Terjerat Cinta Dosen Killer

Terjerat Cinta Dosen Killer
BAB 167. TAKUT DI TINGGAL


__ADS_3

Sepeninggalan Dimas dan Andini, Mariska berjalan masuk ke arah dapur dan kembali duduk di sana. Karena perut Mariska yang terasa keram dan juga kakeknya terasa pegal, sehingga dirinya memilih untuk istirahat terlebih dahulu.


"Sayang, kaki kamu pegel ya?


"Lumayan."Mariska menggerakkan kedua kakinya.


Robert berjongkok di hadapan Mariska dan membuka sepatu yang dikenakan oleh sang istri.


Pria itu mulai memijat perlahan kaki istrinya dan menarik satu persatu jemari kaki Mariska sampai membuat wanita itu merasa lebih lega.


Mariska tersenyum ketika melihat perlakuan lembut suaminya. Wanita itu benar-benar tidak menyangka pria yang selama ini yang selalu temannya saling tukar ejek kini menjadi suaminya yang manis.


Mariska memainkan rambut Robert yang terlihat sudah memanjang.


"Bagaimana Sayang? sudah agak mendingan belum?" tanya Robert dengan tangan yang masih memijat pelan kaki istrinya.


"Sudah mendingan. Ya sudah sekarang kamu ke depan lagi bantuin Ciwi."


"Kamu istirahat saja di sini, jangan banyak gerak."


Robert sedikit menegakkan tubuhnya dan mendekatkan wajah ke arah perut sang istri yang mulai membuncit.


"Sayang Papa mau kerja lagi ya. Kamu yang anteng di dalam perut Mama. Nanti malam Papa tengok kamu kok."ucap Robert sambil mengusap perut istrinya dengan lembut.


Mariska terbahak ketika melihat tingkah suaminya. Sementara Ricky menatapnya dengan geli.


"Lebay, lebay, lebay ledek Ricky yang membuat Robert langsung menoleh ke arah sahabatnya.


"Bilang aja kamu iri." timpal Robert yang malah mencium perut Mariska dan membuat Ricky menggerakkan kedua bahunya seolah jijik.


"Jangan gitu Ricky nanti juga kamu bakalan kayak gini sama Mbak Nisa." timpal Mariska yang diiringi tawa kecil.


"Nisa, Nisa nggak jadi mundur duluan aku. Dia anak sultan Aku anak petani.


"Idih, langsung mundur alon-alon.


"Sudah Jangan banyak bacot, buruan anterin pesanan nih." tarik Ricky sambil menunjuk ke arah piring yang berisi makanan di hadapannya.


"Anak buah laknat, nyuruh-nyuruh Bos." Robert berdiri kembali dan mendekat ke arah sahabatnya.


"Bos kayak gitu? nggak ada wibawa-wibawanya. Bos tuh harus punya perut yang buncit, bukan rata kayak triplek begini."


"Tuh yang buncit." Robert menunjuk ke arah Mariska yang langsung mendapat tatapan tajam dari istrinya.


Sementara di tempat lain, saat ini Rian bersama dengan Herlan masih berada di rumah kedua orang tua Rian.


"Bang, kata Antonio ada satu obat buat Papa yang lupa dia tulis kemarin."ucap Rian setelah membaca pesan dari dokter sekaligus tetangganya itu.


"Antonio siapa?"tanya Herlan sambil membalikkan tubuh dan menghadap ke arah istrinya.


"Dokter Herlan Bang, masa lupa? Rian langsung memasang wajah masam


"Oh, mantan kamu itu." ucap Herlan dengan wajah tak bersahabat


"Mantan? Siapa yang bilang dia mantan aku? Rian menatap suaminya dengan dahi mengerut.


"Aku yang bilang."


Jangan sok tahu Bang, aku sama Antonio bukan mantan."


"Terus apa?"


"Kita dulu cuman teman, tapi..... mesra." jawab Rian sambil terkekeh.


"Mesranya kayak gimana tuh?" tanya Herlan kembali dengan wajah yang semakin terlihat kesal.


"Ya mesra, misalkan kita beli es krim dua Antonio jilat punya aku, aku juga jilat punya dia juga." jawab Rian membuat suaminya semakin memanas.


"Oh gitu." balas Herlan dengan nada santai tetapi sorot matanya semakin menajam dengan Gigi mengerat menahan geram.


"Ya, terus kalau pulang sekolah aku diboncengi gitu sama dia. Kita kan dulu sekolah SD nya bareng, Antonio suka bawa sepeda buat bonceng aku." tutur Rian kembali yang membuat otot-otot suaminya menegang.

__ADS_1


"Oh," balas Herlan kembali dengan singkat.


"Tau nggak, Bang?


"Nggak tahu." jawab Herlan dengan cepat dan berjalan ke arah pintu.


"Abang mau ke mana?" tanya Rian ketika melihat suaminya berjalan ke arah pintu kamar.


"Nyari angin, di sini panas." jawab Herlan dengan Ketus dan tidak menoleh sedikitpun ke arah istrinya. Rian segera berlari dan memeluk tubuh suaminya dari belakang sebelum tangan Herlan memutar kenop pintu kamar.


"Aku bercanda Bang. Hahaha......" ketawa Rian memecah. Wanita itu memeluk dengan erat tubuh tegap Herlan yang masih belum menoleh ke arahnya.


"Bodo amat!" balas Herlan masih dengan nada sewot.


"Bang Herlan cemburu? Rian memutar tubuh pria itu agar menghadap ke arahnya.


"Kamu pikir saja sendiri.


"Hahaha..... Bang Herlan kalau lagi cemburu lucu ya. Aku tadi cuma bercanda Bang. Dulu aku sama Antonio memang tetanggaan tapi kita cuman main biasa kok." jelas Rian kembali.


"Apa peduliku? balas Herlan masih dengan nada kesal.


"Idih ngambek, nih. Ya udah aku minta maaf.


"Nggak ada maaf." Herlan kembali membelikan badannya membelakangi istrinya.


"Bang, Allah aja ma apa Maaf, masa kamu nggak mau maafin aku, cuman gara-gara begitu doang." tutur Rian dengan nada Sendu.


"Iya dimaafkan."


"Nah gitu dong. Lagian cerita aku yang tadi nggak benar kok. ngapain kamu marah?


"Aku nggak marah. Cuman geli aja membayangkan jilat menjilat es krim segala."


"Aduh, kok aku jadi pengen es krim gini ya?" Rian mengusap perutnya


"Malam-malam begini makan es krim?" Herlan menatap istrinya dengan heran.


"Ya sudah, kita keluar sekalian beli oba buat Papa, jangan lupa pakai jaket."


"Siap Bang." balas Rian dengan penuh semangat. Setelah itu ia membuka lemari mengambil jaket untuknya dan juga untuk suaminya.


"Bang, kita naik motor Papa aja yuk." ajak Rian saat mereka keluar dari kamar.


"Naik motor? nggak lah, nanti perut kamu kenapa-kenapa lagi." tolak Herlan yang langsung membuat bibir istrinya mengerucut.


"Sekali-sekali lah Bang, Kita kan nggak pernah naik motor berdua." mohon Rian dengan wajah memelas.


"Kalau perut kamu kenapa kenapa gimana?


"Ya Nggak mungkin lah, kan kamu yang bawa motor bang. Kita pelan-pelan aja."


"Ngeyel banget sih. Ini kalau nggak dilaksanakan sampai tidur pun ngomong terus."Herlan menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Hehehe.... tau aja Bang.


"Ya udah mana kunci motornya." ucap Herlan dengan terpaksa.


"Bentar ya Bang." Rian berjalan ke arah laci di mana kunci motor Papanya disimpan.


"Pa, Rian sama Bang Herlan pinjam motor papa ya, kita mau ke apotek." teriak Rian.


"Iya silakan." balas Rian sendiri sambil menirukan suara bariton sang ayah.


"Idih, ngomong sendiri dibalas sendiri." celetuk Herlan sambil terkekeh ketika melihat tingkat istrinya.


"Biarin, Bang paling Papa balasnya kayak gitu, nih kuncinya! Aku tunggu di depan. Rian menyerahkan kunci motor itu pada tangan Herlan, dan berjalan dengan ceria keluar dari rumah yang tidak terlalu besar itu.


Herlan menggelengkan kepala dan mengikuti langkah-langkah istri. Setelah itu ia mengeluarkan motor mertuanya dari garasi dengan hati-hati.


"Sudahlah, rasanya Herlan tidak enak membawa motor.

__ADS_1


"Wih,Bang Herlan keren." Rian kegirangan sambil mengacungkan dua jempolnya karena Herlan bawa motor Supra ke arahnya.


"Buruan naik." Herlan yang membuat Rian langsung naik ke atas motor dan memeluknya dari dengan erat.


"Aku ragu bawa motor Papa." ucap Herlan yang mulai menjalankan motor itu dengan hati-hati


"Ragu kenapa?" Rian menyandarkan kepalanya pada punggung tegap suaminya.


"Ragu aja nggak enak bawa motor punya orang tua."


"Nggak apa-apa Bang, motor aku soalnya nggak ada udah dijual." ucap Rian dengan wajah Sendu.


"Maksud aku, bukan gitum Kenapa kita nggak naik mobil aja.


"Kan dekat Bang, Ini bentar lagi kita nyampe."


"Ya sudah, motor Papa enak juga ya dibawa."


"Iya dong, Papa kan rajin. Dicuci aja sehari dua kali udah kayak mandi."


"Masa? itu mah terlalu rajin."


"Beneran, Nanti sebelum berangkat ke toko Papa cuci, setelah pulang dari toko Papa cuci lagi.


"Astaga! nggak bosan apa nyuci motor terus?"


"Nggak bakalan bosan lah Bang, kayak cinta aku ke kamu." Rian semakin mempererat pelukannya sampai membuat Herlan terbatuk


"Kebiasaan kalau muluk terlalu kencang." protes Herlan sambil memelankan laju roda duanya.


"Hehehe..... Maaf Bang, itu buktinya cinta aku ke kamu serat pelukan aku ke kamu.


"Terlalu erat juga malah bisa membahayakan."


"Masa? Kenapa begitu?"


"Buktinya aja tadi aku sampai batuk, kalau kelamaan bisa sesak nafas dan koid.


"Dih naudzubillah.!"


"Eh, tapi kita naik motor gini kayak sepuluh tahun lebih tua ya." Herlan tersenyum tipis.


"Hahaha..... berarti Bang Herlan sudah 42 tahun dong.


"Ya, tapi gantengnya tetap sama." ucap Herlan penuh percaya diri.


"Paling rambutnya aja berubah menjadi putih, sama kulitnya mengerut." Rian terkekeh ketika membayangkan suaminya menjadi tua.


"Naik motor enak juga ya ternyata. Menikmati angin Malam, sambil dipeluk dari belakang. Nanti aku beli motor juga lah." ucap Herlan yang langsung membuat Rian menegakkan kepalanya.


Sementara di tempat lain, Andini yang baru tiba di rumah langsung duduk di sofa. Dimas menghampiri sang istri. "Sayang jika ada sesuatu yang selama ini belum kamu ketahui tentang Mas, dan tiba-tiba saja kamu mengetahuinya Bagaimana perasaan kamu?


"Maksud kamu apa sih Mas? pertanyaan macam Apa itu apa yang tidak aku ketahui tentang Mas?


"Ini hanya misalnya loh, sayang?


"Tergantung apanya dulu? tentang apa yang tidak aku ketahui." ucap Andini yang mampu membuat Dimas menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia khawatir kalau istrinya akan marah besar terhadapnya, bahkan akan meninggalkannya setelah mengetahui kalau selama ini ternyata Dimas bekerja sama dengan kedua orang tua Andini untuk menutupi jati dirinya.


"Kamu ada apa sih Mas? tiba-tiba bertanya seperti itu?


"Tidak apa-apa sayang, hanya bertanya saja." sahut Dimas membuat Andini mengerutkan keningnya.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN " DI BULLY KARNA OBESITAS"


BAGI SIAPA YANG AKAN MAMPIR KE KARYA BARU EMAK, AKAN ADA GIVEAWAY TGL 6 JULI BAGI BAGI PULSA BAGI PENDUKUNG EMAK YANG PALING AKTIF

__ADS_1


__ADS_2