Marriage Order

Marriage Order
S3 Kumohon Kembalilah Kepadaku


__ADS_3

Sheryl Pov


Apa yang sedang kulakukan sekarang? Aku berada di beranda luar ballroom hanya bersamanya.


Angin malam seketika menyentuh kulit karena tak terlindungi gaun merah mudaku. Pandanganku mengarah pada sosok pria yang berdiri di hadapanku saat ini. Baruna. Tatapan matanya begitu lembut. Tatapan mata yang tak pernah berubah sejak dulu.


Baruna melepas jas hitamnya. Tanpa ragu, ia memakaikan jas hitam itu di tubuhku yang bergaun sedikit terbuka pada bagian punggungnya.


"Tidak, Mas. Kamu tak perlu repot-repot," kataku menolaknya. Namun saat berusaha melepaskan jas itu, Baruna menahannya.


"Ini tidak repot sama sekali. Aku yang membawamu ke sini. Jadi, aku tak ingin kamu sakit, Sher," sahutnya.


"Terima kasih, Mas," kataku tepaksa menerima perlakuannya itu.


Beberapa saat yang lalu, kami memang bertemu di dalam ballroom. Dia meyakinkanku kalau aku bisa menggendong Ezra hingga tidak perlu takut untuk menyentuh bayi berumur satu tahun setengah itu.


Berkat kata-katanya, aku pun memberanikan diri menggendongnya. Kami berempat pun menghabiskan waktu mengobrol bersama dalam suasana yang akrab seperti dulu. Suasana itu adalah suasana yang sangat kurindukan. Semua terasa sama. Yang berbeda, hanya statusku dan Baruna.


Di tengah-tengah obrolan itu, rekan bisnis Daniel datang menghampiri. Ia pun pamit untuk menemani tamunya. Tak lama, Ezra langsung rewel karena mengantuk. Indira ikut pamit karena ingin mengasihi putranya. Kemudian hanya tinggal aku dan Baruna.


Aku tak tahu alasan Baruna yang hadir hanya sendiri saja di pesta ulang tahun Reynand, tapi tampaknya pria itu tak terlalu memikirkannya. Tak sepertiku, ia tak peduli bagaimana orang memandangnya saat ini. Melihatku yang tak nyaman berada di dalam, Baruna mengajakku berbicara di lain tempat. Dan akhirnya, di sinilah kami.


"Di mana Felicia? Aku tak melihat ia sama sekali." Aku membuka pembicaraan.


"Sebentar lagi ia akan datang," jawab Baruna kemudian meraih gelas wine dari meja dan meminumnya.


"Mengapa kalian tak datang bersama?" Aku mengangkat sebelah alisku. Orang-orang yang melihat pasti akan menganggap mereka pasangan yang tak akur dalam pernikahan.


"Fely bilang ada sesuatu yang ingin ia urus lebih dulu sebelum datang ke sini."

__ADS_1


"Lalu Rafa?"


"Bunda bersamanya di rumah. Beliau khawatir Rafa akan tidur larut malam jika harus ikut kami datang ke pesta."


Aku mengangguk mengerti, lalu terdiam. Rasanya canggung berada hanya berdua dengannya, sementara tak ada hal penting lagi yang bisa kami bahas. Baruna kembali menyesap minumannya dengan pandangan yang tak juga lepas dariku.


"Aku tidak mengerti mengapa kamu terus menanyakan di mana Fely saat bertemu denganku. Bukankah kamu membencinya?"


Aku mendengus lalu menarik setengah senyum pada wajahku. "Membenci dan menanyakan keberadaan dia tak ada kaitannya sama sekali. Sejujurnya, aku ingin bertemu dengannya sekali saja. Aku ingin memastikan ia bisa menggantikan posisiku sebagai seorang istri."


"Kamu tahu? Tak ada yang bisa menggantikan posisimu sama sekali hingga detik ini," sahut Baruna. Tatapan matanya berubah menunjukkan rasa penyesalan. Namun aku bergeming dan berpura-pura tidak mengerti akan isyarat yang ia berikan.


"Dia adalah ibu dari Rafael dan calon adiknya. Bersikap baiklah kepada Fely," timpalku lalu melonggarkan jas Baruna, "Sebaiknya aku kembali ke dalam. Aku takut Rey akan mencariku." Aku segera mengembalikan jas Baruna.


Baruna tak berkomentar. Ia meraihnya dan langsung memakainya kembali. Tanpa banyak kata-kata, aku langsung berbalik hendak meninggalkannya.


Baru beberapa langkah hendak menuju ke dalam, langkah ini mendadak harus terhenti. Baruna tiba-tiba memeluk tubuhku dari belakang.


***


Sheryl membalik tubuhnya, meninggalkanku. Seketika perasaan sedih yang kutahan membuncah begitu kuat. Aku tak bisa menahan atau berbohong lagi dengan alasan demi mewujudkan kebahagiaan Sheryl seutuhnya.


Sejak Tante Aina bertanya bagaimana perasaanku terhadap Sheryl, aku terus memikirkan hal itu. Aku berbohong karena tak ingin ayah dan Tante Aina menganggapku lemah karena tak juga bisa berpaling dari mantan istriku. Padahal itu adalah kenyataannya. Aku memang lemah hingga tak mampu berpaling dan memaafkan diriku sendiri.


Sheryl baru saja mengangkat kakinya untuk berjalan beberapa langkah. Aku yang melihatnya menjauh tak ingin membiarkan ia pergi dari hadapanku. Dengan langkah cepat, aku menyusulnya. Tanpa malu lagi, menangkap ia dari belakang, lalu seperti anak kecil yang menangis karena mainannya diambil, meminta dirinya untuk tidak meninggalkanku.


"Jangan pergi! Jangan pergi meninggalkanku, Sher...," kataku lalu terdiam beberapa saat, "aku... aku sungguh menyesal. Aku sangat mencintaimu. Aku ingin kita kembali seperti dulu," rengekku memeluknya.


"Mas Bar, jangan begini...," jawabnya, lalu mencoba mengurai kedua tanganku yang berada di seputaran pinggangnya. Namun, aku segera mengeratkannya agar ia bergeming pada tempatnya.

__ADS_1


"Jangan menikah dengan Reynand, Sher. Sungguh! Baru kusadari, hingga saat ini aku masih tak bisa melihatmu bersama pria lain. Kumohon... kembalilah kepadaku. Kita bisa pergi meninggalkan semuanya dan bahagia dalam satu keluarga. Aku, kamu, dan Rafael. Kau tahu? Dia juga sangat menyukaimu. Aku yakin, dia bisa menerimamu jadi ibu sambungnya," tuturku panjang lebar


Gemuruh tak tenang seketika muncul dalam hati. Aku menunggu jawaban Sheryl sesungguhnya. Aku yakin ia juga masih mencintaiku.


Sayangnya, Sheryl tak juga memberikan sebuah jawaban. Wanita bergeming tidak menjawab. Aku melepaskan tautan tanganku, beralih pada bahunya. Kuputar tubuh Sheryl hingga kami berdiri saling berhadapan. Aku tak tahan lagi menahan perasaanku. Sontak tanganku beralih menarik wajahnya mendekat. Dalam hitungan sepersekian detik, bibir kami bertemu. Aku menyentuh bibirnya yang dingin.


***


Reynand Pov


Beberapa saat sebelumnya....


".... Saya harap para tamu undangan dapat menikmati pesta dan suguhannya. Terima kasih telah datang di pesta ulang tahun saya malam ini. Akhir kata, selamat bersenang-senang!"


Aku menutup pidato singkatku di atas panggung. Dengan terburu-buru mengembalikan mikrofon pada MC yang bertugas. Bagaimana tidak? Sejak tadi hatiku tak tenang. Aku terus memikirkan Sheryl karena ia tiba-tiba hilang tak ada di ballroom hotel.


Langkahku terhenti. Mama menghentikan saat aku hendak melangkah turun dari panggung.


"Rey, kau jangan turun. Kita harus memotong kue tart-nya lebih dulu." Mama menegurku.


"Tapi Ma, aku harus mencari Sheryl. Dia tiba-tiba hilang bersama Indira. Haish!" sahutku cemas.


"Kau bisa meneleponnya, kan?"


"Tidak. Julian baru saja memberikan clutch berisi ponsel miliknya. Katanya itu tertinggal di meja tengah. Sheryl tak membawa ponselnya, Ma." Aku menunjuk pada meja di belakang kami. Di sana aku meletakkan cluch milik kekasihku.


"Sebentar! Mama akan menelepon Indira dan menanyakannya."


Mama akhirnya menelepon Indira. Aku mendengarkan percakapan itu hingga selesai. Indira bilang Sheryl tak bersama dirinya. Indira pergi ke kamar hotel membawa Ezra yang rewel karena mengantuk. Dira juga mengatakan kalau ia meninggalkan Sheryl bersama Baruna.

__ADS_1


Tiba-tiba perasaanku jadi tidak enak. Aku memutuskan untuk turun dari panggung, mengedarkan pandanganku ke sekeliling ruangan, tapi sosoknya tak juga terlihat.


Saat aku berjalan melintasi pintu besar yang mengarah pada beranda ballroom, langkahku terhenti di sana. Tempat itu sepi. Aku hanya melihat dua orang yang kukenal sedang berdiri di sana. Pemandangan yang sontak membuat kedua mataku membulat penuh. Baruna memeluk Sheryl dari belakang, lalu beralih menciumnya dalam waktu yang begitu cepat.


__ADS_2