Marriage Order

Marriage Order
Pertemuan dengan Nesya


__ADS_3

Aku duduk di sudut ruangan sebuah restoran steak menunggu Nesya datang. Restoran ini adalah tempat tersering yang kukunjungi bersama Irene saat kami ingin memakan hidangan steak. Aku melirik jam tanganku yang sudah menunjukkan pukul setengah satu namun yang ditunggu tidak kunjung kelihatan batang hidungnya.


Rasa bosan menunggu datang begitu cepat bagaikan diri ini sedang menunggu dia yang terkasih. Aku melirik segelas orange juice yang sudah dari tadi berada di atas meja. Aku meraih minuman itu lalu mulai menyesapnya pelan-pelan. Rasa segar menghampiri tenggorokanku seketika. Tidak lama kemudian seorang wanita cantik pengantin anyar datang menghampiriku, dia Nesya.


"Sheryl maaf ya aku telat," sapanya ceria.


"Iya. Baru saja aku memutuskan akan balik ke kantor," keluhku.


"Yah jangan dong. Eh aku haus, minta ya jusnya," ujarnya lantas meraih minuman dingin itu masuk ke dalam mulutnya hingga habis tidak bersisa.


"Neng Nesya habis kerja rodi?" tanyaku menyindir.


"Ah Sheryl, kamu gak ikhlas nih?" Raut wajah Nesya kecewa.


"Hahaha .... Kamu kok jadi baperan gitu Nes?"


"Aku menyesal Sher," ucap Nesya tiba-tiba dengan wajah sedih.


"Menyesal kenapa?" tanyaku bingung karena datang-datang sudah menyiratkan raut wajah yang sedih.


"Aku menyesal menikah."


"Kok bisa? Kamu harus menceritakannya padaku."


"Iya Sher. Kenapa tidak dari dulu saja aku menikah dengannya. Hahahaha." Raut wajahnya berubah senang dan tertawa terbahak-bahak.


Aku mengembuskan napas kesal, senyum seringai kutunjukkan di hadapannya tapi dia terus tertawa menatapku.


"Maaf ya Sher. Aku hanya ingin menggodamu. Lagi pula bulan depan kamu juga akan menikah."


"Ah iya menikah," sahutku lirih.


Aku hampir lupa dengan rencana itu akibat beberapa peristiwa yang terjadi belakangan ini. Nesya menatapku mengerutkan keningnya heran.


"Oh iya kita pesan makanan dulu. Waktuku tidak banyak," kataku mengalihkan perhatian sambil memanggil pelayan yang kebetulan sedang berjalan menghampiri kami.


"Sudah memutuskan untuk pesan apa Mbak?" tanya pelayan itu tersenyum.


Nesya membuka buku menu makanan. Matanya menyusuri setiap menu yang terpajang.


"Aku salmon steak with mushroom sauce dan blackcurrant soda. Kamu apa Sher?"


"Sama deh tapi pakai blackpepper sauce ya. Minumnya air mineral saja."


"Baik saya ulang ya Mbak, pesanannya satu salmon steak with mushroom sauce, satu salmon steak with blackpepper sauce, satu blackcurrant soda, dan satu botol air mineral ya."

__ADS_1


"Iya." Nesya mengangguk, kemudian pelayan itu berjalan meninggalkan meja kami.


Nesya mengembalikan pandangan ke arahku, "Kenapa tidak bersemangat? Harusnya kamu sedang bahagia-bahagianya menghadapi pernikahan yang sudah di depan mata."


"Kamu sendiri tidak jadi pergi berbulan madu?"


"Minggu depan Sher. Kamu tahu akibat perkelahian itu suamiku tidak bisa cuti untuk berbulan madu. Padahal seharusnya Satya bisa menggantikan posisi kakaknya sementara."


"Kamu tahu kejadian itu?" tanyaku terkejut.


"Iyalah. Kamu pikir yang dipukul itu siapa? Dia kan adik iparku," jawabnya.


"Ah aku hampir lupa. Bagaimana keadaan Satya?"


"Hari ini baru pulang dari rumah sakit. Memangnya apa sih yang sebenarnya terjadi?" selidik Nesya, matanya menatap tajam ke arahku.


Aku balas menatap mata Nesya, "Satya tidak bercerita?"


"Dia itu laki-laki yang berbicara seperlunya. Tidak mudah menggali informasi darinya."


Aku terdiam lalu mulai berbicara. Pelan tapi pasti aku menceritakan apa yang terjadi dari awal sampai akhir, tidak ada satu hal pun yang aku tutupi. Nesya mendengarkan ceritaku dengan wajah serius. Sampai dia mengemukakan pendapatnya mengenai perkelahian itu.


"Maaf ya Sher terlepas dari masalahmu dan Satya, mengenai perkelahian itu aku jadi tidak respek dengan Baruna. Aku pikir dia laki-laki terpandang yang tidak akan mungkin adu otot apa pun masalahnya."


"Kamu berkata seperti itu karena korbannya adik iparmu kan?"


"Jadi kamu pikir aku berbohong?"


"Aku tidak menyebutmu berbohong tapi aku juga tidak percaya Satya bisa mengatakan hal seperti itu padamu. Dia itu laki-laki pendiam. Kalian berdua sungguh membuatku bingung. Di satu sisi kamu sepupuku dan di sisi lain dia adik iparku. Aku tidak bisa memihak. Tapi sebaiknya masalah kamu dengan Satya harus segera diakhiri."


"Yah terserah padamu jika kamu membela Satya. Aku sudah menceritakan yang sebenarnya, tidak ada yang kututup-tutupi. Baruna memang salah tidak bisa mengontrol emosinya, tapi aku menghargai alasannya melakukan hal itu." Aku kesal dan bangkit dari kursi bersiap melangkah keluar.


Seorang pelayan datang membawa makanan dan minuman kami meletakkannya di atas meja.


"Selamat menikmati," kata pelayan itu lalu berbalik arah pergi.


Nesya mengangguk dan menarik tanganku menyuruhku kembali duduk, "Kita makan siang dulu," katanya.


Aku kembali duduk, memalingkan wajah sambil ditekuk kesal. Makanan yang lezat itu terasa hambar di mulut mengikuti suasana hatiku yang tidak baik.


"Tidak usah menekuk wajah seperti itu. Aku kenal kamu dari bayi. Kelakuanmu memang kadang barbar, kadang manis, kadang lucu, tapi itulah yang membuat orang-orang suka padamu. Kamu unik."


"Tidak usah menghiburku seperti itu Nes. Aku memang barbar sejak dulu. Satya jadi saksi dan korbannya," sahutku sambil mengunyah salmon steak.


"Lalu apa yang bisa kulakukan untukmu Sher?"

__ADS_1


"Saat ini cukup diam sampai aku minta bantuan."


"Oke aku akan menunggu sampai kamu mengibarkan bendera putih kepadaku," sahut Nesya.


Aku mengangguk lalu meneruskan kembali makan siangku. Nesya menatapku sambil tersenyum. Lalu tiba-tiba menanyakan hal yang mengejutkan. Sebuah pertanyaan yang tidak pernah aku bayangkan jika seorang Nesya akan menanyakannya.


"Sudah sampai mana kedekatanmu dengan Baruna?"


"Apanya?"


"Sudah pernah melakukan hal 'itu' belum?"


Sontak aku langsung tersedak mendengar pertanyaannya. Potongan daging salmon utuh yang baru saja masuk tiba-tiba langsung tertelan menyangkut di tenggorokan. Aku terbatuk-batuk sambil meraih sebotol air mineral di hadapanku dan menenggaknya dengan tidak sabar. Nesya yang melihat reaksiku hanya tertawa cekikikan.


"Nes yang benar saja, kami belum menikah dan kamu menanyakan hal itu," tanggapku saat aku sudah bisa mengendalikan diriku dengan tenang.


"Ya ampun Sher, zaman sekarang itu bukan hal yang tabu. Lakukan saja jika saling mencintai."


"Damn it! Kamu membuatku jadi tidak bernafsu makan lagi." Aku meletakkan garpu dan pisauku seketika di atas piring.


"Hahaha," Nesya menertawaiku untuk yang kedua kalinya.


"Itu bukan lelucon Nes," protesku kesal.


"Oke maaf lupakan. Tapi aku pernah melakukannya sebelum hari pernikahan kami."


"Gila. Kamu sedang bercanda?"


"Tidak aku serius. Pertahanan itu runtuh saat kami tidak bisa saling mengontrol perasaan kami."


"Untung saja dia juga yang menikahimu. Coba kalau tiba-tiba setelah kamu melakukan hal 'itu' dengannya dan kalian tidak jadi menikah."


"Aku tidak pernah membayangkan hal itu, yang penting sekarang dia menjadi suamiku Sher," jawab Nesya dengan raut wajah bahagianya.


"Iya terserah padamu," sahutku malas.


Aku melirik jam tanganku, waktu sudah menunjukkan pukul satu lewat dua puluh menit. Aku tersadar bahwa kami sudah terlalu lama di restoran ini. Jam istirahatku sudah habis. Aku buru-buru bangkit dari kursi dan pamit kepada Nesya.


"Nes, aku harus kembali lagi ke kantor. Aku telat. Makan siangnya biar aku yang bayar," kataku.


"Tidak usah Sher. Biar aku yang membayar. Aku kan yang mengajakmu makan di luar," sahut Nesya.


"Terima kasih Nes. Salam untuk Om dan Tante."


"Iya. Sampaikan salamku juga untuk Kak Reza, Om Agung, dan Tante Rini ya."

__ADS_1


Aku hanya mengangguk, bersalaman dan mencium kedua belah pipi Nesya, berpamitan. Berjalan keluar dengan terburu-buru dari restoran di dalam mall itu.


__ADS_2