Marriage Order

Marriage Order
S2 Merindukanmu


__ADS_3

Aku dan Kak Reza masuk ke ruangan dingin itu. Melihatnya hanya sendiri di sana. Pasien satu-satunya yang masih ada di ruangan itu.


Tidak terasa bulir air mata mulai jatuh saat aku masuk ke ruang dinding berkaca. Melihat dia yang mengerjapkan matanya berkali-kali. Masih dengan ventilator yang terpasang di mulutnya.


Sayang, aku merindukanmu.


Aku menyunggingkan senyum untuknya. Berdiri di sampingnya dengan mata yang masih berair antara rasa sedih dan terharu. Dia mengangkat tangannya. Aku menyambut tangannya yang kekar dan menempelkannya lembut di pipiku.


Kak Baruna hanya memandang. Dia tidak bisa berbicara. Kak Reza yang melihatnya ikut menyunggingkan senyuman untuk priaku.


"Aku merindukanmu, Sayang," ucapku lirih.


Dia mengerjapkan matanya pelan. Terlihat kondisinya yang masih lemah. Menjadikanku tidak ingin membuatnya banyak bergerak dan berpikir.


"Bar, kami semua di sini menyayangi lo," kata Kak Reza, disambut kedipan matanya.


Aku menggenggam erat tangannya. Memberikannya kekuatan agar ia semangat menghadapi musibah ini.


"Sayang, cepatlah sembuh!" kataku.


Lagi-lagi hanya sebuah kedipan mata sebagai jawaban dari perkataan kami. Seorang perawat wanita masuk ke dalam ruang dinding berkaca itu.


"Mbak dan Mas, pasien masih dalam observasi. Mohon untuk tidak berlama-lama berada di sini," ucap perawat wanita itu.


"Iya, Sus," jawab Kak Reza.


Perawat itu lalu kembali ke mejanya. Kak Reza menarik tanganku.


"Ayo kita keluar," ajaknya.


Aku masih memandang wajahnya seraya tersenyum, lalu berbisik, "Jika masih sakit, kamu bisa memanggil namaku dari dalam hatimu dan aku akan datang."


Aku segera  membalikkan badanku. Menyusul Kak Reza yang sudah keluar lebih dulu.


"Tante, Om, aku dan Sheryl mohon diri. Nanti kami akan ke sini lagi," ucap Kak Reza pamit.


"Iya. Hati-hati di jalan. Semangat bekerja!" sahut Tante Meri.


"Iya, Tante," sahutku.


Tante Meri menarikku dalam pelukannya. Dia berbisik, "Terima kasih ya, Sher."


Aku tertegun mendengar perkataannya, dan malah tergagap menjawab, "I-iya Ta-Tante."


Dia pun melepas pelukannya. Memegang kedua bahuku. Matanya memandang dengan penuh kelembutan.


"Tante tunggu kamu datang kembali."

__ADS_1


Aku mengangguk. Om Anton hanya tersenyum memandang kami. Kami berdua bersalaman dengan mereka, lalu berbalik arah pergi meninggalkan tempat itu.


Setengah jam kemudian, kami sampai di kantor. Aku masuk ke ruanganku mendapati Viona yang sedang memisahkan berkas-berkas di hadapannya.


"Pagi, Viona!" sapaku.


Wanita itu sontak menoleh. Wajahnya sedikit terkejut melihat kedatanganku.


"Mbak Sheryl. Sudah selesai cutinya?"


"Iya. Aku mulai masuk hari ini."


"Bagaimana keadaan Mas Baruna?"


"Hari ini dia siuman. Aku sangat bahagia."


"Syukurlah. Bolehkah aku izin pulang cepat hari ini? Aku ingin merayakan malam tahun baru bersama pacarku."


Aku hampir lupa. Ini sudah tanggal tiga puluh satu Desember. Malam pergantian tahun. Seharusnya kami pun sudah menjadi pasangan suami istri.


"Tentu saja. Aktivitas kantor di akhir tahun juga tidak banyak. Kamu bisa pulang cepat," sahutku.


"Sayang sekali, Mbak tidak jadi menikah. Semoga rencana kalian dipercepat tahun depan," doa Viona.


"Amiin. Semoga kamu juga bisa menikah di tahun depan, Vi," sahutku.


"Amiin. Terima kasih atas doanya."


Viona mengangguk. Aku melangkah masuk ke ruang kerja yang sudah kutinggalkan beberapa hari. Mendudukkan tubuh di atas kursi kebesaran sambil melihat lurus ke depan. Kembali merenungkan yang sudah terjadi.


Aku tidak boleh mengakui pengkhianatanku padanya sekarang. Aku takut dia akan bertambah sakit. Aku akan mengatakannya nanti jika sudah saatnya. Entah dia akan menerimaku atau tidak. Yang pasti kejujuran itu harus disampaikan walau pahit dan akan menyakiti hatinya.


****


Reynand PoV


Aku masih berada di teras rumah saat kedua kakak beradik itu pergi bersama dengan mobilnya. Rencanaku untuk menjemput Sheryl gagal. Rasa kecewa merasuk dalam dada. Kini Om Agung sedang menatap tajam ke arahku. Mengamati dari ujung kaki hingga rambut. Berbeda dengan Tante Rini yang sudah lebih dulu mengenal dan bersikap ramah. Dia masih memandang ramah padaku pagi ini. Namun, aku tidak peduli bagaimana cara Om Agung memandangku. Rasa tidak percaya diri itu menghilang begitu saja. Sebenarnya aku pun ingin berbicara dengan kedua orang tua Sheryl. Aku tersenyum simpul ke arah mereka.


"Duduk!" perintah Om Agung.


Aku duduk di bangku teras. Dia pun ikut duduk di sampingku. Tante Rini tidak ikut bergabung, dia beranjak masuk ke dalam rumah.


"Sebenarnya ada hubungan apa antara kamu dan Sheryl?" Om Agung mulai mengintrogasiku.


Jadi, apa sebenarnya hubungan kami? Aku juga tidak tahu. Dia tidak memberi batas antara kami. Teman? bukan, pacar?bukan, tunangan? juga bukan.


"Kami bahkan belum mempunyai hubungan apapun."

__ADS_1


"Lalu mengapa begitu nekat datang ke sini?" Om Agung mengernyitkan keningnya heran.


"Karena saya mencintainya dan ingin menikahinya, Om!" sahutku tegas.


"Berani sekali kamu mengatakan hal tersebut, sedangkan Baruna saudaramu yang juga calon menantu Om sedang koma di rumah sakit!"


"Saya dan Sheryl saling mencintai."


Om Agung terkesiap mendengar perkataanku. Raut wajahnya berubah tegang sejenak. Dia langsung berusaha menghilangkannya.


"Tidak mungkin! Anak saya sangat mencintai Baruna. Dia tidak mungkin mengkhianatinya," sanggahnya. Dia tidak mempercayai perkataanku.


"Hal itu bisa Om tanyakan sendiri kepadanya. Mohon maaf, saya sudah terlambat. Saya mohon diri," kataku pamit lalu bangkit dari duduk dan bersalaman dengan Om Agung.


Om Agung masih terdiam menatapku bingung, "Jika harta Om tidak cukup untuk melunasi hutang, dengan senang hati saya akan membantu kalian."


Raut wajahnya berubah terkejut. Dia bergeming tidak menjawab. Mungkin Om Agung tidak menyangka kalau aku sudah tahu mengenai isi perjanjian itu. Aku menyunggingkan senyum kecil di hadapannya.


Aku membalikkan badanku bersiap untuk pergi, saat tiba-tiba saja Tante Meri memanggilku. Aku pun menoleh ke belakang.


"Rey, sudah mau pulang?"


"Iya, Tante."


"Ah, padahal Tante baru saja membuatkan kopi untuk kalian," katanya lalu meletakan dua cangkir kopi itu di atas meja.


Aku meraih cangkir itu dan menyesapnya sedikit. Kemudian, mengembalikannya ke atas meja. Memandang wanita itu dengan senyuman.


"Maaf Tante, saya sudah telat."


Aku bersalaman dengan Tante Meri. Dia hanya diam dan menyambut salamku. Wanita yang cantik dan anggun itu, hanya bisa mengangkat kedua sudut bibirnya. Pembawaannya yang lembut sebenarnya membuatku betah berlama-lama berada di sana.


Aku memacu mobilku dan melesat pergi menuju Asyraf Corporation. Setidaknya sedikit perasaan yang membebani sudah kukatakan semua.


Aku menoleh ke samping kursi kemudi, sebuah tas kotak makanan yang sebenarnya ingin kuberikan pada Sheryl masih berada di sana. Aku mengurungkan niatku dan membiarkan kotak makan itu tidak sampai padanya. Segera, memacu kendaraanku lebih cepat agar sampai ke kantor tepat waktu.


Hanya dalam waktu lima belas menit, aku sudah sampai dan memarkirkan kendaraanku. Tiba-tiba saja ponselku berbunyi. Tante Meri menelepon.


"Ya, Tante."


"Tante ingin mengabarkan kalau Baruna sudah sadar dari komanya. Kamu bisa datang?"


"Su-sudah sadar?"


"Iya. Mungkin nanti sore akan dipindahkan ke ruang perawatan."


"Baik, Tante. Nanti sepulang kerja aku akan ke rumah sakit. Kabari saja di mana ruang perawatannya."

__ADS_1


"Iya."


Tante Meri memutus panggilan teleponnya. Hatiku mulai bergemuruh hebat. Harus menghadapi kenyataan sebenarnya. Menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Kemungkinan hubunganku yang baru akan dimulai dengan Sheryl, atau kemungkinan hubungan mereka yang akan berakhir jika Baruna mengetahui kesalahan kami.


__ADS_2