
Baruna Pov
"Ayah, apa dokumen untuk meeting nanti sudah selesai?"
Aku masuk ke ruang kerja Ayah tanpa mengetuk pintunya. Namun ayah tak ada di kursinya.
Aku menoleh ke arah sofa panjang ruang kerja Ayah. Terlihat Ayah dan Tante Aina yang duduk berhadapan. Keduanya langsung mengarahkan pandangannya kepadaku.
"Sudah selesai. Ada di atas meja," jawab Ayah yang bermuka serius.
"Siang, Tante," sapaku seraya tersenyum kecil.
"Siang, Bar," sahut Tante Aina dingin seperti biasa.
Aku melanjutkan langkah untuk mengambil dokumen yang kuperlukan. Namun langkahku mendadak terhenti karena mendengar pembicaraan Ayah dan Tante Aina.
"Apa lagi yang kau tunggu, Aina? Mereka sudah mendapatkan restu dari Agung. Bukankah kau juga harus memberikan restu itu?"
"Hari ini aku melihat Rey dan Sheryl begitu ceria. Dengan terang-terangan mereka mempublikasikan hubungan spesialnya di kantor, padahal sebelumnya aku tahu mereka merahasiakan hal itu," cetus Tante Aina. Mendengar perkataannya sontak membuatku mengalihkan pandangan ke arah mereka. Raut muka ibu kandung Reynand itu terlihat sedikit murung.
"Sudah sewajarnya... siapa yang tak senang mendapatkan restu orang tua? Mereka bisa melangkah ke jenjang berikutnya untuk menikah."
"Bukankah dulu kau juga menentangnya, An?"
"Ya, tapi itu saat Sheryl masih terikat pernikahan dengan Baruna. Dulu aku sama sekali tak mendukung hubungan Rey dengannya. Aku bahkan memperingatkan Reynand untuk menjauh. Namun siapa sangka akhirnya malah jadi seperti ini. Ternyata keduanya saling mencintai."
"Kau selalu memuja perasaan cinta seperti itu hingga tak segan menyakiti semua orang di sekitarmu, An." Tante Aina membalasnya dengan sebuah sindiran yang menohok. Sayangnya, Ayah tak menyahut. Ia seolah membenarkan perkataan mantan istrinya.
Untuk beberapa saat suasana hening tercipta. Ayah tampak terpojok dengan kalimat Tante Aina. Aku membuang napas panjang, lalu berkata, "Aku harap Ayah segera menyusulku ke ruang meeting." Sebuah kalimat seketika meluncur untuk menyudahi pembicaraan mereka.
"Sudah kau ambil dokumennya?" Ayah menaikkan sebelah alisnya. Sebuah isyarat lain mementahkan perkataanku. Ia ingin aku untuk segera mengambil dokumen dan pergi dari ruangannya.
Tante Aina tak meneruskan perkataannya. Wanita itu malah ikut menatap ke arahku tanpa kata. Namun atensi itu malah membuatku bertanya-tanya apa yang sebenarnya ada di benaknya.
__ADS_1
"Sudah, Yah." Aku bergegas meraih dokumen yang kuperlukan dan buru-buru menjauh dari mereka. Namun saat hendak meraih gagang pintu, Tante Aina memanggilku.
"Baruna, tunggu!"
Langkahku kembali terpaku di ruangan itu. Tanpa beranjak, Tante Aina bangkit dari duduknya. "Tante ingin bertanya sesuatu kepadamu."
Air muka Tante Aina yang mendadak serius membuat jantungku berdetak cepat. Mungkin pertanyaanku mengenai apa yang ia pikirkan akan terjawab setelah ini. Aku segera menghampiri mereka dan bergabung duduk di sofa.
"Apa kau masih memiliki perasaan kepada Sheryl?"
Satu pertanyaan yang meluncur dari mulut Tante Aina membuat kerongkonganku tersekat dalam diam. Aku tak mungkin berkata jujur di hadapan dua orang tua yang sedang menatap dalam sebuah obrolan serius masa depan Reynand dan Sheryl.
"Aina, pertanyaan apa itu? Tidak mungkin Baruna masih memiliki perasaan kepada mantan istrinya, sementara ia sedang menunggu anak keduanya lahir ke dunia," protes Ayah heran. Ia memandang kami bergantian. Namun Tante Aina tampaknya tak peduli dengan pertanyaan Ayah. Tante Aina menunggu jawaban pasti dariku.
"Kau jangan salah paham, Bar. Tante hanya ingin memastikannya."
"Perasaan itu hanya ada di masa lalu, Tante." Aku menjawab lugas dalam sebuah kalimat penuh kebohongan.
Tante Aina mengangguk-angguk, lalu mengalihkan pandangannya dariku. "Baiklah, An. Kalau begitu aku pamit." Tante Aina meraih tasnya lalu mengeluarkan sebuah amplop undangan berukuran sedang dari dalamnya, "sebenarnya ini acara kejutan untuk Reynand. Namun aku datang ke sini sebenarnya hanya bermaksud ingin mengundang kalian."
Sebuah senyuman kecil tersungging. Tante Aina hanya menganggukkan kepalanya, lalu beralih menatapku. "Hari minggu ini. Kau juga harus datang bersama istri dan anakmu," katanya.
Aku hanya mengangguk kecil. Sungguh! Aku tak paham dengan pertanyaan yang Tante Aina ajukan kepadaku barusan. Apa yang sebenarnya ia pikirkan?
.
.
.
Felicia sedang duduk di kursi saat aku memasuki ruang kerjaku. Tak ada kata yang terlontar saat melihatnya. Ini adalah hari ke tiga kami bertengkar dan saling mengabaikan.
Felicia tiba-tiba bangkit berdiri. Dia berjalan menghampiri. "Sayang, bagaimana kalau kita makan malam di luar?" tanyanya yang tiba-tiba menyentuh kedua bahu sambil merapikan jasku.
__ADS_1
Aku melirik arlojiku. Pukul tujuh malam. Namun aku tidak sedang berada dalam mood yang baik seusai menghadiri meeting yang menghabiskan banyak energi.
"Kau tidak mengajak Rafa?" Aku bertanya dengan nada datar, menjauh dari Felicia menuju mejaku, lalu menyandarkan jas pada kursi.
"Tadi Bunda ingin ditemani oleh Rafa. Jadi, aku meninggalkannya di rumah."
Aku membuang napas panjang, lalu duduk di mejaku. "Aku lelah, Fel. Bagaimana kalau kita pulang saja dan makan malam bersama yang lain." Aku menolak Felicia.
Felicia berbalik menghampiri. Ia mengalungkan kedua lengannya dari belakang. "Aku ingin minta maaf kepadamu, Bar. Aku tahu kalau aku salah. Namun kau harus tahu bagaimana wanita yang sedang hamil itu begitu sensitif. Apalagi jika itu menyangkut hati dan perasaannya. Aku sedih mendengarmu masih memiliki perasaan kepada mantan istrimu. Coba bayangkan! Jika kau jadi diriku, apa kau tak akan sakit hati mendengar pasanganmu masih memiliki perasaan kepada mantannya?"
"Kau minta maaf? Fely, tidakkah kau pikir, dulu itu juga sangat menyakitkan baginya?"
"Jadi, kau ingin masih dendam kepadaku, huh?" Felicia menarik tangannya menjauh. Dia kemudian beranjak dan berdiri dengan posisi yang setengah merunduk di hadapanku, "lihat aku, Bar! Kita sudah menikah saat ini. Apa kau tidak memiliki sedikit pun rasa cinta untukku?"
Aku menelan ludah menatap wanita hamil yang sedang bertanya-tanya tentang rasa cintaku kepadanya. Andai ia tidak menggodaku, aku tak perlu merasa terpaksa menikahinya. Di samping itu, sayangnya aku juga tak bisa memisahkan Rafael dari ibu kandungnya.
"Aku menyayangi anakku," sahutku.
"Bar, kau sangat keterlaluan! Dibandingkan dengan Sheryl, kau pikir sudah berapa lama aku mencintaimu? Apa hanya begini saja arti kebersamaan kita sebagai sebuah keluarga? Apa aku hanya akan menjadi seorang ibu untuk anak-anakmu, hah?!"
"Kau tidak usah mendramatisir keadaan. Kau sendiri yang paling tahu semuanya. Kau merenggut semua kebahagiaanku." Aku membalasnya dengan tatapan dingin.
"Kau sendiri yang memilihku dan Rafael!" Felicia berteriak kesal. Menegakkan tubuh lebih menantang. Napasnya terengah berpadu dengan wajahnya yang tampak lelah karena sedang hamil besar.
Mendengar perkataan Felicia, aku sontak bangkit mengambil jas. "Sebaiknya kita pulang. Aku tak ingin membahas hal itu lagi sekarang."
Aku memilih untuk mengakhiri pembicaraan ini. Rasa marah kami tak akan ada ujungnya jika salah satu di antara kami tak ada yang mengalah.
"Kenapa kau selalu menghindar jika berbicara tentang hal ini? Kau yang melakukan kesalahan berselingkuh dari mantan istrimu, tapi aku yang selalu kau salahkan."
Seketika, aku menelan ludah mendengar perkataan Felicia. Lagi-lagi ucapan itu... sebuah kesalahan yang sepertinya tak akan pernah termaafkan bagi semua orang.
"Fely, aku akan memaafkanmu. Jadi, tolong jangan membuat semuanya semakin rumit lagi! Aku benar-benar lelah!" Aku menyahut lugas.
__ADS_1
Tak ada jawaban untuk beberapa saat. Felicia hanya terdiam. Namun beberapa jenak kemudian, ia menganggukkan kepalanya. "Baiklah, aku mengerti, Bar."
Aku menarik napas dalam-dalam dan membuangnya cepat. Segera mengajaknya pulang. Felicia akhirnya menurut. Kepalanya terus menunduk dan terdiam sepanjang perjalanan menuju lobi. Namun tiba-tiba aku mendengar ia bergumam pelan, "Jika aku tak bisa bahagia, Sheryl juga tak bisa bahagia."