Marriage Order

Marriage Order
Persaingan


__ADS_3

Suasana mall X masih sepi pengunjung. Wajar saja, aku datang satu jam setelah mall buka. Terlalu pagi untuk sekedar menjalankan hobi berbelanja para sebagian besar wanita di dunia.


Aku berjalan dengan sedikit tergesa-gesa mengingat Kayla yang sudah menungguku sejak datang di kafe M.


Langkahku terhenti sejenak melihat sosok wanita itu sudah terlihat begitu cantik sepanjang mata memandang. Model papan atas yang memiliki berbagai bakat tak terhingga. Tidak lama, aku memberanikan diri melangkah lagi menuju mejanya.


"Hai, Kay! Maaf aku telat," ujarku saat berdiri di hadapannya.


"Aku juga baru datang. Silakan duduk, Sher."


Aku menarik kursi di hadapanku, mengulum senyum dengan sempurna di hadapannya.


"Apa hari ini hari liburmu?" tanyaku.


"Iya, hari ini aku tidak ada jadwal. Oh ya, aku sudah pesankan makanan dan minuman untukmu." jawabnya sambil tersenyum menatap.


"Terima kasih, ya. Kenapa tadi kamu menyuruhku datang ke apartemen Pak Reynand?" tanyaku lalu memicingkan mata ke arahnya dan bertanya lagi dengan suara pelan, "Apa kalian tinggal bersama?"


"Tidak kusangka kamu sangat kepo mengenai hal itu," sahutnya tertawa.


"Ya tentu saja, karena kamu selalu menuduhku yang tidak-tidak karena dia."


"Jika kukatakan tidak kenapa, dan jika kukatakan iya kenapa?" Kayla balik bertanya.


Aku terdiam tidak menjawab. Ragaku terasa bergetar dengan pertanyaannya. Lidah pun terasa kaku untuk berkata-kata. Aku terlalu takut salah berbicara.


Apa yang sebenarnya terjadi pada diriku?


"Kenapa kamu mendadak diam, Sher? Apa ada yang salah dari kata-kataku? Kamu tidak menyukai Reynandku, 'kan? Sebaiknya tidak, jika kamu tidak ingin dilabeli teman makan teman," tegasnya.


"Tidak, Kay. Aku harap hubungan kalian baik-baik saja sampai jenjang pernikahan."


"Terima kasih, Sher. Harapanku, semoga hubunganmu dan Baruna akan terus langgeng sampai maut memisahkan," ucap Kayla dengan tatapan mata yang begitu tulus memandangku.


"Terima kasih, Kay," balasku sambil tersenyum.


Tidak lama kemudian pesanan kami datang. Aku dan Kayla lalu menikmati makanan dan minuman yang telah dihidangkan.


****


Baruna PoV


Aku sedang duduk menyandar pada sebuah bangku taman sambil menatap lurus ke danau buatan di belakang rumah. Terus terbayang wajah kakek yang menjagaku, Sheryl, dan Reza yang bermain di pinggir danau saat masih kecil. Ingatan yang begitu nyata terlukis di sana.


Cuaca yang cukup terik tidak membuatku segera beranjak dari tempat itu. Sesekali senyum kecil tersungging di bibirku, teringat betapa indah kenangan masa lalu.


Aku mengambil ponselku. Melihat waktu yang sudah menunjukkan pukul sebelas siang. Ponselku tiba-tiba saja berbunyi. Sebuah panggilan dari Pak Wicak.


"Maaf Mas, saya menggangu. Tadi Pak Reynand datang menanyakan berkas laporan keuangan yang kemarin."


"Sudah selesai, 'kan?"


"Mengenai itu sebenarnya belum selesai, tapi Pak Reynand berbaik hati memperbolehkan saya mengerjakannya kembali dalam waktu satu jam."

__ADS_1


"Lalu tidak ada masalah lain, 'kan?"


"Sepertinya dia tidak suka dengan laporan keuangan perusahaan yang terlalu banyak mengambil dana perusahaan untuk keperluan pribadi. Meminta rincian pengeluaran pemakaian pribadi dari awal tahun. Bahkan meminta tolong biro konsultasi keuangan untuk mengauditnya."


"Hah? Mengapa sedetail itu? Aku rasa keuangan Asyraf Corporation masih sehat. Dia tidak bisa mengaudit sesuka hatinya."


"Dia direktur utamanya, Mas."


"Aku direktur keuangannya. Aku pikir dia hanya meminta laporan biasa. Ternyata ...." Aku tidak meneruskan kata-kataku.


"Mas, apa kemarin meninggalkan sebuah map hijau di atas meja?"


"Map hijau?"


"Iya. Tadi Pak Reynand membawanya keluar dengan terburu-buru."


Kenapa tidak kupindahkan map itu kemarin? Bodohnya ....


Aku menepuk dahi menyadari begitu cerobohnya diriku. Membiarkan Reynand melihat dan mengambil berkas Marriage Order Agreement yang kemarin kuletakkan begitu saja di atas mejaku lalu buru-buru pergi menjemput Sheryl.


"Bisakah Bapak mengambilnya lagi untukku?"


"Tidak, saya tidak berani."


Aku bergegas masuk ke dalam rumah menyambar jaket dan kunci mobil. Segera, aku pergi melajukan mobilku ke kantor.


Waktu sudah menunjukkan pukul setengah satu siang saat aku melihat dia sedang berdiskusi dengan seorang wanita dari balik dinding kaca.


Tok-tok-tok!


"Baruna ...," ucapnya pelan.


Wanita yang duduk di hadapannya ikut menoleh ke arahku. Kali ini aku yang dikejutkan melihat wajahnya. Dia adalah Dita, pacar Reza.


"Gue boleh ikut meeting bersama kalian?"


Reynand mengangguk pelan. Aku segera ikut mendudukkan tubuhku di sofa dan terlibat dalam meeting diikuti oleh Reynand yang duduk berhadapan denganku.


"Jadi, apa maksud dari semua yang lo kerjakan sekarang, Rey? Keuangan Asyraf Corporation tidak sedang mengalami hal yang mengkhawatirkan saat ini."


Reynand hanya menyimpulkan senyumnya melihat ke arahku. Dia tidak menanggapi pertanyaanku.


"Maaf Bar, sebelumnya mungkin kamu sudah mengenalku sebagai pacar Reza. Namun, saat ini aku sedang bekerja sebagai konsultan keuangan. Pak Reynand hanya ingin berkonsultasi masalah keuangan perusahaan walaupun nanti ujung-ujungnya bisa saja kami mengaudit laporan keuangan perusahaan ini. Dia hanya heran dengan pengeluaran pribadi yang begitu banyak. Mengingat untuk laporan tahun lalu tidak sebanyak tahun ini," jelas Dita menyela.


Aku melirik ke arah Reynand yang segera dijawab dengan menaikkan sebelah alisnya dan dagu yang berkerut.


Aku terdiam mendengar perkataan Dita. Memang tahun ini aku akui pengeluaran kami cukup banyak melebihi tahun lalu. Kami banyak berlibur ke luar negeri dan menghabiskan banyak uang untuk keperluan pertunangan dan pernikahanku. Namun menurutku itu masih hal yang wajar mengingat laba perusahaan lebih besar dibanding tahun-tahun sebelumnya.


"Aku rasa tidak perlu ada auditing," sahutku.


"Semua akan diputuskan setelah kami selesai meeting, Bar. Lo bisa tunggu di depan," balas Reynand.


"Tapi ...."

__ADS_1


"Gue direktur utamanya sekarang," tambahnya lagi.


Aku menarik napas dalam-dalam. Menatap tajam saudaraku itu. Rasa sesal menggelayutiku karena sudah memuji-mujinya setinggi langit dalam hati.


"Gue keluar!" ucapku dengan nada kesal segera beranjak dari sofa dan duduk menunggu di ruangan Reynand.


Sepuluh menit kemudian dia masuk ke ruangannya. Melihatku dengan sorot matanya yang tajam sambil tersenyum simpul.


"Pasti laporan Pak Wicak yang memaksa lo datang."


"Iya, dan lo yang membuat gue muak sekarang!"


Reynand mengangkat kedua sudut bibirnya. Dia berjalan ke arahku dan duduk di kursi kebesarannya.


"Marriage order, ya ...." gumamnya menggantung kata-katanya sendiri dengan senyuman menyindir.


Deg!


Dia sudah tahu!


Aku bergeming tidak menjawab. Mataku masih menatapnya yang mengernyitkan kening seraya membuka lembaran map hijau itu.


"Keluarga kalian sangat konyol!" tegasnya dengan wajah marah.


"Rey, kembalikan map itu!" perintahku.


"Surat ini menyangkut masa depan gue yang enggak akan bisa meraih posisi sebagai pewaris satu-satunya. Padahal ayah meminta gue dan nyokap untuk datang ke acara pembacaan surat wasiat, tapi karena udah terlanjur begini, gue enggak akan datang. Kasihan nyokap gue," timpalnya yang tidak menghiraukan perintahku.


"Rey, kalau sampai Sheryl tahu, gue enggak akan maafin lo!"


"Oh ... jadi Sheryl belum tahu? Wah bagus banget. Gimana kalau gue yang kasih tahu, ya?"


"Sialan lo, Rey! Lo bilang sendiri kalau lo akan bersaing secara sehat, 'kan? Kalau dia sampai tahu, berarti dia mendengar hal itu semua dari lo."


"Wow .... Persaingan gak akan jadi sehat kalau pemenangnya udah ditentukan dari awal, Bar. Sheryl memang harus tahu. Perasaannya bukan permainan kalian."


Aku menelan ludah, menatapnya penuh amarah. "Gue enggak mempermainkan perasaannya. Gue bener-bener cinta sama dia, Rey! Lo cuma orang baru yang datang di hidupnya dan berusaha menghancurkan hubungan kami."


"Hancur atau tidak hancur tidak akan ada yang tahu. Masa depan belum terlihat. Namun yang pasti dia harus tahu siapa sebenarnya keluarga lo dan keluarganya!"


Aku terdiam tidak menanggapi. Memandang manik coklat saudaraku dengan amarah yang terpancar hebat. Dia terus tersenyum melihat reaksiku.


"Masih kesal? Mau cium Sheryl lagi di depan gue?" sindirnya lagi.


Aku tersenyum lalu tertawa perlahan melihat dirinya yang mulai sibuk menyindirku.


"Panas ya? Wajar aja dong gue cium dia. Sebentar lagi dia jadi istri gue."


"Oh ya? Belum lama ini gue juga cium dia. Ah ... dia pasti enggak cerita," timpal Reynand ikut tertawa.


"Sialan lo, Rey!" Rasa sesak mulai masuk ke dalam dadaku. Aku melangkah mendekat ke arahnya. Mengulurkan kedua tanganku meraih kerah kemeja dan menariknya paksa.


"Kalau dia tahu surat ini, apa kalian jadi menikah? Kalau kalian tidak jadi menikah, tentunya lo enggak akan pernah naik tahta." Dia mengayunkan map itu di hadapanku. Sorot matanya menatap tajam ke arahku.

__ADS_1


"Kembalikan!" perintahku geram dengan gemertak gigi yang saling beradu terdengar begitu marah.


Reynand kemudian memberikan map itu kepadaku. Aku pun meraihnya dan bergegas pergi keluar ruangan dengan rasa amarah luar biasa. Meninggalkan Reynand yang masih memandang dengan senyum seringainya.


__ADS_2