Terjerat Cinta Dosen Killer

Terjerat Cinta Dosen Killer
BAB 132. POSITIF HAMIL


__ADS_3

"Sayang hari ini jangan pergi ke kantor ya, kita akan pergi ke dokter kandungan untuk memastikan hasil pemeriksaan yang dilakukan dokternya Dirga."


"Tapi mas, Kalau aku nggak datang hari ini, bisa-bisa nilaiku akan rendah dikasih oleh pemilik CEO perusahaan itu, karena dia menganggap aku tidak disiplin."


"Kamu tenang saja sayang, biar mas yang nanti mau minta izin.


"Mas tidak boleh gitu dong, nanti kalau aku dapat nilai rendah gimana?


"Jangan khawatir, kamu tidak percaya sama aku suami kamu ini?


"Bukan tidak percaya Suamiku sayang, tapi nggak profesional dong aku tidak bekerja di jam kerja.


"Sayang, ini ultimatum! tidak permohonan. Sekarang juga kita harus pergi ke dokter. Mas sudah tidak sabar untuk memastikan hasil pemeriksaan dokter Dirga benar atau tidak.


"Ya sudah deh, terserah Mas saja." ucap Andini pasrah. Kemudian Dimas meraih ponselnya untuk menghubungi Alvin, kalau saat ini Andini tidak masuk ke kantor. Karena mereka akan pergi ke rumah sakit.


Alvin yang mendengar kalau mereka pergi ke rumah sakit ntar banyak.


"Memangnya siapa yang sakit?


"Tidak ada. Hanya memeriksakan kandungan Andini saja.


"Kakak iparku hamil?


"Menurut pemeriksaan dokter Dirga, seperti itu. Tapi dokter Dirga meminta kami untuk memastikannya ke dokter kandungan." sahut Dimas


"Alhamdulillah, kalau begitu. Mudah-mudahan hasil pemeriksaan dokter Dirga tidak salah ya.


"Doakan saja." sahut Dimas kemudian setelah selesai berbicara dengan Alvin, Ia pun langsung memutuskan sambungan telepon selulernya.

__ADS_1


Setelah tiba di rumah sakit, keduanya pun tampak sudah tidak sabar menunggu giliran suster memanggil mereka untuk diperiksa oleh dokter kandungan.


Saat nama Andini dipanggil oleh suster, keduanya langsung masuk ke ruangan dokter kandungan. lalu Andini diminta oleh sang dokter untuk membaringkan tubuhnya.


Setelah Andini membaringkan tubuhnya di atas Branker, dokter itu membuka bagian perut Andini yang sudah mulai berisi. Dokter itu mengoles gel, dan memasang Trasduser yang dapat memancarkan suara frekuensi tinggi, dan akan menimbulkan gelombang suara yang akan menunjukkan ukuran, bentuk, serta organ.


Lalu sang dokter menatap ke arah monitor. Begitu juga dengan Andini dan Dimas. Dokter itu menjelaskan ada sedikit bulatan di rahim Andini. Itu artinya kalau saat ini Andini benar-benar hamil.


"Sang dokter mengembangkan senyumnya. "Selamat ya Nona. Andini positif hamil."ucap dokter kandungan itu memberitahu lalu menerangkan apa saja yang terdapat di Monitor.


Mendengar penuturan sang dokter, Dimas bersorak kegirangan. Bahkan dia sampai meloncat-loncat di ruangan dokter. Dimas langsung meraih tubuh istrinya kepelukannya memberikan kecupan hangat di wajah dan kening sang istri.


Sang dokter hanya tersenyum melihat tingkah Dimas. Tetapi sepertinya Andini biasa saja. Dari raut wajahnya Andini belum siap untuk memiliki anak. Karena ia merasa masih terlalu muda untuk langsung menimang momongan. Tapi dia juga tidak bisa memungkiri, kalau janin yang ada di rahimnya merupakan anugerah dari Allah.


"Terima kasih sayang, kamu sudah memberikan kabar gembira ini untuk Mas."ucap Dimas sambil kembali memberikan kecupan hangat di wajah cantik Andini.


Kemudian sang dokter memberitahu dan menuturkan apa saja yang dapat dilakukan Andini dan juga yang tidak dapat dilakukannya. Begitu juga dengan aktivitas suami istri, sang dokter meminta kepada Dimas untuk lebih menahan diri, supaya jangan terlalu sering untuk meminta jatah terhadap sang istri.


Setelah selesai memeriksakan kandungan Andini, dan berkonsultasi kepada dokter, keduanya berlalu dari ruang dokter kandungan itu, setelah dokter kandungan itu memberikan resep obat dan vitamin untuk Andini. Dimas hendak menggendong Andini tapi Andini langsung menatapnya dengan tatapan Tajam


Andini tidak ingin digendong oleh suaminya selama berada di rumah sakit. Malu banyak orang yang melihat.


"Aku bisa jalan sendiri Mas, aku baik-baik saja. Sekarang ini bukan aku yang ngidam tapi masih sendiri yang mengidam." ucap Andini sambil terkekeh membayangkan Bagaimana rasanya suaminya mengalami morning sickness. Sementara dirinya sendiri tidak merasakan mual atau apa-apa dia merasa makan enak saja. Padahal Andini sendiri yang hamil.


Keduanya berjalan di trotoar rumah sakit. setelah menebus resep obat yang diberikan dokter, mereka langsung masuk ke dalam mobil Setelah tiba di parkiran


Tak henti-hentinya Dimas tersenyum menatap sang istri. Kebahagiaannya kali ini melebihi mendapatkan proyek yang memiliki keuntungan besar.


Sampai dirinya tidak dapat berkata-kata mengungkapkan kebahagiaannya. Dia sampai lupa mengabari kepada Tuan Anggara dan juga kedua mertuanya.

__ADS_1


Selama di perjalanan, tangan Dimas tidak henti-hentinya mengelus rambut sang istri. hingga keduanya berhenti di sebuah restoran untuk menikmati makan siang bersama.


"Mas, ini restoran mahal. Ngapain kita ke sini?" tanya Andini penuh selidik. Dimas tidak menjawab. Ia langsung turun lalu membuka pintu untuk sang istri, agar istrinya dapat leluasa turun dari dalam mobil.


Saat mereka hampir tiba di pintu restoran, keduanya sudah disambut dengan senyuman oleh dua orang pelayan di sana.


Saat melihat kehadiran Dimas di sana, semuanya langsung berlari berjejer memberikan hormat kepada Dimas. Lagi lagi Andini merasa bingung, Mengapa orang-orang yang di sana menunduk hormat kepada sang suami.


"Mas Ada apa ini? kok mereka menunduk hormat kepada kita?


"Tidak apa-apa sayang, namanya kita adalah tamu di sini. Itu biasa dilakukan oleh pihak restoran untuk menyambut Tamu di restoran ini." ucap Dimas yang masih menutupi kalau restoran itu salah satu milik Tuan Anggara.


Keduanya langsung masuk ke ruang VIP. Dua orang pelayan langsung datang menghampiri keduanya. Setelah memesan menu makanan yang diinginkan oleh Dimas, kedua pelayan itu langsung berlalu sambil menunduk mundur.


Lagi lagi Andini dibuat terheran-heran, melihat sikap kedua pelayan itu menunduk mundur lalu meninggalkan mereka.


Padahal selama ini Andini setiap pergi ke restoran, junk food ataupun restoran lainnya tidak pernah disambut sama seperti penyambutan pihak restoran saat mereka tiba disana .


Tapi Andini tidak mau pusing, dia lebih baik menikmati makanan yang dihidangkan di sana. Bahkan ia menikmati keindahan desain interior restoran itu yang mewah dan menikmati keindahan pemandangan taman yang ada di sana.


Keduanya menyantap menu makan siang yang dihidangkan oleh pihak restoran. Andini makan dengan lahap sementara Dimas tidak terlalu. Dimas menatap istrinya dengan intens, dia bahagia melihat istrinya makan dengan lahap. Itu artinya Andini menyukai menu makanan yang ada di sana, dan janin yang ada di dalam rahim Andini pasti gizinya akan terpenuhi, jika Andini makan makanan yang bergizi dan cukup.


"Dimas menggenggam jemari tangan Andini, lagi lagi dia mengucapkan terimakasih kepada Andini yang telah memberikan kabar Bahagia itu kepadanya.


"Terima kasih sayang, Papa, Opa, pasti akan bahagia mendengar kabar bahagia ini. Begitu juga dengan papa Anggara." ucap Dimas sambil mengembangkan senyumnya mengecup punggung tangan sang istri.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏

__ADS_1


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA BARU EMAK "Aku Ibu Mu, Nak"


__ADS_2