
Gemetar tubuh sontak kurasakan saat melihat Satya berdiri di hadapanku. Dia tersenyum lebar. Menatap mataku dengan penuh arti.
Aku menelan ludah. Detak jantung yang menggebu-gebu pun kurasakan. Peluh membanjiri tubuh seakan-akan protes pada kehadirannya. Padahal ruangan bersuhu dingin itu sudah mencapai batas maksimalnya.
"Hai Sheryl, kita bertemu lagi."
"Satya! Maksud lo apa sekap gue di sini?!" Aku menatap marah.
"Sheryl sayang, lo lebih aman di sini. Enggak ada yang akan ganggu kita berdua." Satya melangkah mendekat ke arahku.
Aku menarik tubuhku melangkah mundur. Pintu kamar masih terkunci dan aku tidak bisa bergerak dengan leluasa. Satya meraih tanganku. Mencium punggung tanganku berkali-kali. Aku berusaha melawan, tapi dia tetap bergeming. Tingkahnya sungguh menjijikkan.
"Lo gak perlu gugup kayak gitu, Sher. Gue bener-bener sayang sama lo," ujarnya lalu melepas lenganku.
"Sayang kata lo, hah?! Dengan kurung gue di tempat ini, lo bilang lo sayang gue? Yang bener aja Sat, Ini bukan sayang. Sadar Sat!"
"Sayangnya gue tergila-gila sama lo. Tapi lo memilih Baruna untuk jadi tunangan lo. Itu membuat gue sakit hati."
"Sat, lo tega sama gue. Semua orang pasti panik nyariin gue. Paling gak, izinin gue hubungi mereka."
"Terus lo mau bilang kalau lo disekap sama gue di sini? Lo pikir gue bodoh?!" bentak Satya menatap marah. Wajahnya memerah.
"Lo bener-bener udah gila," cibirku seraya menggelengkan kepala.
"Terserah lo mau bilang gue gila. Tapi gue suka dengan semua yang gue lakuin." Satya tersenyum menyeringai.
Aku menarik napas dalam, memandangnya dengan penuh kebencian. Aku pikir dia sudah jera dengan perbuatannya. Tapi pikiranku meleset, dia ternyata makin menjadi-jadi.
"Oh sweety, jangan pandang gue kayak gitu. Lo terlihat makin cantik, bikin gue gak sabar segera mencicip hidangan di depan mata."
"Berengsek! Kurang ajar!"
Aku melangkah ke arahnya memukul dadanya yang bidang itu dengan sekuat tenaga. Dia tidak menghiraukannya, membiarkanku memukul sejadi-jadinya. Kemudian dia merengkuh tubuhku masuk kedalam pelukannya.
"Selamat malam, sayang. Jangan lupa makan malamnya dimakan. Gue akan datang lagi besok," bisiknya tepat di telingaku.
Aku buru-buru mendorong tubuhnya, tapi sayang kekuatannya jauh lebih besar dariku. Dia memeluk dengan sangat erat sehingga membuatku tetap bergeming di tempat.
Satya melepas pelukannya, melihat mataku yang mulai berkaca-kaca. Aku mulai menangis tidak bisa berbuat apa-apa menghadapi perilakunya.
"Sayang, jangan sedih ya. Gue enggak tahan melihat lo nangis. Hal itu bikin gue makin gak sabar." Satya tersenyum simpul berusaha menghapus air mataku, tapi aku segera menepis tangannya.
"Gue gak butuh belas kasihan lo!"
"Oh gitu? Oke gue tinggal dulu. Tidur yang nyenyak ya Sher. Oh iya, gue udah siapin beberapa baju di lemari yang bisa lo pakai. Lo harus berdandan cantik untuk besok pagi." Satya berbalik arah berjalan keluar kamar meninggalkanku.
Aku meraih sebuah vas bunga kecil di dekatku, melemparnya kuat-kuat tepat menghantam daun pintu dan hancur berkeping-keping. Perasaan marah dan sedih bercampur jadi satu. Membuatku tidak bisa berpikir jernih.
Aku terduduk lemas di pinggir tempat tidur. Lagi-lagi air mataku tidak bisa kubendung. Aku mulai menangis. Aku menyesal mengiyakan ajakan Satya untuk bertemu. Aku menyesal mengenalnya. Aku menyesal akan diriku di masa lalu.
__ADS_1
Sayang, cepat temukan aku!
****
Baruna PoV
Aku melirik jam tanganku, waktu sudah menunjukkan pukul tujuh pagi saat aku baru saja tiba dan bertemu Pak Wicak yang menjemputku di bandara.
"Pagi Mas!" sapanya.
"Pagi Pak! Maaf saya merepotkan Bapak di hari libur. Supir di rumah sedang tidak ada."
"Iya tidak apa-apa kok. Tumben dadakan sekali pulangnya," ujar Pak Wicak sambil memasukan koperku ke dalam bagasi mobil.
"Ada hal mendesak yang harus diurus," sahutku lalu masuk ke dalam mobil diikuti dengan Pak Wicak yang masuk dan duduk di kursi kemudi.
"Kita langsung pulang saja?"
"Tolong ke rumah Sheryl ya, Pak."
"Oh rasa rindu toh yang mendesak," seloroh Pak Wicak tertawa.
"Sheryl menghilang sejak kemarin."
"Hilang?" tanya Pak Wicak terkejut.
"Lapor polisi Mas."
"Iya, rencananya hari ini mau lapor sama Reza."
"Semoga cepat ketemu."
"Semoga saja Pak."
Pak Wicak menginjak pedal gasnya kuat-kuat menambah kecepatan mobilnya di jalan raya. Aku memejamkan mata. Sedikit melepas lelah setelah perjalanan panjang yang kurasakan.
Tiba-tiba ponselku berbunyi, aku mengambil benda kecil itu dari dalam tas. Nama Reynand muncul di layar. Aku mengangkatnya.
"Ya Rey, ada apa?"
"Apa Sheryl sudah ketemu?"
"Lo tahu dia menghilang?"
"Hmm .... Gue tahu dari adik gue. Terus bagaimana perkembangannya?"
"Belum bisa dihubungi sampai sekarang. Baru mau lapor polisi."
"Gue boleh ikut?"
__ADS_1
"Untuk apa?" tanyaku bingung.
"Gue juga khawatir sama dia."
Aku menghela napas, rasanya berat mengizinkannya ikut mencari Sheryl tapi aku buru-buru menghilangkan egoku laku berkata, "Baiklah .... Semakin banyak yang ikut mencari, semakin bagus. Kita bertemu di kantor polisi jam sepuluh."
"Oke."
"Ya."
Reynand mengakhiri panggilannya. Aku termenung sendiri. Ada sesuatu yang janggal yang tidak kuketahui, Reynand berubah. Dia menjadi lebih peduli pada Sheryl.
Apa dia suka pada tunanganku?
Aku menggelengkan kepalaku, berusaha menghilangkan pikiran negatif itu. Dia tidak mungkin menyukai Sheryl. Tapi mengapa kemarin dia memberikan Sheryl hadiah? Sulit untuk menghindari pikiran tersebut. Tapi Sheryl juga tidak mungkin mengkhianatiku, kan?
Satu jam kemudian kami tiba di kediaman Sheryl. Aku bergegas turun dari mobil.
"Pak Wicak bisa antarkan koper saya dulu?"
"Bisa Mas."
"Terima kasih, Pak. Setelah itu langsung pulang saja ya," ucapku yang merasa kasian pada Pak Wicak yang begitu patuh pada kata-kataku. Dia masih bekerja dan melayani di penghujung minggu.
Aku menekan bel pintu. Tidak lama kemudian Tante Rini membukakan pintu. Wajahnya yang lusuh dan matanya yang sembab membuatku iba. Dia memeluk tubuhku, menangis.
"Sheryl di mana, Nak? Tante khawatir. Semalaman tidak bisa tidur. Hanya menangis saja. Om juga hanya bisa menghibur. Hari ini kami mau ke kantor polisi."
"Tenang Tante, kita pasti menemukan Sheryl. Dia pasti kuat. Tidak kurang satu apa pun." Aku menghibur Tante Rini, balas memeluknya.
Reza dan Om Agung lalu muncul bersamaan. Mereka menyuruhku masuk. Kami semua duduk di ruang tamu berdiskusi.
"Nak, kamu tidak pulang dulu?" tanya Om Agung.
"Bagaimana bisa aku pulang sedangkan tunanganku sedang hilang entah di mana, Om."
"Iya Om mengerti. Tapi pasti lelah habis perjalanan jauh," sahut Om Agung.
"Tidak apa Om," jawabku.
"Jadi bagaimana? Kita ke kantor polisi sekarang?" tanya Tante Rini.
"Tunggu Ma, aku punya firasat kalau dalang dari menghilangnya Sheryl bukanlah orang asing," ucap Reza.
"Maksudnya apa, Nak?"
"Iya maksudnya apa, Za? Sheryl tidak mempunyai musuh," tambah Om Agung.
Tiba-tiba aku teringat nama seseorang. Tanpa sadar aku menggumam sebuah nama, "Satya."
__ADS_1