
Baruna POV
Bagaimana aku tidak kaget saat melihat Felicia tiba-tiba muncul di hadapanku? Ia muncul dari dalam ruang rawat tepat di depan ruang rawat Reynand kala aku hendak pergi ke lobi mencari minuman dan makanan kecil untuk kami sekeluarga.
Berbeda dengan penampilan terakhirnya saat kami bertemu. Kali ini ia memakai kacamata dan terlihat beberapa memar di sekitar wajahnya. Entah apa yang terjadi.
"Baruna ...," ucapnya begitu lirih tapi aku masih bisa mendengar suaranya.
"Fely, sedang apa di sini?" tanyaku dengan nada datar.
Felicia tidak langsung menjawab. Tiba-tiba wanita itu menghampiri dan langsung memelukku. Tangisannya pecah dengan wajah yang menempel tepat di dadaku.
Aku terkesiap, tidak sempat menghindar. Namun, tidak juga membalas pelukan itu. Isakannya terdengar lirih. Mungkin saja ia malu karena menangis di lorong kamar perawatan yang sepi.
"Fel, ini tempat umum. Lepaskan aku. Apa yang terjadi kepadamu?" Walau sempat kesal kepadanya, aku bertanya baik-baik dan tidak ingin membuat keributan.
Felicia mendongak menatapku sebentar, lalu buru-buru melepas pelukannya. "Ma-maaf, Bar," katanya lalu menyeka air matanya dengan cepat.
"Mengapa kau ada di sini? Apa kau sedang sakit?" tanyaku lagi.
"Rafael dirawat, Bar," jawabnya lalu terdiam. Air mukanya terlihat ragu untuk meneruskan perkataannya.
"Rafael sakit apa?" Aku sontak membelalak. Jawaban Felicia membuatku terkejut.
"Apa Sheryl tidak mengatakannya kepadamu?" Kening wanita itu mengernyit.
Aku menggeleng pelan. Air muka Felicia berubah serius.
"Lebih baik membicarakan hal ini di luar. Di sekitar rumah sakit ada taman yang bagus," katanya.
__ADS_1
"Lalu anakmu?" tanyaku lagi.
"Ada adik iparku yang menemani di dalam. Dia juga dokter rumah sakit ini," sahutnya.
Entah apa yang merasuki otakku. Aku mengiyakan ajakannya dan ingin bertanya tentang siapa ayah dari anaknya. Pikiran itu sejak semalam terus menghantui. Perkataan dua teman bodoh di bar yang membuatku benar-benar jadi gila.
Udara taman rumah sakit terasa hangat sekaligus sejuk karena hari masih pagi. Aku duduk di sebuah bangku panjang bersama Felicia.
"Mengenai Rafael ... dia mengidap leukimia stadium tiga. Mungkin umurnya tidak akan lama lagi," ucap Felicia membuka pembicaraan kami. Namun wajahnya menunduk seakan menyembunyikan kesedihannya.
"Astaga! Benarkah?" Aku tidak percaya mendengar perkataan Felicia. Pasalnya anak itu terlihat sehat dan tidak tampak seperti anak yang mengidap penyakit kronis.
"Iya. Aku juga baru tahu. Kukira, dia hanya sakit biasa saja. Namun, lama-lama aku curiga dan terlambat. Kondisinya sudah tidak bagus. Dini hari kami ke rumah sakit dan ia harus dirawat karena kondisinya tidak bagus," jelas Felicia lagi.
"Lalu bagaimana dengan David? Di mana dia sekarang?" tanyaku menanyakan keberadaan suaminya.
Felicia hanya diam. Sepertinya ia enggan menjawab pertanyaanku. Wanita itu malah mengalihkan pembicaraan, "Bar, aku minta maaf atas kata-kataku tempo hari."
"Ya, tidak apa-apa. Mungkin kau sedang emosi saat itu. Namun perlu kutekankan kalau aku tidak pernah menyesal memilikinya. Dia wanita yang sangat aku cintai. Saat ini dia sedang mengandung. Sebentar lagi, aku akan jadi seorang ayah." Aku berkata dengan pandangan berbinar-binar kepadanya.
Felicia terdiam. Dia tidak segera menanggapi perkataanku. Pandangannya tiba-tiba saja menjadi sendu saat wajah itu menoleh menatap ke arahku.
"Kau tahu, Bar .... Sebenarnya kau sudah menjadi seorang Ayah sejak lama."
Gantian, kalimat Felicia membuatku terdiam. Lalu bertanya-tanya apakah pertanyaan demi pertanyaan yang melintas semalam akan segera terjawab. Namun rasanya hatiku belum siap mendengar kenyataan.
Bagaimana jika Rafael benar-benar anakku?
"Maksudmu?" tanyaku akhirnya karena wanita itu tidak memperjelas ucapannya.
__ADS_1
"Rafael adalah anakmu, Bar," ucap Felicia lagi.
Mendengar perkataan Felicia terasa seperti angin ribut yang meluluhlantakkan hati di pagi hari. Aku mencoba untuk mencerna kata demi kata yang terucap dari mulutnya.
Apa dia sedang berbohong? Lalu untuk apa? Kami sudah memiliki pasangan masing-masing.
"Kau pasti sedang bercanda," timpalku yang tidak siap akan fakta yang mungkin saja terjadi. Bagaimanapun, kesehatanku tidak ada masalah. Bahkan Sheryl langsung mengandung setelah kami menikah. Bukan tidak mungkin ia juga mengandung setelah kejadian itu. Tapi, itu hanya sekali ... dan aku dijebak. Bagaimana mungkin?
"Aku tidak pernah seserius ini, Bar. Bahkan aku baru mengakui hal ini kepada David. Ia marah karena merasa telah dibohongi selama bertahun-tahun." Air muka Felicia tampak begitu serius.
"Tapi, itu hanya sekali. Bisa saja 'kan Rafael anak David? Kau juga pernah mengatakan memiliki kekasih saat itu. Pria itu pasti adalah David."
"Ya. Aku dan David memang sudah berpacaran saat itu. Kami berhubungan jarak jauh. Tadinya, aku juga mengira Rafael adalah anaknya, tapi saat kami mengecek ulang golongan darahnya, Rafael tidak memiliki golongan darah dari salah satu di antara kami. David yang penasaran langsung melakukan tes DNA terhadap anaknya sendiri. Hasilnya, Rafael memang bukan anaknya, Bar. Rafael adalah anakmu," papar Felicia lagi berusaha meyakinkanku.
"Bisa saja pria lain, 'kan?" Aku menembaknya dengan pertanyaan menohok.
Felicia menyeringai miring lalu berkata, "Aku hanya melakukannya dengan dua orang pria. Kau dan David. Tidak mungkin anak orang lain."
Rasanya sangat sesak mendengar pengakuannya. Bisa-bisanya ia mengatakan hal yang membuatku bertambah gila mendapat kenyataan seperti ini.
Felicia kemudian terdiam sebelum akhirnya wanita itu melanjutkan perkataannya, "Jika kau tidak percaya, kau bisa melakukan hal yang sama seperti apa yang David lakukan kepada anaknya."
"Fel, maaf ... tapi rasanya ini terlalu mengada-ada. Aku saja tidak terlalu ingat dengan kejadian itu. Kau bahkan pergi di saat aku ingin meminta penjelasan. Seharusnya kau tidak hadir saat ini. Saat di mana aku sudah bahagia bersama istriku." Aku membela diri.
"Jadi kau meragukan hal itu, bahkan saat Sheryl berkali-kali mengatakan mata Rafael mirip denganmu, huh?" Kening Felicia mengernyit.
"Ya! Entah apa motifmu melakukan hal ini. Dari dulu dan mungkin sekarang, status kita tidak akan pernah berubah sebagai teman. Bahkan bagi Rafael, dia tidak mengenalku dan aku juga tidak mengenalnya sama sekali. Aku bukan ayahnya." Aku menggeleng, lalu bangkit berdiri. Tidak ingin melanjutkan pembicaraan kami. "Sheryl dan yang lainnya pasti sudah terlalu lama menungguku di dalam. Aku harus kembali ke kamar Reynand," kataku lagi.
Felicia tidak berkata apa-apa. Dia terus diam. Sampai akhirnya saat aku membalik badan, ia menghentikan langkahku. Memelukku dari belakang.
__ADS_1
"David akan menceraikanku, Bar. Rafael jatuh sakit. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan sekarang. Ini benar-benar titik terendah dalam hidupku. Tolonglah kami!" katanya kemudian terisak.