Marriage Order

Marriage Order
S3 Rencana Felicia


__ADS_3

Felicia POV


Aku mendengar bel pintu depan apartemen terus berbunyi. Berkali-kali dan terdengar tidak sabaran. Sementara, aku sedang berada di kamar Rafael. Memeluk malaikat kecilku itu tertidur. Sejak tadi ia merengek memanggilku dengan tidak sabar.


Wajar saja! Siapa yang tahan dengan penyakit kronis? Bahkan orang dewasa pun belum tentu bisa menahan cobaan yang Tuhan berikan. Termasuk aku. Mendengar diagnosa dokter tentang penyakitnya membuatku seperti tersambar petir yang hebat. Seakan ingin ikut merasakan tapi tidak bisa. Rafael harus menahan sakit di sekujur tubuhnya dan baru bisa tertidur saat aku berada di sampingnya, memeluknya dengan hangat.


Bel itu terus saja berbunyi hingga membuatku terpaksa beranjak dari tempat tidur. Sejenak, aku menoleh ke arahnya lalu napasku terasa tertahan. Aku yang melahirkannya dan aku yang tahu bagaimana dirinya. Bocah kecil yang tidak berdaya.


Langkahku sedikit tergesa. Pintu itu kubuka dengan tidak sabar seperti sang tamu yang tidak tahu waktu datang di siang bolong. Seorang pria bertubuh tegap berdiri di sana. Berpakaian rapi memandangku dengan tatapan serius. Dia adalah pria suruhanku.


"Bu Fely, saya datang untuk menyampaikan sesuatu yang menarik," katanya.


Aku menghela napas panjang, lalu membalik badanku berjalan menuju ruang tamu. "Pak Ridwan, jika Anda membawa kabar yang tidak membuat saya tertarik lebih baik Anda segera pergi dari sini. Anak saya sedang sakit dan membutuhkan saya saat ini."


"Ini tentang istri Baruna. Saya yakin dia berselingkuh dan memiliki perasaan terhadap pria lain."


Perkataan Ridwan membuatku menghentikan langkah, kemudian membalik badan secara otomatis. Wajah pria itu tampak serius menatap.


"Pria lain? Maksud Anda kakak tirinya? Reynand?" Aku mulai menebak.


"Ya! Seperti hasil tangkapan kameraku belum lama ini dan enam bulan yang lalu. Mereka tidak pernah berubah. Bahkan kali ini berciuman di area publik," jawabnya.


Aku menelan ludah beberapa kali. Pria di depanku ini memang sudah lama kuperintahkan untuk mengamati semua yang terjadi kepada Baruna dan orang-orang di sekitarnya.


Aku cukup kesal saat mengetahui pria yang kusukai itu diduakan. Aku juga tidak habis pikir dengan jalan pikiran Baruna yang menerima wanita bekas kakak tirinya.


Aku dan Pak Ridwan sama-sama bergeming. Belum menawarkan tamuku itu untuk duduk. Namun aku malah termenung sendiri.


"Bu Fely?! Bu Fely?!" Suara berat pria itu terdengar memanggil.


"I-iya?" Aku sedikit gelagapan menjawab panggilannya.


"Anda melamun?" tanya pria itu lagi.

__ADS_1


"Maaf, Pak," jawabku, lalu berkelebat mengarahkan pandangan ke arah sofa. "Duduk dulu, Pak!"


Pak Ridwan mengangguk. Kami pun duduk di atas sofa yang letaknya saling berhadapan.


"Apa berita ini perlu dinaikkan lagi seperti sebelumnya?" tanya Pak Ridwan seraya menunjukkan beberapa foto yang membuatku makin yakin kalau keduanya masih sama-sama memiliki perasaan suka. Pak Ridwan terlihat puas melaporkan hasil kerjanya. Sepertinya ia cukup senang dengan hasil tangkapan kameranya siang ini.


Aku menggeleng pelan. "Tidak usah, Pak. Berikan kartu memorinya saja kepada saya," jawabku.


Pak Ridwan mengernyitkan keningnya. Mungkin ia bingung dengan sikapku yang tidak biasanya. Seperti kemarin-kemarin, aku terus menyuruhnya mengangkat berita gosip yang terjadi di antara mereka.


Melihat kernyitan itu, aku langsung menutup.pembicaraan kami. "Kali ini saya akan bertindak dengan cara saya sendiri."


Pak Ridwan mengangguk patuh. Ia mengambil kartu memori kameranya dan memberikan benda kecil itu kepadaku.


"Ada lagi, Bu Fely?" tanya Pak Ridwan yang menunggu perintahku selanjutnya.


"Terus pantau saja. Saya tunggu kelanjutannya," pungkasku yang langsung dijawab anggukan patuhnya.


***


Pukul tiga sore ....


Aku baru saja keluar dari ruang rapat. Pembahasan rapat ini begitu membuatku sedikit menarik urat. Ayah dan Tante Aina berencana menyatukan perusahaan mereka tanpa meminta persetujuan mengenai hal ini kepadaku lebih dulu.


Aku tahu tidak ada yang tidak mungkin, tapi perusahaan kami adalah perusahaan keluarga. Tante Aina memiliki keluarganya sendiri dan dia bertingkah seenaknya seakan-akan keluarganya akan setuju begitu saja. Padahal harta dan kekayaan tidak mengenal kata saudara.


Pak Wicak yang berjalan di belakangku hanya diam. Dia tidak berani menyapa atau menyelaku sejak berada di dalam ruang rapat.


Aku menghela napas panjang saat tiba di dalam ruang kerjaku. Langkahku terhenti melihat Sheryl sudah berada di sana. Membaringkan tubuhnya di atas sofa panjang seraya menutup kedua matanya dengan lengan mulusnya. Tanpa membalik badan lagi, Pak Wicak langsung mengerti bahasa tubuhku.


"Kalau begitu, saya akan kembali ke ruangan saya."


"Ya. Kembalilah sibuk," sahutku mengusir dengan halus.

__ADS_1


Pintu ruangan terdengar ditutup. Seketika, aku melanjutkan langkah menghampiri istriku yang tampak kelelahan itu.


"Sayang, kamu kok tidak bilang datang ke kantor?" tanyaku dengan nada lembut. Mengusap kepalanya yang terlihat rapuh.


"Kamu tidak menjawab teleponku," jawabnya tanpa menarik lengan dari wajahnya.


Aku sontak meraba-raba ke dalam jas. Mengambil ponselku dari baliknya. Tidak ada panggilan lain darinya selain panggilan di jam makan siang yang memang sempat tidak terjawab.


"Maaf, aku tadi sedang makan siang bersama Ayah dan Tante Aina. Setelahnya ada rapat penting bersama."


"Aku tahu. Tadi salah satu pegawaimu mengatakannya," jawabnya singkat tanpa mengangkat lengannya.


"Kamu tidak ingin menatapku, Sayang?" tanyaku mulai menggoda. Mengecup bibirnya yang kering terlihat dehidrasi. Sheryl sontak mengangkat lengannya dan menegakkan tubuhnya. Pandangannya terlihat berair menatapku. Aku sontak panik melihatnya. "Ada apa, Sayang?"


"Ponselku ... ponselku ...," katanya terputus-putus.


"Oh iya, ponselmu tertinggal, bukan?" Aku teringat saat Reynand menjawab panggilanku padahal aku menghubungi istriku sendiri.


"Bagaimana kamu tahu?" Kening Sheryl mengerut.


"Tadi aku balas menelepon dan Rey yang mengangkat. Aku tidak tahu kalau kalian makan siang bersama. Pasti ada proyek yang sedang kalian kerjakan," tebakku tapi Sheryl hanya diam tidak menjawab. Entah apa yang dipikirkannya. "Aku juga sudah berpesan kepadanya untuk menyimpan ponselmu dan akan kuambil nanti sepulang kerja," lanjutku dan Sheryl hanya menganggukkan kepalanya.


Aku mengembuskan napas berat. Segera bangkit dari tempat duduk menuju ke arah meja kecil yang terletak di sudut ruangan. Kutuangkan segelas air putih untuknya.


"Sayang, kamu tidak marah?" Suara halus Sheryl terdengar bertanya.


"Marah untuk apa?" Aku balas bertanya lalu beringsut duduk di sampingnya lagi. Ia meraih gelas yang kusodorkan dan segera meminumnya. Suara perutnya tiba-tiba terdengar kencang. Aku menarik dagu bingung mendengarnya. "Kamu belum makan?"


Sheryl menggeleng lemah. Tanpa sadar aku melotot kepadanya dan berkata dengan nada tinggi, "Astaga! Apa kamu tidak kasihan drngan anak kita?!"


Bukannya menjawab, Sheryl lantas merengut. Keningnya pun ikut mengerut. Tiba-tiba saja bulir air matanya jatuh. Dalam hitungan detik istriku itu menangis di depanku. Terlihat sangat sedih.


------------

__ADS_1


Hai reader setia MO. Maafkan aku yang memang jarang update ini. Aku sedang banyak pekerjaan dan kakakku sedang sakit kronis. Entah pantas atau tidak, tapi aku mohon doanya untuk kesembuhan kakakku agar segera diangkat penyakitnya dan disehatkan badannya. Semoga yang bisa mendoakan diberikan pahala yang berlipat ganda. Amiin.


__ADS_2