Marriage Order

Marriage Order
S3 Semoga Kebahagiaan Kami Menjadi Abadi


__ADS_3

Reynand Pov


Aku sontak tergelak mendengar penuturannya. Sheryl yang masih memalingkan wajahnya membuatku ingin menggodanya.


"Bagian mana yang membuatmu merasa Mamaku adalah monster bagimu?"


"Itu tak lucu sama sekali!" jawabnya seketika melipat kedua tangannya.


Aku ikut merebahkan diri di sampingnya hingga wajah kami saling bertemu. Semu merah pada wajahnya belum juga menghilang. Aku mengulurkan tangan menyentuh lembut pipinya.


"Kau tahu? Berhadapan dengan Papamu juga membuatku takut dan mundur satu tahun yang lalu."


Pandangan Sheryl seketika membeliak. "Apa yang Papaku katakan kepadamu?"


Aku menarik segaris senyuman tipis, segera mendekat dan merangkulnya. Kini wajahnya menempel di dadaku.


"Papamu ingin aku membiarkanmu hidup mandiri tanpaku. Beliau ingin kau bangkit tanpa bergantung pada siapapun, lalu beliau...." Aku mengembus napas panjang.


Sheryl sontak menarik wajahnya, mendongak ke arahku. "Papaku kenapa?"


"Ya. Seperti yang kau bilang. Beliau tak ingin kau menikah lagi dengan orang yang ada kaitannya dengan keluarga Asyraf."


Sheryl menghela napasnya. "Aku sudah memaafkan mereka, tapi nyatanya keluargaku sendiri tak bisa dengan mudah memaafkan peristiwa pahit yang menimpaku. Tak kusangka, rasa sakit mereka melebihi apa yang kurasakan."


Aku kembali memeluk Sheryl. "Karena hal ini, cintaku makin bertambah untukmu. Kau wanita yang mudah memberi maaf meski kau tahu hatimu sakit berkali-kali lipat."


"Rey...." Sheryl memanggilku ragu.


"Hm?"


"Aku benar-benar takut kepada ibumu. Aku sudah melanggar janjiku kepadanya. Lalu, aku juga telah melanggar janjiku kepada kedua orang tuaku untuk menjauh darimu."


Aku mengusap rambut panjang Sheryl. "Kita hadapi bersama, ya? Aku ingin kita bisa menikah."


"He-em." Sheryl mengangguk.


Aku pun memeluknya lebih erat. Menghujani puncak kepalanya dengan kecupan-kecupan lembut yang dari dulu ingin kulakukan untuknya. Betapa bahagianya kini ia benar-benar berada dalam pelukanku.


Rey, apa kau lupa tentang James? Tiba-tiba batinku berbisik.


Aku buru-buru mengurai pelukanku dan menatap wajahnya serius. "James? Siapa James?" tanyaku mendadak panik.


"James?" Kening Sheryl mengernyit.


"Iya! Pria bule yang tadi kau sebut namanya. Kau bilang ia pacarmu." Wajahku menekuk kesal mengingat Sheryl menyebut nama pria lain. Namun respon Sheryl sungguh menyebalkan. Ia tertawa terbahak-bahak. "Hei! Itu tak lucu sama sekali."


Perlahan tawa itu pun menghilang darinya. "Aku tak tahu siapa James. Sungguh! Aku hanya asal menjawab pertanyaanmu."

__ADS_1


"Kau benar-benar ratu tega!" protesku kesal.


Sheryl menutup mulutnya dengan telapak tangan dan menyembunyikan tawanya di sana. Melihatnya membuatku tersenyum, lalu mulai mengulurkan tangan dan menggelitik perutnya beberapa jenak.


"Hebat, ya! Sekarang bisa bebas mentertawakanku!" kataku kemudian menegakkan badan. Menatap dalam wajahnya yang masih mengekeh geli, "bisakah kita melanjutkan yang tadi?"


Sheryl sontak menghentikan tawanya. Pandangan matanya menjadi serius balas menatapku. "Rey...."


"Aku mencintaimu," kataku kemudian mendekatkan wajah dan mencium bibirnya. Berkali-kali merasakan manisnya bibir ranum dari wanita yang kucintai sejak lama.


Sheryl menatap sayu, membalas ciumanku. Kami saling meluapkan perasaan kami. Saling membungkus bibir dengan penuh gairahh. Tanganku bergerak ke bawah, bergerilya membuka kancing kemejanya satu per satu.


Aku dapat merasakan suhu panas dari tubuhnya yang menggelinjang nikmat saat bibirku menyesap dan menuruni leher hingga bahunya yang polos. Di sela-sela deru napasnya yang memanas, ia mencengkeram pergelangan tanganku dengan kuat.


"Rey... jangan... aku mohon.... Ini bukan saat yang tepat. Kita bahkan belum mendapatkan restu dari mereka." Sheryl memohon dengan raut memelas.


Aku terdiam menatapnya. Dalam situasi dan kondisi kami yang memabukan ia dapat menguasai akal sehatnya. Sontak muncul perasaan bersalah yang menyeruak dalam diriku. Cepat-cepat kukancingkan kembali kemejanya.


"Ya-ya. Aku tidak akan melakukannya. Maaf," sahutku yang langsung menghujaninya dengan ciuman bertubi-tubi pada wajahnya yang cantik. Aku kembali merebahkan diri di sampingnya. Kupeluk erat dirinya masuk ke dalam dekapan. "Besok kita pulang, ya!" kataku.


"He-em." Sheryl mengangguk.


***


Sheryl Pov


Mataku mengerjap beberapa kali lalu membukanya lebar-lebar. Pandanganku seketika mengedar, lalu teringat kejadian tadi malam. Aku buru-buru menegakkan tubuh. Tertunduk dan mendapati tubuh yang masih berpakaian lengkap.


"Untunglah apa?" Reynand tiba-tiba muncul dari balik pintu. Menyunggingkan senyumnya yang hangat kepadaku. Sontak hal itu membuatku malu, tapi aku tak menanggapi pertanyaanya.


Reynand yang tersenyum berjalan menghampiri lalu duduk di sampingku. "Ayo sarapan!" katanya.


Seketika mataku membola menyadari sesuatu. "Jam berapa sekarang?!" tanyaku panik seraya mencengkeram tangannya.


"Jam setengah sembilan," jawab Reynand santai.


"Astaga! Aku telat, Rey!" ujarku buru-buru beranjak dari tempat tidur. Namun langkahku seketika terhenti. Reynand menarik tanganku.


"Kau mau ke mana?" tanyanya.


Aku menoleh, menjawab pertanyaannya, "Kantor. Aku harus bekerja atau Tuan Amancio akan mengomel karena aku telat masuk kerja!"


Reynand menggeleng pelan. Dia menarikku lebih kuat hingga aku terduduk di pangkuannya. Mata kami bertemu dan saling menatap.


"Aku sudah menghubungi Tuan Amancio. Kau resmi dipecat. Aku bilang kepadanya untuk segera mencari sekretaris baru karena aku merebut sekretarisnya. Aku ingin kau menjadi istriku, Sher."


"Hei! Kita belum membicarakan hal ini lebih jauh!" Aku protes karena tak setuju dengan caranya mencampuri urusan pekerjaanku.

__ADS_1


"Masa sih?" Reynand mengerutkan dahi bingung.


"Ya! Aku belum bilang akan segera berhenti dari Diamond Smith Company."


"Tapi semalam kau setuju untuk pulang ke Indonesia hari ini. Itu artinya kau harus berhenti bekerja, bukan?"


Aku terdiam mengingat-ingat. Dan perkataan Reynand ternyata memang benar.


"Ah, maaf. Aku benar-benar lupa," kataku.


Reynand mengangkat tanganku dan mencium punggungnya. "Tak apa asal kau tak lupa caranya mencintaiku."


"Rey, mengapa kau menjadi sangat bucin begini, sih?" Aku mengusap kepalanya.


"Tentu saja karena kau." Dia memperlihatkan senyumnya yang mengembang.


Aku balas tersenyum kemudian menciumnya. Kali ini dengan penuh kelembutan dan kehati-hatian. Kami ingin menikmatinya dengan penuh rasa bahagia karena saling memiliki.


Beberapa saat kemudian, Reynand menarik bibirnya menjauh. "Aku kecewa," katanya.


"Hah? Kecewa kenapa?" Aku membeliak bingung.


"Kau lebih memilih bibir ini untuk sarapan dibandingkan masakan buatanku," jawab Reynand dengan bibir mengerucut.


Seketika aku mengekeh mendengarnya. Apa dia seperti ini sejak dulu? Aku baru tahu ia menjadi sangat menggemaskan jika sedang merajuk.


"Itu baru hidangan pembuka, Rey. Aku pasti akan suka sekali masakan buatanmu."


Reynand yang mendengar mengangkat sudut bibirnya. "Baiklah, kalau begitu." Tiba-tiba Reynand bangkit berdiri dengan kedua tangan terangkat menggendongku di depan.


"Hei, turunkan aku, Rey!" pintaku tapi pria itu menggeleng.


"Tidak. Biarkan hamba melayani Tuan Putri pagi ini."


Wajahku memanas. Ia memperlakukanku dengan sangat istimewa pagi ini. Langkahnya berjalan menuju meja makan, lalu menurunkan aku di sana.


"Silakan duduk, Tuan Putri," katanya sedikit membungkuk.


Aku tersenyum lalu melihat ke atas meja. Omelet sayur tersaji di sana. Masakan sederhana buatan Reynand yang tampak menggiurkan.


"Hanya ada itu di kulkasmu," katanya yang kemudian duduk di depanku.


"Tentu saja. Kau tahu sendiri aku tak bisa memasak. Jadi, tak banyak bahan mentah yang kusimpan di kulkas," jawabku lalu terdiam sejenak dan kembali mengarahkan pandanganku kepadanya, "aku harap kau tak menyesal memilihku, Rey. Kemungkinan besar kau akan menjadi pria kurang gizi jika hidup bersamaku."


"Aku mencari mendamping hidup, Sher. Bukan seorang koki," pungkasnya dengan senyuman manis pada wajahnya.


Ah, aku kembali jatuh cinta!

__ADS_1


 


Gimana bab ini? Sepi sekali komennya padahal lagi suka bikin yang manis2. Jadi gak semangat padahal hari ini udah 3 bab loh. Jadi sedih.


__ADS_2