
Sheryl Pov
Merasakan bibir Baruna yang menyentuh bibirku, segera kudorong tubuhnya kuat-kuat. Pria yang dulu kucintai itu akhirnya melepaskanku. Napasnya tampak tersengal menahan gejolak emosi yang begitu kuat. Sementara aku terpaku dalam tatapan tak percaya dengan apa yang baru saja ia lakukan.
"Kamu benar-benar sudah gila, Mas!" Aku menggeleng, "kamu harus ingat, kamu sudah menikah! Fely juga sedang mengandung anakmu."
Baruna menyeringai. Namun tatapan matanya belum juga berubah seolah tak peduli dengan apa yang kukatakan. "Aku akan menceraikannya! Dan kamu akan kembali kepadaku."
Praang!
Bunyi keras pecahan kaca tiba-tiba terdengar. Kami berdua sontak menoleh ke arah sumbernya. Felicia berada di ambang pintu. Menatap nanap ke arah kami. Aku melirik ke lantai di sekitar Felicia. Banyak pecahan gelas kristal berserakan. Sepertinya, ia menjatuhkan gelas dari tangannya. Felicia tak membuka mulutnya. Sesaat kemudian, wanita itu berbalik dan pergi begitu saja.
"Fely!" Baruna berteriak memanggil, tapi Felicia tak bergeming. Ia terus berjalan meninggalkan kami. Tanpa berkata-kata lagi, Baruna segera pergi mengejarnya.
Gelas kristal Felicia yang terjatuh mengundang sebagian tamu undangan datang dan mengarahkan pandangannya padaku yang masih berdiri di sana. Menyadarinya membuatku sangat tak nyaman. Tatapan itu seolah menelanjangiku, seolah akulah yang yang membuat kekacauan. Berbagai potongan ingatan masa lalu itu kembali hadir dalam ingatan. Dari momen pernikahanku dan Baruna yang begitu bahagia kemudian berangsur hancur karena hadirnya Felicia dan perasaan cinta yang muncul untuk Reynand.
Entah sejak kapan, Reynand tiba-tiba sudah berdiri di depanku. Pria itu kemudian memakaikan jas miliknya. "Kau tidak apa-apa?" tanyanya cemas, tapi aku tak memberikan satu kalimat pun sebagai jawabannya. Bahkan kakiku terasa lemas untuk sekadar berdiri di sana.
Mereka bertengkar. Apa kini akulah yang menjadi penjahatnya? Apa Reynand melihat Baruna menciumku? Apa dia akan marah jika mengetahui hal itu? Ya. Untuk ke sekian kalinya, aku kembali menyakiti hati Reynand.
Tak mendapat jawaban membuat Reynand tak berkata apa-apa lagi. Pria baik itu langsung meraih tanganku, segera membawaku pergi dari beranda. Ia tak peduli dengan pandangan orang-orang terhadap kekasihnya saat ini. Pria itu hanya meminta seorang pelayan untuk membersihkan pecahan gelas kristal itu. Sementara, aku sibuk mendengar para tamu undangan itu mulai saling berbisik bergunjing.
"Lihat wanita yang dibawa oleh Tuan Pradipta! Dia baru saja membuat kekacauan!"
"Aku melihat wanita itu berciuman dengan mantan suaminya."
"Kasihannya Reynand. Wanita itu baru saja mengkhianatinya."
"Dia itu janda! Tak seharusnya mendapatkan putra lajang dari Nyonya Pradipta."
"Sepertinya, setelah ini akan seru!"
__ADS_1
Begitu banyak suara negatif yang terdengar di telinga membuatku berkali-kali menghela dan mengembus napas untuk sekadar mengatur diri agar tak emosi.
"Jangan dengarkan bisikan-bisikan itu!" ucap Reynand pelan.
"Rey...." Aku menghentikan langkah di tengah-tengah ruangan.
Reynand sontak menoleh kepadaku. Keningnya tampak mengerut menungguku untuk berbicara.
"Apa kau melihat semuanya?" tanyaku.
"Melihat?"
Aku menarik tanganku lepas dari Reynand. Walau tak membalas ciuman Baruna, aku tetap merasa bersalah kepada Reynand. Seharusnya, aku tak berada di beranda hanya berdua saja dengan mantan suamiku.
"Mengenai kejadian barusan. Baruna menciumku paksa. Maafkan aku, Rey. Aku tak tahu ia akan segila itu. Aku rasa, aku kembali menyakitimu."
"Ya, aku melihatmu dengan Baruna di sana...." Reynand tak meneruskan perkataannya. Aku melihat raut mukanya yang berubah sedih. "Aku-"
Reynand hanya diam. Dia tak menjawab satu kata pun hingga membuat detak jantungku bertalu-talu begitu cemas menanti. Aku terlalu takut ia mengakhiri hubungan kami. Tiba-tiba Reynand meraih tanganku untuk mendekat padanya.
Saat ini, bola mata kami saling memandang penuh dengan rasa cinta. Tak peduli dengan sorot mata orang-orang yang mengarah pada kami, Reynand menyahutku, "Sesungguhnya, aku memang merasa sakit melihatmu bersamanya. Apalagi, saat ia berani menciummu seperti itu...."
"Rey ...." Seketika, aku merasa sangat bersalah karena menyakitinya, "aku minta maaf. Aku-"
"Aku sangat memercayaimu. Aku bisa melewati segalanya jika bersamamu. Yang terpenting dalam hubungan ini adalah kita berdua, 'kan?" tambah Reynand, lalu terdiam sejenak sebelum akhirnya berkata kembali, "kau harus tahu, saat ini aku benar-benar tak ingin peduli lagi dengan yang lainnya. Melihat dan mendengar apa yang terjadi tadi membuatku yakin bagaimana perasaan kita berdua. Bagaimanapun, sejak dulu aku sangat mencintaimu."
Aku mengangkat kedua sudut bibirku. Menatap haru matanya yang begitu lembut memandang. Rasanya tak sanggup lagi menahan segala gejolak perasaan yang sejak tadi begitu membuncah. Walau kami sedang berada di tengah-tengah tamu undangan, aku tak ingin menahannya lagi.
"Aku juga sangat mencintaimu," kataku.
Reynand memelukku. Kemudian, ia meraih tanganku, secara tiba-tiba melingkarkan sebuah cincin bermatakan berlian indah di jari manisku.
__ADS_1
"Rey, i-ini...." Mataku membeliak mengarah pada cincin yang sudah terpasang dengan indahnya.
"Sheryl, di tengah-tengah ballroom ini, aku ingin mengatakan sesuatu yang akan mengubah perjalanan hidupku selanjutnya," ucap pria itu lugas.
Aku mengangkat wajahku. Tak percaya mendengar perkataan ia barusan. Raut mukanya sangat jelas menunjukkan keseriusan.
Apa ia akan melamarku di tengah-tengah orang banyak seperti ini? Apa dia tak takut orang-orang akan makin membicarakan kami? Dan Tante Aina... di mana dia? Bagaimana kalau ia tahu putranya akan berbuat nekat melamarku di hadapan para tamu undangannya? Jangan katakan itu sekarang, Rey. Ibumu akan datang dan makin membenciku.
"Menikahlah denganku, Sheryl," ucap Reynand dengan suara lantang.
"Tu-tunggu, Rey! Kau tidak benar-benar yakin dengan ucapanmu, 'kan? Di sini ada ibumu, Rey!" sahutku berbisik lalu mengedarkan pandanganku pada segala penjuru ruangan. Aku takut Tante Aina menyadari apa yang sedang terjadi.
Benar saja! Di tengah-tengah tamu undangan, aku melihat Tante Aina berjalan menghampiri kami. Bola mataku bergerak mengikuti geraknya yang makin lama makin dekat. Kemudian, ia menghentikan langkahnya itu. Memandangku dengan raut wajahnya yang selalu saja dingin.
"Mengapa kau hanya diam dan menggantung jawaban lamaran putra saya?"
"Sa-saya ...." Seketika aku menjadi gugup di depannya.
"Rey, katakan kepada calon istrimu ini kalau Mama sudah merestui dan menerima ia untuk menjadi menantu Mama."
Satu kalimat yang keluar dari mulutnya langsung membuat kedua bola mataku membulat tak percaya. Sementara Reynand yang berada di tengah-tengah kami terus menunjukkan senyum dan ekspresi penuh arti.
"Tante ...." Aku berkata lirih. Tanpa sadar buliran air mataku mengalir. Saat itu juga tangisanku pecah hingga tak sanggup untuk berkata apa-apa. Tante Aina mendekat. Ia memelukku dengan erat. Wanita itu mengusap punggungku begitu lembut. Aku dapat merasakan bagaimana perubahan sikapnya dan seketika dapat melupakan semua keangkuhannya selama ini.
"Maafkan saya, Sheryl," katanya berbisik di telingaku, "saya ingin kamu tahu kalau saya tak benar-benar membencimu. Saya hanya mencoba melindungi putra saya. Percayalah! Jika kau menjadi seorang ibu, kau akan tahu bagaimana perasaan itu."
Aku tak menyahut dengan kata-kata, melainkan hanya dengan anggukan. Tante Aina kemudian mengurai pelukannya. Ia menatapku sambil tersenyum. Wanita itu mengulurkan tangannya, menghapus air mataku yang terlanjur membanjiri pipi.
"Jadi, bagaimana?" Reynand bertanya kepadaku lagi. Menarik segaris senyumnya.
Aku menatap pria yang sangat kucintai itu. Sebuah anggukan kecil dan malu-malu menjadi jawaban. Ya! Aku dengan senang hati menerima lamaranmu.
__ADS_1