
Reynand PoV
Aku meletakkan ponselku di atas nakas. Sheryl baru saja mematikan sambungan teleponnya. Dia sangat marah. Apa aku berlebihan, jika hanya ingin menyadarkan dirinya untuk jangan berharap terlalu tinggi pada keadaan Baruna?
Ingatanku membawa ke momen yang terjadi hampir dua bulan lalu saat Dena sekretaris yang baru bekerja satu minggu denganku tiba-tiba mengajukan surat resign. Dia wanita yang cantik__ sekretaris Pak Rudi__mantan direktur Praditpta Corporation. Wanita itu sudah lama mengabdikan dirinya di perusahaan dan terkadang memang bertingkah laku genit di hadapanku. Kayla yang sesekali datang ke kantor merasa cemburu melihatnya dan suka mengintimidasi wanita itu dengan kata-kata kasar. Selain itu, aku pun sering memanggilnya bodoh dan tol0l. Karena perlakuan yang tidak menyenangkan itu, dia tiba-tiba mengundurkan diri.
Aku lalu memeriksa data karyawan untuk menggantikan posisi Dena dan memilih Sheryl sebagai gantinya. Seorang anak perempuan dari keluarga pengusaha Kusuma Corporation yang juga merupakan karyawan teladan bagian marketing. Dia sudah hampir tiga tahun mengabdi di perusahaan.
Parasnya yang cantik bersamaan dengan kepeduliannya padaku saat sakit, keberaniannya saat aku mengejeknya, juga saat ia berhadapan dengan Kayla. Tiba-tiba saja, wanita itu berhasil membuatku jatuh cinta. Aku sama sekali tidak tahu kalau ternyata dia adalah calon istri saudara tiriku.
Saudara tiriku itu, entah bagaimana reaksinya jika tahu aku sudah meniduri Sheryl tunangannya. Apa dia akan menghabisi nyawaku? Seperti Ayah Anton yang juga mengancam akan memberiku pelajaran seperti kata-kata yang dilontarkannya tadi di kafe? Aku tidak peduli. Selama aku bisa mendapatkan apa yang aku inginkan.
Aku membuka pintu balkon. Semilir angin malam mulai masuk ke dalam kamar apartemen. Aku mulai tersenyum-senyum kembali mengenang putaran peristiwa bercintaku dengan Sheryl yang begitu indah. Tubuhnya yang elok telah kunikmati. Hal itu tidak bisa hilang begitu saja dari ingatan.
Mengingat aktivitas bercinta kami kemarin malam, rasanya aku tidak rela untuk melepasnya. Maafkan aku Baruna, sepertinya aku berhak mempertanggungjawabkan semuanya.
Aku berjalan menghampiri nakas di samping tempat tidur dan membuka lacinya. Mengambil sebatang rokok dari dalam bungkus. Mulai menyalakan api dari pemantik, kemudian mengisap benda itu perlahan.
Aku segera melangkah keluar pintu dan berdiri di balkon. Asap yang keluar dari mulut begitu nikmat menghilangkan sedikit beban dari kepalaku.
Tiba-tiba ponselku berdering. Aku beranjak masuk kembali ke dalam kamar mengambil ponsel dari atas nakas. Sebuah panggilan dari Indira.
"Kakak, apa benar Baruna kecelakaan?"
"Iya kemarin malam."
"Bagaimana keadaannya? Aku menelepon Sheryl dan dia tidak mengangkat teleponku sama sekali. Kabar itu pun kuketahui dari Daniel yang tidak sengaja bertemu dengan Reza di kota K hari ini, saat dia sedang menghadiri acara resmi pembukaan cabang restoran kami."
"Baruna koma."
"Astaga! Bagaimana bisa? Apakah kecelakaan itu begitu parah?"
"Sayangnya, iya."
"Kakak sudah melihatnya?"
"Iya, tadi pagi."
"Kak, aku turut berduka. Semoga dia cepat bangun dari komanya. Besok aku dan Daniel akan menjenguknya. Di mana dia dirawat?"
__ADS_1
"RS Harapan Asih. Dia di ruang ICU."
"Baiklah. Selamat malam, Kak."
"Malam."
Indira lalu memutus telepon. Aku kembali menikmati rokokku. Mengembuskan asap yang bergumpal keluar dari mulutku.
Tiba-tiba ponselku berdering kembali. Sebuah panggilan dari Kayla. Aku menghela napas dan mengabaikan panggilan wanita itu. Kepalaku menengadah ke atas, melihat langit luas yang gelap tanpa bintang. Sepertinya sebentar lagi hujan akan turun.
Suara dering ponsel terdengar lagi. Kayla terus meneleponku. Wanita itu sangat merepotkan. Aku segera mengangkatnya.
"Ada apa, Kay?" tanyaku malas.
"Aku merindukanmu. Bisakah kita bertemu."
"Kamu sudah memutuskan hubungan kita."
"Sungguh, aku menyesal. Bisakah kita merajut kasih kembali, Rey?"
"Aku tidak berminat. Kamu sungguh tidak membuatku berminat. Carilah lelaki lain."
Aku sontak memutus teleponnya sepihak. Sangat malas jika sudah berhubungan dengannya. Wanita itu, apa tidak ingat sudah dengan gampangnya memutuskan hubungan kemarin malam? Tapi aku tidak menyesal, karena hanya Sheryl sekarang tujuanku.
Aku menekan puntung rokokku ke dalam asbak lalu masuk ke dalam kamar. Angin malam mulai dingin. Gerimis kecil mulai turun membasahi bumi.
****
Kayla PoV
Aku merebahkan tubuh di atas tempat tidur. Jam dinding sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Mataku tidak bisa terpejam. Baru saja Reynand memutus telepon dan menolakku. Lelaki itu sungguh kurang ajar. Namun, aku lebih kurang ajar masih mencintainya.
"Sialan! Reynand sialan! Kamu kira kamu sedang berhadapan dengan siapa?"
Seharian ini aku terus berada di kamar. Terbayang kejadian kemarin malam saat Reynand membawa Sheryl keluar dari Bar Oh. Mereka meninggalkanku begitu saja. Mereka pikir sedang berhadapan dengan siapa? Aku Kayla, wanita tangguh pejuang cinta.
Seketika sebuah pertanyaan mampir di benakku.
Mereka pergi ke mana setelah itu? Pasti Reynand mengantar Sheryl ke rumah 'kan? Tidak mungkin 'kan ia mengajak wanita itu ke apartemennya? Reynand tidak mungkin kurang ajar memanfaatkan keadaan.
__ADS_1
Aku menggelengkan kepalaku. Saat itu aku hanya tahu kalau aku ingin berpesta dan merayakannya bersama teman-teman baikku. Aku tidak memikirkan Sheryl yang baru saja sembuh dari sakitnya.
Sungguh sial nasibku kemarin malam. Reynand kembali menjauh dariku karena aku memutuskannya. Lalu dengan entengnya dia menyetujui kata-kataku.
"Aarrgghh! Mengapa nasibku seperti ini?" Aku berteriak kesal.
Aku bangkit dari tidurku dan mulai mendengarkan musik dari ponsel sambil bernyanyi dengan suara keras. Suasana hening malam tidak membuatku ikut tenggelam bersamanya.
Tok-tok-tok!
Terdengar suara pintu kamar yang diketuk. Tubuhku segera melangkah membuka pintu melihat Mama sudah berdiri di sana. Aku berbalik arah dan mematikan musik.
"Kay, kamu tidak apa-apa?" tanyanya.
"Kenapa memangnya, Ma?" Aku balik bertanya.
"Dari pagi kamu tidak keluar rumah, loh."
"Iya, aku sedang malas beraktivitas. Semua kontrak hari ini kubatalkan. Biarkan saja mereka menyebut diriku tidak profesional!" sahutku kesal.
"Tidak biasanya kamu seperti ini, Kay. Jika ada sesuatu yang mengganggumu, kamu bisa menceritakannya pada Mama," ucapnya.
Aku menoleh ke arah Mama. Memandang dalam wajah wanita yang paling aku hormati dan sayangi.
"Aku tidak ingin dijodohkan lagi. Aku hanya ingin Reynand atau tidak sama sekali, Ma," ucapku dari hati yang paling dalam.
Mama balas memandang dalam wajahku. Tiba-tiba saja dia memelukku dan berbisik, "Iya, Mama tahu kalau perasaanmu tidak bisa lepas darinya. Namun, kamu harus ingat kalau dia tidak pernah mencintaimu. Nantinya kamu juga yang akan terluka, Sayang." Mama melepas pelukannya.
"Aku tahu. Aku sangat mengetahui hal itu."
"Bagaimana lagi Mama harus memberitahumu. Lelaki itu sama sekali tidak cocok untukmu, Kayla. Kamu pun selalu menangisinya. Kalau dia masih membuatmu sedih, dia sama sekali belum cocok menjadi suamimu."
Aku terdiam. Semua yang dikatakan Mama benar adanya.
Apa aku terlalu terobsesi dengan Reynand? Namun, dia memang lelaki yang aku mau. Salahkah?
"Pikirkanlah dengan sebaik-baiknya. Masa depanmu milikmu. Bukan milik Mama," tambah Mama.
Raut wajah Mama yang terlihat kecewa membuat diriku sedikit bersalah. Dia lalu bangkit dari duduknya dan pergi keluar dari kamar.
__ADS_1