
Sheryl POV
"Jadi kamu marah karena lapar?" tanya Baruna yang melebarkan bola matanya di depanku.
Aku mengerucutkan bibir lalu mengembuskan napas berat. "Iya. Aku tidak bisa menahan lapar lagi. Kamu sangat lama, padahal aku menunggumu karena ingin makan siang bersama," sahutku dengan nada suara manja.
"Ya ampuun .... Kasiannya istriku." Kepalanya menggeleng pelan, lalu bangkit berdiri mengulurkan tangan di depanku. "Mau makan di mana, Sayang?"
"Seafood." Aku mengangkat sebelah alisku.
"Ck! Nanti alergi udangmu kambuh."
"Tidak pakai udang." Aku menyunggingkan senyum terbaikku.
Waktu sudah menunjukkan pukul dua siang. Aku dan Baruna sepakat menunda bertemu dokter kandungan dan malah melipir ke tempat yang kuinginkan untuk mengisi perut yang lapar. Ya, Baruna memenuhi permintaanku pergi ke sebuah restoran seafood yang berada di dalam mall seberang kantor. Dan saat ini dia terus tersenyum sambil bertopang dagu menatapku.
"Ada apa? Mengapa melihatku seperti itu?" tanyaku dengan mulut yang memanyun di depannya.
"Aku senang melihatmu makan dengan lahap, Sayang," jawabnya.
"Tentu saja. Aku sangat lapar. Kamu harus ingat, sekarang aku makan untuk dua orang. Jadi jangan kaget kalau nanti tubuhku menggendut karena anak kita." Aku menjawab dengan mulut penuh makanan. Rasanya aku benar-benar sangat lapar. Apa wanita hamil memang seperti ini?
Baruna hanya terkekeh mendapat jawaban seperti itu. Dia menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Ukiran di bibirnya yang hangat itulah yang membuatku jatuh cinta dan rasanya sulit untuk bisa terus marah kepadanya.
"Tidak apa jika kamu bertambah gendut. Aku tambah mencintaimu."
"Masa?" Aku balas terkekeh.
"Kamu meragukanku, huh?" Baruna menurunkan tangannya dari dagu. Dia mengusapkannya pada pipiku yang menghangat.
"Tidak. Aku tahu cintamu murni seratus persen seperti klaim susu sapi yang berada di dalam kaleng susu beruang dan beriklan susu naga." Aku makin melebarkan senyum.
"Oh, jadi sebenarnya berapa persen kemurnian susu itu?" sahut Baruna sembari mengangkat sebelah alisnya.
"Ehm, tiga puluh persen mungkin," sahutku sambil mengangkat bahu tidak peduli.
__ADS_1
Baruna yang mendengar jawabanku langsung mencubit pipiku gemas, tidak sakit sama sekali.
"Sheryl, kamu ini ...." Baruna mengerucutkan mulutnya. Perkataannya menggantung begitu saja.
"Aku hanya bercanda, Sayang. Aku sangat mencintaimu meski bumi berguncang tidak suka," tambahku lagi sembari mengelus perut.
Haish! Apa yang kukatakan? Mengapa aku jadi penggombal seperti ini?
Baruna yang mendengar ocehanku tiba-tiba tergelak. Menertawakanku sangat geli. Dia memegangi perutnya yang menggelitik.
Gantian, aku yang terdiam memandang suamiku tercinta ini. Tidak lama, aku pun ikut tersenyum.
"Sheryl, kamu sangat berbeda. Apa ini karena bawaan bayi kita?" tanya Baruna di sela-sela tawanya.
"Entahlah. Kata-kata itu terlintas begitu saja di kepalaku," sahutku sambil mengarahkan pandangan pada menu udang krispi di atas meja. Menu itu milik Baruna, tapi jangan salahkan aku kalau aku tergoda.
"Kamu tidak boleh makan udang itu! Terakhir kamu alergi karenanya," larang Baruna yang membaca incaran mataku.
Bibirku mengerucut dengan bola mata yang melebar dan berkilat seperti anak anjing yang memelas. "Boleh ya, Sayang? Boleh, ya?" Aku memohon.
Namun dahi kesayanganku itu hanya mengerut. Dia terdiam balas menatap sebelum akhirnya menghela napas panjangnya. "Ya, sudah. Makan saja. Nanti kalau kamu mengigau sepanjang malam hanya karena binatang tak bertulang belakang itu, aku juga yang repot."
"Enak!" komentarnya.
Suara pria yang tak asing terdengar dari belakang. Baruna mengangkat wajahnya menatap terkejut pria yang memakan suapan udang langsung dari mulutku. Aku buru-buru menoleh ke belakang. Reynand bersama Kayla berdiri di sana. Menyunggingkan senyum mereka yang begitu manis.
"Kalian mengapa ada di sini?" tanyaku lirih.
Bukannya menjawab, pasangan itu malah langsung menarik kursi di sampingku dan Baruna. Keduanya duduk dengan begitu santai.
"Makan besar tapi gak ajak gue!" ucap Reynand kepada Baruna.
Untung saja Baruna tidak terlihat kesal melihat tingkah Reynand barusan yang menurutku di luar batas. Dengan santainya dia melakukan hal itu di depan suamiku. Tanpa rasa tidak enak kepadanya setelah membuat heboh jagat maya pagi ini. Yah, walaupun dia sudah meminta maaf, tapi aku tahu dia seperti itu. Tak tahu malu!
Baruna menarik senyumnya. "Kebetulan sekali bertemu di sini," ucap Baruna.
__ADS_1
"Ehm, ya ... Kayla sedang ada acara di mall ini," jawabnya sembari menoleh ke arah wanita cantik di depannya. Kayla hanya mengangguk sambil menyunggingkan senyumnya. Dia terlihat kalem, tidak banyak berbicara.
"Oh .... Bagaimana kabarmu, Kay?" Baruna menyapa aktris cantik itu.
"Baik. Kau bagaimana, Bar?" Kayla balas bertanya.
"Baik. Mau makan apa? Biar kupesankan," sahut suamiku kepadanya. Dia memang ramah kepada semua orang.
"Enggak usah repot, Bar. Nanti gue yang pesan. Lagipula lo pesen makanan banyak banget. Yakin dimakan berdua?" sela Reynand memperhatikan seluruh menu yang dipesan Baruna di atas meja. Suamiku itu memang sengaja memesan semuanya untukku. Untukku! Yah kecuali udang itu.
Jangan heran. Baru datang saja kesayanganku itu sudah memesan menu makanan sangat banyak seperti porsi untuk lima orang. Dia berdalih untuk istri tercintanya yang kelaparan.
Oke. Yang ini keterlaluan. Segitu kelaparankah aku ini?
"Iyalah, dimakan berdua. Kalau gak habis ya sudah biarkan saja. Sepertinya Sheryl sedang mengidam makanan laut," Baruna melirik ke arahku.
Aku hanya menyengir. Memperlihatkan gigi seriku yang rapi di depannya. Reynand ikut menatap, tapi tidak berkomentar lagi. Dia hanya menarik senyum tipis. Kayla yang berada di sana tiba-tiba saja berdiri.
"Aku ke toilet dulu. Pesankan saja makanannya, Rey. Aku akan memakan semua yang kau pesan," ucap Kayla lalu bergegas pergi tanpa memberi kesempatan Reynand untuk menjawab.
Aku dan Baruna menatap bingung kepada Reynand. Pria itu hanya mengangkat bahunya sembari menggelengkan kepala seperti pria yang tidak memiliki kesalahan.
Reynand dan Kayla. Pasangan itu terlihat aneh. Meski mereka datang berdua, tapi menurutku ini sangat keterlaluan. Reynand sering menggandengnya ke mana-mana seakan wanita itu kekasihnya. Namun dia bilang hubungannya dengan Kayla tidak seperti yang aku dan Baruna pikirkan.
Reynand tidak melontarkan kalimat apapun melihat ekspresi kami yang seperti itu. Dia malah memanggil salah satu pelayan dan memesan makanan untuk mereka.
Aku menggelengkan kepalaku kuat-kuat. Berusaha untuk menyingkirkan semua dugaan tentang hubungan mereka. Tanganku sontak mengelus perutku yang masih rata. Mengingat janin yang sedang kukandung.
Haish! Semua tidak ada hubungannya denganku. Dia mau pacaran atau menikah dengan wanita manapun, itu pilihannya. Aku hanya perlu fokus kepada keluarga baruku. Suami dan calon anakku.
"Kenapa kamu menggelengkan kepalamu, Sayang?" Pertanyaan Baruna tiba-tiba mengagetkanku.
.
.
__ADS_1
.
Kesel gak sih sama Sheryl? Pengen kugantung di pohon cabe rasanya. Wkwkwk.