
Aku, Irene, dan Wildan masih duduk di kantin menikmati makan siang kami saat tiba-tiba telepon dari kurir layanan pesan antar makanan menelepon mengatakan pesanan makananku untuk Pak Reynand sudah datang.
"Mau ke mana Sher?" tanya Irene yang melihatku bangkit dari tempat duduk.
"Ambil pesanan Pak Reynand," jawabku.
"Aduh itu bos ya, di jam istirahat masih saja mengganggu anak buah. Jangan-jangan ada apa-apanya," celetuk Wildan sinis.
"Wildan jangan begitu dong. Lo kalau masih ada masalah sama Sheryl ya diselesaikan baik-baik." Irene menatap Wildan.
Wildan hanya menoleh Irene sambil mengangkat bahunya.
"Sudah, Ren. Gue enggak apa-apa." Aku lalu beranjak dari tempat dudukku segera menuju meja resepsionis mengambil pesanan Pak Reynand.
"Mana Mbak pesanan untukku?" tanyaku saat aku tiba di meja resepsionis.
"Ini." Mbak Maya menyodorkan bungkusan sushi ke hadapanku, "Makanan dari mana lagi nih Mbak?"
"Dengar ya, aku tidak punya kewajiban untuk menjawab pertanyaan Mbak Maya."
Mbak Maya lalu diam tidak berkata apa-apa lagi. Bibirnya mengerucut tanda tidak suka. Aku pergi berlalu meninggalkannya tanpa berkata apa-apa lagi.
"Iiishh .... Jadi orang kok kepo banget urusan orang lain," gumamku kesal.
Aku mengetuk pintu ruang kerja Pak Reynand tapi tidak ada jawaban. Aku lalu masuk tapi tidak melihat batang hidungnya. Dia tidak ada di ruangannya. Terdengar suara gemercik air dari toilet pribadinya.
Tiba-tiba terdengar bunyi dering ponsel dari mejanya. Tidak sengaja aku melihat sebuah nama yang tidak asing di layar ponselnya. Tertera nama Indira. Aku buru-buru keluar ruangan saat mendengar suara pintu toilet akan dibuka.
Aku duduk di meja kerjaku. Napasku masih terengah-engah setelah lari dengan cepat keluar dari ruangan Pak Reynand. Ponselku yang berdering tiba-tiba membuatku lebih terkejut. Aku hampir menjatuhkan ponsel sendiri. Panggilan itu dari Kak Baruna.
"Ha-ha-halo Kak."
"Kenapa gugup begitu? Kamu seperti habis dikejar setan."
"Ah, tidak ada apa-apa. Ada apa, Kak?"
"Maaf ya hari ini aku tidak bisa jemput. Nanti aku minta tolong Pak Wicak asistenku yang jemput kamu."
"Tidak usah, Kak. Aku juga nanti mau mampir dulu ke suatu tempat."
"Mampir ke mana?"
"Kafe X. Orang yang suka kirim-kirim paket itu tiba-tiba ingin ketemu jam enam sore ini."
"Kamu sendiri?"
"Iya. Kenapa?"
"Jangan pergi! Kalau dia orang jahat bagaimana?"
"Tapi dia seperti menerorku dengan paket-paket itu."
"Pokoknya jangan pergi kalau tanpa aku. Kamu kan tidak tahu sedang berurusan dengan siapa."
"Iya sih ...."
"Kamu tidak perlu pedulikan paket-paket itu. Kalau orang itu sudah berbuat lebih jauh dia harus berhadapan denganku."
"Iya Kak. Bicara denganmu membuatku lebih lega. Aku memang butuh masukan."
"Iya jangan pergi ya. Ngomong-ngomong kamu bisa tidak memanggilku dengan sebutan lain?"
__ADS_1
"Maksud Kakak?"
"Panggilan yang lebih intim mungkin."
"Kakak mau kupanggil apa?"
"Say ...."
Aku memotong perkataan Kak Baruna. Panggilan teleponnya aku matikan. Melihat Pak Reynand yang tiba-tiba keluar dari ruangannya. Kemudian ponsel itu terus berbunyi, Kak Baruna terus meneleponku. Namun, aku terus menolak panggilannya.
"Kenapa tidak kamu angkat? Mungkin telepon penting," ucap Pak Reynand.
"Ah, tidak Pak. Nanti aku telepon balik saja." jawabku.
Tidak lama terdengar suara sebuah notifikasi pesan masuk. Aku sedikit melirik ponselku. Pesan dari Kak Baruna.
"Sheryl, saya minta laporan tim marketing bulan ini sampai dengan tanggal kemarin."
"Baik, Pak."
Pak Reynand kemudian masuk lagi ke dalam ruangannya. Aku menarik napas lega. Untung saja aku tidak tertangkap basah sedang telepon bermesra-mesraan di jam kantor. Aku lalu membaca pesan dari Kak Baruna.
"Kenapa menolak teleponku? Kamu marah? Pokoknya jangan sampai bertemu orang itu."
Aku membalas pesannya.
"Maaf, tadi ada Pak Reynand. Aku tidak marah. Aku juga tidak akan bertemu dengan orang itu."
Siang itu aku sibuk mengerjakan tugas-tugas yang diberikan Pak Reynand. Sesekali aku melirik layar ponsel menunggu pesan balasan dari Kak Baruna yang tidak kunjung datang.
"Pak Wicak jadi tidak ya menjemputku?" Aku bertanya-tanya sendiri. Aku mencoba menelepon Kak Baruna tapi dia tidak mengangkatnya.
Sampai pada akhir jam kerja Kak Baruna tidak menghubungiku dan tidak ada pesan yang masuk sama sekali. Terakhir dia melihat aplikasi pesannya sekitar tiga jam yang lalu.
Sepuluh menit kemudian tiba-tiba datang sebuah mobil yang sudah kukenal, mobil Kak Baruna yang berhenti di luar lobi. Sesorang pria berumur sekitar empat puluh tahun keluar dari mobil itu. Dia masuk ke dalam lobi dan menghampiriku yang masih duduk di sebuah sofa.
"Mbak Sheryl, saya yang akan antar anda pulang ke rumah sore ini."
"Bapak Wicak?"
"Iya, Mbak. Tadi Mas Baruna yang minta tolong saya."
"Tapi saya sudah menghubungi supir saya Pak, dan dia sudah di jalan."
"Oh gitu ya?" Pak Wicak terlihat kebingungan.
"Kalau begitu saya hubungi supir saya dulu."
Aku menelepon Pak Erwin. Nada sambung itu terdengar lama sekali hingga akhirnya diangkat.
"Ada apa, Non?"
"Maaf, Pak. Saya pulang dengan asisten Pak Baruna. Jadi Pak Erwin bisa putar balik saja."
"Baik, Non."
Aku lalu menutup telepon dan ikut pulang bersama Pak Wicak. Sepanjang perjalanan Pak Wicak hanya diam tidak banyak berbicara. Aku mengambil ponsel dari dalam tas. Sebuah notifikasi tentang reuni SMA kembali muncul. Acara itu akan diadakan tiga hari lagi.
Benda pipih itu tiba-tiba berbunyi, sebuah nomor tidak dikenal masuk. Aku mengangkatnya.
"Halo Sheryl, gimana kabarnya? Sudah lama sekali kita tidak berjumpa." Suara seorang perempuan.
__ADS_1
"Ini siapa ya?"
"Aduh masa lupa sama gue. Gue Tika, Sher."
Aku mencoba mengingat-ingat sosok Tika. Tidak lama kemudian aku mengingatnya. Tika adalah salah satu teman SMA dan teman kampusku dulu.
"Tika temen sekolah sama kampus gue?"
"Iya. By the way hari minggu ada reuni SMA. Lo ikut, gak?"
"Belum tahu, Tik. Gue malas ikut acara itu."
"Kenapa? Ayolah kita ketemuan. Udah lama juga, 'kan?"
"Ketemuannya gak bisa janjian aja, ya?"
"Yah gak seru. Kalau reuni kan kita bisa ketemu sama teman-teman lainnya. Ayolah ikut!" Tika sedikit memaksa.
"Hhmmm .... Oke deh. Tapi enggak lama-lama ya."
"Iya. Bawa pacar lo ya."
"Pacar?"
"Iya pacar lo yang dulu di kampus, si Fandy. Masih sama dia, 'kan?"
"Udah enggak sama dia, Tik."
"Yah kok bisa? Jangan-jangan gara-gara si Wildan, ya?" tanya Tika yang memang tahu cerita tentang Fandy dan Wildan.
"Enggak. Nantilah gue ceritain."
"Sip deh. Sampai jumpa, nanti."
"Iya, Tik."
Tika lalu menutup teleponnya. Kemudian teleponku berbunyi kembali. Kali ini Kak Baruna yang meneleponku.
"Tadi kamu telepon sama siapa? Aku telepon sibuk terus."
"Temanku, Tika namanya,"
"Oh .... Kamu sudah sampai mana?" tanya Kak Baruna.
"Sebentar lagi sampai Kak."
"Hati-hati ya. Aku ada acara sore ini. Nanti malam jangan ke mana-mana ya. Aku akan datang ke rumah," ujar Kak Baruna.
"Iya Kak."
"Oh iya lanjut yang tadi, boleh aku memanggilmu dengan sebutan 'sayang' dan sebaliknya kamu pun seperti itu?" tanyanya ragu.
"Iya boleh, Kak."
"Coba ulangi."
"Sa-sa-sayang," jawabku gugup dengan wajah merona merah karena malu.
"Hehe." Terdengar suara Kak Baruna yang tertawa.
"Jangan membuatku malu," ujarku malu.
__ADS_1
"Iya maaf, sayangku."
Debaran itu semakin terasa indah saat aku dan dia yang saling memanggil dengan sebutan 'sayang'. Kasmaran itu tidak perlu ditunjukkan tapi cukup kami yang merasakan dan aku semakin yakin aku telah jatuh cinta kepadanya.