Marriage Order

Marriage Order
S2 Nayara


__ADS_3

Baruna PoV


Suara bel dari pintu utama tiba-tiba saja berbunyi menandakan ada tamu yang datang. Aku yang sedang duduk memandang layar laptop di ruang tengah bersiap bangkit. Namun, Bunda yang saat itu berada di dekatku bergegas bangkit dan menyuruhku untuk duduk kembali di sofa.


"Biar Bunda yang buka," katanya seraya bergegas melangkah ke arah pintu.


Aku pun duduk kembali sambil melirik jam dinding di ruangan itu. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah enam sore.


Pasti Nayara yang datang.


Batinku tidak salah. Tidak lama Bunda menghampiriku dan mengatakan bahwa Nayara sudah datang dan sudah duduk menunggu di ruang tamu.


Bunda kemudian berjalan ke dapur. Aku mengambil krukku dan bergegas beranjak ke ruang tamu.


Tampak sosok wanita anggun sedang duduk di sana. Memakai setelan kemeja putih dan rok selutut berwarna coklat.


Nayara tidak berubah sama sekali. Wajahnya masih sama sejak terakhir kali kami bertemu. Tidak terlihat menua. Sosok itu adalah teman dekatku selama beberapa bulan. Sampai akhirnya kami tidak ada komunikasi sama sekali karena sibuk pada pendidikan kami masing-masing.


"Hai, Nay," sapaku dengan senyum tipis.


Wanita itu mendongak menatap wajahku. Dia tersenyum manis. Aku mengulurkan tanganku dan kami bersalaman layaknya teman yang sudah lama tidak bertemu.


"Nay?" Aku memanggilnya ketika dia tidak juga melepaskan telapak tanganku setelah beberapa lama. Wajahnya terus menatap sambil tersenyum.


"Ma-maaf," katanya.


Seperti orang yang habis melamun, dia sontak tersadar, lalu menarik tangannya. Kembali mendudukkan tubuhnya di sofa. Aku pun ikut duduk di atas sofa berhadapan dengan wanita itu. Menarik napas panjang sejenak dan membuangnya.


"Aku kira kamu tersesat karena baru sampai jam setengah enam."


"Ehm .... Sejujurnya iya. Daerah sini sudah banyak berubah, Bar."


"Hitung saja, terakhir kali kamu ke sini. Sudah berapa tahun?" tanyaku.


"Sekitar sebelas tahun sepertinya. Saat kamu membuat acara perpisahan untuk kuliah di luar kota," jawab Nayara.


"Nah, 'kan sudah lama sekali."


Tidak lama kemudian, Bi Rindang datang membawa minuman dan cemilan untuk kami. Dia meletakkannya di atas meja. Bunda terlihat mengekornya dari belakang.


"Nayara?" tanyanya tidak percaya. Dia memeluk wanita itu dan mencium kedua belah pipinya.


"Hai, Tante. Apa kabar?" Dia balas memeluk Bunda. Membalasnya dengan cara yang sama.


"Baik. Kamu apa kabar, Nay?"


"Baik, Tante."


"Sibuk apa sekarang?"


"Kerja saja, sih. Baruna sudah bilang belum?"


"Bilang apa?" tanya Bunda melirik ke arahku.


"Nayara praktek di rumah sakit yang sama dengan Dokter Mario, Bun. Dia bertugas di poli umum," sahutku.

__ADS_1


"Wah, pekerjaanmu mulia sekali. Membantu menyembuhkan orang-orang yang sakit," ucap Bunda.


Aku memperhatikan obrolan mereka yang tampak sudah sangat akrab padahal baru saat ini bertemu kembali. Bunda memang supel terhadap semua orang. Bahkan, terhadap orang yang baru ditemuinya sekali pun.


"Biasa saja, Tante. Bukankah sebaik-baiknya orang adalah menjadi orang yang bermanfaat?" jawabnya diplomatis.


"Iya, ya. Hmm ... ngomong-ngomong kamu sudah berkeluarga belum?"


"Bun, masa tanya hal seperti itu padanya ...," protesku pada Bunda.


"Ti-tidak apa, Bar. Aku belum berkeluarga. Masih single." Nayara memotong kalimatku.


"Tuh, Nayara saja tidak keberatan menjawab. Kok kamu yang keberatan, sih?" sahut Bunda.


"Ya, tidak sopan saja, Bun," ucapku.


Ting-tong!


Terdengar suara bel pintu berbunyi. Sepertinya ada tamu lagi di depan. Bunda beranjak bangkit dan membuka pintu.


Mataku sontak tertuju pada tamu di depan. Tampak ayah, Reynand, dan Sheryl berdiri di sana bersamaan. Kemunculan Reynand dan Sheryl yang membuatku sangat terkejut. Udara di ruang tamu tiba-tiba saja terasa menghilang. Sesak.


Mau apa mereka ke sini?


****


Reynand PoV


Mobilku baru saja memasuki halaman rumah keluarga Asyraf. Aku menginjak rem dan mengatur perseneling pada keadaan netral, lalu mematikan mesin mobil.


"Sudah sampai," kataku seraya menoleh ke arah Sheryl. "Apa kamu sudah menyusun kalimat yang benar-benar ingin kamu sampaikan?" tanyaku.


"Pulang saja, deh!" sahutnya terdengar ragu.


"Yakin? Tidak merindukannya?" tanyaku memancing. Wanita ini benar-benar sedang mengerjaiku. Sudah kuantar dan sekarang malah ingin kembali.


"Rindu." Dia tertunduk seraya mengerucutkan mulutnya.


"Ya sudah, bicara saja. Tapi ingat, aku tidak akan melepaskanmu. Jangan macam-macam memanfaatkan kebaikan hatiku hari ini!" Aku memperingatinya.


"Huh, dasar tidak punya simpati!" dengkus Sheryl kesal.


"Masih berani bilang aku tidak punya simpati? Aku mengantarkan calon istriku untuk bertemu dengan mantan tunangannya, agar dia bisa membicarakan hal yang belum sempat tersampaikan, termasuk perasaannya sendiri. Kamu pikir aku sedang apa? Aku sedang mencoba untuk bunuh diri."


"Lebay!" sahutnya, kemudian membuka pintu mobil dan melangkah menuju teras.


Tidak lama sebuah mobil sedan masuk ke halaman. Aku menengok ke belakang. Tampak mobil Ayah terparkir di dekat mobilku. Dia juga baru saja pulang dari kantor.


"Loh Reynand, Sheryl, kok di depan saja. Masuklah!" katanya.


"Iya, Ayah. Kami juga baru sampai," sahutku sambil menekan bel.


"Oh ...," jawabnya.


Tidak lama pintu itu terbuka. Tante Meri berdiri di hadapan kami.

__ADS_1


"Kok pakai tekan bel sih, Mas?" tanya Tante Meri sambil meraih tas kerja Ayah. Namun, tiba-tiba matanya mengerling ke arah kami berdua. Dia tampak sedikit terkejut, tapi segera menyapa dengan hangat, "Reynand, Sheryl, kebetulan sekali kalian datang. Ayo masuk!"


Kami bertiga pun masuk ke ruang tamu. Aku meraih tangan Sheryl dan menggenggam erat jari jemarinya. Pandangan mata kami sontak bertemu dengan sosok seorang wanita yang sedang duduk di sana berhadapan dengan Baruna.


Nayara .... Kenapa dia ada di sini?


Aku menoleh ke arah Sheryl. Matanya melebar melihat Baruna yang sedang mengobrol akrab dengan wanita itu.


"Duduk Rey, Sher!" perintah Tante Meri. Dia pergi ke dalam menemani Ayah.


Nayara mengernyitkan keningnya melihatku dan Sheryl. Tatapan matanya seperti tidak yakin.


"Reynand?" tebaknya, lalu tersenyum melihatku.


"Kamu masih mengenalku?" tanyaku balas tersenyum.


"Masa aku bisa lupa wajah tampanmu. Ha-ha-ha," selorohnya sambil tertawa.


"Kamu tidak juga berubah. Bisa saja menggodaku."


"Hei, yang tampan jangan dianggurin. Begitu juga yang cantik, bukan?" katanya seraya melirik Sheryl dan Baruna.


Aku ikut melirik ke arah mereka secara bergantian. Baruna yang sedang duduk, memandang Sheryl yang masih berdiri di sampingku tanpa berkedip. Begitupun Sheryl menatap mantan tunangannya masih dengan penuh cinta.


Situasi ini menjadi aneh. Aku segera melepas genggaman tanganku, lalu merangkul bahu Sheryl dengan percaya diri sambil mendudukkan tubuhku di atas sofa. Dengan terpaksa dia ikut duduk di sampingku. Wajahnya menunduk, sedangkan Baruna sontak mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Kalian saling mengenal?" tanya Nayara tiba-tiba.


"Iya. Baruna adikku, Nay," jawabku.


"Adik? Setahuku Baruna anak tunggal."


"Yah, ceritanya panjang. Mungkin tidak akan habis dalam semalam jika aku menceritakannya sekarang. Kamu sendiri kenal Baruna di mana?" sahutku.


"Bisa saja kamu, Rey! Baruna teman sekolahku dulu. Lalu, siapa wanita ini?"


"Calon istriku."


"Oh .... Wajahnya familier. Di mana aku pernah melihatnya, ya?" Nayara terlihat seperti sedang mengingat-ingat sesuatu.


"Kamu kenal Reynand di mana, Nay?" tiba-tiba Baruna bertanya pada wanita itu. Seperti ingin mengalihkan perhatiannya.


"Dia teman Kakakku, Bar. Teman Farhan."


"Oh ...."


Setelah itu, suasana ruang tamu itu mejadi hening. Tidak ada seorang pun yang berbicara. Aku mendekatkan bibirku ke telinga Sheryl, kemudian berbisik, "Kita sudah sampai sini, dan kamu masih diam saja?"


"Aku ingin pipis," sahutnya sambil bangkit bersiap melangkah pergi.


"Aku antar, ya."


Aku ikut bangkit dan menggenggam tangan Sheryl. Telapak tangannya tiba-tiba saja menjadi dingin. Raut wajahnya pun ikut berubah datar tanpa ekspresi.


Baruna menoleh menatap ke arah kami. Tatapan matanya terlihat cemburu pada kami berdua. Aku sama sekali tidak peduli. Terus mengeratkan genggamanku dan mengantarnya ke toilet.

__ADS_1


__ADS_2