
Sheryl Pov
Baruna dan Felicia sontak menoleh ke arahku. Terlihat raut terkesiap dan panik dari keduanya. Sementara aku? Tak bisa berkata-kata lagi. Rasanya sangat pedih menyaksikan pemandangan menyakitkan ini.
"Sheryl?"
Aku mendengar Baruna menyebut namaku dengan suara yang hampir tak terdengar. Kedua orang itu bergegas turun dari tempat tidur untuk berpakaian. Felicia langsung berdiri memunggungi, sedangkan pandangan mata Baruna tak sedikitpun beralih dariku yang berdiri di ambang pintu.
"Berengsek!" umpatku berteriak dan segera menerobos masuk.
Aku meraih sebuah lampu duduk dari atas nakas. Melemparkannya dengan sangat kuat. Sayangnya, tak berhasil mengenai Felicia. Baruna malah melindungi Felicia. Dia menariknya untuk menghindar.
"Apa kalian sudah benar-benar gila, huh?!" teriakku lagi.
"Jangan bercanda! Kamu yang sudah tak waras, Sheryl! Kamu mencoba melukainya!"
Kedua mataku membola mendengar perkataan Baruna. Sungguh! Demi apapun di dunia ini, dia benar-benar telah berubah. Dimulai dari anak itu dan kini.... Aku tak sanggup bermonolog dalam hati. Aku bergeming dengan kedua sudut mata yang menggelinangkan air mata begitu deras.
"Kamu tak apa-apa 'kan, Fel?" tanya Baruna seraya mengusap-usap kedua bahunya.
Tak ada kata yang terucap dari bibir wanita itu. Dia hanya menggelengkan kepalanya pelan.
Aku melihat air muka Baruna yang tampak geram. Setelah berpakaian, suamiku berjalan menghampiri.
"Aku tak akan minta maaf kepadamu," katanya terdengar lugas, "kamu yang harus meminta maaf kepadanya. Kau hampir melukainya!"
Mendengar ucapannya membuatku makin meradang. Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Baruna.
"Aku tak menyangka kamu melakukan hal ini kepadaku." Aku menggelengkan kepala kuat-kuat, lalu mengarahkan pandangan kepada Felicia, "dan untukmu, Fely. Kau pasti senang karena akhirnya tujuanmu tercapai."
Felicia tidak menyahut. Sejak tadi hanya diam seolah tak berani berkata-kata. Air mataku kembali meluruh. Mengingat bagaimana kami saling mengenal hingga akhirnya bersahabat dan hancur karena ambisinya yang ingin memiliki suamiku.
Baruna mengusap pipinya yang memerah. Kemudian dengan matanya yang membulat bertanya kembali, "Jadi kamu sudah mengingat semuanya?"
Aku mengangguk pelan. "Ya, aku mengingat semuanya."
Baruna mendengus lalu menyeringai miring. "Sudah begini, aku tak bisa memaksamu lagi untuk menerima Rafael."
__ADS_1
Deg!
Rafael? Ya! Anak itu. Aku memang belum bisa menerimanya. Dan aku rasa tak akan bisa menerima anak itu selamanya.
"Dan aku sudah tahu siapa pria yang ada di hatimu. sudah ku katakan sebelumnya, kalau kamu bisa memilih, 'kan? Dan tanpa mengatakannya, aku sudah tahu jawabanmu."
Mataku membola tak habis pikir dengan pikirannya. "Jadi kamu masih mencurigaiku memiliki hubungan khusus dengan Rey?"
"Bagaimana bisa aku tidak mencurigaimu? Dengan mata kepalaku sendiri, aku melihat kalian berciuman di taman kala itu. Sungguh! Aku lelah. Aku tak tahu mana dirimu yang sesungguhnya. Amnesia atau tidak, pada kenyataannya hatimu selalu tertuju kepada Rey...," tutur Baruna lalu terdiam dengan tatapan yang berbeda. Cinta itu telah kandas, hampir tak terlihat.
Keningku mengerut mendengarnya. Buru-buru kuhapus air mataku. Ya! Aku memang bersalah walau aku telah mengakhiri perasaanku kepada Reynand. Bagaimanapun, perselingkuhan antara Baruna dan Felicia tak bisa dibenarkan untuk membalasku karena pada akhirnya malah saling menyakiti dan tak bisa melangkah bersama.
Beberapa saat, aku tak dapat menyahut. Kakiku pun rasanya terpaku di tempat itu. Napasku yang sesak memburu bercampur dengan berbagai emosi saat menatapnya. Dan satu kalimat yang kubenci meluncur begitu saja.
"Kalau begitu, lebih baik kita berpisah saja."
Aku tak sanggup melihat wajahnya lagi. Langkahku berbalik beringsut meninggalkannya. Ya! Mungkin ini salahku. Dan mungkin juga ini salahnya.
Rasanya seperti memasang puzzle dengan kesulitan tertinggi. Aku tak lulus sama sekali.
***
Aku telah lama mencintainya dengan cinta bertepuk sebelah tangan hingga akhirnya tepukan bersambut dan kami menikah.
"Kalau begitu, lebih baik kita berpisah saja."
Sheryl mengatakan kata perpisahan ke dua kalinya. Terdengar sangat tulus, tapi juga sangat sakit hingga suaranya bergetar. Namun dia tak menunggu jawabanku. Istriku langsung berbalik pergi begitu saja.
"Ya, kita berpisah saja, Sheryl," kataku pelan.
Saat melihat punggungnya menjauh, bukannya kehilangan, melainkan rasa lega yang menyeruak ke dalam hati. Aku sudah terlalu lama bersabar karena dia tak pernah tegas akan sikapnya kepada Reynand.
Akhirnya dengan mata kepalaku sendiri, aku menyaksikannya. Felicia memberitahuku. Mereka memadu cinta mereka di rumah kami sendiri. Saat itu aku tahu Sheryl masih sama seperti dulu. Dia masih memiliki perasaan kepada Reynand. Bahkan saat dirinya mengaku kalau dia masih amnesia.
Dia sudah memilih. Begitupun dengan diriku. Sungguh! Aku tak bisa membiarkan Rafael pergi dari hidupku. Begitu pula dengan Felicia yang lambat laun memberikan kenyamanan dan mengerti apa yang kurasakan.
Tiba-tiba lengan kurus Felicia melingkar dari belakang. Kemudian wajahnya menempel pada punggungku.
__ADS_1
"Bagaimana sekarang? Apa kamu sudah lega?" tanyanya dengan suara pelan.
"Ya, mungkin ini yang terbaik." Aku mengangguk-angguk, meski tanpa sadar bulir air mataku menetes tak tahan.
***
Reynand Pov
Suasana bandara yang ramai dan hujan deras yang tak kunjung berhenti sama sekali tak menggugah hati ini. Kami sedang berada di ruang tunggu keberangkatan luar negeri. Namun sejak tadi aku mondar-mandir tak tentu arah di depan Mama.
Bagaimana tidak? Sejak tadi hatiku resah. Benar-benar resah! Aku meninggalkan Sheryl sendirian padahal dia sedang menangis. Mama benar-benar tega.
"Rey, mau sampai kapan kau mondar-mandir begitu?" tanya Mama yang langsung menghentikan langkah dan menatap tajam ke arahnya.
"Haish! Ma, aku harus kembali!" ucapku penuh emosi.
"Kembali ke mana, huh?" Mama tampak mengernyitkan keningnya.
"Aku harus bertemu Sheryl." Aku langsung duduk di samping Mama.
"Jangan mulai lagi! Sebentar lagi kita akan pergi ke London," sahut Ibuku itu. Kerut pada dahinya makin terlihat dengan jelas.
"Dia butuh aku, Mama. Apa Mama tak lihat dia yang menangis saat memelukku?!" Aku berkata dengan semangat berapi-api.
"Rey, kau ingin pergi dan meninggalkan kesempatan ini?"
"Haish!"
Aku mengembuskan napas kesal. Kami memang akan pergi ke London untuk urusan proyek bisnis yang sangat besar. Mama memintaku datang bersamanya untuk alasan itu. Namun yang kutahu bukan hanya itu alasannya. Salah satu alasan kuatnya adalah agar aku bisa melupakan Sheryl agar dapat fokus mengembangkan bisnis Pradipta.
Aku tidak jadi masalah sampai bertemu dengannya tadi siang. Menangis dan meminta maaf dengan bibirnya yang bergetar cukup membuat benakku berpikiran macam-macam. Sungguh! Aku sama sekali tak bisa melihat dia menangis.
"Tolong jangan berubah pikiran lagi. Dalam proyek ini kau sudah sepakat untuk tinggal di sana selama satu bulan," tambah Mama lagi.
"Kepalaku masih dipenuhi olehnya, Ma," sahutku.
"Makanya kau harus fokus, Rey! Dia sudah ada yang mengurus. Lain denganmu yang bahkan tak memiliki siapapun kecuali Mama. Tolong pikirkan perasaan Mama. Hati ibu manapun akan sakit jika anaknya tersakiti," pungkas Mama yang langsung membuatku menelan ludah.
__ADS_1
--------------
Hai, gaes! Apa kabar? Maaf lama update. Kemarin ada tugas negara di tempat kerja. MO sebentar lagi tamat. Mau dibikinin sequel atau cerita lain? Hahahah! Update aja lama, janjiin cerita lain. Ini pertanyaan serius meski udh ada cerita baru di lapakku.