digelar.


"Mengenai hal itu, aku sungguh tidak masalah. Yang penting Kak Baruna bisa sembuh," sahutku.


"Sheryl, Baruna pasti akan bangun. Dia akan sembuh. Yakinlah!" hibur Tante Meri.


"Iya, aku yakin dia kuat. Aku akan selalu berada di sampingnya, selamanya," jawabku sambil mengangkat kedua sudut bibir tipis.


"Sabar ya, Sayang," Tante Meri memeluk erat tubuhku sejenak, kemudian melepaskannya. "Jangan telat makan. Tubuhmu terlihat makin kurus. Tante tidak mau calon menantu Tante ikut sakit."


"Iya, Tante," sahutku.


Tante Meri membalikkan badannya melangkah menuju lift. Sebenarnya ada beberapa orang di ruang tunggu itu. Namun, rasanya begitu sepi dan hanya aku yang duduk di sana sendirian sambil terus termenung.


Sayang, bagaimana caranya agar kamu cepat bangun dari koma? Aku tidak bisa seperti ini terus. Aku sangat bersalah padamu.


Drrt-drrt-drrt!

__ADS_1


Terdengar suara ponsel berbunyi. Aku mengambil ponsel dari dalam tas kecil yang kubawa. Nama Pak Reynand terpampang di layar smartphone.


"Apa lagi, Pak? Saya rasa semuanya sudah selesai."


"Sheryl, saya tidak tahu bagaimana caranya mengampuni diri saya sendiri. Saya benar-benar menyesal telah melakukan hal itu padamu. Saya akan bertanggung jawab atas tindakan saya."


"Sudahlah, yang sudah terjadi tidak bisa diulang kembali. Kita berdua memang salah. Kamu harus menjalani hidupmu sendiri. Saya pun akan menjalani hidup saya sendiri. Jika ingin menebusnya, menikahlah dengan Kayla. Saya akan sangat berterima kasih."


"Lalu kamu?"


"Saya akan tetap di samping Baruna apa pun yang terjadi. Bersama dengannya atau tidak nantinya. Saya akan mengambil resiko itu."


"Tidak! Jika kamu tidak bahagia, saya juga memilih tidak bahagia. Saya tidak akan egois dan menikah dengan orang lain. Sedangkan wanita yang saya sayangi tidak bahagia."


Aku menghela napas. Pak Reynand adalah lelaki yang sangat keras kepala. Dia tidak akan mudah menyerah hanya dengan sekedar penolakan saja.


"Pak Rey, cukup!"


Aku langsung mematikan ponsel. Kemudian bangkit berdiri dan melangkah masuk ke dalam ruang ICU, di mana memang tepat dengan waktunya jam berkunjung.


Bola mataku menatap lekat pada wajah Kak Baruna. Sudah tiga hari ini dia tidak juga menampakkan perkembangan berarti. Aku meraih tangannya dan menggenggam dengan erat. Mencium punggung tangan lelakiku itu berkali-kali sambil menitikkan air mata.


"Sayang, aku mohon bangunlah! Jangan siksa aku seperti ini. Aku hanyalah wanita bodoh yang menyia-nyiakanmu. Karena diriku, kini kamu terbaring di sini," gumamku menyalahkan diri sendiri. Tidak lama air mataku luruh kembali.


Aku sontak menoleh ke arahnya. Menantap matanya tajam. Aku kesal saat ungkapan rasa sedihku terganggu oleh peringatan dari perawat itu.


"Aku sedang berbicara pada tunanganku! Anda tidak berhak mencampurinya!" teriakku.


"Maaf Mbak, setiap pasien yang koma akan mendengar setiap suara di sekitarnya. Mereka sadar dengan apa yang kita bicarakan. Jika itu sesuatu yang buruk, kami khawatir akan membuat keadaannya juga makin memburuk," jelasnya.


Aku terdiam mendengar penjelasan perawat itu. Rasa sedihku membuatku lupa kalau dia masih bisa mendengar setiap kata-kata yang kuucapkan. Seharusnya aku menghibur dan memberikannya kekuatan. Bukan sibuk hanya menyalahkan diri sendiri.


"Sudah mengerti?" tanya perawat itu lagi.


Aku mengangguk. Perawat itu kemudian keluar ruangan. Meninggalkan aku bersama dengan Kak Baruna. Hanya berdua di dalam bilik kaca itu.


"Sayang, hari ini kita seharusnya menikah. Cinta kita seharusnya bersatu. Maka, aku mohon dengan sangat, bangunlah. Aku merindukanmu!" Aku terus menggenggam tangannya. Kemudian, membelai wajahnya yang damai.


Tidak ada respon sama sekali. Membuatku tambah bersedih. Dia seperti mayat hidup yang tidak bisa diajak berbicara.

__ADS_1


"Sayang, aku mencintaimu." Aku mencium kening Kak Baruna. Menatap dalam wajahnya.


Tidak lama, perawat itu datang lagi memperingati, "Mbak, waktu kunjung sudah habis. Mbak bisa tunggu pasien lagi di luar."


Aku hanya menoleh, tidak menjawab perkataannya. Kemudian, mendekatkan bibirku ke daun telinga Kak Baruna seraya berbisik, "Sayang, aku keluar dulu. Jika kamu merasa sakit, kamu boleh memanggil namaku dan aku akan segera datang."


Aku berbalik arah meninggalkan dia yang terus tertidur. Entah kapan akan bangun. Haruskah aku menyerah? Ini sudah tiga hari dan blm ada perkembangan sama sekali.


Aku membuka pintu ruangan menundukkan kepalaku, sibuk menyeka bulir air mata yang terus jatuh membasahi pipi sambil terus berjalan memandang lantai marmer rumah sakit berwarna krem dan merah muda.


"Sheryl!"


Terdengar suara lelaki memanggil namaku. Suara yang sudah lama kulupakan. Aku mendongak, mendapati sosok Fandy dan Wildan berdiri tidak jauh dari tempatku berdiri.


Mereka berjalan menghampiriku. Aku tersenyum tipis melihat Wildan datang bersama pasangannya yang juga mantan pacarku__Fandy.


Wildan menatap dalam wajahku, lalu memeluk dengan hangat. Pelukan seorang teman yang sangat kurindukan, sebagai pendukung dari segala hal yang membuatku rapuh.


"Sabar ya, Sher. Semua akan baik-baik saja. Baruna akan bangun dan mencari lo," hiburnya seraya menatap dalam bola mataku.


Aku kembali menangis. Setiap yang datang untuk menguatkan, entah mengapa aku yang merasa sangat sedih, begitu merasa bersalah atas semua yang telah terjadi.


Wildan melepas pelukannya. Dia menyeka air mataku, kemudian berkata, "Gue yakin lo kuat. Bahkan saat menghadapi seseorang yang sangat terobsesi sama lo seperti Satya."


"Ini berbeda, Wil. Kak Baruna sedang di ambang hidup dan mati. Katakan bagaimana caranya gue harus menjadi kuat? Dia menderita seperti itu!"


Wildan mengajakku duduk. Tangannya mengusap rambutku lembut. Perhatiannya sebagai seorang teman saat ini sangat terasa hangat hingga membuatku merasa nyaman walaupun hanya sebentar.


"Tuhan tahu yang terbaik. Pak Baruna bukan orang yang mudah menyerah. Dia akan kembali sehat," tambah Fandy.


Aku menoleh ke arah pria itu, "Terima kasih atas perhatianmu, Fan."


"Sheryl, maaf gue baru tahu kabar ini. Sungguh, gue enggak sangka pernikahan lo akan batal karena kecelakaan yang menimpa Baruna. Fandy pun kembali ke sini, tadinya khusus ingin datang ke resepsi pernikahan lo," jelas Wildan.


"Maaf telah merepotkan kalian."


"Kami tidak merasa direpotkan. Kamu sudah seperti saudara kami. Walaupun keadaan kita di masa lalu tidak baik," sahut Wildan.


"Terima kasih."

__ADS_1


"Kami ingin melihat Pak Baruna. Bisa 'kan?" tanya Fandy.


Aku mengangguk. Mereka pun masuk ke dalam ruangan yang suram itu, meninggalkanku duduk sendiri. Aku meraih ponsel dan melihat kenangan-kenangan kami bersama di menu galeri. Air mata pun luruh kembali.


__ADS_2