Terjerat Cinta Dosen Killer

Terjerat Cinta Dosen Killer
BAB 118. SEMAKIN GEMUK


__ADS_3

"Jadi Mama beneran setuju nih, kalau Herlan nikah sama Rian?"tanya Herlan kembali untuk memastikan.


"Iya setuju. Ya udah, kita masuk dan perkenalkan calon istrimu sama Opa!"ajak Nyonya Laras Seraya membuka pintu ruang rawat inap Tuan Pratama.


Jantung Rian terasa akan meledak. Ia bagaikan ketiban batang durian beserta buah-buahnya.


"Rian, Ayo masuk." ajak Andini menyuruh Rian masuk mengikuti Herlan dari belakang. Sementara dirinya masuk belakangan bersama dengan Dimas.


Setelah semuanya masuk ke dalam ruangan, Tuan Pratama kembali memanggil cucu laki-lakinya dengan suara lemah. Lantas Herlan mendekat masih dengan wajah ragu.


"Herlan bagaimana? tanya Tuan Pratama setelah sang cucu berdiri di sampingnya.


"Opa, Herlan sudah siap menikah jawab Herlan dengan nada sedikit ragu.


Jujur saja ia masih berat untuk melakukan ini.


"Mana calon istri kamu? tanya Tuan Pratama. kembali mata pria berusia senja itu menyipit berusaha memperjelas penglihatannya.


"Saya calon istrinya bang Herlan Opa," tanpa diminta lagi, Rian langsung mendekat dan berdiri di samping Herlan.


Seketika pria itu menoleh ke arahnya.


Herlan membuang nafas kasar. Ternyata calon istrinya agresif itu.


"Baiklah, Opa mau kalian menikah besok." ucap Tuan Pratama dengan wajah yang seolah tak mau menerima bantahan.


"Besok? cepat banget Opa." tanya Herlan dengan wajah meringis.


Entah kenapa ia malah merasa seperti seorang anak laki-laki yang akan disunat.


Takut dan tegang bercampur aduk. Padahal ini adalah pernikahan, bukan hal yang menyakitkan bagi tubuh.


Sementara Rian mengembangkan senyuman selebar-lebarnya. Akhirnya apa yang selama ini ia bayangkan sebelum tidur akan menjadi kenyataan. Karena Rian sudah sangat lama mencintai Herlan. Bahkan ia tak segan-segan langsung memberitahu kepada Andini selaku adik Herlan.


***


Setelah sepakat untuk melaksanakan pernikahan, pada hari ini bertepatan dengan hari libur nasional, alias tanggal merah atau yang biasa disebut hari Minggu.


Semua pekerjaan diliburkan. Hanya pekerjaan ibu rumah tangga yang tidak ada liburnya. kedua pihak keluarga mempersiapkan segalanya secara singkat dan cepat.


Pernikahan ini bukanlah pernikahan yang dilangsungkan secara megah dan meriah. Melainkan pernikahan sederhana yang hanya dihadiri dua pihak keluarga. Penghulu, serta para saksi yang akan menyaksikan pernikahan tersebut.


Awalnya mereka akan melangsungkan pernikahan itu di rumah sakit mengingat keadaan Tuan Pratama yang masih belum membaik.

__ADS_1


Namun, malah pria lanjut usia itu sendiri yang meminta pernikahan cucunya dilangsungkan di rumah saja.


Semalam Andini ikut pulang ke rumah orang tuanya, hingga saat ini ia sedang bersiap merias diri untuk menghadiri pernikahan sang kakak.


Meskipun pernikahan itu dilangsungkan secara sederhana dan tertutup. Tetapi wanita itu tetap ingin tampil berbeda.


Andini mengambil sebuah kebaya beserta rok batik yang akan dikenakannya hari ini.


"Mas, tolong bantu naikkan resleting kebaya aku dong."pinta Andini setengahnya sendiri tidak bisa menaikkan resleting kebaya itu.


Dimas mendekat dan mencoba menaikkan resleting itu, Tetapi malah tidak bisa.


Kebaya itu nampak kekecilan dan tidak muat pada tubuh Andini.


"Gak bisa, ini kebayanya kekecilan. Nggak muat." ucap Dimas sambil terus berusaha menaikkan resleting itu.


"Masa nggak bisa sih. Kebaya ini kan belum lama aku beli dan baru dipakai sekali doang." balas Andini tak percaya.


"Ini beneran nggak bisa loh, Kalau dipaksa nanti malah rusak.


"Aneh banget, aku beli ini sebelum kita nikah. belum ada satu tahun, masa udah nggak muat? Andini memperhatikan pantulan dirinya pada cermin besar di dalam kamar itu.


"Badan kamu kayaknya sekarang lumayan berisi deh. Kalau aku gondong juga agak beda lebih berat.


"Benar tuh, lihat pipi kamu aja lumayan cabi, terus ini perutnya juga tidak terlalu rata." Dimas mengusap perut istrinya.


Andini terdiam dengan mata yang tertuju ke arah perutnya.


"Apa jangan-jangan Kamu hamil?" tanya Dimas dengan wajah berbinar


"Hamil? kayaknya nggak mungkin deh, Mas.


"Loh kok nggak mungkin?Memangnya kenapa?" Dimas menatap wajah sang istri dengan dahi mengerut.


"Hmmm....,maksud aku nggak mungkin hamil karena aku nggak ngerasa apa-apa, aku nggak ngerasa kayak orang hamil jelas Andini dengan wajah tegang.


"Mungkin belum ada gejalanya terakhir kamu datang bulan kapan?" tanya Dimas dengan wajah serius.


"Sebelum kita resepsi."


"Sebelum kita resepsi itu udah hampir satu bulan loh."


"Iya Mas, tapi biasanya aku menstruasi akhir bulan.

__ADS_1


"Ini sebentar lagi akhir bulan, semoga saja kamu nggak datang bulan biar jadi dedek bayi Dimas." Senyum merekah.


sementara Andini hanya tersenyum kecut.


Sementara itu di tempat lain, seorang wanita yang mengenakan kebaya dan riasan pengantin sudah siap menuju tempat akad nikah yang akan diselenggarakan di rumah sang mempelai pria.


Mereka sepakat untuk melangsungkan pernikahan itu di rumah orang tua Herlan. Karena rumah yang kini ditempati Rian dan orang tuanya sangat sempit dan mungkin tidak muat untuk melangsungkan proses ijab kabul yang dihadiri beberapa orang.


"Nah, ini mobilnya baru datang." ucap Pak Karyo saat sebuah mobil berwarna metalik berhenti di depan rumah mereka.


Pria paruh baya itu memesan taksi online untuk berangkat ke rumah calon besarnya, karena mobil miliknya telah disita beserta rumah yang awalnya mereka tempati.


"Ayo masuk! Rian Kamu duduk di depannya titah Pak Karyo kembali mengatur tempat duduk untuk istri dan kedua anaknya.


Rian mengangkat kain rok yang ia kenakan dan masuk ke dalam mobil.


Wanita itu sudah tak sabar menunggu momen yang akan sangat bersejarah dalam hidupnya.


Setelah semua siap, mobil itu langsung menuju tempat tujuan.


Namun, setelah beberapa menit perjalanan roda empat yang ditumpangi mereka berhenti secara tiba-tiba.


"Pak, kok berhenti di sini?" tanya Rian kepada sopir taksi itu.


"Sebentar ya, ini kayaknya ada sedikit masalah." sopir itu turun dan mengecek ban mobilnya.


"Aduh Maaf sekali, ban mobil ini bocor." ujarnya Seraya menyembulkan kepala pada jendela mobil memberitahu penumpangnya.


"Apa? kok bisa bocor? Saya lagi buru-buru loh Pak. Sebentar lagi acara akad nikah Saya akan dimulai." cerocos Rian dengan suara cemprengnya.


"Mau gimana lagi, Mbak Kalau nggak mau nunggu Mbak dan keluarga mencari mobil lain saja." ucap sopir itu yang membuat darah Rian semakin mendidih.


"Dasar nggak becus, orang lagi buru-buru ban nya bocor harusnya Bapak periksa dulu sebelum Jalan." omel Rian dengan kekesalan yang membuncah.


"Maaf Mbak, saya tidak tahu kalau seperti ini." ucap sabar itu dengan wajah memelas.


"Sudah, sudah. Mending sekarang kita turun dan mencari mobil lain." Pak Karyo Manggarai omelan putrinya.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓

__ADS_1


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA BARU EMAK "Aku Ibu Mu, Nak"


__ADS_2