Marriage Order

Marriage Order
S2 Emosi


__ADS_3

Reynand PoV


Tepat pukul setengah sepuluh aku tiba di rumah Mama. Segera melangkahkan kaki dan mengetuk pintu utama. Pintu terbuka, Bi Marni membukakannya untukku.


"Apa Mama sudah tidur, Bi?" tanyaku seraya melangkah masuk ke dalam.


"Ibu Aina sudah tidur. Mbak Dira dan Mas Daniel juga sudah di kamarnya. Bibir Mas Rey kenapa biru seperti itu? Habis berkelahi?" tanya Bu Marni.


"Tidak apa, Bi. Hanya luka kecil. Nanti juga sembuh," jawabku menenangkan.


"Sebentar Bibi ambilkan air es untuk mengompres. Bibi takut luka itu akan membengkak besok." Bi Marni berjalan ke dapur.


Aku duduk di sofa ruang tamu menunggunya. Tidak lama kemudian, dia membawa sebuah baskom berisi air es dan waslap dan menaruhnya di atas meja.


Bi Marni memeras waslap dan hendak menempelkan benda itu ke sudut bibirku. Namun aku segera mencegahnya.


"Tidak perlu, Bi. Biar aku yang menempelkannya," tolakku halus.


Bi Marni mengangguk. Dia terus memperhatikanku yang sibuk menempelkan dan memeras waslap berkali-kali.


"Bibi tidur saja. Aku bisa sendiri," ucapku.


"Ehm .... Mas Rey mau menginap?" tanyanya tiba-tiba.


"Sepertinya, Bi."


"Baguslah. Kasian Mama, Mas, akhir-akhir ini sepertinya kurang sehat. Dalam seminggu paling hanya dua atau tiga kali ke kantor."


"Iya, aku tahu," sahutku. Setiap hari aku memang mendapatkan kabar terbaru dari Indira mengenai keadaan Mama.


"Kamar Mas Rey sudah Bibi rapikan setiap hari. Kamarnya bisa langsung ditempati."


"Terima kasih, Bi."


"Sama-sama, Mas."


Bi Marni tersenyum, kemudian bangkit berdiri meninggalkanku di ruang tamu. Aku menghela napas dengan kepala menengadah ke atas langit-langit. Rencana untuk berbicara malam ini kandas.


Sepuluh menit kemudian, aku masuk ke dalam kamarku yang berada di lantai dua. Suasananya belum berubah dengan nuansa warna biru menghiasinya.


Rebahan. Itu yang kulakukan pertama kali. Teringat notifikasi aplikasi chatting dari Sheryl yang masuk ke ponselku. Segera kukeluarkan benda pipih itu dari balik saku jaket.


"Puas kamu menghancurkan masa depan saya dan Baruna!"


Aku tersenyum kecil membaca pesan itu dan buru-buru membalasnya.


"Bahkan jika Tuhan berkendak, saat ini pun kamu bisa menjadi milik saya."


Tidak lama pesan darinya datang kembali.


"Dasar kurang ajar! Saya tidak akan pernah mau menjadi istrimu. Saya menyesal pernah mengatakan mencintaimu. Entah kerasukan setan apa bisa mengatakan hal itu."


Aku kembali mengetikkan pesan.

__ADS_1


"Katakan itu pada Papamu nanti. Dia sendiri yang menyuruh kita untuk menikah. Tanpa kamu katakan pun, saya tahu kamu ada perasaan terhadap saya."


Lama pesan terakhir itu kukirim, tapi tidak ada balasan. Aku menarik napas dalam-dalam dan membuangnya. Selalu teringat akan dirinya. Bayangan wanita cantik yang selalu menari-nari di dalam kepalaku. Tidak lama kemudian segera terlelap karena kelelahan.


Hari Minggu pagi pukul 09.00 ....


Tok-tok-tok!


Terdengar suara ketukan pintu kamar tidak juga mau berhenti. Aku membuka mataku. Segera beranjak dari tempat tidur dan membuka pintu. Mama berdiri di hadapan dan sontak memelukku.


Aku terdiam sejenak lalu membalas pelukannya. Mencium puncak kepala wanita yang paling kuhormati itu. Kepala Mama mendongak melihat wajahku. Kemudian kening itu mengernyit


"Siapa yang memukulmu?" tanya Mama.


"Tidak sengaja terbentur pintu, Ma," jawabku berbohong.


"Makanya hati-hati kalau jalan," nasihatnya.


"Iya. Aku sedang tidak fokus saja, Ma."


"Rey, tinggallah di sini. Jangan pergi lagi. Kamu memang anak Mama. Anak Mama yang nakal. Namun, tanpa adanya kamu, Mama jadi kesepian dan sakit-sakitan," katanya tiba-tiba. "Apapun, semuanya, Mama turuti. Asal kamu pindah lagi ke sini," tambah Mama.


"Benarkah?"


"Iya!" jawab Mama tegas.


"Aku akan menikah dengan Sheryl. Maukah Mama membantuku mengeluarkan harta Mama untuk membayar hutang keluarganya pada keluarga Asyraf?"


Mama terperangah. Terlihat sangat terkejut mendengarku. Kemudian dia memejamkan matanya sejenak. Bulir air mata mengalir tiba-tiba.


"Tapi Mama menangis? Apa Mama tidak rela?" Aku memperhatikan wajahnya yang menunjukkan kekecewaan.


"Mama tidak rela kamu menjadi penjahatnya. Penjahat di antara hubungan mereka," sahutnya seraya menyeka air mata.


"Ini yang Mama ajarkan padaku sejak kecil, bukan? Memupuk rasa dendam dan kasih sayang secara berdampingan?" Aku memandang wajahnya.


"Bertanggungjawablah atas perbuatanmu. Baruna tidak pantas mendapatkan wanita yang sudah tidak suci lagi." Mama kembali memeluk tubuhku. Kali ini tangisnya pecah. Entah mengapa. Begitu banyak pertanyaan di kepalaku. Hingga aku lupa bagaimana caranya bertanya.


"Aku sayang, Mama," bisikku.


Mama melepas pelukannya. Dia menatapku dengan sebuah senyuman hangat.


"Mama akan membatalkan rencana pertunanganmu dengan Kayla pada Tante Clarissa," ucapnya.


"Terima kasih, Ma," sahutku.


Mama membalik badannya pergi keluar. Aku menutup pintu. Senyumku mengembang. Mama akhirnya menyetujui hubungan kami.


****


Kayla PoV


Aku baru akan keluar kamar saat Mama tiba-tiba masuk ke dalam kamarku. Wajahnya terlihat cemas dan kecewa.

__ADS_1


Mama kemudian berkata, "Kay, kamu harus menguatkan hatimu kembali. Tante Aina memutuskan rencana pertunanganmu dan Reynand. Dia bilang, Reynand akan menikah dengan wanita pilihannya."


Aku bergeming sejenak. Menelan ludah, menunjukkan kekecewaan. Sebenarnya aku sudah tahu hasilnya akan seperti ini dan akan selalu mengandalkan Tante Aina sebagai tameng hubunganku dengan Reynand. Namun, jika sudah seperti ini siapa lagi yang bisa menjadi tamengku?


"Siapa wanita itu?"


"Tante Aina tidak memberitahukannya."


Pasti Sheryl! Tapi, kenapa Tante Aina bisa merestui hubungan mereka? Apa Sheryl hamil? Berita kehamilannya akan semakin bagus jika kutambahkan di dalam rencanaku. Aku tidak peduli lagi.


Aku menghampiri Mama dan memeluknya seraya berbisik, "Ma, aku tidak apa-apa. Jangan khawatirkan aku."


Mama membalas pelukanku. Dia menatapku sambil tersenyum, "Kamu tidak cocok untuk pria seperti Reynand. Masih ada lelaki lain yang lebih baik yang akan segera meminangmu."


Aku tidak menjawab. Meraih tangan Mama dan melangkah keluar kamar. Kami berjalan bersama. Menoleh ke arah ruang tengah, tampak Papa sedang duduk santai. Kami pun menghampirinya. Mama mendudukkan dirinya di atas sofa.


"Pa, aku berangkat!" pamitku.


Papa mengerlingkan matanya. Dia menatapku sejenak.


"Reynand bukan sosok yang pantas untuk putriku yang cantik. Kamu tidak perlu mengkhawatirkan siapa jodohmu hanya karena lelaki itu memilih gadis lain, Kay," ucap Papa.


Aku mengangguk kemudian mencium punggung tangan Papa dan Mama bergantian. Segera berjalan keluar pintu utama rumah dan masuk ke dalam mobil.


Aku mengambil ponsel dari dalam tas, lalu menelepon Anita–manajerku. Tidak lama kemudian, dia menjawabnya.


"Halo, Kay. Kamu di mana? Aku sudah di stasiun televisi N. Jangan sampai telat."


"Nit, aku baru akan berangkat. Aku minta tolong, pastikan rekaman yang pernah aku kasih ke kamu itu segera rilis ke media bisnis dan entertainment. Aku tidak mau tahu bagaimana caranya. Harus benar-benar viral. Kalau bisa tambahkan juga, wanita itu tengah hamil sekarang."


"Kamu sudah gila, Kay! Kamu yakin?" tanya Anita.


"Iya, aku yakin sekali. Tidak ada keraguan sedikit pun, melainkan ingin menghancurkan nama baik mereka semua."


"Kay, kalau aku ada apa-apa. Kamu yang harus tanggung jawab."


"Iya, Nita," jawabku.


Aku segera mengakhiri panggilanku. Segera mencari nama Sheryl di menu telepon, kemudian meneleponnya.


"Halo, Kay," lirihnya terdengar tidak bersemangat.


"Wow! Kamu memang keren, Sher. Bisa mendapatkan dua hati lelaki bersamaan," sindirku.


"Kayla, aku tidak pernah mengharapkan hal seperti ini terjadi di hidupku."


"Teman makan teman memang tidak akan pernah mengaku. Kamu bukanlah temanku. Hanya wanita murahan yang telah sukarela menyerahkan dirinya kepada kekasih temannya." Aku menyindirnya dengan kata-kata yang lebih pedas.


"Terserah kamu anggap aku bagaimana. Aku tidak ingin menikah dengan Reynand. Aku tidak mau. Dia sudah menghancurkan mimpi-mimpiku bersama Baruna–,"


"Masih bisa juga kamu membawa-bawa nama Baruna? Pria yang tidak tahu apa-apa mengenai perselingkuhan kalian. Sungguh wanita yang tidak tahu diri. Aku muak padamu!"


"Kay–,"

__ADS_1


Aku memotong perkataannya dan memutus telepon.


Segera kuinjak gas memacu mobilku berjalan keluar garasi rumah. Aku sangat dongkol pada Sheryl dan Reynand, pasangan liar tidak tahu malu.


__ADS_2