
Empat hari kemudian ....
Waktu menunjukkan pukul lima sore. Jam pulang kantor telah tiba. Aku membereskan barang-barang bawaanku dan memasukkannya ke dalam tas. Baru saja hendak melangkah keluar ruangan, ponselku tiba-tiba saja berbunyi. Nama tunanganku muncul di layar. Aku segera menjawab panggilannya.
"Iya, Sayang. Ada apa?"
"Jadi 'kan menemaniku kontrol ke dokter Mario?" tanyanya. Aku memang berjanji menemaninya kontrol ke dokter spesialis ortopedi__suami dari Tika, teman dekatku saat sekolah.
"Iya jadi, Sayang. Aku baru saja akan pulang. Tunggu aku di rumahmu," jawabku.
"Iya, jangan lama-lama," sahutnya. Suara manja Kak Baruna terdengar jelas membuatku tersenyum-senyum. Sejak bangun dari komanya, dia berubah sekali. Selalu menjadi lebih ingin diperhatikan dan tidak menerima penolakan atas keinginannya.
"Iya. Sabar dong, Sayang. Kalau kamu masih meneleponku, aku tidak bisa buru-buru pulang."
"Iya, Sayang. Aku mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu," balasku.
Kak Baruna mematikan panggilannya. Aku bergegas keluar ruangan. Viona yang melihatku keluar ruangan, segera tersenyum seraya membungkukkan tubuhnya.
"Hati-hati, Mbak Sheryl."
"Iya, kamu juga pulangnya hati-hati," ucapku balas tersenyum.
Lima menit kemudian sebuah notifikasi pesan masuk dari Kak Reza.
"Dek, bisa pulang sendiri 'kan? Kakak lupa kalau hari ini ada janji dengan Kak Dita. Papa hari ini ada meeting jam enam sore."
Aku mengembuskan napas kasar membaca pesannya. Sibuk menyalahkan Kakakku yang pelupa itu.
Kalau tahu dari tadi, 'kan aku sudah pesan taksi atau driver online.
Aku segera membalas pesannya.
"Iya. Aku bisa sendiri."
Koridor kantor menuju lift terlihat ramai. Semua karyawan berjalan cepat berlomba untuk masuk ke dalam lift yang ada sekitar empat buah itu.
Ting!
Suara lift terbuka. Aku masuk ke dalam lift. Menekan lantai dasar menuju lobi. Tidak lama lift terbuka, kemudian keluar dari lift. Berjalan dengan santai menuju pintu lobi. Seketika terperanjat melihat sosok Pak Reynand yang sedang duduk di sofa lobi.
__ADS_1
Dengan cepat, aku mengangkat telapak tangan menutupi sebagian wajahku agar tidak terlihat olehnya. Berjalan dengan terburu-buru, berharap pria itu tidak melihatku yang berjalan menghindarinya.
Pintu kaca lobi terbuka otomatis saat aku berdiri di dekatnya. Sebuah cengkeraman tangan menggapai tanganku erat.
Pak Reynand menarikku dengan kuat hingga membawaku bertemu muka dengannya. Sudah satu minggu ini dia memang tidak mencari atau menggangguku. Namun, tiba-tiba saja dia nekat datang ke kantor menemuiku dengan cara seperti ini. Tarikan tangannya yang kuat tidak mengizinkanku untuk buru-buru melepas cengkeramannya. Dia membawaku paksa masuk ke dalam pintu ruang tangga darurat.
Pak Reynand mendorong tubuhku hingga mengimpit sampai dengan batas dinding. Tatapan matanya tajam memandangku memperlihatkan sedikit pancaran kekecewaan. Dadanya terlihat naik turun, menarik dan membuang napas kasar.
Apa yang akan dia lakukan?
Aku menatap wajahnya sejenak, lalu bertanya dengan lantang, "Pak Rey, mengapa kamu membawa saya ke sini?"
Dia berusaha mengatur napasnya yang tidak beraturan. Aku tersentak kaget saat tiba-tiba saja dia merengkuhku paksa masuk dalam dadanya.
"Hei, apa yang kamu lakukan? Lepaskan saya?!" Aku memberontak dalam dekapannya. Namun, dia bergeming dan bertambah erat memelukku.
"Saya merindukanmu. Sangat merindukanmu, Sher. Bagaimana bisa kamu mengabaikan saya seperti ini? Kamu sangat jahat!" ucapnya.
Aku mendorong tubuhnya sekuat tenaga hingga ia akhirnya melepaskan pelukannya. Raut wajahnya masih menampakkan kekecewaan. Namun, hatiku sudah tidak ingin terombang-ambing pada perasaan yang tidak jelas. Aku harus tegas pada pria di hadapanku ini.
"Terimalah kenyataan walau itu pahit, Pak. Saya mencintai Baruna. Hanya dia yang akan menjadi masa depan saya. Carilah wanita lain yang dapat membahagiakan dan mencintai anda. Wanita itu bukan saya. Ingatlah, terlalu banyak orang yang akan tersakiti jika anda masih mengejar saya. Begitu pun saya, jika masih tidak bisa memutuskan ke mana hati ini berlabuh."
"Sher, kamu harus lihat dan dengar ini." Pak Reynand menunjukkan sebuah rekaman suara dan video percakapanku dengan Kayla tempo hari di kafe rumah sakit.
Aku mengamati tiap kata yang terucap dalam rekaman itu. Mataku terbelalak sangat terkejut.
"Kayla mengirimkan rekaman ini. Dia mengancamku, Sher. Dia meminta saya menikahinya atau rekaman ini akan dia rilis ke media dan akan kemungkinan bisa menghancurkan bisnis dan juga masa depan saya dan kamu."
Bagaimana bisa seorang Kayla merekam pembicaraan seperti ini? Bukankah dia tulus berteman denganku?
"Maka menikahlah dengannya dan kamu akan menjadi penyelamat hidupmu, saya, dan keluarga saya." Aku tersenyum menyeringai mendengar penjelasannya.
"Bagaimana bisa kamu mengatakan hal itu dengan mudah sedangkan ada cinta di antara kita?"
"Katakanlah jika memang itu sebuah cinta. Cinta bukan berarti anda harus memilikinya, bukan? Membiarkannya berbahagia dengan orang lain jugalah sebuah bentuk cinta, Pak." Aku menatap wajahnya serius.
Dia menarik sudut bibirnya tipis, lalu mendekat ke wajahku. Tanpa keraguan, dia menempelkan bibirnya di bibirku singkat. Aku tersentak kaget. Hanya bisa membelalakkan mata. Sontak mendorong tubuh tegapnya dan pergi dengan tergopoh-gopoh meninggalkan pria itu.
Mengapa dia selalu saja membuatku kacau?
****
__ADS_1
Baruna PoV
Jam dinding menunjukkan pukul enam lewat lima belas menit saat Sheryl tiba di kediamanku. Wajahnya tersenyum berseri menyapaku yang sudah sedari tadi duduk di ruang tamu menunggu kedatangannya.
"Sayang, maaf lama," katanya.
"Iya, tidak apa-apa," sahutku.
"Ayo kita pergi! Dokter Mario mulai praktek jam tujuh 'kan?"
"Iya, Sayang. Sebentar, aku panggil Ayah dan Bunda dulu." Aku bersiap mengambil kruk di sampingku, hendak memanggil Bunda.
"Tidak usah. Biar aku yang mencari Om dan Tante," ujarnya mencegahku berdiri.
Aku tidak menjawab. Tetap berdiri beranjak ke dalam memanggil kedua orang tuaku. Aku tidak ingin dia menganggapku lemah dengan alat bantu ini. Aku menengok ke belakang, melihat Sheryl mengikutiku berjalan dari belakang sambil tersenyum lebar.
"Aku ikut ke dalam saja," ucapnya.
Kedua orang tuaku terlihat sedang santai duduk di atas sofa memandangi layar televisi yang berisi berita terbaru hari ini. Kedatangan kami berhasil membuat mereka menoleh ke arah kami. Mereka tersenyum simpul menyadari calon menantunya sudah datang.
"Sheryl, akhirnya datang juga. Sudah makan?" tanya Bunda.
"Belum. Nanti makan di luar saja," jawabnya.
Aku mengerlingkan mata ke arah kedua orang tuaku bergantian, "Yah, Bun, aku dan Sheryl pamit ke rumah sakit, ya."
"Iya, Sayang. Semangat kontrolnya. Jangan putus asa. Kamu pasti cepat sembuh." Bunda menyemangati.
"Iya, Bar. Ikuti apa kata dokter Mario. Dia lebih tahu yang terbaik untukmu," tambah Ayah.
Aku mengangguk. Sheryl dan aku pun pamit pergi menuju rumah sakit.
Sheryl menghidupkan mesin mobilku. Dia sudah duduk di kursi kemudi dan kali ini aku menjadi penumpangnya. Aku tersenyum kecil. Sebuah pemandangan terbalik mengingat aku selalu antar jemput ke mana pun dia akan pergi, sebelum aku mengalami kecelakaan.
"Mengapa tersenyum?" tanyanya.
"Tidak. Baru kali ini aku merasakan diantar oleh seorang supir cantik," jawabku.
"Tidak masalah, penumpang tampan. Kita akan saling melengkapi selamanya," tuturnya sambil tersenyum manis.
Jawabannya membuat hatiku hangat seketika. Dia memang untukku. Belahan jiwaku. Membuat hatiku selalu berbunga-bunga berada di dekatnya. Membuat diriku kuat menjalani semua. Aku tidak akan bosan mencintai dirinya. Kami akan selalu saling melengkapi selamanya.
__ADS_1