Terjerat Cinta Dosen Killer

Terjerat Cinta Dosen Killer
BAB 10. SEPTY


__ADS_3

Andini sedikit mencondongkan kepalanya ke arah Dimas untuk memastikan kalau suaminya. Benar-benar memejamkan mata.


Namun, yang menjadi pusat perhatiannya adalah hidung mancung dan bibir seksi serta bulu-bulu yang tumbuh di dagu membuat Andini terdiam sejenak. ia begitu terpukau melihat ketampanan Dimas yang selama ini tidak Andini sadari.


Andini diam-diam menyungingkan senyum menatap wajah di Dimas begitu tampan dari jarak dekat.


Tangannya terpuruk akan menyentuh dagu Dimas. Entah kenapa Andini merasa sangat tertarik untuk mengusap dan mengelus bulu-bulu halus yang tumbuh pada dagu suaminya.


"Astaga, ini tangan lancang banget sih. kalau ketahuan bisa mampus aku."Andini segera menarik kembali tangannya dan menggigit jari telunjuknya sampai menyusahkan jejak gigi.


Andini memukul kepalanya sendiri Merututi kebutuhannya.


Gadis itu segera merebahkan tubuhnya di samping Dimas yang terhalang guling di tengah-tengah mereka.


"Ampun... Ini jantung aku kenapa berdebar. Eh tapi kalau nggak berdebar aku meninggoy dong. Ah, aku malah jadi kayak orgil gini sih."Andini menutup wajahnya dengan sepuluh jarinya.


Gadis itu mencoba memejamkan mata,tetapi hati dan pikirannya yang tidak sinkron membuatnya tak bisa berpetualang ke alam mimpi.


Andini kembali membuka matanya dan melihat ke arah Dimas yang terlihat sudah pulas dengan nafas teratur. "Oh my God, dia sudah tertidur pulas. bisa-bisanya pria ini tidur di kamar yang belum pernah ia tempati sama sekali. Bahkan ia tidur di kamar seorang wanita tapi bisa tidur pulas." gumamnya dalam hati yang tampak kesal melihat suaminya sudah tertidur pulas seolah tidak peduli terhadapnya.


"Nikah? aku udah nikah dan ini malam pertama aku. "Oh my god, aku nggak pernah ngebayangin nikah sama orang asing kayak dia. Eh tapi dia kok nggak beraksi apa-apa ya, ini kan malam pertama, biasanya.....ah, atau jangan-jangan dia Nggak normal."


Andini terus Bermonolog dengan mata yang tak terlepas menatap ke arah wajah Dimas.


"Ah aku harus tidur."Andini menggerakkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri mencari posisi ternyaman berharap matanya dapat terpejam.


"Aaaaa....." teriak Andini saat pertama kali membuka mata


Wanita itu terkejut ketika melihat tangannya melingkar pada perut dimas.


Entah kenapa bisa jadi seperti ini, bahkan guling yang semula menjadi pembatas. Kini Entah di mana keberadaannya.


Dimas langsung membuka mata ketika teriakan Andini menembus sampai ke alam mimpinya.


"Kamu kenapa teriak?" tanya Dimas dengan suara para khas bangun tidur.

__ADS_1


"Ini kenapa tangan saya ada di sini?"


Andini menunjuk ke arah tengahnya yang terletak di atas tangan Dimas.


"Ya berarti kamu memeluk saya."jawab Dimas dengan wajah datarnya. Enak aja amit-amit saya memeluk bapak."Andini segera menarik tangannya dan bangkit dengan rambut berantakan.


"Guling yang jadi pembatas mana ya? kok nggak ada."Andini melirik ke kanan dan ke kiri mencari gunung pembatas itu.


"Tuh gulingnya!"Dimas menunjuk arah lantai.


Mata Andini membulat ketika melihat guling itu tergeletak di lantai apa yang terjadi semalam sampai guling itu terjatuh.


"Wah jangan-jangan semalam Bapak mindahin guling itu biar bisa dekat-dekat sama saya, kan! tuduh Andini dengan mata yang menatap Leka lekat wajah dimas.


"Siapa yang memeluk, ialah pelakunya. balas Dimas dengan santai


"Hah! enak aja. Bapak ngapain Saya semalam? Ngaku!"jangan jangan semalam bapak.....Aaaaaa...."Andini kembali berteriak ketika membayangkan hal aneh.


"Berisik! lama-lama saya potong juga pita suara kamu."Dimas Turun Dari ranjang dan membenarkan celananya yang sedikit melorot.


Namun, sesuatu yang tak ingin Ia lihat tertangkap oleh netra kecoklatannya.


Gadis itu membulatkan mata dengan mulut terbuka lebar bahkan tubuhnya tak mampu bergerak sedikit pun seolah mematung.


"Oh my God ,itu apa yang begitu? tanya Andini dalam benaknya.


Matanya masih tertuju ke arah bawah perut Dimas, bahkan saat suaminya berjalan ke arah kamar mandi pun, mata Andini tetap terarah ke bawah perut Dimas.


Dimas yang menyadari diperhatikan oleh Andini, menghentikan langkahnya dan mengikuti kemana arah pandangan gadis yang masih memotong itu.


"Kamu lihatin apa?"tanya Dimas membuat Andiini gelegapan dan segera mengarahkan pandangannya ke arah.


"Emmmm.... itu ada ada tikus bangun."jawab Andini ngasal dengan pandangan yang tertuju ke arah lain. Takut jika ketahuan Dimas kalau ia sedang memperhatikan salah satu anggota tubuhnya yang cukup sensitif.


"Alasan kamu tahu ini bukan tikus tapi ular piton yang siap melihatmu. Jadi kamu hati-hati jangan macam-macam Jika kamu tidak ingin dililit dan dipatok."balas Dimas dan segera masuk ke dalam kamar mandi tanpa mempedulikan istrinya.

__ADS_1


"What? Andini kembali membulatkan matanya ketika mendengar ucapan Dimas yang begitu santai.


"Ular piton berarti panjang besar....no!!!! teriak Andini kembali ketika imajinasinya bermain.


"Aku harus periksa, apa aku masih aman dan masih Ting Ting."Andini memeriksa semua pakaian yang ia kenakan.


Mulai dari kaos kaki, celana jeans ketat, ikat pinggang, dan juga sweater, yang ia gunakan.


"Hufff.... aman semua."Andini membuang nafas lega ketika melihat semuanya aman.


"Eh, tapi yang tadi menyembul itu apa ya? penasaran juga aku. ntar kalau Pak Dimas lagi tidur, aku coba cek deh. Astaga, kok Aku ngebut gini sih."Andini mengajak rambutnya yang sudah acak-acakan.


Setelah beberapa menit menunggu, Dimas belum keluar juga. suara percikan air shower masih terdengar.


"Aduh tuh dosen lama juga mandinya, mandi sudah seperti wanita saja. Biasanya kalau laki-laki mandi hanya sebentar ini melebihi seorang perempuan. Ngapain aja sih di dalam kamar mandi? mana Aku kebelet lagi."gumam Andini sambil turun dari ranjang.


Andini berjalan ke arah pintu kamar mandi dengan langkah, karena memang sesuatu yang hampir keluar.


Gadis itu memperhatikan pintu kamar mandi yang tak kunjung terbuka.


"Aduh lama-lama aku gador juga pintu ini. Andini mendekat ke pintu kamar mandi. tangannya ia angkat akan menggedor pintu di hadapannya.


Tiba-tiba pintu terbuka lebar, Andini menghentikan gerakan tangan yang sudah menggantung di udara, tepatnya di hadapan dimas


"Mata Gadis itu membulat ketika melihat Dimas keluar dari kamar mandi, beberapa tetes air jatuh dari rambutnya yang masih basah aroma sabun yang baru dikenakannya menyeruak memenuhi indra penciuman Andini.


Gadis itu terdiam sejenak pandangannya ia arahkan ke bagian bawah. Matanya semakin membulat ketika melihat dada bidang Dimas yang tak tertutup sehelai benang pun.


Dada bidang, perut kotak-kotak seperti roti sobek. Serta bulu-bulu halus yang tumbuh di tengah-tengah perut dan dadanya membuat Andini menelan silvanya dengan kasar. "wow keren banget Ternyata ini cowok."gumamnya dalam hati tapi ia pura-pura cuek saja agar Dimas tidak besar kepala Kalau Andini memperhatikannya.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓

__ADS_1


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN


__ADS_2