
Sheryl Pov
"Kamu selalu seperti itu, Sheryl. Kamu selalu membelanya. Aku tak habis pikir denganmu. Jika kamu memang mencintainya, mengapa kamu dulu memilihku?!"
Baruna berteriak. Kedengarannya ia tak puas dengan jawaban yang kuberikan. Pertanyaannya membuat tubuhku mematung. Aku sangat kecewa. Rasanya rongga hatiku ingin meledak saat ini juga. Dia tak merasa bersalah sedikit pun. Bahkan saat aku memergokinya bersama Felicia, tak ada satu pun kata maaf yang meluncur dari mulutnya.
Aku menatap Baruna dengan rasa sesak yang belum mampu kuhilangkan sejak kemarin. Sakitnya masih begitu kuat merasuk di hati. Siapa yang ingin rumah tangganya berantakan? Tak ada yang mau, 'kan? Semua orang pasti ingin bahagia dalam hidupnya.
Mengapa kami jadi seperti ini? Saling menyakiti dan tak hentinya saling menuduh? Ke mana rasa saling percaya kami dulu? Apakah telah menguap dengan mudahnya ke udara? Atau sebenarnya kami terlalu terburu-buru menautkan hati hingga pondasinya mudah goyah hanya dengan sekali cobaan? Tuhan, aku sebenarnya tak ingin ini terjadi. Namun, jika harus berpisah mungkin inilah yang terbaik.
"Kamu ingin tahu jawabannya, huh? Kamu ingin tahu?" Aku balas bertanya dengan nada menantang. Baruna mengangguk geram menahan emosinya, "itu karena aku mencintaimu. Aku memilihmu. Aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersamamu!"
"Lalu kenapa harus seperti ini, Sheryl? Mengapa?!"
"Jujur saja, ketika kamu menutupi fakta tentang Rafael dan mengabaikanku saat itu, Rey datang memberikan kenyamanan untukku yang sedang hamil. Aku sudah berusaha menghindar darinya. Menjaga diri dan hati darinya. Namun seperti katamu, aku memang berada di pihak yang salah. Aku telah gagal menjaga jarak darinya. Aku juga gagal menjaga hatiku sendiri. Dan kini kuakui kalau aku telah gagal menjadi seorang istri karena membiarkan suaminya diambil oleh wanita lain," jawabku dengan gemuruh yang menggebu dalam dada. Hati ini sudah terlanjur meledak mengakui semuanya.
Setelah meluapkan semuanya, kami berdua sama-sama termangu dalam diam beberapa jenak. Tak lama, Baruna dengan alis terangkat dan bibir yang terlipat ke dalam tiba-tiba mengangguk-anggukkan kepala.
"Ya... ya... baiklah. Kini aku mengerti. Kita berpisah saja, Sheryl."
Aku menarik seulas senyum kecut. "Semoga kamu, Fely, dan Rafael bahagia."
Tak ada tanggapan apa-apa dari mulut Baruna. Aku pun segera berlalu dari hadapan ia dengan membawa lukisan diri yang sebenarnya tak ingin kulihat. Ya. Lukisan itu mengingatkan diriku akan kehamilan dan tentu saja calon anakku.
Dengan langkah lesu, aku menutup pintu kamar. Terduduk mengembuskan napas berat. Buliran air mataku kembali menggelinang. Cepat-cepat kuseka dengan punggung tangan.
"Kau pasti bisa melalui ini, Sheryl. Kau kuat!" gumamku lalu merogoh ke dalam saku, hendak mengambil ponsel.
Pandanganku membeliak begitu menyadari layar ponsel yang masih menyala dengan detik yang terus menghitung maju. Nama Reynand masih ada di sana.
Haish! Apa panggilan ini terus tersambung sejak tadi? Dasar sial!
Aku mengutuk diriku dalam hati. Dengan segera aku mematikan ponsel, lalu membanting benda itu di atas kasur.
Tak punya otak! Kau benar-benar bodoh, Sheryl! Kau membiarkan Rey mendengarkan seluruh percakapan itu.
"Aaaa!" Aku berteriak dengan posisi wajah yang menelungkup pada bantal, kemudian menggeram sendirian. Rasa sedih, marah, kecewa, dan malu kurasakan dengan amat sangat.
__ADS_1
***
Reynand Pov
Tut-tut-tut!
Panggilan itu terputus. Aku menunduk bingung. Setelah mendengarkan semua percakapan itu, entah apa yang harus kulakukan? Kenyataannya, Baruna benar-benar berselingkuh dari Sheryl. Dan yang mengejutkan, Sheryl mengakui perasaannya terhadapku di depan suaminya sendiri. Mereka benar-benar akan berpisah.
Terlepas dari isi surat Freddy yang tidak kuketahui isinya, jujur saja aku merasa senang Sheryl berani mengakui seluruh isi hatinya kepada Baruna. Namun, di sisi lain aku juga sedih karena tahu dia pasti juga merasakan kesedihan yang mendalam. Bagaimanapun, tak ada yang ingin rumah tangganya hancur, 'kan? Namun faktanya, kehancuran yang terjadi pada rumah tangga mereka tak luput dari sikapku yang tak tahu malu. Bersikeras mengejar Sheryl hingga dinding pertahanan hatinya roboh.
Ah, tidak! Itu salah Baruna. Baruna yang bodoh dan tak tahu malu. Aku buru-buru mengelak pernyataanku sendiri dalam hati, lalu napasku kembali mengembus pelan. Bagaimana keadaan Sheryl sekarang? Apa yang bisa kulakukan untuknya?
Aku mencoba menghubungi Sheryl sekali lagi, tapi tak tersambung. Sepertinya ia mematikan ponselnya. Gelisah? Tentu saja. Aku berada jauh darinya tanpa bisa melakukan apapun untuk sekadar menghibur Sheryl seperti yang sudah-sudah.
Waktu menunjukkan malam yang benar-benar sudah larut. Pukul setengah satu pagi waktu London. Aku tak bisa diam saja seperti apa yang Mama katakan sebelumnya untuk tetap berada di kota ini selama satu bulan.
"Persetan dengan proyek itu sekarang! Meski sebentar, aku harus kembali ke Jakarta," gumamku memutuskan sendiri.
Tanpa membuang waktu, aku berganti pakaian dan membereskan barang-barangku, memasukkannya ke dalam ransel berukuran sedang.
Langkahku terhenti saat membuka pintu kamar. Bola mataku melebar seketika. Mama yang berpiyama melipat kedua lengannya di dada, berdiri menatapku dengan sebelah sudut bibir yang terangkat.
Aku mengerling dengan gerakan bola mata yang sontak memutar ke segala sudut ruangan. Mencari alasan yang mungkin bisa kutemukan di sana.
"Ma-Mama ke-kenapa belum tidur?" Aku tergagap.
"Bagaimana bisa tidur jika putra Mama belum tidur hingga tengah malam?"
"Ck! Mama berlebihan sekali. Aku sudah dewasa, Ma," jawabku menarik segaris senyuman, lalu menambahkan kalimatku, "Sepertinya aku insomnia dan ingin berjalan-jalan sebentar keluar."
"Perlukah membawa ransel?" Mama mengerling pada ransel yang kugendong.
"I-ini …." Aku kehabisan alasan.
"Kau tidak hendak pulang ke Jakarta karena menguping percakapan mereka, 'kan?" Mama mengangkat sebelah alisnya. Dengan tepat ia dapat menjelaskan alasanku memakai ransel.
"Mama mendengarnya?" Pandanganku membulat seketika.
__ADS_1
"Sedikit. Kau lupa menutup pintumu, Rey."
"Aku harus kembali ke Jakarta," kataku begitu bersikeras.
"Tidak boleh! Kehadiranmu akan membuat situasi mereka makin rumit!" tegas Mama. Kali ini aku melihat keteguhan dalam pandangan matanya. Ia benar-benar melarangku.
"Tapi-"
"Kau harus sadar, Rey. Ini semua salahmu! Kau membuat rumah tangga adikmu itu hancur!" Mama membalas dengan nada meninggi.
"Tidak sepenuhnya! Baruna yang bodoh! Aku telah mengalah dan membiarkan ia bahagia dengan Sheryl, tapi kenapa dia menyia-nyiakannya?!"
Aku menyahut Mama dengan suara tak kalah meninggi. Tanpa sadar, dalam hitungan sepersekian detik aku langsung merasakan pipiku sakit dan memanas. Mataku membulat penuh menatap Mama yang melayangkan satu tamparan keras untukku.
"Mengapa Mama menamparku?!"
"Agar kau sadar! Kau tidak boleh menemuinya. Tidak! Mama tidak rela kau terus merendahkan dirimu di depan wanita itu!"
Napasku terasa memburu, mengembang dan mengempis dengan cepat. Mama berubah marah. Sangat marah.
Melihat ekspresi Mama membuatku menelan ludah beberapa kali. Aku sadar tak bisa melawannya saat ini. Kami sama-sama dikuasai oleh emosi. Kakiku sontak melemas. Tanpa kata, membalik badan kembali ke dalam kamar.
"Urungkan niatmu, Rey! Kau pasti bisa melupakannya! Dia hanya mempermainkan perasaanmu! Sheryl tak akan bisa membuatmu bahagia!" Mama kembali berteriak. Suaranya terdengar kencang meski aku menutup kedua telingaku dengan telapak tangan. Tanpa sadar, air mataku mengalir deras.
Boleh kali main tebak2an ending. Ada 4 pilihan sekarang.
a. Sheryl balik sama Baruna
b. Sheryl jadian sama Reynand
c. Sheryl milih sendirian
d. Sheryl balik ke cinta pertamanya
Kasih alurnya juga, ya. wkwkwk.
__ADS_1
Komen, yah!