
Reynand Pov
"Apa kau lupa siapa aku?" sahutku balik menyerang perkataan Felicia. Kedua sudut mataku menajam menatapnya, "ini rumah ayahku. Tak ada yang aneh jika aku berada di tempat ini."
Wajah Felicia seketika memucat mendapatkan serangan yang mungkin sangat menohoknya. Dalam sekejap, dia tampak menarik mengembuskan napasnya dengan cepat.
"Ya! Semua orang juga tahu hal itu," katanya lalu menyeringai kepadaku, "semua orang juga tahu skandalmu dengan Sheryl sejak dulu. Ehm, aku jadi penasaran sejauh mana hubungan kalian? Pasti sulit mendapatkan kemajuan karena status dirinya yang sudah menikah. Lain halnya denganku, Baruna akan terus terikat karena Rafael. Dan tentu saja saat ini aku sangat bahagia karena ia mulai luluh."
"Luluh?" Seketika pandanganku menajam mendengar ucapannya.
"Apa kau pikir Baruna akan tetap bersabar menghadapi bayangan menyebalkan sepertimu? Belum lagi, ia mulai membuka mata menyadari siapa sebenarnya sosok wanita yang dinikahinya."
Aku terperanjat mendengar ucapan Felicia. Jangan-jangan mereka ....
"Hei! Apa maksud perkataanmu?!" Aku hampir berteriak menanyakan maksud kalimatnya yang menimbulkan tanda tanya.
"Ssttt! Ini akan menjadi rahasiaku dengannya," katanya berteka-teki sembari mengekeh, "sudah ya, aku mau masuk dulu." Felicia segera bangkit berdiri berbalik masuk ke dalam rumah.
Setelah Felicia pergi, aku bergeming tetap menunggu kepulangan Sheryl di teras. Tanda tanya besar muncul dalam benakku. Apa iya kekhawatiranku selama ini akhirnya terbukti? Mereka ada main di belakang Sheryl.
Haish! Perkataan Felicia benar-benar membuatku cemas.
Satu jam kemudian, mobil yang membawa Sheryl dan Baruna memasuki halaman. Aku sontak bangkit kala pasangan suami istri itu keluar dari mobil berjalan ke arahku.
"Ngapain lo berdiri di sini?" Baruna bertanya dengan nada suaranya yang terdengar dingin.
"Menunggu Sheryl." Aku mengarahkan pandanganku pada wanita yang berdiri di samping Baruna. Dia hanya menatap tanpa kata.
Baruna tersenyum, menoleh istrinya. "Pria ini menunggumu. Apa kamu memilki janji dengannya?"
"Tidak." Sheryl menggeleng pelan.
"Lo dengar sendiri, 'kan? Sheryl gak punya janji apa-apa sama lo."
"Gue mau ngomong sama dia." Aku masih bergeming di tempat itu menunggu respon Sheryl yang membuatku bertanya-tanya apa yang membuat ia meneleponku sore tadi.
"Kamu mau berbicara dengannya?" Baruna bertanya lagi.
"Bolehkah?" sahut Sheryl menatap suaminya dengan raut wajah sedikit berbeda. Entah apa yang ada di pikirannya.
__ADS_1
"Silakan saja. Aku telah memberikanmu pilihan, bukan?"
"Ya, Mas." Sheryl mengangguk.
Baruna tak berkata apa-apa lagi. Ia membebaskan kami untuk berbicara. Langkah kakinya melangkah santai masuk ke dalam rumah.
"Jangan berbicara di sini. Ayo kita pergi ke tempat lain," ucapku pada Sheryl.
Sheryl hanya mengangguk setuju mengikuti langkahku yang beringsut menuju bangku panjang taman belakang rumah.
"Mau bicara apa Rey?" tanya Sheryl.
"Mengapa tadi sore kau menelponku berkali-kali?" Aku balas bertanya.
"Itu ...." Sheryl menggantung kalimatnya terdiam sejenak, "apa kau tahu kalau Kayla sudah memiliki seorang kekasih?"
"Kau mengingat Kayla?" Seketika bola mataku melebar menatapnya.
Sheryl mengangguk. "Aku teringat sosoknya saat tak sengaja melihat sebuah kabar entertainment menyiarkan tentang hubungannya dengan seorang pria di televisi."
Napasku tertahan. Mungkinkah ingatan Sheryl sudah kembali sepenuhnya?
"Kau tidak apa-apa mengetahui kabar itu?"
Aku menghela napas panjang. "Biarkan Kay mencari kebahagiaannya sendiri. Dan aku mencari kebahagiaanku."
"Kebahagiaanmu?"
"Kau!" jawabku spontan lalu terdiam sejenak. Sheryl menatapku begitu dalam. Membuat seluruh unek-unek dalam hati keluar begitu saja, "Aku minta maaf karena telah mengabaikanmu. Kau tahu, teleponmu yang berkali-kali itu tak bisa kujawab karena aku sangat sibuk hari ini. Aku pikir kau menelponku karena sedang berada dalam kesulitan. Ternyata kau malah.... Haish! Kau tidak tahu seberapa cemasnya aku menunggu!"
"Maaf...," sahut Sheryl dengan pandangan mata berkaca-kaca.
Memandang wajahnya membuatku tak bisa menahan lagi segala perasaan hasrat terpendam dalam hati. Wajahku mendekat. Seketika jemariku menyentuh wajahnya. Tanpa ragu lagi menarik tengkuknya hingga kami bibir kami saling menyapu dan memagut lembut. Tak kusangka dia membalas ciumanku dengan cara yang sama.
Tak lama kemudian, ia melepaskan ciuman itu. "Tidak, Rey. Ini salah. Meskipun saat ini rasanya aku hanya ingin waktu berhenti untuk sekadar memilikimu." Napas Sheryl begitu menderu mengatakan kalimatnya. Terlihat sekali betapa gugup dirinya.
"Kau bisa berpisah dengan Baruna!"
"Tidak. Jika ingatanku kembali, bagaimana aku harus menghadapi diriku, dirinya, dan juga perasaanku nantinya? Bagaimanapun, saat ini dia adalah suamiku yang harus kuhargai. Aku telah salah karena bersikap dingin kepadanya. Dan kali ini malah ...."
__ADS_1
Deg!
Jantungku bergemuruh hebat mendengar perkataannya. Seperti petir yang hadir di musim kemarau yang panjang. Rasanya tak akan ada celah untukku dan dirinya bersatu.
"Tapi bagaimana jika Baruna telah berkhianat, Sher!"
"Lalu apa yang baru saja kita lakukan?! Bukankah sama saja?!" Sheryl menangis. Ya! Dia meneteskan air matanya.
Aku sangat geram. Ingin rasanya membongkar semua yang terjadi. Hubungan Baruna dan Felicia, lalu Rafael. Namun ancaman ayah membuatku ragu seketika dan hanya bisa diam memandang wanita di depanku itu.
Sheryl menatap dengan raut wajah yang tampak cemas. Air matanya menggelinang tanpa hambatan. Dia kemudian menunduk, menyeka air matanya sendiri.
Aku kembali mengehela napas. Rasanya kembali sesak melihat dirinya menangis. Tanganku kemudian terulur membelai rambutnya.
"Aku ingin kau bisa jujur kepada dirimu sendiri, Sher," ujarku.
Sheryl menegakkan badan. Seketika bernapas teratur berusaha menenangkan dirinya. "Ini semua membuatku bingung. Hatiku terus menyalahkanku karena tidak memilihmu. Tapi aku sendiri tak mengerti alasannya. Aku tak mungkin menikah dengan seseorang yang tak kucintai, 'kan?"
"Jawab pertanyaanku dengan jujur. Apa kau merasa bahagia saat bersamaku?"
Aku menatapnya begitu dekat. Menunggu jawaban Sheryl membuat jantungku berdetak sangat hebat.
"Ya, aku bahagia," jawabnya cepat. Jawaban yang membuat diriku seperti terbang ke awan, "tapi aku berniat mengakhirinya sekarang juga."
Jatuh! Dia membuatku kembali terjatuh.
***
Sheryl Pov
Keesokan harinya ....
Aku menarik laci meja rias. Mengambil sebuah kotak beludru kecil berwarna biru tua dan membuka isinya. Menatap sebuah kalung permata pemberian Baruna saat kami makan malam kala itu.
Teringat percakapan kami kala itu yang membuatku berpikir dan tiba-tiba memiliki sebuah rencana.
"Aku ingin memberikanmu hadiah," ujar Baruna kemudian mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Sebuah kotak kecil perhiasan berwarna biru tua. Ia kemudian membuka isinya. Sebuah kalung permata yang sangat indah. "Aku ingin kamu menerimanya."
Aku terdiam memandang benda itu. "Sebelum ingatanku kembali, rasanya aku tak bisa menerimanya."
__ADS_1
"Tak ada salahnya memberikan hadiah untuk istrinya sendiri. Terima, ya!" Aku terpaksa menerima kotak kecil itu. Baruna tersenyum. "Kamu bisa memakainya bila kamu berubah pikiran. Sejujurnya, aku ingin terus bersamamu untuk memperbaiki semuanya."