Marriage Order

Marriage Order
Kakek Awan


__ADS_3

Wanita itu masih menyantap hidangan di hadapannya sambil bersenda gurau dengan Kak Reza. Dia mengenakan terusan panjang berwarna merah marun. Aku memandang wanita itu masih dengan penuh kekaguman. Kulitnya yang putih bersih, rambut hitam pendeknya, matanya yang agak sipit, dan bibirnya yang mungil dan tipis membuatku sedikit iri padanya sebagai seorang wanita.


Sesekali aku sadar wanita itu balas melirikku. Aku memalingkan wajah dan berusaha tidak menarik perhatian. Aku mengajak Kak Baruna untuk sekedar berbincang membunuh kebosanan.


"Kak, Kakek Awan mau bicara apa ya kira-kira?"


"Entahlah .... Aku tidak tahu."


"Mengapa sepertinya dia akan mengatakan sesuatu yang mengejutkan?" tanyaku.


"Iya sih, dari tadi aku perhatikan dia berbeda dari biasanya, sedikit serius. Walaupun satu rumah kami jarang berbicara. Kemarin saja dia baru pulang dari perjalanan bisnisnya yang lain."


"Sebenarnya aku penasaran kenapa Kakek Awan bisa kenal dengan Elvina, Nenekku?"


"Aku sih pernah dengar dari ayah. Dulu mereka saling mengenal dekat. Aku belum pernah tanya langsung kepada Kakek."


Aku mengangguk mengerti. Sosok Kakek Awan begitu berwibawa. Nada bicaranya tegas serta melontarkan kata-kata yang bijaksana.


Aku mengerjapkan mata sejenak. Pandanganku tertuju pada wajah wanita itu lagi. Tiba-tiba dia tersenyum padaku. Aku pun membalas senyumannya. Rasa penasaranku tentangnya belum hilang. Aku harus menanyakannya kepada Kak Baruna.


"By the way, Kakak kenal pacar Kak Reza?" Aku menoleh ke wajah Kak Baruna.


"Iya, namanya Dita. Kami kenal sudah lama. Dari dulu sebenarnya dia berteman dekat dengan Reza. Tapi baru-baru ini Reza bilang dia sudah berpacaran dengannya," jelasnya.


"Aku sebagai adiknya malah tidak tahu sama sekali. Huft! Kakak kelihatannya tertutup sekali denganku," dengkusku.


"Tidak semua hal harus diceritakan kan?"


"Iya, tapi aku sebal sekali dia seperti itu. Kakakku satu-satunya tidak percaya dengan adiknya sendiri," sahutku kesal.


"Jangan marah! Kalian ini sudah dewasa. Walaupun dulu kalian amat dekat tapi sekarang dunia kalian berbeda. Dia sudah memutuskan untuk bersama wanita itu. Kamu takut kasih sayang Reza kepadamu jadi berkurang?" tanya Kak Baruna.


"Sedikit," jawabku pelan

__ADS_1


"Kamu kan masih punya aku. Sebentar lagi kita bertunangan dan menikah. Tidak perlu mencemaskan hal-hal yang tidak seharusnya."


"Bukan itu saja, Kak."


"Lalu?"


Aku diam tidak menjawab. Hatiku belum bisa terima. Bukan tentang kasih sayang saja tapi bisa-bisanya dia ikut campur kehidupan pribadiku, sedangkan aku tidak tahu sama sekali tentang kehidupan pribadinya.


Dia menganggapku apa? Aku ini adiknya.


Kak Baruna yang melihat raut marah wajahku sontak menahan tawa. Aku lalu menyubit lengannya sebagai pembalasan.


"Aduh!" pekiknya. "Sher, kalau kamu kesal padanya, kamu jangan memarahiku juga."


"Kalian laki-laki sama saja." Aku menatap sinis.


Ponsel Kak Baruna berbunyi. Ada sebuah panggilan masuk entah dari siapa. Dia lalu menjawab panggilan teleponnya dan menjauh dari ruang makan. Sepertinya sebuah telepon penting.


Aku mengedarkan pandanganku melihat wajah orang-orang yang masih ada di ruang makan itu. Mereka terlihat sibuk dengan kegiatan masing-masing. Kakek Awan, Papa, dan Om Anton membicarakan tentang situasi ekonomi dan politik terkini. Tante Meri dan Mama membicarakan tentang trend fashion dan makanan. Pasangan itu pun masih terlihat akrab tertawa ringan. Sedangkan aku? Tidak ada yang peduli dengan kekesalanku.


"Ehem .... Ehem ...."


Suara dehaman Kakek Awan terdengar membahana menghentikan obrolan kami semua. Kami semua menoleh ke arahnya. Sepertinya dia akan mengatakan hal yang penting.


"Selamat malam semuanya. Sebelumnya saya berterima kasih pada kalian semua sudah datang ke gubuk saya yang sederhana ini. Malam ini memang terjadi sebuah pertemuan keluarga karena kita akan menjadi satu keluarga besar. Tapi seperti yang kalian ketahui nantinya kita akan menjadi satu perusahaan besar yang selanjutnya akan kita wariskan kepada anak dan cucu kita."


Aku menatap Kakek Awan yang sedang berbicara. Gaya bicaranya yang tenang membuatku ikut terhanyut dalam kata-katanya. Kak Baruna yang baru saja kembali setelah menerima telepon langsung duduk dan ikut mendengarkan kata-kata Kakek Awan.


"Umur tidak bisa dibohongi. Belakangan ini kesehatan saya memburuk. Kesehatan Anton pun seperti yang kalian tahu baru saja terkena serangan jantung. Saya sudah memutuskan dengan pemikiran yang matang bahwa saya akan mundur dari bisnis dan perusahaan. Sesuai yang saya amanatkan kepada notaris saya, Baruna yang nantinya akan menikah dengan Sheryl akan menggantikan posisi saya di perusahaan."


Kak Baruna terpana mendengar kata-kata Kakek Awan. Dia menatap Kakek Awan dengan tatapan kosong. Raut wajahnya menunjukkan keterkejutan yang luar biasa. Sebuah kejutan besar yang mungkin nanti akan mengubah hari-hari yang dijalaninya. Tidak lama kemudian raut wajahnya berubah marah dan tidak setuju.


"Kakek, maafkan aku. Berita ini sangat mengejutkanku dan aku tidak menyetujuinya. Kakek harusnya ingat kalau Kakek mempunyai dua orang cucu. Aku dan Reynand sebagai anak tertua ayah."

__ADS_1


"Maafkan Kakek, tapi keputusan ini sudah sampai pada akhirnya. Ini adalah janji Kakek. Kakek sangat bersyukur bila akhirnya janji Kakek ini bisa terwujud. Oh iya, kamu tidak usah sebut-sebut nama itu lagi. Hidup ini harus terus berjalan ke depan. Lalu besok di kantor kita akan rapat membahas ini," jawab Kakek Awan seraya meninggalkan kami semua di ruangan itu.


Aku sungguh bingung. Kakek Awan mengumumkan hal sepenting itu di ruang makan.


Reynand? Setahuku Kak Baruna adalah cucu satu-satunya Kakek Awan.


Aku melihat Om Anton dan Tante Meri yang hanya bisa diam. Mereka tidak bisa berkomentar apa-apa di hadapan Kakek Awan yang keras kepala itu.


"Yah, bagaimana ini?" Kak Baruna terlihat cemas.


"Tidak ada yang bisa dilakukan untuk menolak permintaan Kakekmu. Dia sangat keras kepala. Itu sudah menjadi keputusannya. Ya kamu harus jalani," jawab Om Anton.


"Tapi kenapa bukan Ayah saja?"


"Maaf Nak, Ayah sudah tua. Ayah ingin mengurangi sedikit pekerjaan kantor. Kamu tahu kan Ayah baru saja pulang rawat. Sudahlah kamu saja. Kamu kan masih muda. Kamu pasti bisa. Ayah yakin."


Kak Baruna melirik Tante Meri dengan wajah memelas.


"Aduh anak ini. Sudah bagus kamu menggantikan kakek. Pasti bisa. Semangat dong sayang." Tante Meri menyemangati.


"Iya Nak. Kamu harus percaya diri. Om dulu waktu seumuran kamu juga sudah diberikan tanggung jawab yang besar," tambah Papa.


"Hei Bro, semangat terus. Jadilah orang yang hebat," tambah Kak Reza.


"Kakekmu tahu yang terbaik untukmu," jawab Mama.


Kak Baruna lalu menoleh padaku.


"Semua terserah Kakak. Aku hanya bisa mendukung Kakak," kataku.


Kak Baruna pun terdiam mendengar semua dukungan yang diberikan kepadanya. Dia masih menampakkan kekesalan. Tidak ada yang mendukungnya. Dia merajuk dan meninggalkan kami semua.


Aku melirik Kak Reza dan bertanya, "Kak, apa aku salah bicara?"

__ADS_1


"Tidak, tenang saja. Dia hanya butuh sedikit waktu untuk menerima semuanya. Nanti juga dia kembali lagi. Aku tahu siapa dia," jawab Kak Reza terkekeh.


Aku mengangguk mengerti. Kedua orang ini membuatku jadi terkesima atas hubungan persahabatan diantara mereka. Mereka sangat mengerti isi kepala dan sifat mereka masing-masing.


__ADS_2