
"Kamu jangan banyak gerak dulu, sampai kaki kamu benar-benar sembuh."Dimas kembali merebahkan tubuh istrinya ke atas kasur dengan hati-hati.
"Saya tuh, bukan orang sakit, Pak. Saya nggak mau rebahan terus, nanti badan saya lurus aja, nggak bisa meliuk-liuk."Andini merubah posisinya menjadi duduk.
"Meliuk-liuk Bagaimana? kamu ini ada-ada saja. Dimas menatap istrinya dengan dahi mengerut.
"Saya kan, mau jadi model motor balap, Jadi tidak mungkin dong aku hanya vakum begini saja."Andini menggerakkan tubuh sambil mengibaskan rambutnya yang berantakan.
"Model apaan? masa model, rambutnya kayak singa begini." Dimas menyentuh rambut istrinya.
"Bagaimana tidak seperti singa, saya kan belum menyisir rambut dari pagi.
Tanpa banyak bicara, Dimas berjalan ke arah meja rias dan mengambil sisir beserta ikat rambut.
Andini memperhatikan dengan jeli setiap gerakan suaminya. Dimas mendekat ke arah Andini dan berdiri di samping sang istri.
Tanpa diduga, Dimas menyisir rambut Andini dengan perlahan. Dimas menyisirnya dengan lembut, pelan-pelan tapi pasti.
Andini hanya terdiam dan mematung. Benarkah yang menyisir rambutnya sekarang adalah Dimas suaminya?
Si manusia titisan kutub utara, atau itu hanya jelmaan hantu beranak?"
Andini menggerakkan kedua bahunya ketika pikirannya mulai kelayapan.
"Rambutnya, saya ikat ya. Biar lebih rapi."Dimas menyisir dan mengikat rambut Andini dengan hati-hati.
Gerakan Dimas sangatlah lembut. Bahkan Andini tak menyangka kalau tangan kekar itu bisa bergerak dengan lembut.
"Pak, Bapak pernah kerja di salon ya?
"Maksud kamu apa?
"Soalnya bapak lihai banget menyisir dan mengucir rambut wanita.
"Enak saja! kamu pikir saya gemulai apa?"Apa kamu tidak melihat tubuh kekar milik suami kamu. Oh, iya kamu kan tidak pernah merasakan senjata milikku yang sudah ingin menerkam kamu."
Andini membulatkan matanya ketika mendengar ucapan suaminya.
Pikiran nakalnya langsung membayangkan kalau Dimas yang memiliki tubuh kekar, serta wajah dingin bekerja di salon dan bergerak selayaknya lelaki gemulai.
"Bapak, kok perhatian banget sama saya? tanya Andini kembali setelah Dimas selesai menguncir rambutnya.
"Kamu masih nanya?
"Kamu bertanya-tanya?
"Apa kamu belum nyadar, siapa kamu di dalam hidupku?
"Apa kamu belum nyadar kalau kamu itu istri dari Dimas Anggara."ucap Dimas kepada Andini.
"Oh gitu. Terus kalau Mariska yang jadi istri bapak, apa bapak akan tetap perhatian?
"Kok jadi Mariska? Memangnya ada apa dengan dia? pertanyaanmu aneh-aneh saja tanya Dimas kembali dengan heran.
"Saya nggak suka kalau Mariska ngomong mau jadi istri bapak."setelah itu Andini menggigit Bibir bawahnya, Kenapa ia bisa bicara seperti itu tadi.
"Kamu cemburu kalau Mariska mengatakan seperti itu?"Dimas sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Andini.
__ADS_1
"Enggak ah, Siapa juga yang cemburu? gak usah sok percaya diri begitu." Andini mengalihkan pandangannya ke arah lain menghindari bertatapan langsung dengan suaminya.
"Itu tadi kamu bilang nggak suka."
"Nggak suka sama cemburu itu beda, ya "
"Iya beda tipis."
"Bapak, sayang nggak sama saya?"tanya Andini secara tiba-tiba yang membuat Dimas langsung mengerutkan keningnya.
"Ya, Sayang lah, Memangnya kenapa? nggak mungkin juga aku nggak sayang kepada istriku sendiri saya sebagai seorang suami harus menyayangi istriku.
Wajah Dimas terlihat tegang, matanya menipis. Tetapi bola matanya bergerak dengan cepat.
"Bapak cinta nggak sama saya?"tanya Andini kembali iya harus mendengar langsung dari bibir suaminya Kalau Dimas memang sudah mencintainya.
"Kamu kenapa sih? Kok tiba-tiba nanya seperti itu? kan, saya sudah bilang...."
"Tidak setiap rasa itu harus diungkapkan dengan kata-kata."Andini memotong ucapan suaminya.
"Nah itu kamu pintar. Oh iya tadi di kampus saya sudah memeriksa semua CCTV. Pria itu keluar dari kelas kalian di lantai bawah paling ujung." jelas Dimas.
"Terus? Andini menengadahkan kepalanya menatap ke arah wajah dimas
"Sayangnya CCTV di kelas itu rusak.
"Oh iya, Aku mengingat sesuatu Andini mengerutkan keningnya. Otaknya berpikir keras.
"Ingat apa?"
"Apa ini ada hubungannya dengan pria itu?"
"Entahlah kenapa mereka mau berbuat jahat sama saya."wajah Andini berubah menjadi sendu.
"Ya sudah kamu tenang saja, nanti akan saya telusuri lagi siapa pelakunya. Mending sekarang kamu makan baksonya Nanti keburu dingin."Dimas mengalihkan pembicaraan sementara Andini langsung melihat karena bakso yang sudah dari tadi ditaruhnya di atas nakas.
"Kayaknya memang udah dingin sih."
"Apa perlu saya panaskan lagi?"tawar Dimas
"Nggak perlu, tapi saya mau makannya di luar saja. Saya bosan hampir seharian di kamar terus.
"Ya sudah, kita keluar Sekarang. Dimas membuka kemejanya dan hanya menyisakan kaos tipis yang membalut tubuh kekarnya.
Andini menatap dada bidang, serta perut kotak-kotak milik suami yang terbentuk indah. membuat Andini benar-benar terpesona melihat suaminya.
Dimas memang rajin berolahraga, dan merawat diri sampai tubuhnya tercipta sixpack seperti itu.
Dimas mendekat dan langsung mengangkat tubuh istrinya. Andini kembali mengalungkan tangannya pada leher Dimas ketika pria itu telah mengangkat tubuhnya.
Dimas mengangkat tubuh Andini seolah dirinya tidak memiliki beban. Tubuh Andini seolah hanya beberapa kilo saja. Padahal berat Andini sekitar 45 kilo.
Dimas membawa tubuh istrinya menuruni anak tangga dengan hati-hati.
"Bro nggak ada niat buat lempar tuh, anak?" tanya Herlan yang berpas-pasan dengan mereka di bawah tangga.
Andini langsung menatap tajam ke arah kakaknya
__ADS_1
"Gak usah julid" sindir Andini
"Dia itu sebenarnya pura-pura sakit, biar bolos kuliah." cibir Herlan kembali. Sementara Dimas hanya terdiam membiarkan kakak beradik itu saling Aduh mulut.
"Kak Herlan! Tolong ya, jangan selalu memfitnah Andini. Fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan." Cerocos Andini yang membuat Dimas menundukkan kepala dengan dahi mengerut.
"Nak Dimas, memang suami dan menantu idaman deh. Beruntung Andini mendapatkan suami seperti Nak Dimas." Puji Nyonya Laras Seraya mendorong kursi roda Tuan Pratama.
Waktu sudah sore. Sehingga semua anggota keluarga sudah kembali ke rumah.
"Apaan sih Mama, datang-datang menyambar kayak petir." protes Andini.
"Mama hanya bangga, punya menantu kayak Nak Dimas. Pasti teman-teman arisan Mama pada iri tahu, mama punya menantu dosen, tampan, baik, dan juga perhatian." wanita paruh baya itu senyum sumringah.
"Jangan bilang kalau Mama mau ngajak Pak Dimas ke tempat arisan."
"Memangnya kenapa? teman-teman Mama juga sering membawa menantunya dan memperkenalkan sama semua teman-teman arisan. Nak Dimas tidak keberatan kan, kalau Mama ajak ke tempat arisan? Nyonya Laras menatap ke arah menantunya dengan wajah penuh harap
"Iya Ma, tidak apa-apa kalau saya sedang ada waktu luang Nanti ikut mama."balas Dimas membuat Andini semakin kesal.
"Tidak bisa! ngapain pergi tempat arisan? nanti di sana pasti banyak tante-tante genit, dandanannya menor, pakai baju seksi." cerecos Andini dengan wajah kesal.
Nyonya Laras tersenyum ketika mendengar ucapan Andini.
Ia sengaja memancing untuk memastikan kalau putrinya itu sudah menaruh perasaan kepada Dimas
"Iya sih, yang cemburu! sindir Nyonya Laras sambil terkekeh
"Memangnya siapa cemburu? Mama ada-ada aja! sudah sana bawa Opa ke kamar, kasihan Opa pasti pengen istirahat. Andini mengalihkan pembicaraan sebelum Dimas merasa kepedean.
"Nak Dimas, Nak Dimas harus hati-hati ada yang pencemburu." sindir Nyonya Laras kembali serai mendorong kursi roda ayahnya ke arah kamar.
Andini melihat Ke arah Dimas yang sedang menatap dengan senyuman tipis.
"Apa? Bapak nggak usah kepedean." sinis Andini.
"Tidak, saya biasa saja kamu nya aja yang sewot.
"Nggak usah senyum-senyum kayak gitu!"
"Memangnya kenapa senyum saya bikin candu ya?
"Apaan sini saya makan baksonya." Andini menurunkan kakinya sebelah.
"Kamu diam saja, biar saya yang ambil mangkok." Dimas segera berjalan ke arah dapur.
Sementara Andini tersenyum sendiri, ketika mengingat perlakuan manis suaminya.
Setelah itu, Dimas datang dengan membawa mangkok, sendok, dan juga garpu.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN
__ADS_1