Marriage Order

Marriage Order
S3 Pengakuan Baruna


__ADS_3

Sheryl Pov


Reynand menghentikan laju mobilnya tepat di halaman rumah. Aku bergeming sesaat. Pandanganku masih menatap lurus ke depan. Bukan sebuah pandangan fokus, melainkan sebuah pandangan kosong.


"Sher, kita sudah sampai rumahmu," katanya yang langsung membuatku menoleh.


"Terima kasih sudah mengantar, Rey," sahutku menyunggingkan segaris senyum pudar untuknya.


"Ya. Maaf, ya. Karena aku, kau jadi melihat sesuatu yang menyakitkan."


"Tidak apa. Untung saja aku melihatnya. Fely bukan sahabat yang baik. Dan Baruna ...."


Aku tidak sanggup meneruskan perkataanku. Sebaliknya, aku masih menganggap Baruna adalah suami yang baik. Namun yang masih membuatku tak habis pikir, mengapa dia membiarkan Felicia menciumnya?


"Tidak perlu kau teruskan. Pulang dan istirahatlah." Reynand mengulas senyum pada wajahnya. Keangkuhannya dulu sepertinya mulai menghilang. Dibanding memasang wajah angkuh, dia lebih banyak mengangkat kedua sudut bibirnya.


Aku tidak menyahut perkataannya. Dengan segera membuka pintu mobil dan keluar dari sedan putih miliknya. Kemudian tanpa menoleh lagi, aku berjalan menuju pintu utama kediaman kedua orang tuaku. Ya! Daripada berada di kediaman Asyraf sendirian, aku lebih memilih untuk tinggal dengan keluargaku sementara waktu.


Kak Reza terlihat duduk di teras. Sorotnya terlihat tajam mengarah padaku. Saat menginjakkan kaki di depannya, dia langsung bangkit berdiri.


"Mana Baruna? Mengapa Reynand yang mengantarmu?" Dia mengerling. Sepertinya Kak Reza memperhatikan mobil Reynand sejak memasuki halaman.


"Baruna masih di Jepang. Aku pulang bersama Rey," jawabku.


"Kau pergi ke Jepang dengan Reynand?!" tanyanya dengan nada suaranya yang sedikit meninggi. Tampak sekali keterkejutan pada air mukanya.


"Iya." Aku mengangguk pelan. Lelah sekali. Ingin rasanya cepat-cepat merebahkan diri di atas kasur.


Kak Reza menggelengkan kepalanya. Aku bisa membaca pikiran kakakku satu-satunya itu. Sebelum ia kembali mengoceh, aku segera memotong ucapannya.


"Kami tidak memiliki hubungan apa-apa. Tolong jangan menuduh seperti Baruna menuduh kami," tambahku menatapnya sinis.


Mendengar ucapanku, Kak Reza sontak mengatupkan kedua rahangnya. Aku tidak peduli dengan reaksinya. Dengan cepat, bergegas masuk ke dalam.


Papa dan Mama sudah tidur. Wajar saja, karena waktu sudah menunjukkan tengah malam. Aku membaringkan tubuhku di atas kasur. Mataku terbuka lebar memandang langit-langit yang tak bersuara.

__ADS_1


Keterlaluan sekali .... Sejak tiba di Narita hingga tiba di rumah, tak ada telepon atau pesan chat dari Baruna.


Aku segera meraih ponselku. Tak tahan rasanya dengan kondisi seperti ini. Dengan menurunkan sedikit rasa ego, jempolku pun mulai menari di atas layar.


[Aku sudah di rumah Mama. Kamu sedang apa? Bagaimana keadaan Ayah?]


Aku menunggu cukup lama, tapi pesan chat itu tak juga dibalasnya hingga aku pun mengantuk dan akhirnya tertidur.


***


Baruna Pov


Keesokan harinya ....


Waktu di Tokyo hampir menunjukkan tengah malam. Ditemani oleh kepulan asap yang keluar dari mulut, aku pun termenung sendirian.


Perkataan Reynand terus terngiang di kepalaku. Aku sadar sikap yang dingin tadi siang mungkin saja akan membekukan hati Sheryl. Atau yang paling buruk, dia mungkin akan berhenti mencintaiku.


Bukannya aku tidak peduli, tapi hatiku masih enggan menyapanya terlebih dulu. Apalagi mengingat kesalahannya yang telah berhubungan intim dengan Reynand dulu kembali membayangiku. Padahal pada kenyataannya jika dibandingkan, kami memiliki kesalahan yang sama.


Pikiran dan hati saling bertentangan. Pikiranku dengan cepat menyanggah, sedangkan hatiku mengiyakan. Walau kejadiannya mirip, kenyataannya hal itu sangat berbeda. Nasib sial yang malah datang menghampiriku.


Aku sedang berada di sebuah kafe dekat dengan rumah sakit. Duduk di sekeliling para perokok di tempat itu. Di atas meja terdapat segelas besar bir yang kupesan. Namun aku belum menyentuhnya dan malah menikmati sebatang rokok yang terlanjur menyala.


Tanpa sengaja, aku mengerling ke arah tangga kafe lantai dua. Sosok Felicia tiba-tiba saja muncul. Pandangannya kemudian mengedar. Aku bisa menebaknya. Dia pasti mencariku.


Tak butuh waktu lama bagi Felicia untuk menemukanku. Saat ini dia seperti setan yang menghantui. Ke mana pun aku pergi, dia selalu saja muncul di dekatku.


Setelah pandangan kami saling bertemu, dia melambaikan tangannya, lalu berjalan menghampiri.


"Apa yang sedang kau lakukan di sini?" Felicia menegur seraya menarik kursi di dekatnya. Ia lalu duduk di depanku tanpa izin.


"Mengapa kau bisa ada di sini?" tanyaku dingin.


"Ibumu yang memberi tahu."

__ADS_1


Aku mendengus, menyeringai miring di depannya. Aku memang memberitahu Bunda akan ke mana, tapi lupa memberitahu ia agar tidak memberitahu siapapun tentang keberadaanku.


"Ini sudah malam. Kau sungguh tak tahu malu memilih menemui pria lain dibandingkan tidur dengan Rafael." Aku menyindirnya.


"Rafa sedang bersama Papanya. Aku tidak ingin kau berubah pikiran, Bar. Kau harus ingat, dia pun sedang menunggu kejelasan dari ayah kandungnya. Aku butuh kepastian. Kapan kau siap melakukannya?"


"Mengapa kau terus menekanku? Sudah kubilang, aku akan melakukannya setelah mengatakannya kepada Sheryl!" Nada suaraku meninggi. Aku kesal dengannya yang terus menanyakan hal yang sama.


"Kapan, huh?! Berapa lama lagi?! Cepat hubungi dia, dan katakan kalau kau memiliki seorang anak dari wanita lain. Anak itu sedang sakit dan butuh pertolonganmu!" Dia membalas dengan nada bicara yang sama.


Sejujurnya, hatiku masih kacau. Rasa marah, kecewa, dan takut menyelimutiku. Setelah pertengkaran kemarin, aku belum juga menghubunginya. Bahkan pesan chatnya tak juga kubalas.


Felicia menatap tajam dan terus merongrong. Mendengar ucapan Felicia yang terus menyudutkanku itu, mau tidak mau aku harus menghubunginya. Ya! Di depan wanita tidak tahu malu ini, aku memberanikan diri.


"Halo, Sayang? Akhirnya, kamu menghubungiku." Suara Sheryl terdengar sangat lega di telingaku.


"Halo, Sayang. Bagaimana kabarmu?"


"Kamu dari mana saja? Mengapa terus mengabaikanku? Mari kita hentikan pertengkaran ini. Sumpah! Aku tak ada hubungan seperti itu dengan Reynand. Dia hanya baik kepadaku. Itu saja, Sayang!"


"Aku lebih tahu kenyataannya."


"Ya! Baiklah! Dia memang bilang masih mencintaiku, tapi aku tidak membalasnya. Kamu tidak usah cemas. Aku sudah memilihmu. Aku juga akan melupakan kejadian kemarin. Walau Felicia itu busuk, aku tahu kamu tidak seperti itu. Aku tahu kamu akan setia. Demi keluarga kecil kita. Ya, 'kan?"


"Sheryl, di samping itu, ada hal penting yang ingin aku sampaikan." Aku memberanikan diri.


"Sampaikan?"


"Mungkin aku tidak bisa pulang dalam waktu dekat. Selain mengkhawatirkan keadaan Ayah, ada hal lain yang harus kulakukan."


"Apa maksudmu? Hal penting apa?"


Aku menelan ludah mendengar pertanyaannya. Ini yang paling sulit. Namun Felicia terus menatapku dengan tajam. Tatapan itu terus mendorongku untuk mengakui semuanya.


"Pengobatan Rafael .... Sheryl, anak kecil yang kamu bilang matanya mirip denganku. Dia adalah anakku. Ya! Rafael adalah anakku dan Felicia."

__ADS_1


__ADS_2