Marriage Order

Marriage Order
S2 Pertunangan?


__ADS_3

Kayla PoV


Hari Minggu, pukul 11.00


Aku baru saja memarkirkan mobilku di halaman rumah Tante Aina. Hari ini dia menyuruhku datang membicarakan tentang acara pertunangan antara aku dan Reynand.


Setelah pembicaraanku dengan Mama kemarin semalam, akhirnya Mama menghubungi Tante Aina untuk melanjutkan rencana pertunangan kami. Hatiku begitu bahagia mendengar rencana itu akan terlaksana.


Aku menekan bel pintu rumah Tante Aina. Tidak lama kemudian, Indira membukakan pintu untukku.


"Halo, Dir!" sapaku memeluk tubuh dan mengecup kedua belah pipinya. Calon adik iparku ini terlihat sangat cantik walau sedang mengandung.


"Kayla! Apa kabar?" tanyanya dengan wajah berseri, balas mengecup kedua belah pipiku.


"Baik, Dir. Tante ada?"


"Mama ada di kamar."


"Baiklah, aku boleh ke sana ya," kataku lalu melangkah masuk.


Indira mengangguk. Dia lalu berjalan di depanku dan mengetuk pintu kamar Tante Aina.


"Tidak dikunci!" Suara Tante Aina terdengar dari balik pintu.


Ibu hamil itu menekan handel pintu ke bawah dan mendapati Tante Aina yang sedang menyeka air matanya. Aku mengerutkan kening melihat calon mertuaku itu seperti habis menangis. Indira yang melihat Mamanya bersedih, buru-buru masuk menghampiri Tante Aina yang sedang duduk bersandar pada dipan tempat tidur.


"Mama, kenapa menangis?" tanya Indira.


Tante Aina menggelengkan kepalanya. Dia lalu menoleh ke arahku dengan senyum tipis yang tersemat di wajah cantiknya. Indira ikut menoleh padaku.


Seakan tahu posisinya, Indira lalu berkata, "Baiklah, kalian bisa berbicara. Aku akan menyiapkan minuman dan camilan untuk kalian." Indira membalikkan badannya, kemudian keluar dari kamar Tante Aina. 


"Tante, apa kabar?" tanyaku.


Tante Aina menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Terlihat air mukanya yang kacau. Dia menyuruhku duduk di dekatnya dan menatapku.


"Baik. Kamu bagaimana, Sayang?"


"Baik, Tante. Reynand mana, Tan? Katanya mau ke sini?" tanyaku.


"Sudah pergi."

__ADS_1


"Oh .... Lalu kita membicarakan rencana pertunangan ini hanya berdua?"


"Kay, maafkan anak Tante sudah berkali-kali membuatmu kecewa," katanya.


"Tidak apa, Tante. Dia menerima rencana ini, 'kan?" tanyaku meyakinkan.


"Seperti biasa dia menolak. Dia juga mengaku kalau dia dan Sheryl ...." Tante Aina menghela napasnya dan terlihat ragu meneruskan perkataannya.


"Mereka kenapa, Tante?" tanyaku bingung. Perasaanku mulai tidak enak.


"Mereka sudah tidur bersama, ketika Baruna kecelakaan dan sekarang sedang koma di rumah sakit." ucapnya. Tangisnya pecah seketika.


Bagai disambar petir di siang hari. Hatiku terasa hancur berkeping-keping. Aku menelan ludah mendengar perkataan Tante Aina. Dadaku bergemuruh sesak. Tubuhku gemetar seketika.


Inikah jawaban atas pertanyaan dalam otakku?  Jadi, Baruna sedang koma? Aku sama sekali tidak mengetahui kabar itu. Begitu tega mereka melakukan hal seperti itu di belakangnya.


Tanpa terasa air mataku jatuh mengalir. Begitu sedih dan marah mendengar kabar itu. Tante Aina menoleh ke arahku. Dia menatap sendu.


"Bagaimana? Kamu masih ingin bersama dengan anak nakal itu?"


Aku bergeming. Tidak bisa menjawab. Rasanya hatiku tidak mengizinkanku untuk menjawab. Tenggorokanku pun tersekat, ditambah lidah yang terasa kaku.


Aku bangkit berdiri, sontak beranjak melangkah keluar dari ruangan itu dengan kepala tertunduk sedih. Tidak ingin memperlihatkan air mata yang mengalir deras.


Langkahku terhenti sejenak saat melihat Indira berdiri di depan pintu menghalangi jalan. Kedua tangannya sibuk memegang nampan minuman dan camilan. Raut wajahnya sangat terkejut. Sepertinya ia mendengar pembicaraan kami. Aku mengangkat kepala menatapnya sejenak, lalu segera keluar dengan perasaan kecewa.


"Aku pulang, Dir!" pamitku, segera berlalu dari tempat itu. Dia hanya diam mematung dengan mata yang berkaca-kaca.


Mobil sedan berwarna hitam yang kupacu dengan kencang tidak bisa melegakan perasaan ini. Aku akan pergi ke apartemen Reynand dan memintanya memberikan penjelasan apa yang terjadi. Padahal aku tahu, kami sudah tidak ada ikatan. Namun, sepertinya aku tetap harus meminta penjelasan tentang masalah ini.


Dua puluh menit kemudian, aku sudah sampai di depan unit apartemen miliknya. Terdiam begitu lama, merasa ragu untuk sekedar menekan bel.


Tiba-tiba saja, pintu unit apartemen itu terbuka. Reynand muncul di hadapanku. Sepertinya dia hendak pergi keluar.


"Kayla?" ucapnya ragu.


"Iya, aku di sini. Boleh aku masuk?" tanyaku.


"Masuklah. Aku pergi ke minimarket di bawah sebentar. Ada yang ingin kubeli."


Aku mengangguk. Melangkah masuk ke dalam apartemennya dan membanting tubuh di atas sofa. Termenung sendiri memikirkan masa depan seperti apa yang akan menantiku.

__ADS_1


Tidak lama pintu apartemen terbuka. Reynand muncul dan melangkah masuk. Dia memasukkan barang belanjaannya ke dalam kulkas. Sama sekali tidak menghiraukan keberadaanku.


Sejurus kemudian, pria itu melangkah dan duduk di sampingku. Meraih remote televisi dan menghidupkannya. Matanya menatap layar dengan fokus.


"Kamu ada perlu apa datang ke sini?" tanyanya tanpa menoleh. Matanya menatap lurus ke depan.


Aku menelan ludah. Menatap lelaki tampan itu. Hasratku tiba-tiba membuncah. Tidak peduli dia sedang memikirkan apa. Aku ingin menyatakan perasaanku.


"Rey, aku mencintaimu," kataku sambil mengalungkan lengan ke leher pria itu dari samping kirinya. Memaksa ia menatapku dan menarik ceruk lehernya mendekat ke wajahku. Tanpa basa-basi segera mencium pria tampan di hadapanku ini.


Reynand sangat terkejut dengan tingkahku.


"Kay, apa yang kamu lakukan?" tanyanya di sela-sela seranganku yang tidak mendapat balasan darinya. Aku mendorongnya hingga pria itu terbaring di atas sofa panjang dan aku menindihnya.


"Mengapa kalian melakukan hal itu?"


Reynand tidak menjawab. Namun dari tatapan matanya, sepertinya ia mengerti apa yang kumaksud.


"Di mana dia menciummu? Di bibir ini? Pipi? Atau leher?" tanyaku lagi sedikit marah.


"Kamu tidak perlu menjadi seperti ini, Kay," katanya.


"Aku juga ingin disentuh olehmu, Rey. Sungguh, aku sangat sedih sekaligus marah mendengarmu melakukan hubungan seperti itu dengan Sheryl," ucapku masih di sela-sela ciuman panas yang kulakukan, tapi Reynand tidak membalasnya sama sekali.


Reynand bergeming. Dia menghela napas berat. Membiarkan diriku yang marah padanya.


"Kita lihat, seberapa tahannya kamu mendapat serangan seperti ini. Kamu adalah lelaki normal. Pasti kamu juga mempunyai hasrat padaku, Rey."


Aku terus menciumnya. Tidak ada yang terlewat dari wajahnya. Segera, mulai turun menjelajah menuju lehernya.


"Jangan membuat seekor singa terbangun dari tidurnya!" Dia balik mendorongku hingga aku berada di bawah tubuhnya. Napasnya yang berat terasa hangat menghantam wajahku.


"Mengapa? Kita pernah melakukan hal seperti ini di ruang kerjamu dulu. Saat itu Sheryl pun sempat memergoki kita. Sekarang mengapa kamu menolakku?" tanyaku kecewa.


"Kayla, jangan kamu rusak dirimu!" serunya sambil bangkit menjauh dan mendudukkan tubuhnya di atas sofa.


"Lucu! Kamu menyuruhku untuk tidak merusak diriku sendiri, sedangkan kamu merusak masa depan wanita lain dan saudara tirimu. Gila kamu, Rey!" Aku segera bangkit duduk di sampingnya.


Reynand hanya terdiam tidak berkata apa-apa. Kepalanya menunduk, tidak berani menatap wajahku.


"Inikah sosok asli Reynand yang katanya tangguh itu?" cibirku.

__ADS_1


Pria itu menoleh ke arahku. Matanya menatap tajam. Dia lalu berkata, "Jangan campuri urusanku! Hubungan kita sudah berakhir."


Aku terdiam. Segera meraih tas tangan yang tadi kubawa dan beranjak pergi dari unit apartemennya. Reynand membiarkanku pergi dengan segala kekecewaan yang kurasakan. Pria itu, memang sudah tidak ada perasaan apapun padaku. Aku benci padanya. Pria yang tidak berperasaan.


__ADS_2