Marriage Order

Marriage Order
S3 Jawaban


__ADS_3

Sheryl Pov


Deg!


Apa boleh seperti ini, Rey?


Jantungku serasa akan berhenti mendengar bisikannya. Demi Tuhan dia adalah pria paling nekat. Anehnya hatiku menginginkannya. Pergi dari tempat asing yang membuatku tak nyaman.


"Aku menunggu jawabanmu," ucap Reynand sekali lagi.


Aku menelan ludah beberapa kali, lalu membalik badan menatapnya. Air muka Reynand memang tampak serius.


"Aku–"


Ponselku tiba-tiba berdering, menelan kembali jawaban yang hendak kukatakan kepadanya. Bunda menelepon.


"Ya, Bun?"


"Apa sudah selesai berziarahnya?"


"Iya, Bun."


"Mengapa lama sekali? Apa kamu bertemu seorang kenalan di sana?"


Mengapa tiba-tiba Bunda bertanya begitu?


Aku menoleh pada Reynand. Seketika kedua alisnya terangkat seakan bertanya ada apa. Aku menggeleng pelan.


"Tidak ada. Baiklah, aku akan pulang." Aku pun berbohong, tak ingin membuat masalah lagi seperti di meja makan pagi ini.


"Ya, jangan lama-lama."


Aku mengakhiri panggilan telepon. "Maaf, aku harus pulang."


"Jawabannya?" tanya Reynand yang ternyata masih menunggu jawabanku.


"Aku tak bisa pergi begitu saja, Rey."


Aku memutar badan, hendak menuju mobil. Pak Amri pasti sudah menunggu sangat lama di sana. Namun langkahku harus terhenti. Seketika terkesiap saat Reynand malah tiba-tiba menarikku dalam pelukannya. Pelukan hangatnya malah membuatku menitikkan air mata.


Oh, Tuhan. Apa yang terjadi denganku? Ini salah. Aku merasa asing dengan suamiku, tapi merasa sangat nyaman dengannya. Apa yang terjadi? Tuhan, cepatlah kembalikan ingatanku!


"Artinya kau akan ikut denganku setelah semuanya berakhir, 'kan?" Reynand kemudian mengurai pelukannya.


"Berakhir? Aku tidak mengerti yang kau maksud?" Aku menatapnya bingung.


"Kau akan meninggalkan suamimu, 'kan?" Reynand bertanya kembali dengan nada lebih tegas.


"Mengapa kau seperti ini kepada saudaramu sendiri?"

__ADS_1


"Karena kehadiranmu tak mampu membuatku berpaling." Reynand mengatakannya begitu jelas. Rasanya hatiku serasa akan meledak saat ini.


"Aku tak tahu bagaimana menyikapi situasi ini, Rey. Masih terlalu dini untuk memutuskannya. Terlebih, Baruna adalah suamiku. Dia terlihat baik. Tak ada satu pun alasan yang membuatku harus meninggalkannya."


"Bagaimana jika dia membohongi, bahkan mengkhianatimu?"


"Kau tidak bisa berandai-andai untuk memutuskan sesuatu yang tak pasti," jawabku.


Reynand memejam sesaat, lalu terlihat memaksakan senyumnya. "Baiklah. Berikan jawabannya kepadaku jika kau butuh jasa melarikan diri dari semua ini." Reynand tersenyum dengan air muka kecewa.


"Ya, tapi sepertinya hal itu tidak akan pernah terjadi. Terima kasih sudah mengkhawatirkanku." Aku membalasnya dengan senyum yang sama. Tidak lama kemudian pergi meninggalkannya sendirian di depan gerbang taman makam.


***


Baruna Pov


Aku sontak menoleh saat pintu ruang kerja tiba-tiba saja terbuka. Seketika mengembuskan napas kasar melihat sosok Felicia berdiri di sana, lalu berjalan menghampiri mejaku.


Kedua bola matanya tampak melebar menatap. "Apa yang sedang kau lakukan, Bar?!" tanya Felicia hampir berteriak. Membuat telingaku makin terasa sakit setelah sebelumnya Pak Amri menelepon, mengatakan sesuatu yang membuatku galau.


"Menurutmu apa? Aku hanya menikmati sedikit minuman ini," jawabku menatap sebotol minuman beralkohol yang hampir habis.


"Astaga! Sadar, Bar! Kau ini sedang di kantor."


"Apa pedulimu? Bahkan istriku saja tidak peduli dan dia malah bersamanya di depan makam anak kami."


"Pak Amri meneleponku. Ia melihat Rey memeluk Sheryl. Siang ini kakak tiriku itu bersama istriku, Fel."


"Pak Amri? Kau menyuruhnya melaporkan semua kegiatan istrimu?"


"Ya. Aku yang memerintahkannya. Ternyata diam-diam mereka janjian untuk bertemu."


"Lalu kau sudah menghubungi Sheryl?"


"Tidak. Aku tidak ingin dia menganggapku selalu curiga kepadanya, tapi tahu begini rasanya sangat sakit apalagi ia tak mengaku kalau ia bertemu dengan Rey saat Bunda menghubunginya." Aku meminum gelas terakhir hingga tandas lalu menyandarkan kepalaku di atas meja.


Felicia mengukir senyumnya, lalu berjalan ke arahku. "Kau tahu, Bar? Kau terlihat sangat menyedihkan. Sudah kukatakan untuk meninggalkannya atau kau yang malah akan sakit."


Walau sedikit terhuyung, aku bangkit berdiri. Menatap Felicia begitu tajam. Sebelah tanganku terulur mengguncang bahunya. "Bagaimana bisa aku meninggalkan dia setelah semua usaha yang kulakukan untuk mendapatkannya hingga menjadi istriku? Katakan kepadaku bagaimana bisa?!"


"Bar, kau masih memilikiku dan Rafael. Kita bisa jadi keluarga yang paling harmonis jika bersama." Felicia masih berusaha memengaruhiku.


"Tidak. Aku tidak mau. Aku tak rela! Aku mau Sheryl ...." Tanpa sadar aku menitikkan air mata, menangis di depan Felicia, "kalian malah datang mengacaukan semua harapanku."


Felicia yang begitu dekat mengulurkan tangannya, membelai pipiku. Bersama tatapannya yang sayu, ia berkata, "Itu karena aku mencintaimu, Bar."


"Cinta, huh?!"


"Ya. Aku mencintaimu hingga rela bercerai dengan David."

__ADS_1


Felicia mengatakan kalimat yang sempat ia ucapkan beberapa waktu lalu. Cinta yang sama sekali tidak kuhiraukan, tapi kini malah menjadi sebuah kalimat yang kurindukan. Dalam pikiran yang begitu kacau, aku membungkus bibirnya melekat penuh hasrat.


***


Sheryl Pov


Seluruh anggota keluarga Asyraf baru saja selesai menikmati sarapan pagi. Seperti biasa, aku mengantar Baruna hingga ke teras depan. Merapikan dasi serta pakaian resminya di depan Felicia dan Reynand.


"Jam berapa kamu pergi ke rumah sakit?" tanya Baruna.


"Sore sekitar jam tiga," jawabku. Sore adalah jadwalku untuk kontrol. Hilang ingatan ini rasanya tak juga membaik hingga membuatku hampir frustrasi.


"Aku temani, ya?"


"Bukankah kamu sangat sibuk?"


"Tidak. Lagipula, aku belum kontrol tanganku ini." Baruna menatap lengan yang masih menyangga pada pundaknya.


"Baiklah."


Baruna menyunggingkan senyumnya, lalu mengecup dahiku. Dan aku masih saja belum juga berubah. Tetap dingin kepadanya hingga membuat hatiku makin merasa bersalah.


"Dah, Ayah! Mama!" Rafael melambaikan tangannya.


"Baik-baik di rumah dengan Nenek ya, Nak. Jangan nakal!" Felicia berpesan kepada Rafael.


"Iya, Mama."


"Jangan usili Tante Sheryl!" tambah Baruna.


"Iya, Ayah." Rafael mengangguk patuh.


Baruna kemudian beringsut masuk ke dalam mobilnya diikuti oleh Felicia dan ayah yang masuk ke mobil yang sama. Aku tidak heran mereka pergi bersama. Belum lama ini Felicia memang bekerja untuk Asyraf. Entah apa alasannya, wanita itu memutuskan untuk pindah dari perusahaan besar seperti Berlin ke Asyraf.


"Ayo kita masuk, Rafa!" Bunda tiba-tiba mengeluarkan suaranya. Tangannya menggenggam Rafael mengajak bocah itu masuk ke dalam.


"Iya, Nek." Rafael mengangguk. Keduanya pun membalik badan masuk ke dalam rumah meninggalkan aku dan Reynand yang masih berdiri di teras.


Aku terdiam. Rasanya ada yang berbeda. Bunda menjadi lebih pendiam beberapa hari ini. Dia bahkan tak menyapaku seperti saat aku pulang dari rumah sakit.


"Tidak usah kau pikirkan." Tiba-tiba suara Reynand mengusik pikiranku.


Aku menoleh kepadanya. "Memangnya kau tahu apa yang sedang kupikirkan?"


"Anggota keluarga ini." Reynand mengangkat alisnya.


Aku mengangguk pelan. "Bunda ... menurutmu dia kenapa?"


Reynand seketika menyengih, "si pelakor itu tampaknya sedang menunjukkan wajah aslinya."

__ADS_1


__ADS_2